Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan
Bab 88


__ADS_3

Jauh dari kediaman Bian dan Amara, Bahtiar dirundung kegelisahan ketika Tiara dengan penuh keputusasaan memilih untuk tetap bungkam dan merahasiakan tentang keberadaan Tiffany dari Bian.


Hampir setahun berlalu pasca Tifany mengalami tindakan tak terpuji yang dilakukan oleh suami Tiara. Luka robek tiga senti di area intimnya memang sembuh dalam beberapa minggu, tetapi psikis dan trauma hebat itu terus mengendap dalam diri Tifany.


Berbagai cara telah dilakukan Tiara untuk memulihkan trauma psikis yang dialami anak gadisnya.


Lima bulan lalu dia memilih membawa Tifany menjauh dari hiruk pikuk Kota Jakarta, dan tinggal di villa selama hampir satu bulan. Dia bersyukur ketika anak gadisnya mulai bisa beradaptasi dengan dirinya lagi.


Akan tetapi, insiden yang menimpanya atas penggerebekan kasus narkoba malam itu tampaknya kembali membuat Tifany trauma— mengingat anak itu menyaksikan bagaimana dirinya digiring oleh polisi.


Alasan utama Tiara memilih tinggal di Sukabumi, tak lain dan tak bukan agar anaknya tahu siapa ayah kandungnya. Namun, siapa yang menduga bahwa Bian selalu menolak permintaannya untuk bertemu, meski dia berkali-kali meminta Dika untuk memberitahu pria itu bahwa dia ingin bertemu.


Saat mereka memiliki kesempatan bertemu sewaktu Bian menjemputnya di kantor polisi, Tiara masih tak memiliki kesempatan untuk memberitahu Bian— terutama saat pria itu mengatakan bahwa dia sudah memiliki istri dan anak yang baru.


Ditambah lagi, pertemuan mereka saat itu terlalu mendadak, dan jelas bukan dalam situasi yang direncanakan Tiara.


Pasca insiden malam itu, Tiara berkali-kali mencoba menemui Bian, tetapi tetap saja pria itu tak pernah muncul keluar villa, dan akhirnya dia bisa melihat dari kejauhan saat Bian berada di balkon bersama istri dan anaknya.


Sejak saat itulah Tiara memutuskan untuk kembali ke Jakarta, lalu mempertimbangkan berbagai rencana bagaimana caranya dia bisa berbicara dengan Bian.


Bukan hal mudah bagi Tiara untuk mengumpulkan segenap keberanian agar bisa membicarakan semua hal itu. Penderitaan yang dialami Bian selama bertahun-tahun pun tak luput menjadi tolok ukur dan pertimbangan Tiara apakah dia memang harus memberitahu pria itu.


Sekarang, setelah dia bersusah payah menyusun rencana untuk mempertemukan Bian dan Tifany, lagi-lagi sepertinya Tiara harus menelan kembali rencananya.


Namun, saat dia tiba di hotel dan masuk kamar, dia mendapati hasil dosa dan gairahnya bersama Bian sedang terbaring di ranjang ditemani pengasuhnya.

__ADS_1


Wajah anak itu mengarah pada cahaya matahari yang menyelusup melalu kaca jendela.


Tifany memeluk pengasuhnya yang berusia 30 tahun. Gaun hariannya tersingkap hingga ke paha, tetapi celana legging tebal bermotif barbie membalut kaki-kakinya yang kurus.


Hati Tiara kembali tersengat. Dia bergerak perlahan agar tidak membangunkan mereka, mengendap-endap menghampiri dan menyelimuti mereka. Anak itu menggumamkan sesuatu, lalu bergelung mengeratkan pelukannya pada sang pengasuh.


Dulu Tifany tak memiliki pengasuh, tetapi setelah Tiara memutuskan untuk bercerai dengan suaminya, mau tak mau dia harus mencari pengasuh untuk menemani Tifany sementara dia harus terjun ke dunia bisnis.


Meski Tiara tak mendapatkan hak asuh atas anak lelakinya, tetapi setidaknya dia masih memiliki Tifany. Salah satu alasan yang membuat Tiara tetap bertahan melewati berbagai guncangan dan perlakuan busuk yang dilakukan suaminya.


Air mata menyengat Tiara. Apakah Tifany pernah bertanya-tanya, mengapa dia dan adik lelakinya diperlakukan berbeda? Apakah Tifany pernah bertanya-tanya, mengapa pria yang dia sebut sebagai ayah itu justru menodainya?


Apakah Tifany pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi?


Hal itu terlalu menyakitkan untuk diingat. Apakah anak itu akan pernah mendapat kasih sayang dari ayah kandungnya?


Helaian rambut gelap yang bergelombang menempel di pipi Tifany, dan Tiara melawan desakan yang mendorongnya ke belakang. Dia tak ingin membuat anak gadis itu terbangun, karena Tifany tampak begitu manis saat sedang terlelap. Tak peduli meski dia diciptakan dari hasil dosanya dan Bian.


Tiara menoleh ke belakang saat terdengar pintu kamar terbuka, lalu Pinkan— istri Bahtiar yang melongokkan kepala.


"Temenin makan rujak, yuk?" kata Pinkan dengan suara berupa bisikan hingga Tiara harus menghampirinya. "Iseng tau kalau makan sendirian."


Tiara mengangguk mengiyakan, tak bisa menolak permintaan ibu hamil itu. Dia meletakkan tas di atas meja, lalu keluar dan masuk ke kamar Pinkan yang berseberangan dengan kamarnya.


Tampaknya Bahtiar terlalu kelelahan setelah melewati jalanan yang begitu macet, sehingga pria itu langsung berbaring tengkurap dengan dikerumuni kedua anak lelakinya di tempat tidur berukuran besar.

__ADS_1


Meski orang tua Tiara sudah tak ada, tetapi setidaknya dia bersyukur karena memiliki Pinkan dan Bahtiar yang selalu mendukungnya. Tak peduli meski Tiara telah bertahun-tahun tinggal di Hongkong, dan baru kembali lebih dari satu tahun terakhir ini.


Bukan berarti dia tak memiliki saudara, tetapi mereka tak akan peduli seberapa terpuruk dirinya. Terutama setelah ibu Tiara tak ada, tampaknya jalinan persaudaraan di antara mereka hanya tinggal nama.


"Lu serius mau pergi ke Batam?" tanya Pinkan sambil membuka bungkusan rujak yang dia pesan dari suaminya.


"Apalagi yang bisa aku harapin dari masa lalu yang kini tinggal hanya puing-puing tak tersisa?"


Pinkan menangkap kegetiran yang mewarnai suara Tiara. Dia menghela napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan.


"Tapi seenggaknya, apa kamu nggak mau nyoba sekali lagi bicara dulu sama Bian?" Pinkan menyarankan. "Berdasarkan history kalian, aku sih nggak yakin kalau Bian bakalan apatis ke Tifany—"


"Situasinya udah berbeda," tukas Tiara sambil menyambar potongan mangga muda dan mencelup ke sambal gula. Tidak, dia tak sedang hamil seperti Pinkan. Namun, kepalanya cukup berdenyut-denyut setelah menangis sepanjang perjalanan dari kafe Bian.


"Aku cuma khawatir kamu nyesel kalau nggak ngasih tau dia sama sekali," kata Pinkan yang terkekeh kecil ketika melihat Tiara tampak meringis ketika menggigit potongan mangga muda yang terasa asam itu.


"Mau gimana lagi?" komentar Tiara sambil mengukir senyum pahit. "Pertaruhannya itu rumah tangga si Bian sama istrinya. Belum lagi sekarang istrinya lagi hamil, aku nggak—"


"Masalahnya, si Tifany itu butuh banget sosok bapak, Nyuk!" Bahtiar tampaknya mendengar percakapan kedua wanita itu. Padahal Tiara menduga pria itu sudah mendengkur. "Gue yang bukan bapaknya aja pengen banget nyekik mantan laki lu sampe mati kalau dia nggak langsung pergi ke Singapura. Bisa-bisanya dia lampiasin kemarahannya ke Tifany, dan bisa-bisanya lu nggak lapor—"


"Kalau saya lapor polisi, saya nggak dapat apa-apa. Saya kehilangan anak lelaki saya," sahut Tiara dengan intonasi tinggi hingga dia bisa mendengar getaran dalam suaranya. "Saya kehilangan kesucian Tifany, dan dibuang dipinggir jalan karena semua harta orang tua saya yang nggak cukup buat nutupin hutang ke dia! Gimana saya bisa biayain pengobatan Tifany yang jelas butuh uang nggak sedikit buat nyembuhin trauma fisik dan psikis yang dia alami. Mungkin saya ibu yang kejam karena nggak nuntut keadilan buat anak perempuan saya. Tapi uang kompensasi 120 miliar itu saya pastikan cukup buat besarin Tifany—"


"Uang lu udah di-invest semua, Nyuk! Terus lu mau mutusin buat pergi?!" Bahtiar berang. "Mau jadi gembel di Batam? Mau—"


"Kamu nggak ngerti gimana serba salahnya di posisi saya!" Tiara mengeratkan rahang. "Kamu cuma bisa ngomentarin kenapa saya nggak bisa ngomong sama Fabian. Kamu pikir gampang ngaku—"

__ADS_1


"Gue yang bakalan ngomong sama dia!" bentak Bahtiar sengit. "Puas?"


__ADS_2