
"Janji dulu kalau kamu nggak usah terlalu mikirin kalau aku nyeritain semuanya?" Bian menoleh pada Amara sekilas, penuh harap dan sekaligus cemas di saat bersamaan. "Aku nggak mau kamu terlalu berat mikir."
"Iya, aku janji." Amara menanti penjelasan yang akan bergulir dari bibir Bian, sementara pria itu tampak masih ragu.
Sekali lagi Bian menghela napas dalam-dalam dan mengembuskan perlahan sebelum mulai mengungkapkan, "Awalnya aku nggak ngerasa ada yang salah, tapi semenjak aku cerai sama kamu, disusul perceraianku sama Yuanita, aku nggak pernah bisa tenang, nggak bisa tidur …"
"Emangnya kapan kamu cerai sama istri pertama kamu?" tukas Amara dengan terkejut, baru tersadar bahwa Bian kini sudah bukan pria yang memiliki dua istri.
Lalu Amara teringat Bian sempat memberitahu bahwa dia sudah bercerai, tetapi hingga saat ini mereka tak pernah membahasnya. Atau mungkin, Amara tak pernah ingin mendengar tentang Bian dan Yuanita. Yang jelas, waktu itu Amara hanya berupaya untuk tidak peduli pada Bian, karena penderitaan yang diberikan pria itu padanya.
"Di hari yang sama waktu aku cerein kamu," ungkap Bian dalam gumaman lirih.
"Hah?" Amara nyaris tak bisa mempercayai apa yang didengar telinganya. "Kok bisa? Gimana ceritanya? Kalian ribut? Apa dia tahu kamu nikah diam-diam? Apa istri kamu tau kedatanganku hari itu ke villa? Apa itu yang bikin kalian cerei?"
"Bukan." Bian tersenyum kecil, menyamarkan ironi pahit yang muncul dari sorot matanya dengan terus fokus mengemudi.
"Ra," kata Bian pelan. "Kalau aku nyeritain sesuatu sama kamu, kamu nggak bakal ngetawain kebodohanku 'kan?"
"Kok ngomongnya gitu?" Suara Amara sedikit merendah. "Om aja nggak pernah ngetawain kebodohan aku."
Bian tertawa lagi, tawa dipaksakan dan terdengar sumbang. Lalu mulai bercerita, "Hari itu, waktu aku pergi ke villa nemuin kamu yang berakhir dengan jatuhnya talakku seiring besarnya luka dan tuduhan sadis yang aku ucapin ke kamu …"
Bian terdiam sebentar, bibirnya terasa sedikit kelu. Namun, dia tak mungkin menggantung apa yang sudah dia mulai, dan tak mungkin membuat Amara semakin penasaran.
"Kayaknya waktu itu Yuanita mikirnya aku bakalan pulang malem," lanjut Bian berupaya setenang mungkin. "Badanku masih belum fit hari itu, jadi aku langsung pulang nggak lama setelah kamu pulang. Mungkin Yuanita lupa kalau aku dianter jemput sama asistenku, jadi nggak ngeh kalau aku pulang. Padahal dia lagi sakit, tapi bisa-bisanya phone **** sama cowok lain—"
"Phone ****?" Sekali lagi Amara terkejut mendengar pengakuan Bian. "Kamu nggak lagi ngada-ngada buat jelekin dia 'kan?"
"Sayang, logikanya, kalau nggak ada masalah, mungkin nggak aku sama dia bakalan cerei?"
__ADS_1
Amara menatap Bian yang menoleh padanya sekilas, jelas pria itu tak bisa berlama-lama menatapnya karena harus fokus mengemudi.
"Yang lebih buruk," lanjut Bian, menggulirkan cerita sambil mengingat-ingat setiap detik yang terjadi hari itu. "Di HP- nya ada video dia lagi hubungan intim sama cowok lain, tepat sewaktu Alif ada di rumah sakit. Kamu inget 'kan, di hari itu juga kita ngontrol ruko yang tadinya bakalan kita jadiin cafe?"
"Ya." Amara mengangguk-angguk, tentu saja dia tak pernah lupa pada setiap detik dan waktu singkat yang pernah dia lewatkan bersama suaminya. "Jadi waktu itu dia juga nggak sama Alif di rumah sakit?"
"Nggak." Bian meninggikan bahu. "Awalnya aku kasian sama dia, jadi nyuruh dia pulang. Yang jagain Alif waktu itu Mirna sama Dika— salah satu adeku. Lagian malem itu aku panik banget waktu asistenku ngabarin kalau bapak kamu masuk UGD. Jadi aku nyuruh dia pulang dan istirahat di rumah …"
Bian tertawa, merutuki kebodohannya. "Nggak taunya perhatian yang aku kasih, justru dimanfaatin sama dia buat pergi nemuin cowok lain. Bahkan berani berbuat hal menjijikkan kayak gitu sampe-sampe berani bikin video segala. Dan yang paling fatal, mungkin yang nularin sipilis itu selingkuhan Yuanita—"
"Gimana kamu bisa tau kalau orang itu yang nularin penyakit?" desak Amara penasaran.
Bian meninggikan bahu sebelum menyahut, "Pertama, mereka nggak pake pengaman. Kedua, aku terserang gejala sipilis di hari setelah malemnya aku berhubungan intim sama istriku, sementara pagi sebelumnya wanita laknat itu baru aja selingkuh …"
Bian tiba-tiba tertawa, tawa hampa— menertawakan diri sendiri. "Bisa-bisanya waktu itu aku nuduh kamu yang nularin penyakit. Nggak taunya yang aku tidurin wanita sampah, yang jelas-jelas lebih hina dari pelacur."
Sejenak, terbersit dalam pikiran Amara untuk berkata, kenapa kamu baru buka mata kamu?
Namun, Amara tahu itu bukan kalimat yang tepat untuk diucapkan, mengingat Bian sendiri jelas-jelas terperdaya oleh Yuanita.
"Jadi, hari itu juga kamu langsung nyerein Yuanita?" tanya Amara, memastikan.
"Ya." Bian mengangguk. "Aku bilang hari yang sama. Bahkan aku sempet kalap muk*lin dia, lalu berenti pas denger Alif nangis teriak-teriak liat Yuanita dianiaya sampe babak belur."
Amara terdiam sebentar ketika teringat kedatangan asisten Bian keesokan harinya yang memberikan sertifikat ruko, dan mengatakan bahwa beliau tak mungkin mengembalikan sertifikat tersebut pada Bian— khawatir akan diketahui istrinya.
"Kalau hari itu kalian cerei, kenapa asisten kamu nggak ngasih tau pas nganterin—"
"Dia mana tau?" tukas Bian enteng. "Kejadiannya di rumah, besoknya aku ditelponin terus sama notaris yang ngurus sertifikat. Jadi langsung minta dia buat anterin ke rumah kamu."
__ADS_1
Untuk sesaat, Amara tak bisa berkata-kata, menyadari kejujuran dalam setiap penjelasan yang dikatakan Bian. Lalu, dia kembali pada pembahasan pertama.
"Jadi, kamu pergi konsultasi ke dokter jiwa itu karena stres udah cerei sama Yuanita sama aku juga?" tanya Amara dengan polosnya. "Karena kamu stres kehilangan dua istri di hari yang sama?"
Bian tak tahu apakah dia harus tertawa, atau menghentikan mobil dan mencium Amara karena terlalu gemas dengan kepolosan istrinya.
"Bukan, Cintaku…."
"Terus apa?"
Bian melambatkan laju mobil ketika traffic light berubah merah di satu persimpangan jalan pusat kota, sementara Amara masih saja mendesak penjelasan tentang mengapa Bian harus berkonsultasi pada dokter kejiwaan.
"Ra ...," kata Bian dengan ragu. "Kamu janji dulu jangan mikir aku cowok kasar yang suka nganiaya cewek?"
Amara memberengut heran. Sejauh ini, selama dia mengenal Bian, selain pria itu selalu menciumnya dengan brutal saat sedang kesal, selebihnya Amara tak bisa mendeskripsikan bagaimana Bian bersikap sampai bisa kasar pada wanita.
"Memangnya kenapa sih?"
"Aku takut kamunya nanti mikir aku bakal nganiaya kamu, terus nyangka kalau aku ringan tangan ... mm, tapi sumpah, Ra ... selama sepuluh tahun rumah tangga sama dia, sebelumnya aku nggak—"
"Coba kamu jelasin dulu dari awal sampe akhir, biar aku ngerti apa sih sebenarnya maksud kamu," tukas Amara yang tak sabar ingin mendengar apa pun yang akan dijelaskan Bian.
Walau bagaimana pun, tak ada satu pun orang yang akan membenarkan suatu tindakan yang keliru, jika memang yang dilakukan Bian benar-benar salah. Namun, saat ini Amara berupaya berpikir dari kacamata dan sudut pandang berbeda, terlebih lagi setelah mendengar Bian tentang Yuanita. Semakin dia mendengar apa yang dilakukan istri pertama Bian, tentu saja Amara semakin penasaran.
Bukan, Amara bukan ingin mendapat penilaian lebih dari Bian dengan mencari tahu informasi tentang wanita itu. Lagi pula, dia cukup tahu diri seberapa kecil dirinya untuk Bian.
Terdengar embusan napas Bian yang lagi-lagi tampak berat. Kemudian Bian melanjutkan, "Aku nggak tau kenapa malem itu bisa kalut, sampe-sampe Yuanita ampir aja mati ...."
Bian menghentikan ucapannya sejenak, melihat reaksi Amara yang mungkin membayangkan seberapa brutal dia menganiaya Yuanita. Ingatan Bian kembali menguar kejadian detik-detik saat itu, benaknya menyeret setiap pergerakan kecil yang terjadi saat itu— tepat ketika Bian baru saja pulang setelah menemui Amara di villa.
__ADS_1