
"Sampe kapan kamu mau ngumpetin baju aku kayak gini?" gerutu Amara ketika Bian baru saja naik ke lantai atas, sementara dia duduk bersandar di sofa panjang sambil menonton TV. "Udah mau sebulan aku pake baju kamu terus. Mentang-mentang baju kamu banyak!"
"Abisnya kamu cantikan kayak gini, Sayang," sahut Bian sambil terkekeh kecil ketika duduk di samping Amara dan menarik wanita itu ke dalam pelukan. "Keliatan lebih seksi dan nyegerin."
"Tapi kan jadinya pintu depan harus dikunci terus takut ada orang yang masuk sembarangan," kaluh Amara ketika pria itu mengelus-elus pahanya dengan penuh minat. "Belum lagi aku nggak boleh ke bawah kalau kamu lagi nerima tamu, kayak barusan si Dika sama temen kamu. Cape tau kalau lagi duduk di bawah terus ada tamu, ntar aku langsung harus ke atas. Kamu mah kayak orang gila nyuruh aku nggak pake celana."
"Apa lagi hiburan aku kalau bukan liat kamu tampil seksi?" Bian tertawa geli sambil mengacak-acak rambut Amara. "Emangnya kamu lebih senang kalau aku liat yang bening-bening di luaran karena nggak bisa dapetin itu dari istri sendiri?"
Amara langsung mendongak dan menatap Bian dengan penuh ancaman. "Awas aja kalau kamu berani ngelirik-lirik cewek lain kalau lagi di luar nggak sama aku. Aku colok mata kamu."
Bian tergelak tawa. "Makanya, udah nggak usah minta baju-baju kamu lagi."
"Tapi besok kamu siapin lagi baju aku yang tertutup. Harusnya kan kemarin ke rumah sakit buat imunisasi BCG Biandra, tapi kamunya bilang jalannya macet banget." Amara kembali membenamkan kepalanya di dada Bian dan memeluk pinggang pria itu.
"Bulan lalu dia imunisasi apa?" Bian menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Amara. "Harus tiap bulan, ya, Sayang? Nggak tega sebenarnya liat dia disuntik-suntik kayak gitu. Sakit hati liatnya."
Amara terkekeh kecil melihat Bian memberingis, sadar bahwa pria itu menyayangi putri mereka tak hanya sekedar kata, tentu saja.
"Waktu dia usia sebulan itu vaksin polio," Amara menjelaskan. "Kata dokter, itu buat nyegah atau ngurangin penyakit yang berpotensi menimbulkan kelumpuhan. Kalau sekarang, kan usianya dua bulan lebih empat hari, dia mau imunisasi BCG, katanya untuk nyegah penyakit tuberkulosis supaya paru-paru anak tetap terjaga. Aku pengen vaksin Biandra tuntas, ya?"
"Berarti tiap bulan harus disuntik-suntik kayak gitu?" tanya Bian murung. "Kasian anakku."
"Kan buat kebaikan Biandra juga ke depannya, Om," kata Amara dengan alis berkerut.
"Bunda, jamu yang tutup botolnya warna ijo bukan?" Amara dan Bian seketika menoleh pada Alif yang baru saja naik.
Amara mengernyit ketika Alif mendekat dan menyerahkan botol tersebut. "Bukan, Sayang, ini jamu beras kencur," kata Amara dengan suara rendah. "Kata Bunda kan tadi botolnya warna ijo tutupnya warna putih. Ini kamu malah ambil yang tutup ijo botol putih."
"Ya udah, sini Alif tukerin lagi." Alif meminta kembali botol tersebut pada Amara.
"Udah nggak usah, temen si Papa sama mang Dika- nya juga udah pulang. Kasian kamunya capek, biar Bunda aja yang turun. Sini kamu duduk, ganti aja lagi ke kartun tontonannya."
Amara baru saja akan berdiri dari tempat duduk, tetapi kemudian Bian menariknya agar sang istri tetap duduk. "Emang tiap botol isinya beda-beda? Biar aku yang ambilin."
__ADS_1
"Kunyit asem, Om ... yang waktu itu dibawain ibu. Lusa juga pasti si Fathir nganterin lagi yang baru. Tinggal dua botol, kunyit asem sama beras kencur doang soalnya," Amara menjelaskan. "Lima botol yang dibawain itu macem-macem, ada kunyit asem, beras kencur, temulawak sama jahe, kayumanis— sama apalagi, aku lupa ..."
"Rajin bener ibu kamu bikin-bikin jamu kayak gitu," komentar Bian sambil mengulum senyum. "Harus, ya, orang abis ngelahirin minum rempah-rempah kayak gitu?"
Amara sedikit merona, tak ingin menjelaskan pada Bian bahwa itu adalah upaya untuk menjaga kebugaran tubuh pasca melahirkan seperti yang dikatakan ibunya.
Amara tak benar-benar tahu apakah semua jamu-jamuan tersebut akan berkhasiat seperti yang dikatakan sang ibu, terutama ketika sang ibu mengatakan jamu-jamuan tersebut berkhasiat untuk merawat **** ********** pasca melahirkan agar tak begitu mengendur.
Sebenarnya, Amara berpikir mungkin itu hanya kebiasaan yang sering dilakukan orang-orang tua zaman dulu. Namun, Amara tak sampai hati untuk menolak apa yang dibuatkan sang ibu untuknya. Terlebih lagi, bulan lalu dia juga pergi ke dokter spesialis kulit dan kelamin ketika membawa Biandra imunisasi saat usia satu bulan. Sebagai wanita yang baru pertama kali melahirkan, tentu saja Amara tak tahu bagaimana cara merawat **** *************.
Jadi, dia butuh berkonsultasi pada dokter tersebut karena tahu bahwa hal itu adalah salah satu yang terpenting untuk menjaga keharmonisan sebuah rumah tangga.
"Udah deh, aku aja yang ambil!" Amara cemberut. "Salah kamu sendiri kenapa nyuruh aku tiap hari pake kaos kayak gini doang. Jadinya repot kan?"
"Nggak tiap hari, Sayang," Bian menyusul Amara ke lantai bawah. "Kan aku ngizinin kamu pake baju tertutup kalau—"
"Iya kalau ada instruktur senam aku sama orang salon, baru kamu ngasih aku celana lejing," tukas Amara sambil berjalan buru-buru menuju tangga. "Dasar aturan ngaco."
"Pa," panggil Alif hingga Bian menoleh. "Tadi Alif liat eskrim Alif di kulkas udah abis. Alif pengen eskrim, Pa."
"Nggak!" Amara menuruni tangga dengan cepat, tetapi kemudian menoleh dan tersenyum. "Tapi WRP sama soyjoy- ku juga udah mau abis. Bolehlah beliin."
"Oh, bener-bener udah nggak mau ultra milk sama coklat lagi sekarang?"
"Nggak! Takut gendut aku." Amara tertawa. "Kata pelatih senamku, aku jangan ngonsumsi susu atau cemilan yang tinggi lemak kalau mau cepet kurus—"
"Tapi sekarang kamu udah cukup kurus, Istriku," pungkas Bian gemas. "Mau seberapa kurus lagi, sih?"
"Pokoknya sampe bener-bener seimbang sama tinggi tubuhku yang kayak kurcaci ini. Paling banyak nurunin dua sampe tiga kilo lagi." Amara bersikeras. "Udah sana, udah jam delapan malem ini. Nanti Alif tidurnya kemaleman lho."
Jadi, Bian langsung pergi bersama Alif ke supermarket. Amara mengambil sebotol jamu kunyit asam dari dalam kulkas, lalu menuang ke dalam gelas dan meneguk sekali tandas.
Ketika dia kembali ke atas dan masuk ke kamar, saat itu ponselnya berdering— ponsel Bian yang masih dalam pantauan Amara.
__ADS_1
Selama ini, tak ada tanda-tanda mencurigakan. Sebagaian besar yang menghubungi pria itu adalah teman-teman dan keluarganya, atau notifikasi group WhatsApp alumni SMP dan SMA— juga Group rekan-rekan seprofesi Bian di bidang akomodasi, yang terkadang menandai Bian dalam obrolan mereka.
Amara tak pernah membalas, tetapi dia selalu membaca apa yang diobrolkan mereka. Kecuali jika obrolan itu benar-benar penting, barulah Amara memberikan pada Bian agar membalasnya.
Sekarang, ponsel itu berbunyi dan muncul sederet nomor tak dikenal. Dia tak berani menjawab, khawatir orang itu perlu bicara dengan Bian, sementara pria itu tak ada.
Jadi, dia mengabaikan panggilan tersebut. Namun, tampaknya orang itu tak menyerah sebelum panggilan tersebut dijawab. Sehingga ponsel itu lagi-lagi berdering-dering untuk kedua dan ketiga kalinya.
Amara masih tak menjawab, tetapi kemudian sang pemilik nomor mengirim pesan melalui WhatsApp. Jadi, Amara langsung membuka chat tersebut.
From: +62819xxx : (Bi, apa kabar? Nomorku kenapa diblokir? Aku nunggu kamu nelpon, tapi kamu nggak pernah ngehubungi aku. Padahal waktu itu aku titip kartu nama dan alamat apartemenku ke penjaga villa. Bi, apa kamu belum berubah pikiran? Aku masih nunggu kamu, kita balikan lagi, ya?)
Jika saja tak berpikir ponsel tersebut adalah benda mahal bagi Amara, ingin sekali dia segera membantingnya begitu membaca pesan tersebut.
Pantas saja Bian sebegitu yakin bahwa sang mantan masih mencintainya. Pesan tersebut tentu saja menjelaskan bahwa Bian memang berpotensi untuk kembali pada sang mantan, jika Amara tak bisa menjaga suaminya— dan dia tak ingin pria itu kembali pada wanita itu.
Baru satu bulan ini dia dan Bian mulai harmonis. Di tambah lagi keberadaan Alif di sana membuat Bian semakin mencurahkan kasih sayangnya pada wanita itu karena Amara tak membedakan antara Alif dan Biandra.
Keduanya adalah orang-orang penting bagi kehidupan Bian, dan Amara tak keberatan jika harus mengurus Alif. Bagi Amara, keberadaan Alif bukanlah masalah besar selama Bian bisa setia padanya.
Bahkan, dia senang ketika Bian bisa membatasi pertemuan Alif dan Yunita. Setidaknya, sekarang Amara merasa rumah tangganya tak dihantui bayang-bayang masa lalu.
Namun, setelah mengetahui bahwa Tiara menantikan Bian, tentu saja Amara takut pria itu akan berpaling pada Tiara jika mereka sedang berselisih. Lalu, terbersit sebuah tekad dalam benak Amara untuk tidak membiarkan pria itu berpaling darinya, dan Amara akan melakukan apa saja untuk mempertahankan keutuhan rumah tangganya.
Dia tak ingin lagi mengalami resiko sakit hati karena dikhianati. Terlalu sakit rasanya jika dia harus kembali kehilangan Bian untuk yang kedua kali, terutama setelah mereka memiliki Biandra.
Ketika Bian kembali dari supermarket tiga puluh menit kemudian, Amara langsung berkata, "Mana baju tidurku?"
Bian menaikkan sebelah alis ketika melihat ekspresi Amara tampak bermuram durja. Entah apa yang terjadi pada istrinya sewaktu Bian pergi. Yang Bian tahu, dia sedang berada dalam masalah besar saat mendengar nada bicara Amara yang bahkan terdengar marah.
"Biasanya kamu tidur pake—"
"Mana baju tidur yang kamu beliin waktu itu, Om?!" tukas Amara kesal.
__ADS_1
Bian tercengang sejenak, tak yakin Amara mau memakai baju tersebut. "Maksud kamu, baju tidur yang tipis—"
"Iya, baju haram. Baju terkutuk, baju sialan!" Amara menggertakkan gigi. "Aku mau pake sekarang. Katanya kamu udah nggak sabar mau liat aku pake baju laknat itu?!"