
Deng...
Maura benar-benar di buat syok, setelah bertahun-tahun mereka tidak bertemu dan sekarang mereka berada di dalam satu mobil. Cukup lama keduanya saling tatap sampai Maura tersadar dan kembali memberontak.
"Turunin gue, loh mau bawa gue ke kama ha" ucap Maura dengan emosi.
Tapi bukanya mendengar gadisnya itu, Jovian mala menjalankan mobilnya keluar dari lobi hotel itu, ya pria itu adalah Jovian, ia juga menghadiri acaranya Doni yang tak lain adalah sahabatnya.
"Loh gak dengar ya gue bilang turunin gue" ucap Maura lagi.
Tapi lagi-lagi omongan gadis itu, tak di dengar boleh Jovian, pria itu lebih memili fokus menyetir. Maura yang kelelahan memberontak tapi percuma pria itu tak mendengarkannya, ia memili diam dan memalingkan wajahnya ke luar jendela mobil.
Sesekali Jovian mencuri pandang ke arah gadisnya itu, sejujurnya ia sangat merindukan gadisnya itu, Jovian memili membawa Maura secara paksa karena bila temui tentu saja gadis itu selalu menolak.
Tak lama kemudian, mobil Jovian memasuki parkiran apartemen elit, Jovian masi diam tak mengatakan apa-apa, ia turun duluan lalu membukakan pintu untuk gadis itu.
Maura memandang pria itu dengan kesal dan marah, lalu Maura berjalan hendak pergi dari hadapan Jovian, tapi Jo dengan cepat menarik gadis itu masuk ke dalam lift.
"Sebenarnya mau loh tuh apa si" ucap Maura dengan emosi ia benar-benar gak bisa menahan amarahnya.
Jo ingin berkata, tapi pintu lift sudah terbuka jo menarik paksa tangan gadis itu masuk ke dalam apartemen miliknya, dan langsung membawanya masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu itu agar gadis itu tidak kabur. Maura yang melihat Jo mengunci pintunya sontak langsung kembali mengamuk.
"Buka gak, gue mau keluar" ucap Maura berteriak sambil menahan tangisannya karena jujur saat ini emosi dan amarahnya benar-benar gak bisa di kontrol.
Maura berjalan mendekati pintu tapi langsung di peluk erat oleh Jovian, Maura mencoba melepaskan pelukan itu tapi usahanya sia-sia kekuatannya tak sebanding dengan pria itu.
"Buka gak pintunya gue mau pulangg... Hiks.." ucap Maura dalam pelukan Jovian sambil menangis.
Jovian semakin erat memeluk tubuh mungil itu, sambil mencium pucuk kepala Maura.
"Hiks... Hiks.." isak Maura.
"Kakak, kangen banget sama kamu, biarkan seperti ini sebentar saja" ucap Jo pertama kalinya.
Maura terus saja terisak, sudah tak sanggup lagi memberontak sudah terlalu lelah, gadis itu membiarkan pria itu memeluknya dengan erat.
Di rasa Maura sudah mulai tenang, Jovian melonggarkan pelukan nya.
Jovian memegang ke dua pipi Maura dan melihat wajah sebab gadis itu, Jovian mengusap bekas air mata yang masi tersisa di sana. Sungguh Jovian tak tega melihat gadisnya menangis.
__ADS_1
"Jangan nangis lagi ya, kakak minta maaf" ucap Jovian dengan sendu.
Maura masi tetap diam tampa kata, hatinya sakit jika mengingat kejadian empat tahun yang lalu.
"Kakak akan jelaskan semuanya sama kamu" ucap Jo mengajak gadis itu duduk di sisi ranjangnya.
Ke duanya duduk di sisi ranjang tapi Maura masi engan membuka suara, ia memili memalingkan wajahnya ke arah lain, dari pada melihat wajah pria yang pernah membuat hatinya sakit.
Jovian mulai menjelaskan semuanya dari awal hingga akhir.
Flashback on....
Halaman Sekolah saat ini sudah Riuh oleh para siswa-siswi yang baru saja merayakan hari kelulusan di SMA Nusa Bangsa.
Ke dua gadis cantik yang kini berdiri dengan para siswa siswi yang lain yang sedang melakukan coret mencoret seragam sekolah mereka, seragam milik ke dua gadis itu sudah di penuhi oleh macam-macam tinta spidol.
"Ra, kak Jo jadi datang kan" tanya Ambar.
"Iya Mbar, kak Jo tadi udah ngecat aku katanya dia udah ada di indonesia" ucap Maura dengan wajah berbinar, karena akan bertemu dengan yang ia sayangi.
"Sambil nunggu kak Jo, kita ke sana yuk" ajak Ambar dan Maura pun mengikut.
"Ra, kak Jo kok lama banget ya" ucap Ambar.
"Tadi dia ngecat aku, udah sampai indonesia ko" jawab Maura dengan raut wajah sedih.
Hari sudah semakin sore, dan Ambar pun mengajak saudaranya itu pulang ke rumah, setibanya di rumah, sebuah notifikasi berbunyi di ponsel Maura pertanyaan chat masuk, dengan cepat Maura membuka chat dari nomor yang tak di kenal.
Brrakk...
Ponsel milik Maura jatuh bersamaan dengan bulir bening dari ke dua pelupuk matanya. Seseorang tak di kenal mengirim gambar Jovian dan Vita sedang tidur bersama dalam keadaan Jovian yang tertidur pules dengan tampa pegalas dada dan Vita yang hanya menutupi tubuhnya dengan selimut tebal.
Hati Maura benar-benar hancur berkeping-keping, orang yang ia tunggu-tunggu seharian ini, ternyata sedang bersama wanita Lain dan mulai saat itu Maura membenci Jovian sampai sekarang.
******
Jovian menggeliat merasakan kepalanya yang terasa berat.
"Apa yang gue lakuin di sini, bukanya gue harus ketemu Maura" ucap Jo dalam hati.
__ADS_1
Jo mengingat-ingat kejadian sebelumnya, Vita meminta bertemu dan menawarkan minuman untuknya dan...
"Wanita sialan" ucap Jo bangkit dari tidurnya mengambil kemeja miliknya yang berada di sofa.
"Jo, " panggil Vita.
"Apa yang loh lakuin sama gue sialan" ucap Jo dengan tatapan tajam.
"Gue gak lakuin apa-apa ko" jawab Vita acuh.
Jo memili pergi dari hadapan wanita ular itu, dan masuk ke dalam mobil, Jo melihat jam yang suda menunjukan pukul 8 malam, Jovian menelpon Maura tapi nomornya di luar jangkauan, Jo, memilih pergi ke rumah gadis itu.
Tiba di depan pintu gerbang itu, Jo di persilahkan masuk oleh pak satpam,, Jo memikirkan mobilnya di jalan rumah besar itu dan turun dengan tergesa-gesa,.
Jo, mengetuk pintu dan Art yang membukanya.
"Bi, Maura nya ada" tanya Jo.
"Ada den, mari silahkan masuk" ucap Art dengan sopan.
Jo masuk ke dalam dan menunggu di ruang tamu, art tadi memanggilkan Maura.
"Ngapain kaka ke sini, lebih baik kaka pergi dari sini, aku benci sama kaka" ucap Maura dengan wajah sebab kerena habis menangis.
Jo, berjalan mendekati gadisnya itu, tapi Maura malahan menghindar dan menunjuk foto yang di kirim oleh seseorang tadi. Jo melihat foto yang berada di ponsel Maura yang retak itu dan saat itu juga tangannya terkepal kuat, Jo mencoba menjelaskan tapi Maura sudah pergi meninggalkannya dan gak mau mendengar penjelasan darinya.
Flashback of....
Setelah Maura mendengar semua penjelasan dari Jovian, ia menunduk kepalanya menghindari tatapan pria itu. Tapi hal itu terlihat mengemaskan di mata Jo, Jo mengangkat dagu Maura dan pandangan keduanya bertemu.
"I Love You Gadis kecilku" ucap Jovian dan belum sempat Maura menjawab.
Jovian mengusap kepala gadis kecilnya itu, dan menatapnya cukup lama.
"Maafin kaka ya" ucap Jovian, yang mendapat anggukan kepala dari Maura.
Next....
Jangan Lupa Like, Komen sama Vote ya. Terimakasih🙏🙏
__ADS_1