
Vita di minta sang papi untuk ikut meeting bersama, awalnya Vita menolak tapi karena ancaman sang papi membuat Vita tak dapat berkutik.
Semuanya sudah menunggu di ruang meeting, hanya tinggal menunggu Vita yang yang belum masuk ke ruangan itu.
Clek..
Pintu terbuka dan masuklah Vita di ikuti oleh sekertaris nya dari belakang, semua mata yang ada di ruangan itu melihat ke arah Vita, tapi Vita belum menyadari seseorang yang sedang menatapnya dan tersenyum.
"Baik, putri saya sudah berada di sini, jadi meeting nya bisa kita mulai" ucap papi Vita
Vita melihat semua yang ada di ruangan itu, dan pandangan wanita itu membulat saat melihat siapa yang sedang duduk di salah satu kursi di ruang meeting.
"Ngapain sih tuh orang di sini" ucap Vita dalam hatinya
Pria yang duduk di kursi tak jauh dari Vita hanya tersenyum remeh pada wanita itu, sekarang pria itu baru tau ternyata Vita anak perusahaan ini.
Vita memelotot kan matanya melihat ke arah pria itu yang tidak lain adalah Rendi, Rendi hanya tersenyum acuh ke arah wanita itu.
Rendi di sini juga menghadiri meeting untuk menggantikan sang papa karena sedang terbang ke luar kota ada urusan bisnis.
Pak Arga papi Vita sedang memimpin meeting, tapi ke dua orang yang sedang berperang antara mata tak henti-hentinya saling tatap sedari tadi.
Hampir 1 jam meeting berlangsung, akhirnya selesai juga, semua yang ada di situ berjabat tangan kecuali Vita dan Rendi, padahal ke dua nya sudah sering bertemu bahkan berciuman pun pernah.
"Ren, apa kabar nak" ucap pak Arga
"Baik om, papi gak bisa datang karena masi berada di luar kota" ucap Rendi
"Yah, papi mu sudah menelpon om semalam" ucap pak Arga
"Sayang, kenalin ini Rendi, anak teman bisnis papi" ucap pak Arga pada sang putri
"Udah kenal pi, tetanggaan juga dia apartemen" ucap Vita berlalu keluar dari ruang meeting
Membuat Rendi dan papinya melengos melihat wanita itu keluar dari ruang meeting gitu aja.
"Maafkan putri om ya, dia emang gitu orang nya" ucap pak Arga mengajak Rendi keluar
Sedangkan Vita kembali masuk ke dalam ruangan nya, Vita mengumpat kesal karena bertemu dengan pria sinting itu lagi, gak di apartemen di kantor dia mereka ketemu terus.
Tak lama kemudian pintu ruangan Vita terbuka, dan masuklah Rendi dengan gaya cool nya, satu tangannya berada di saku celananya.
"Ngapain loh masuk ke ruangan gue" ucap Vita kesal
"Cuman pengen liat-liat aja" ucap Rendi acuh
"Keluar gak loh" usir Vita
"Kalau gue gak mau, loh mau apa" ucap Rendi duduk di sofa tampa di persilahkan
"Ih gak tau malu banget sih" ucap Vita berjalan mendekati Rendi dan menarik tangan pria itu berdiri dari sofa.
Tapi sayang, bukannya berdiri, Vita malahan di tarik oleh Rendi dan terduduk di sofa di dekatnya, Rendi langsung mengurung Vita di bawa sana, membuat Vita menahan nafasnya.
"Bernafas aja, takutnya nanti loh pingsan lagi" ucap Rendi berbisik
Vita berusaha untuk mendorong tubuh kekar Rendi, tapi sia-sia tenaganya tak sebanding dengan tenaga pria itu.
"Minggir gak loh" ucap Vita
"Kalau gue gak mau, lagian gue udah ijin sama bokap loh buat masuk ke sini" ucap Rendi masi menahan tubu Vita
"Dasar pria stres" ucap Vita
Rendi hanya tersenyum penuh arti melihat Vita, Rendi memasukan wajahnya dan langsung menyambar bibir menggoda itu, Vita membulatkan matanya mendapatkan ciuman dari pria itu lagi, sedangkan Rendi tersenyum di selah mencium bibir itu, Vita tidak bergerak, atau membalas ciuman pria itu.
Setelah Rendi melepaskan ciuman mereka, Vita dengan cepat mendorong pria itu, dan merapikan rambut yang berantakan.
Rendi hanya tersenyum melihat wajah kesal Vita, entah kenapa membuat wanita itu kesal menjadi kesukaan untuk Rendi.
"Keluar gak loh dari ruangan gue" ucap Vita lagi
Tapi lagi-lagi tak di gubris oleh pria itu, yang selalu menganggu Vita di apartemen dan sekarang di kantor.
Vita hendak berbalik menjauh dari pria itu, tapi lagi-lagi tangan Vita di cekal oleh Rendi dan membuat wanita itu terduduk di pangkuan Rendi, membuat Vita kaget.
Vita ingin beranjak tapi di tahan oleh Rendi, cukup lama ke duanya saling tatap, sampai rendi kembali mencium Vita, Vita tak membalas dan tidak menolak, ia hanya diam saja menerima ******* lembut dari pria itu, cukup lama Rendi ******* bibir yang sudah menjadi candu untuknya itu.
Rendi melihat bibir bengkak Vita, dan mengusap bekas saliva di pinggir gadis itu dengan lembut.
Vita tidak lagi meronta, pandangan ke duanya kembali bertemu, tiba-tiba ke duanya di kaget kan oleh suara deringan ponsel milik Rendi, Rendi mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya dengan Vita yang masi ada di pangkuan pria itu.
Tertera di layar ponsel pria itu nama honey dan foto seorang wanita cantik dan ****, Vita bisa melihat itu, dan wanita itu memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Hallo.." ucap Rendi setelah sambungan telpon terhubung
__ADS_1
"......"
"Oke honey, aku ke sana sekarang tunggu aku" ucap Rendi dan langsung mematikan panggilannya
Vita dengan cepat turun dari pangkuan pria itu,dan berjalan menuju kursi kerjanya, entah kenapa ia tidak suka melihat wanita lain menelpon pria yang selalu menganggu nya beberapa hari ini.
Vita berpura-pura mengerjakan berkas yang ada di atas meja, cerewet wanita itu entah hilang ke mana, Rendi tak lagi mendengarnya, bahkan Rendi tak lagi mendengar Vita mengusir nya dari ruangan itu.
"Aku pergi dulu" ucap Rendi, tapi Vita tak menyahuti nya
Rendi keluar dari ruangan wanita itu, dengan perasaan yang sulit di jelaskan, ia sekarang akan menemui pitaloka, kekasihnya yang baru, sebelum mengenal Vita, Rendi sudah menjalin hubungan dengan pitaloka.
Vita menatap nanar pintu yang baru saja tertutup, entah ada apa dengan perasaan nya saat ini, tidak mungkin ia menyukai pria yang selalu menganggu nya beberapa hari ini.
Vita mengusap wajahnya dengan kasar, dan membuka laptop yang ada di atas meja, ia harus menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda saat meeting tadi.
✴✴✴✴
Gilang baru saja selesai pertemuan nya dengan klien dari jepang, dengan di dampingi oleh Arman sekertaris nya.
Gilang melihat jam yang sudah menunjukan pukul 3 sore, Gilang langsung memili pergi menjemput calon istrinya.
Gilang mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, dan tidak lama kemudian mobil Gilang tiba di lobby kantor Wijaya.
Gilang turun dari mobil, pria itu tidak memberi tau Ambar kalau ia akan menjemput Ambar sekarang.
Sedangkan Ambar di dalam ruangan nya masi, berkutat dengan berkas-berkas yang sedang ia kerjakan.
Gilang di lantai bawa masuk ke dalam lift yang akan mengantarkan nya menuju lantai atas.
Tingg...
Pintu lift terbuka, Gilang keluar dan melangkah menuju ruangan calon istrinya, di lihatnya Dila sedang sibuk dengan komputer nya.
Gilang melewati sekertaris gadis nya begitu saja, membuat Dila melengos melihat calon suami dari bos nya langsung masuk begitu saja ke dalam ruangan Ambar.
Ccllekk...
Ambar mendongakkan kepalanya melihat siapa orang yang masuk ke dalam ruangan nya tampa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Belum sempat Ambar berkata, seseorang di ambang pintu sedang tersenyum manis ke arahnya, membuat Ambar tidak bisa mengeluarkan kata-kata.
"Hay sayang" ucap Gilang melangkah masuk
"Kok gak bilang mau ke sini" tanya Ambar
"Sayang duduk di sofa bentar ya, aku mau selesain ini dulu, gak lama ko" ucap Ambar
"Oke cantik" ucap Gilang mencubit hidung gadisnya
Gilang duduk di sofa yang ada di ruangan itu, sesekali melihat gadisnya yang sedang fokus bekerja.
Rencananya setelah dari sini Gilang akan mengajak Ambar untuk melihat cincin pernikahan mereka di salah satu toko perhiasan yang ada mall.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Ambar langsung mendekati Gilang.
"Udah selesai" tanya Gilang
"Udah" jawab Ambar
"Kita pergi sekarang" ajak Gilang
"Ayok" ucap Ambar
Kedua nya keluar dari ruangan Ambar, dengan Gilang yang mengandeng tangan gadisnya.
Tiba di lantai dasar, banyak karyawan yang sudah bersiap-siap pulang.
Gilang dan Ambar masuk ke dalam mobil, lalu mobil pun keluar dari area kantor.
30 menit kemudian mobil yang di kendarai oleh Gilang memasuki parkiran area mall, Setelah memakirkan mobilnya, Gilang mengajak Ambar turun, Ambar tidak lupa membawa tasnya.
Ambar memeluk lengan Gilang saat masuk ke dalam mall itu, banyak pasang mata yang Melihat mereka dengan iri, apa lagi Gilang yang sesekali mengecup kening gadis itu.
Gilang mengajak Ambar masuk ke salah sagu toko perhiasan, sesampainya di dalam ke duanya di sapa ramah oleh penjaga toko.
"Saya mau sepasang cincin limited edition yang ada di tokoh ini" ucap Gilang
"Sebentar saya ambilkan dulu pak" ucap pelayan tokoh.
Tak lama kemudian pelayan tokoh kembali dengan membawa dua pasang cincin berlian yang seperti di minta oleh Gilang.
"Ini pak cincin nya" ucap pelayan tokoh
Gilang meraih cincin yang di bawah penjaga tokoh.
__ADS_1
"Sayang kamu mau yang mana" tanya Gilang
"Yang ini aja sayang, yang ini terlihat lucu" ucap Ambar menunjuk sepasang cincin yang sangat indah
"Baik saya ambil yang ini saja" ucap Gilang
"Baik, tolong tunggu sebentar pak" ucap penjaga tokoh
Setelah selesai membayar cincin yang mereka mau, kini Ambar dan Gilang keluar dari tokoh perhiasan dan berjalan-jalan di area mall yang sangat luas itu.
"Sayang gak mau beli yang lain" tanya Gilang
"Gak sayang, kita nonton aja ya" ucap Ambar dengan manja
"Boleh, ayok" aja Gilang
Ke duanya membeli tiket terlebih dahulu, Ambar memili filem horor, yang di bintangi oleh artis Natasha Wilona.
Gilang mengajak Ambar masuk ke dalam studio, Ambar sudah memegang pom untuk cemilan mereka di dalam nanti.
Gilang mengajak Ambar duduk di sudut, tak lama kemudian lampu mulai di padamkan hanya ada cahaya layar besar di depan mereka saja.
Awalnya biasa-biasa saja, tapi lama kelamaan suasana sudah menjadi horor, membuat Ambar berteriak kalau setan nya muncul kaget-kaget.
"Masi mau nonton" tanya Gilang
"Gak, aku takut" ucap Ambar
"Keluar aja ya, sayang udah keringatan ni" ucap Gilang melihat dahi gadisnya yang di penuhi peluh
"Iya" ucap Ambar
Gilang mengajak gadisnya keluar dari studio, dan benar saja setelah sampai di luar wajah Ambar terlihat sangat pucat karena ketakutan.
Gilang melihat jam yang ada di pergelangan tangannya yang masi menunjukan pukul 5 sore.
"Kita cari makan aja ya" ajak Gilang, dan Ambar hanya mengangguk
Gilang mengajak Ambar memasuki salah satu restoran yang ada di mall itu, Gilang mengajak Ambar duduk.
"Sayang mau pesan apa" tanya Gilang
"Oren jus aja" ucap Ambar
Gilang memanggil pelayang, untuk memesan pesanan mereka, mereka tidak memesan makanan hanya minuman saja.
Tak lama kemudian pesanan mereka datang, ke duanya menikmati pesanan mereka dengan sesekali mengobrol.
✴✴✴✴
Vita mengendarai mobilnya, ia baru saja pulang dari kantor, sekarang jam sudah menunjukan pukul setengah 7 malam, mobil yang di kendarai oleh Vita memasuki parkiran apartemen.
Vita turun dari mobil dan melihat pintu lift sebentar lagi akan tertutup dengan cepat Vita menahan pintu lift, tapi iya terdiam di tempat melihat ke dua pasangan yang sedang asik bercumbu di dalam lift, ke duanya belum menyadari akan kehadiran Vita di sana.
Melihat pintu lift kembali terbuka, si pria melepaskan cumbuannya dari wanita yang ada di hadapannya.
Deng...
Ke dua mata pria itu dan Vita bertemu cukup lama, Vita memili masuk ke dalam lift itu, mencoba mengabaikan keberadaan, ke dua pasangan itu.
Vita bisa melihat di dinding lift kalau si wanita sedang bergelayut manja di lengan Rendi ya pria itu adalah Rendi bersama Pitaloka.
Rendi hanya diam saja, tampa membalas omongan wanita yang sedang bermanja di lengannya.
Setelah pintu lift terbuka, Vita terlebih dahulu keluar dari dalam lift, Rendi melihat punggung yang mulai menjauh dan hilang di balik pintu.
Sesampainya di dalam apartemen nya, Vita melempar tas yang ia bawa ke sembarang arah, ia mengutuk dirinya yang ingin menangis melihat pria itu bercumbu dengan wanita lain.
"Tidak mungkin aku cemburu, gak mungkin, tapi kenapa dada ini terasa sangat sesak" ucap Vita dalam hatinya
Vita beranjak masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan dirinya, siapa tau dengan berendam semuanya akan baik-baik saja.
Sementara itu di luar apartemen, Rendi menyuruh Pitaloka pulang, ia beralasan kalau sebentar lagi papinya akan datang ke apartemen nya, dan hal itu sontak membuat Pitaloka kesal, padahal tujuannya ke sini untuk menggoda pria itu.
"Tapi aku kan belum masuk" ucap Pitaloka
"Lain kali aja, papi aku bentar lagi datang sama mami aku, nanti aku kena marah bawa perempuan ke apartemen" ucap Rendi
Dengan kesal Pitaloka kembali masuk ke dalam lift yang akan mengantarkan nya menuju lantai bawa, gagal deh rencananya untuk menggoda Rendi, padahal ia sudah membawa lingerie **** agar Rendi tergoda olehnya.
Next...
***Like, Komen sama Vote...
Terimakasih***...
__ADS_1
😊😊🙏🙏