
Sudah tiga hari Gilang dan Ambar di pingit, selama tiga hari ini pula ke duanya belum juga bertemu, apa lagi saling memberi kabar lewat ponsel, karena ponsel milik ke duanya di sita oleh mommy mereka.
Seperti saat ini Gilang sedang uring-uringan di dalam kamarnya, tidak tau harus berbuat apa lagi, ponsel di sita, pergi keluar di larang oleh mommy nya, benar-benar bikin Gilang pusing.
Tokk..
Tokk...
Gilang melihat pintu kamarnya sedan di ketuk, Gilang yakin itu pasti mommy nya, Gilang melangkah mendekati pintu dan benar saja setelah pintu terbuka wajah sang mommy tersenyum manis melihat wajah kusut sang putra.
"Wajah kamu kenapa sayang" tanya mom Sinta pura-pura tidak tau
"Mom, kembali in ponsel aku" ucap Gilang
"No, Boyy.. Kamu lagi di pingit" ucap mom Sinta
"Terus aku harus ngapain mom di kamar terus" ucap Gilang
"Nonton TV ke, atau ngaji itu lebih bagus sayang" ucap mom Sinta
Kalau sudah seperti ini Gilang memang tidak bisa berbuat apa-apa, gak baik juga melawan orang tua.
"Terus mom ngapain ke sini" tanya Gilang
"Iya mom sampai lupa tujuan mommy kesini, ayok makan malam sudah siap sayang" ucap mom Sinta
"Iya dikit lagi aku turun, mau ke kamar mandi bentar mom" ucap Gilang
"Cepat ya, awas lama, mommy sama daddy tunggu di meja makan" ucap mom Sinta
"Iya mom, aku gak lama kok" ucap Gilang
Mom Sinta kembali menuruni anak tangga satu persatu, lalu melangkah menuju ruang makan di sana sudah ada Reza sang suami yang menunggu kedatangan istri dan putranya.
"Sayang, Gilang mana, kok gak turun makan" tanya Reza kerena tak melihat sang putra
"Bentar lagi turun dad, lagi ke kamar mandi dia" ucap mom Sinta
Tidak lama kemudian Gilang turun ke bawa, dan melihat mommy sama daddy nya sedang menunggunya di meja makan.
"Maaf dad, mom, kalian menunggu lama" ucap Gilang duduk di salah satu kursi di sana
"Gak papa sayang" ucap mom Sinta
"Ayo kita mulai makan malam nya" ucap daddy Reza
Mom Sinta mengambilkan makanan untuk sang suami dan juga putra nya, ke tiganya mulai makan malam dengan hening.
✴✴✴✴
Sementara itu di kediaman Ambar, gadis itu sedang asik menonton drama korea bersama dengan Maura sepupunya, saat ini ke dua nya sedang berada di dalam kamar Ambar.
"Ya ampun romantis banget sih, pengen deh di ajak dinner kek gitu sama kak Jo" ucap Maura
"Hheemm, lebay loh" ucap Ambar
"Kok lebay sih, loh gak liat tuh mereka mesra banget" ucap Maura
"Romantisan juga kak Gilang" ucap Ambar tersenyum mengingat Gilang melamarnya tempo hari di private room restoran bintang lima
"Ya ampun di cium lagi, iihhh romantis banget" ucap Maura heboh
"Iihh, loh berisik deh" ucap Ambar
"Biarin aja" ucap Maura
Tiba-tiba pintu kamar Ambar di buka oleh Marvel, Maura dan Ambar melihat ke arah pintu di mana Marvel berdiri.
"Kak, balik yuk udah telat ni" ucap Marvel melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya
"Yah, sayang gue harus pulang, padahal masi pengen nonton sampai selesai" ucap Maura
"Udah sana pulang, udah telat itu" ucap Ambar
"Iya-iya gue balik dulu ya" ucap Maura meraih tasnya dan keluar dari kamar Ambar
__ADS_1
"Iya hati-hati ya" ucap Ambar
"Sip.." ucap Maura mengajukan ibu jarinya
Kedua kaka beradik itu menuruni tangga satu persatu menuju lantai bawa, ke duanya tidak lupa berpamitan pada uncle sama aunty mereka yang sedang duduk di ruang keluarga.
Selepas Maura pulang kini tinggallah Ambar sendiri yang sedang menonton drama korea, lama-kelamaan membuat Ambar bosan dan mematikan drama yang ia tonton.
Ambar membaringkan tubuhnya di kasur, entah harus berbuat apa sekarang, ponsel masi di sita sama mommy nya, Ambar beranjak berdiri dan berjalan menuju pintu menuju balkon, di sana Ambar melihat cahaya-cahaya bintang yang sangat indah.
Ambar menerawang jauh di sana, tinggal beberapa hari lagi ia akan menjadi seorang istri dari Gilang Hadinata, rasanya benar-benar gak nyangka ternyata ia di jodohkan dengan sahabat kecilnya oleh ke dua orang tuanya.
Ambar tersenyum sendiri mengigat pertemuan awal ke duanya di jerman dulu, gak taunya dari pertemuan itu terus berlanjut sampai saat ini.
"Sayang kok belum tidur" tanya Nisa yang tiba-tiba sudah berada di dekat sang putri
"Mom.." ucap Ambar memeluk Nisa dengan erat
"Loh kenapa, mau jadi pengantin kok sedih gini sih" ucap Ambar
"Gak, aku cuma pengen peluk mommy aja" ucap Ambar
Nisa mengusap punggung putrinya dengan lembut, gak nyangka padahal baru kemarin ia merawat putrinya sendirian dan sekarang udah mau nikah.
"Aku sayang banget sama mommy" ucap Ambar
"Mommy juga sayang sama kaka" ucap Nisa, tidak terasa air mata menetes di pipi Nisa
"Mom, daddy mana" tanya Ambar
"Daddy lagi di ruang kerja sayang, katanya mau meriksa email yang di kirim oleh om Leo" ucap Nisa
"Masuk yuk, udaranya dingin, nanti masuk angin lagi" ucap Nisa
Ke duanya masuk ke dalam, Ambar membaringkan tubuhnya dengan menjadikan paha sang mommy sebagai bantal, Nisa mengusap rambut putrinya itu dengan lembut, membuat Ambar memejamkan matanya merasakan nyaman dengan usapan sang mommy.
Nisa melihat putrinya yang sudah memejamkan matanya, Nisa tersenyum melihat wajah cantik putrinya.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Nicko berdiri di ambang pintu melihat sang istri sedang bersama putri mereka, Nisa memberi isyarat dengan menaruh jari telunjuknya di bibir nya pertanda jangan berisik.
Nicko membenahi letak tidur putrinya dan Nisa tidak lupa menyelimuti putrinya yang sudah tertidur lelap itu, sebelum keluar dari kamar putrinya itu, Nisa dan Nicko tidak lupa mencium kening putri mereka lalu keluar dari kamar itu.
✴✴✴✴
Selama itu pula ia selalu menghindari Pitaloka yang ingin bertemu dengannya, bahkan biar pun ia sedang berada di apartemennya, ia akan mengatakan sedang keluar hanya untuk menghindari wanita itu.
Pria itu baru saja tiba di apartemen nya, karena harus mengerjakan banyak pekerjaan kantor hari ini, di tamba lagi dengan pikirannya yang tidak karuan,selalu tertuju pada Vita.
Rendi masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang terasa lengket di badannya.
Tidak lama kemudian Rendi keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggang nya, Rendi melihat tempat tidur yang pernah ia dan Vita tiduri, pagi itu ia sempat mengerjai wanita itu, dan wajah Vita pagi itu terlihat sangat lucu kalau sedang cerewet, membuat Rendi mengulum senyumnya.
"Kenapa sih gue kangen sama mulut cerewet mu itu" ucap Rendi seorang diri, karena saat ini pria itu baru saja selesai membersihkan diri
Rendi mengambil baju santai nya dan memakainya, hari ini ia tidak keluar ia memili langsung istirahat saja, karena seharian di kantor juga sangat sibuk banyak pekerjaan.
Rendi membaringkan tubuhnya, lagi-lagi bayangan Vita muncul begitu saja saat ia mencoba memejamkan ke dua matanya.
"Bisa gila ni gue kalau kaya gini terus" ucap Rendi
Tiba-tiba ponsel Rendi berdering dan panggilan dari Pitaloka lagi, pria itu mendengus kesal mendapatkan telpon dari wanita itu, Rendi mengabaikan ponselnya yang terus berdering itu, sampai beberapa kali suara bunyi ponsel pria itu, tapi Rendi tidak menghiraukannya.
"Besok gue bakalan ketemu sama loh" ucap Rendi lagi, tekatnya sudah bulat besok ia akan menemui Vita di kantor wanita itu, kemudian Rendi memutuskan untuk tidur kembali karena malam sudah semakin larut, tapi ponsel milik Rendi masi tetap saja berdering.
✴✴✴✴
Di lain tempat, tepat nya di kediaman Vita. Wanita itu juga merasakan hal yang sama dengan Rendi, ia juga merindukan pria itu, pria yang selalu menganggu hari-harinya, tapi mengingat Rendi yang bercumbu di dalam lift bersama wanita lain membuat dada Vita terasa sesak, ia aku ia cemburu melihat Rendi bersama wanita lain, ia juga tidak tau kapan rasa itu mulai tumbuh, yang jelas ia sudah tidak memiliki perasaan pada Jovian.
Vita sadar selama ini ternyata rasa yang ia miliki terhadap Jovian adalah salah, tidak seharusnya ia memaksa pria itu untuk menyukainya, dan sekarang ia sudah menyukai pria lain, yang tidak lain adalah Rendi pria yang selalu menganggu hari-harinya.
Sudah seminggu lebih Vita menetap di rumah, ia belum kembali ke apartemen semenjak malam itu di mana ia melihat Rendi bercumbu dengan wanita lain.
Teman-teman Vita selalu mengajak Vita itu berkumpul-kumpul di apartemen Vita, tapi Vita selalu menolak dengan alasan ia sedang ingin menginap di rumah, kangen dengan ke dua orang tuanya, padahal tepatnya adalah ingin menghindari Rendi.
Vita melihat chat di grup WhatsApp yang masuk dari teman-temannya, teman-temannya itu mengajak Vita ke tempat biasa, tapi Vita menolak, membalas kalau ia sedang capek karena seharian bekerja di kantor, padahal dulu ia paling suka pergi kelayapan sekarang tidak lagi setelah pria itu menganggu hidupnya.
__ADS_1
Vita tidak lagi membalas chat para sahabatnya, ia memili tidur saja, setelah melihat jam yang sudah menunjukan pukul setengah 12 malam, Vita memejamkan matanya dan tidak lama kemudian, Vita sudah berada di alam mimpi.
✴✴✴✴
Keesokan harinya, Jovian datang ke rumah sahabatnya Gilang. Jovian, melihat Gilang yang sedang berdiri di balkon kamarnya, entah apa yang pria itu pikirkan Jovian juga tidak tau.
"Wwiihh,, yang lagi di pingit" ucap Jovian
"Kapan loh sampai" tanya Gilang
"Barusan gue hubungin loh, gak nyambung" ucap Jovian
"Ponsel gue di sita sama nyokap" ucap Gilang
"Sabar Bro, tinggal dua hari lagi acara pingitan selesai" ucap Jovian
"Yaya,, tapi gue kangen banget sama Ambar" ucap Gilang sendu
"Ya ela baru juga di pingit" ucap Jovian
"Nanti kalau loh Nikah juga bakalan ngerasain" ucap Gilang
Gilang mengajak Jovian duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya, kedatangan Jovian kemari adalah untuk menemui sahabatnya yang susah di hubungin, dan juga jarang bertemu dengannya akhir-akhir ini.
"Bakalan jaran nongkrong dong kita" ucap Jovian
"Yah enggak lah, kan gue bisa ngajak istri gue nongkrong" ucap Gilang
"Tapi mungkin gak sering-sering, yah loh tau lah pengantin baru" ucap Gilang menaik turunkan alisnya.
"Iya gue tau ko" ucap Jovian memandang sahabatnya itu dengan malas.
Gilang terkekeh melihat wajah kesal Jovian sahabatnya, tak lama kemudian Gilang beranjak dan dan kembali dengan dua kaleng bir, Gilang memberikan satunya untuk Jovian, dan satunya untuk dirinya.
"Kapan loh ngelamar Maura" tanya Gilang pada Jovuan yang sedang meneguk kaleng bir
"Secepatnya, nyokap gue juga udah ngebet pengen gendong cucu" ucap Jovian, masi teringat permintaan sang mama tempo hari.
"Cepat nikah bro, takutnya Maura di ambil sama yang lain" ucap Gilang sengaja memanas-manasi sahabatnya itu
"Gak bakalan gue biarkan orang lain ngerebut gadis gue" ucap Jovian
Gilang hanya tertawa melihat ekspresi wajah Jovian yang terlihat marah saat ia mengatakan gadisnya akan di ambil yang lain.
Cukup lama ke duanya mengobrol, akhirnya Jovian pamit balik ke kantor, karen sebentar lagi ia ada meeting dengan beberapa klien.
"Bro gue cabut ya, mau balik ke kantor ada meeting sama klien" ucap Jovian
"Iya hati-hati loh" ucap Gilang
"Yes.." jawab Jovian berlalu keluar dari kamar Gilang.
Jovian sampai di lantai bawa, hanya beberapa art yang terlihat, karena ke dua orang gua Gilang sedang melakukan aktivitas seperti biasa, daddy Reza di kantor sedangkan mom Sinta sedang sibuk mengurus acara pernikahan sang putra lusa nanti.
Jovian masuk ke dalam mobilnya, dan mobil pun keluar dari pintu gerbang yang menjulang tinggi itu, Jovian mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
Dan 30 menit kemudian mobil Jovian memasuki lobby kantor, terlihat beberapa karyawan selalu lalang di lantai dasar, Novian turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam lift yang akan mengantarkannya menuju lantai atas, di mana ruangannya berada.
Tingg...
Pintu lift terbuka, Jovian keluar dari dalam lift dan melihat sekertaris nya sudah menunggunya di sana.
"Apa semua klien sudah datang" tanya Novian pada sekertaris nya
"Sudah pak, semua sudah berada di ruang meeting" ucap sekertaris Jo
Ke duanya langsung pergi ke ruang meeting, setelah memasuki ruangan itu ternyata semua sudah menunggunya di sana, ke dua mata Jovian terfokus pada satu klien wanita yang sedang menunduk, sepertinya klien wanita itu belum menyadari kehadiran Jovian.
Jovian duduk di kursi paling depan khusus untuknya, dan Jovian segera memulai meeting nya, klien wanita itu mendongakkan kepalanya melihat pada Jovian, setelah itu fokus pada meeting yang di bahas oleh Jovian.
Klien wanita itu adalah Vita, entah kenapa setelah melihat pria yang sedang memimpin meeting itu, rasa yang dulu sudah tidak ada lagi, yang ada selalu bayangan pria yang selalu menganggu hari-hari nya yang selalu muncul di dalam pikirannya.
Setelah hampir 2 jam, meeting selesai juga semua klien berjabat tangan dengan Jovian termaksud Vita, tapi wanita itu tidak mengeluarkan satu kata pun, membuat Jovian terheran-heran dengan Vita, apakah wanita itu sedang sakit, biasanya Vita langsung menempel-nempel pada Jovian jika bertemu sekarang tidak lagi, tapi Jovian mensyukuri itu karena Vita tidak lagi mendekatinya.
Next....
__ADS_1
**Like, Komen sama Vote ya...
Terimakasih**...