
Setelah meminta sekertaris nya untuk membatalkan meeting sore ini, Jovian melangkah masuk ke dalam lift, ia akan pergi ke kantor sahabatnya untuk membahas sesuatu yang penting.
Setiba nya di lantai dasar, Jovian langsung melangkah menuju mobilnya dan masuk ke dalam, Jo kemudian menjalankan mobilnya meninggalkan gedung perkantoran itu.
Mobil Jo berhenti di lampu merah, dan pandangannya tertuju pada salah satu mobil yang ada di samping mobilnya.
Di dalam mobil itu Jovian melihat Bagas dan seorang wanita sedang bergelayut manja di lengan, Setelah lampu berubah menjadi warna hijau, Jo kembali menjalankan mobilnya tampa memperdulikan mobil di sebelahnya itu.
Mobil Jovian tiba di lobby kantor milik sahabatnya itu, pria itu keluar dari mobil tampa melepaskan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung nya. Beberapa karyawan wanita yang berpapasan dengannya tersenyum genit melihat pria tampan itu, tapi tidak dengan Jovian, baginya cuma gadisnya itu yang ada di hatinya.
Jovian masuk ke dalam lift yang akan membawanya menuju lantai di mana ruangan sahabatnya berada, dan 2 menit kemudian Jovian tiba di lantai ruangan Gilang.
Jovian menyapa sekertaris sahabatnya, kemudian langsung melangkah masuk ke dalam begitu saja tampa permisi. Di dalam sana Jovian melihat sahabatnya itu sedang duduk di kursi kebesarannya, dan berbalik menghadap kaca besar yang memperlihatkan gedung-gedung lainya dari balik kaca.
Gilang belum menyadari seseorang masuk ke dalam ruangannya, dengan pelan Jovian melangkah mendekati sahabatnya itu di saat jarak Jovian tinggal selangkah lagi, Jo mengerutkan keningnya melihat selembar foto gadis kecil yang di pandangi oleh sahabatnya itu. Jovian jelas tau siapa gadis yang ada di dalam foto itu, meskipun wajahnya belepotan dengan coklat es krim.
"Ngapain loh lihatin fotonya Ambar" ucap Jovian tiba-tiba membuat lamunan Gilang buyar.
"Lo ngagetin gue aja" ucap Gilang membalikkan kursinya menghadap Jo, tapi Gilang tidak mendengar jelas nama Ambar karena sedang melamun.
"Kapan lo di sini" ucap Gilang.
"Dari tadi liatin loh mandangin fotonya Ambar" ucap Jovian.
Gilang mengangkat sebelah alisnya heran dengan perkataan sahabatnya itu, Gilang berpikir dari mana sahabatnya tau nama gadisnya itu.
"Di tanyai bukannya jawab mala ngelamun aja lu" ucap Jo kesal.
"Loh kok tau nama gadis gue" ucap Gilang heran.
"Yah tau lah, ini Ambar anaknya om Nicko saudaranya Maura, teman gue dari SD" ucap Jovian membuat Gilang kaget.
"Nama sahabat kecil gue juga Ambar" ucap Gilang yang berhasil membuat Jovian mengumpat.
"Shitt.. Jadi gadis yang loh cari itu Namanya Ambar" tanya Jo yang mendapat anggukan dari Gilang.
"Berarti orang yang loh cari tampa loh sadari ada di depan loh sendiri" ucap Jovian.
"Akhirnya aku menemukan mu" ucap Gilang dalam hati dengan senyum merekah di wajahnya.
"Thanks bro, kalau gak ada loh datang diam-diam ke sini gue gak bakalan tau kalau gadis kecil gue adalah orang yang selalu membuat jantung gue berdegup kencang hanya dengan melihatnya" ucap Gilang panjang lebar.
"Nyokap sama Bokap loh bukan udah ngejodohin kalian" tanya Jo.
"Iya dan gue akan berterima kasih sama mereka" jawab Gilang dengan senyum tampa henti.
__ADS_1
"Terus gimana caranya loh bilang sama Ambar, kalau loh itu teman masa kecilnya" tanya Jovian.
"Gue mau bikin kejutan buat dia di bali" jawab Gilang dengan senyum misterius.
"Gue butuh bantuan loh dan Maura" ucap Gilang lagi.
"Oke nanti gue kabarin gadis gue" jawab Jo dan keduanya membahas masalah bisnis setelah itu, sampai jam sudah menunjukan pukul 5 sore.
๐ธ๐ธ๐ธ
Setelah pulang kantor, Ambar memberhentikan mobilnya di taman dekat jalan raya itu. Gadis itu turun dari mobil dan melangkah mendekati bangku yang biasa ia duduki.
Setelah mendudukkan bokongnya, Ambar menatap langit yang sudah mulai gelap itu, ia sangat berharap seseorang yang ia tunggu datang menemuinya.
Ambar mengeluarkan kalung yang ia pakai dari dalam kemeja puti yang ia kenakan itu, sudah lama Ambar memakai kalung itu hanya saja selalu ia selipkan di balik baju yang ia kenakan jadi tidak ada yang bisa melihatnya.
Ambar menunduk melihat huruf yang ada di kalung pemberian sahabat kecilnya itu, hari sudah semakin gelap tapi gadis itu masi betah duduk sendiri di bangku itu.
Ambar merasakan rintik hujan mulai turun tapi gadis itu engan untuk beranjak, sampai hujan turun semakin deras sampai membuat semua tubuhnya basah kuyup, Ambar sudah mulai kedinginan ia memeluk tubuhnya sendiri, ia seperti ini karena ingin menghilangkan semua beban pikiran yang ia alami sekarang.
Bukanya berhenti tapi hujan turun semakin deras, membuat Ambar semakin bertambah menggigil, Ambar beranjak berdiri hendak melangkah ke arah mobilnya tapi ia melihat sebuah mobil yang menepi dan seseorang pria berjas rapi bergegas keluar dari dalam mobilnya tampa mengenakan payung, dan pandangan Ambar mulai mengabur sampai pria itu menahan tubuhnya yang akan jatuh, Ambar berharap itu adalah pria yang ia tunggu selama bertahun-tahun, samar-samar Ambar mendengar pria itu memanggil-manggil namanya, sampai semuanya gelap.
Gilang Pov
Setelah aku selesai berbincang-bincang dengan Jo sahabatku, kami memutuskan untuk pulang karena hari sudah semakin sore..
Aku mengendarai mobilku dan Jo mengendarai mobilnya, kami berpisah keluar dari lobby kantor karena ia akan menjemput pacarnya Maura.
Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan rendah, karena jalan sedikit macet, mungkin karena jam pulang kerja. Tak tau kenapa tiba-tiba aku membelokan kan mobilku melewati jalan yang akan lewat taman itu.
Aku tersenyum mengigat gadis kecilku yang ternyata adalah orang yang sering membuat jantungku berdetak kalau kami bertemu, aku melihat kaca mobilku ada rintik-rintik hujan aku terus mengendarai mobilku tapi hujan semakin deras sampai membuat aku kesusahan untuk melihat jalan depan.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, aku melihat mobil yang aku kenal, dan melihat ke arah bangku yang sering di duduki oleh gadis ku, ternyata ia baru saja beranjak dengan tubuhnya yang sudah basah kuyup, aku melihat dia melangkah mendekati mobilnya tapi dengan cepat aku keluar dan berlari ke arahnya, dan benar saja setelah tiba di dekatnya tubuh yang basah itu langsung ambruk dengan cepat aku memeluknya agar tubuh itu tidak jatuh, pandanganku tertuju pada sesuatu yang berada di leher putih miliknya, aku langsung me manggil-manggil namanya tapi dia sudah tidak sadarkan diri, aku mengendong nya dan membawa masuk ke dalam mobilku, aku melepaskan jas ku yang sudah basah itu dan dengan cepat mengendarai mobilku menuju rumah sakit terdekat.
๐ธ๐ธ๐ธ
Ambar, Nicko dan Brian tiba di rumah sakit di mana putrinya di rawat, Nicko selalu menenangkan sang istri yang terus menangis. Nicko mendapat telpon dari Gilang kalau putrinya pingsan dan sekarang berada di rumah sakit.
Nicko melihat Gilang yang duduk di kursi depan IGD, Nicko membawa istrinya mendekati Gilang di ikuti oleh Brian.
"Gilang.." panggil Nicko.
"Om.." ucap Gilang dan pandangan Gilang beralih pada wanita paru baya yang seumuran mommy nya yang sedang menangis di pelukan om Nicko, wanita yang dulu pernah memboncengnya dan Ambar mengunakan sepeda motor.
"Gimana keadaan putri om nak" tanya Nicko.
__ADS_1
"Dokter masi memeriksa Ambar om" jawab Gilang.
"Bagaiman Ambar bisa pingsan nak Gilang" tanya Nisa.
"Ambar kehujanan di taman dekat jalan raya tante, dan untung saja Gilang lewat sana dan melihat Ambar" ucap Gilang.
"Mas.. Hiks.." tangis Nisa.
"Udah sayang tenang dulu ya, mas yakin kaka gak papa" ucap Nicko.
Pandangan Gilang beralih pada Brian yang berdiri di samping daddy nya, Gilang menelisik wajah Brian yang sama dengan wajah Nicko, ternyata benar apa yang di katakan oleh Ambar, pria itu adalah adiknya.
Pintu ruangan IGD terbuka, seorang dokter keluar di ikuti suster di belakangnya, dengan cepat Nicko menghampiri dokter itu untuk menanyakan keadaan putrinya.
"Dokter bagaimana keadaan putri saya" tanya Nicko
"Putri bapak gak papa, hanya kedinginan saja, sebentar lagi dia sadar" ucap Dokter itu tersenyum.
Semuanya bernafas lega mendengar perkataan dokter itu, lalu tak lama kemudian Ambar di pindahkan di ruang VVIP, dan mereka semua masuk ke dalam ruang VVIP itu.
Pelan-pelan Ambar membuka ke dua matanya, gadis itu melihat suasana yang berbeda bukan seperti kamarnya, Ambar melihat ke dua orang tuanya dan juga adiknya ada di ruangan itu juga.
Gilang? pria itu baru saja balik beberapa menit yang lalu, karena pakaiannya yang basah karena menolong gadisnya tadi, buat Gilang yang terpenting gadisnya sudah baik-baik saja.
"Dad, mom kok, aku ada di sini" tanya Ambar.
"Iya sayang, tadi kamu kehujanan dan pingsan untung saja ada Nak Gilang yang menolong kamu" ucap Nisa.
Ambar melihat ke semua sudut ruangan, tapi tidak menemukan orangnya, Nisa yang mengerti putri sedang mencari seseorang langsung berkata.
"Nak Gilang udah pulang sayang, kasian dia pakaiannya basah semua" ucap Nisa.
"Jadi pria yang aku liat tadi berlari ke arahku itu Gilang, bukan orang yang aku tunggu, ternyata kak Gilang benar-benar udah bakalan datang." ucap Ambar dalam hatinya.
"Sayang kok diam aja apa ada yang sakit" tanya Nicko.
"Gak kok dad" ucap Ambar cepat karena tidak ingin ke dua orang tuanya cemas.
"Kak, cepat sembuh yah" ucap Brian mendekati ranjang kaka nya.
"Iya adik ku" ucap Ambar tersenyum pada semuanya.
Nisa menyuapi sup panas pada putrinya itu, karena di selah menunggu putrinya sadar, Nisa meminta Art untuk membuat sup untuk putrinya itu dan minta di antar kan oleh pak sopir.
Next....
__ADS_1
Guys, jangan lupa Like, Komen sama Vote nya ya. Terimakasih๐๐๐