
Keesokan paginya, Gilang datang ke rumah sakit untuk menjenguk gadis kecilnya. Saat ini Gilang berjalan di koridor rumah sakit yang lumayan ramai itu, sebelumnya ia sudah mampir untuk membeli sebuket bunga dan membawa sarapan buatan mommy nya untuk gadisnya itu.
"Belum bertemu aja jantung gue kembali berdetak tak karuan gini" ucap Gilang dalam hatinya.
Tinggal beberapa langkah lagi Gilang akan sampai pada pintu ruangan gadisnya itu, Gilang melihat Nicko keluar dari ruangan itu di ikuti oleh Nisa dari belakang, Gilang mempercepat langkahnya dan menyapa ke dua orang tua gadisnya.
"Om, tante" panggil Gilang
"Nak Gilang" ucap ke dua nya
Gilang menyalami ke dua tangan Nisa dan Nicko bergantian, kemudian Gilang ijin masuk ke dalam untuk menemui gadisnya.
Cclekk...
Pintu ruangan Ambar terbuka, masuklah Gilang dengan senyum manis dan sebuket bunga jangan lupakan sarapan yang ia bawa. Ambar melihat pria yang masuk itu.
"Bagaimana keadaan kamu" tanya Gilang
"Udah lebih baik kok" jawab Ambar tersenyum
"Ini bunga buat kamu, aku gak tau kamu suka bunga apa, aku hanya memili bunga yang cantik aja" ucap Gilang menyerahkan sebuket bunga.
"Makasih ya" ucap Ambar menerima buket bunganya
"Aku juga bawa sarapan buat kamu" ucap Gilang
"Aku siapin ya" tanya Gilang
Ambar yang ingin protes, tapi Gilang udah menyodorkan sarapannya ke arahnya, Ambar membuka mulutnya menerima suapan dari pria itu, pandangan Gilang beralih pada leher jenjang milik gadisnya itu, dan kalung itu Ambar selipkan di balik baju pasien yang ia kenakan.
"Kamu gak ke kantor" tanya Ambar
"Habis dari sini aku baru ke kantor" ucap Gilang dan kembali menyuapi gadisnya.
Ambar menghabiskan sarapan yang di bawakan oleh Gilang, menurut Ambar sarapannya enak, Ambar suka.
"Sarapannya beli di mana" tanya Ambar
"Mommy aku yang buatin, gak enak ya" ucap Gilang menanti jawaban gadisnya
"Gak kok, enak aku suka, bilangin sama mommy kamu makasih banyak ya" ucap gadis itu tersenyum
"Iya nanti aku sampaikan sama mommy" ucap Gilang balas tersenyum, tapi jantung pria itu lagi-lagi berulah tak karuan hanya dengan melihat senyuman gadisnya itu.
Gilang melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya itu, sudah menunjukan pukul 9 pagi, ia harus segera ke kantor karena ada meeting.
"Kalau gitu aku ke kantor dulu ya" ucap Gilang
"Iya kamu hati-hati ya, makasih udah nolongin aku kemarin" ucap Ambar
"Iya sam-sama, kamu cepat sembuh ya" ucap Gilang
Ambar menganggukan kepalanya tersenyum melihat pria yang kemarin menolongnya berjalan sampai hilang dari balik pintu.
Ambar Pov....
Setelah mommy dan daddy pamit keluar dari ruangan ku, aku melihat pintu ruangan ku kembali terbuka, aku pikir mereka balik lagi. Tapi dugaan ku salah, ternyata di yang membuka pintunya adalah pria yang kemarin menolongku.
Jantungku kembali berdetak dengan cepat hanya dengan melihat senyum manis di wajah tampannya, aku melihat sebuket bunga dan paper bang yang berada di tangannya. Dia memberi bunganya buat aku dan aku menerimanya, dan dia juga menyuapi ku dengan sarapan yang sama enak nya dengan buatan mommy ku.
Ku pikir dia membeli sarapan itu, tapi tidak itu adalah sarapan buatan mommy nya, aku sesekali melirik ke arahnya yang terlihat gugup, entah ada apa dengannya aku juga tidak tau, sampai ia pamit ke kantor aku pun tidak lupa berterimakasih karena kemarin ia sempat menolongku, dia lagi-lagi tersenyum manis sejujurnya aku mulai menyukai senyumannya itu, bolehkan aku berharap seseorang yang aku tunggu-tunggu selama ini adalah pria tampan yang menolongku kemarin.
πΈπΈπΈ
Di sisi lain...
Maura sedang mengendarai mobilnya menuju apartemen milik Bagas, ia akan memutuskan hubungannya dengan pria itu, selain sudah mengetahui kelakuannya yang suka bermain wanita lain, Maura memikirkan mobilnya di parkiran apartemen yang cukup mewah itu, Maura melangkah masuk ke dalam lift dan menekan angka 8 karena unit yang di tempati pria itu di lantai 8.
Tingg...
Pintu lift terbuka, Maura keluar dari dalam lift berjalan menuju pintu apartemen pria itu, Mau mengetuk pintu itu, tapi tidak ada tanda-tanda pria itu membukakan pintu, Maura tak menyerah dan terus mengetuk pintu.
Cclleekk...
Pintu terbuka dan nampak lah seorang wanita berpakaian **** dengan rambut acak-acakan berdiri di ambang pintu.
"Maaf cari siapa ya" ucap wanita itu
"Bagas nya ada" tanya Maura
"Sayang siapa sih, udah kalau gak penting masuk aja, aku udah gak tahan ni" ucap seorang pria dari dalam apartemen itu
Maura menerobos masuk ke dalam untuk bertemu pria itu, Maura melihat Bagas baru saja selesai memakai celana boxer miliknya.
"Bagas..." panggil Maura membuat pria yang duduk di sofa itu mendongakkan kepalanya melihat suara yang sangat ia kenali itu.
"Ma..Maura" ucap Bagas gugup
"Jadi gini ya kelakuan kamu, mulai sekarang kita putus" ucap Maura berbalik hendak keluar tapi dengan cepat Bagas mengejarnya.
"Sayang kamu salah paham, ini gak seperti uang kamu liat" ucap Bagas membelah diri
"Salah liat apa apa maksud kamu, jelas-jelas kamu berduaan dengan perempuan lain di dalam apartemen kamu, dan itu apa" ucap Maura menunjuk bra dan ****** ***** wanita berserah kan di lantai.
Tampa menunggu perkataan bagas, Maura langsung keluar dari dalam apartemen pria itu, bukanya sakit hati tapi Maura kesal jadinya melihat tingkah pria itu.
Tiba di lantai dasar, Maura langsung masuk ke dalam mobil sport miliknya, kemudian keluar dari parkiran apartemen itu.
Maura melihat jam yang melingkar di tangan mungil nya, ia akan menjenguk Ambar di rumah sakit, karena mendengar dari mommy nya kalau sepupunya itu masuk rumah sakit kemarin.
πΈπΈπΈ
Gilang baru saja keluar dari ruangan meeting di ikuti oleh Arman sekertaris nya dari belakang, Gilang melangkah masuk ke dalam ruangannya dan mendudukkan bolongnya di kursi kebesarannya.
4 hari lagi ia dan Ambar ada perjalanan bisnis ke bali untuk meng survei lokasi pembangunan resort di sana, Gilang berniat akan membuat kejutan untuk gadis nya itu, Gilang akan memberi tau gadisnya kalau pria yang gadis nya tunggu-tunggu itu adalah dia.
Gilang akan meminta bantuan Jovian dan Maura untuk membuat kejutan itu.
__ADS_1
Gilang mengerjakan pekerjaan yang ada di atas meja kerjanya itu, karena sebentar lagi jam akan menunjukan jam makan siang.
Tok..
Tokk...
"Masuk" ucap Gilang
"Permisi pak, ada berkas yang harus bapak tandatangani" ucap Arman
Arman memeriksa berkas, itu pada bosnya lalu Gilang membaca berkas-berkas itu sebelum menandatangani nya, setelah itu Arman kembali keluar dari ruangan bosnya itu.
πΈπΈπΈ
"Leo apa kau tidak merasa ada sesuatu di antara putraku dan putrimu" tanya Nicko pada asistennya itu
"Maksud bos, sesuatu apa" tanya Leo
"Brian akhir-akhir ini sering dekat dengan Sheila" ucap Nicko
Leo diam cukup lama, sampai membuat Nicko kesal, di ajak ngomong mala bengong aja ni orang.
"Iya bos, Brian juga sering mengantar jemput Sheila ke sekolah" ucap Leo
"Apa jangan-jangan mereka pacaran ya diam-diam" ucap Nicko
"Saya juga gak tau bos" jawab Leo
"Ck, gak asik ngomong sama kamu, seperti orang gak bersemangat aja" ucap Nicko kesal
"Saya memang lagi gak semangat bos" ucap Leo jujur
"Kenapa, gak dapat jatah ya" ucap Nicko, ke dua pria dewasa itu memang suka ngomong ngawur kalau lagi berdua saja
"Iya bos, akhir-akhir ini istri saya suka marah-marah bos, gak mau tidur sama saya" ucap Leo yang berhasil membuat Nicko tertawa lepas
"Sabar aja" ucap Nicko
"Ya gak bisa gitu dong bos, udah 5 hari saya puasa" ucap Leo kesal mengingat istri nya itu selalu banyak alasan kalau ia ajak begituan
"Kalau istri gue ni ya, sekarang udah semakin liar di ranjang, Bikin aku pengen terus-terusan mau ngurung istri gue di kamar" ucap Nicko terkekeh geli melihat wajah kesal asisten nya itu.
Abrolan ke duanya terhenti saat ponsel milik Nicko berbunyi, terlihat nama istrinya terserah di layar ponsel miliknya. Dengan cepat Nicko mengangkat telpon dari istri nya itu.
"Iya sayang, ada apa" ucap Nicko setelah sambungan telepon terhubung
"Mas, kaka siang ini udah mau pulang dari rumah sakit, kamu tolong datang ke suami ya" ucap Nisa dari seberang telpon
"Oke sayang, sedikit lagi mas, sama Leo Ke sana ya" ucap Nicko
"Iya mas, I Love You" ucap Nisa dari seberang telpon
"I Love You too istriku" ucap Nicko
Membuat Leo yang duduk di depan nya mendengus kesal melihat tingkah lebay dari bosnya itu, ia tau saat ini Nicko sengaja mengejeknya dengan memamerkan kemesraan bersama istrinya.
"Gak papa bos" ucap Leo
"Bilang aja loh iri kan sama gue" ucap Nicko
Leo kembali mendengus kesal mendengar perkataan sang bos. Nicko kemudian mengajak asistennya itu pergi ke rumah sakit, untuk menjemput putrinya.
πΈπΈπΈ
"Sayang udah siap" tanya Nisa pada sang putri
"Udah myy" jawab Ambar yang duduk di dekat Maura sepupunya
Saat ini ke dua gadis itu sedang duduk di sofa yang ada di ruangan itu, semenjak Maura datang menjenguk sepupunya itu, Ambar menceritakan tentang Gilang yang menolongnya kemarin di taman, Maura belum menyadari pria yang di ceritakan oleh sepupunya itu adalah sahabat dari kekasihnya Jovian.
"Kamu gak ada pemotretan Ra" tanya Ambar
"Gak ada, hari ini gue ijin, mau ke kantor Kak Jo" ucap Maura
"Loh beneran jadian sama kak Jo" tanya Ambar
"Iya lah, kak Jo udah jelasin semua ke gue" ucap Maura
"Lebih bagus sih, kamu udah gak sama si Bagas itu" ucap Ambar
"Iya tadi gue juga ke apartemen nya, dia kedapatan sama gue lagi sama cewek di dalam apartemen nya" ucap Maura
"Cowok kaya gitu gak pantas tau gak buat loh" ucap Ambar
"Iya, yang penting gue udah sama kak Jo sekarang" ucap Maura tersenyum senang
"Yee, senyum-senyum sendiri lagi loh" ucap Ambar
"Biarin nanti juga loh gitu, kalau jatuh cinta" ucap Maura
Ambar tersenyum kecut, mendengar perkataan sepupunya itu, apa masih boleh dia berharap dan merasakan cinta dari seseorang yang ia nanti selama ini.
Tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka, Nicko dan Leo masuk ke dalam melihat Ambar dan Maura sedang asik mengobrol.
"Sayang" panggil Nicko pada sang istri
"Udah siap semuanya" tanya Nicko lagi
"Udah mas" jawab Nisa
"Dad, ayo pulang aku udah kangen sama kamar aku" ucap Ambar dengan merengek pada daddy nya.
"Iya sayang" ucap Nicko mencubit hidung putrinya gemes
Semuanya keluar dari ruangan itu, tapi sampai di lobby Maura berpamitan pada semuanya karena ia akan pergi ke kantor kekasihnya dan tinggallah Ambar, Nisa, Nicko dan Leo yang mengendarai mobilnya keluar dari lobby rumah sakit.
πΈπΈπΈ
__ADS_1
30 menit kemudian, mobil yang Maura kendarai tiba di lobby kantor, sebelum turun ia merapikan penampilannya terlebih dahulu, tiba-tiba seseorang mengetuk kaca mobilnya.
Maura melihat ke luar dan mendapatkan sang kekasih sedang berdiri di luar mobil miliknya, gadis itu menurunkan kaca mobilnya dan tersenyum melihat pria yang ia cintai.
"Dandan terus ya" ucap Jo
"Kan mau ketemu kaka" ucap Maura
"Ayo turun, temani kaka kerja" ucap Jo
Maura turun dari mobilnya, dan langsung di tarik tangan nya oleh Jovian dan langsung masuk ke dalam lift yang khusus CEO.
Jovian memeluk Maura dari belakang dan menaruh dagunya di pundak gadisnya itu, Maura memegang sebelah pipi pria itu, membuat suasana dalam lift bertambah romantis di buat oleh ke dua pasangan itu.
Jovian melepaskan pelukannya setelah mendengar suara lift terbuka, dengan cepat Jovian menarik tangan gadisnya itu masuk ke dalam ruangannya tampa memperdulikan sekertaris nya yang menatap mereka sedari keluar dari dalam lift, Setelah tiba di dalam ruangannya, Jo langsung mengunci pintu ruangannya dan membawa gadisnya itu duduk di sofa.
"Udah makan belum" tanya Jovian
"Udah, aku makan di rumah sakit sama Ambar tadi" ucap Maura membelai pipi pria itu
"Sayang kamu goda aku ya" tanya Jovian
"Gak aku gak godain kamu kok" ucap Maura
Tampa menunggu ucapan dari gadis itu, Jovian langsung menyambar bibir menggoda itu, Jovian ******* bibir itu dengan lembut, tapi lama kelamaan ciuman itu menjadi semakin panas dan menuntut, Maura membalas ciuman dari kekasih nya itu dengan tak kalah lembutnya.
Dengan pelan Jovian membaringkan tubuh gadisnya di sofa itu dan menindihnya, di rasa keduanya mulai ke habisan nafas Jo melepaskan tautan bibir mereka, napas keduanya memburuh, Jovian mengusap bibir bengkak gadis nya itu.
"I Love You" ucap Jovian
"I Love You too" jawab Maura dengan pipi merona merah, membuat Jovian menjadi gemes di buatnya.
Jovian menyingkir dari atas Maura dan merapikan kembali pakaian yang di kenakan gadisnya itu, sejujurnya Jovian adalah lelaki normal kalau seperti ini terus bisa-bisa ia menerkam gadisnya di atas sofa ini.
"Kaka, lanjut kerja dulu ya" ucap Jovian
"Iya, sayang" jawab Maura
Sebelum beranjak Jovian mencium kening gadisnya terlebih dahulu, kemudian ia berdiri dan duduk di kursi kebesarannya nya untu melanjutkan kerjaan yang sempat tertunda itu.
πΈπΈπΈ
Kepulangan Ambar di sambut oleh, eyang Tania dan Kakek Erlangga, Eyang Tania merasa sedih mendengar cucu nya pingsan dan harus di bawa ke rumah sakit.
"Sayang," panggil eyang Tania memeluk erat cucunya itu
"Kamu udah gak papa kan" tanya Wanita yang sudah berumur itu
"Aku udah gak papa eyang" jawab Ambar membalas pelukan eyangnya itu.
"Syukur Alhamdulillah, kamu harus jaga kesehatan kamu sayang" ucap Eyang Tania
"Iya eyang ku sayang" ucap Ambar
Ambar berganti memeluk kakeknya dan juga eyang Tika, setelah itu mereka semua pergi ke ruang makan, tak lupa juga Nicko mengajak asistennya itu.
πΈπΈπΈ
Brian sedang mengendarai sepeda motor miliknya, dan Sheila yang berada di boncengannya memeluk Brian dengan erat, saat ini keduanya masi mengunakan seragam sekolah, Brian baru saja menjemput gadisnya itu.
"Kak..." panggil Sheila
"Iya sayang" ucap Brian menggenggam tangan gadisnya yang berada di atas perut nya
"Aku pengen makan es krim kak" ucap Sheila
"Iya, kita mampir di kedai es krim ya" ucap Brian dan gadis dalam boncengan Bria mengangguk antusias
Tak lama kemudian, motor milik Brian berhenti di salah satu kedai es krim, Brian mengajak gadisnya masuk ke dalam kedai es krim itu, Brian menarik kursi untuk Sheila duduki dan ia memesan es krim kesukaan gadisnya itu.
Brian datang dengan membawa dua cup es krim rasa stoberi dan rasa coklat, yang rasa stroberi buat gadisnya dan yang rasa coklat buat Brian.
Ke duanya memakan es krimnya dengan sesekali mengobrol tentang pelajaran hari ini, Brian melihat bekas es krim yang tertinggal di ujung bibir gadisnya itu, tangan Brian terulur untuk menghapus bekas es krim itu, membuat Sheila tersipu malu, karena di tatap oleh para pengunjung lain.
"Kenapa pipi kamu kok merah gitu" tanya Brian geli
"Aku malu tau di liatin orang" ucap Sheila mengerucut kan bibirnya
Brian tersenyum gemes melihatnya, bagaiman tidak selain polos Sheila juga gemesin bikin Brian pengen cepat-cepat melamar gadis itu.
"Yah gak udah liatin mereka kalau malu" ucap Brian kembali menggoda Sheila
"Iih, kaka ko nyebelin banget si" ucap Sheila kesal
"Gak-gak kaka bercanda kok, udah jangan ngambek, ntar manis nya ilang lagi" ucap Brian mengacak kepala gadis itu.
Setelah ke duanya menghabiskan es krim nya, Brian kembali mengajak gadisnya keluar dari kedai itu, Brian melihat jam yang sudah menunjukan pukul 1 siang.
Brian kembali menyalakan motornya dan mengajak gadisnya naik ke atas motor, Brian harus mengantar gadisnya pulang, karena ia sudah telat sejam mengantar Sheila pulang.
Waktu pulang sekolah gadis itu adalah jam 12 siang, karena ke duanya mampir di kedai es krim membuat Brian sedikit telat untuk mengantarkan gadisnya pulang.
Tak lama kemudian, motor milik Brian berhenti di depan pagar besar yang menjulang tinggi itu, ria memang selalu mampir kalau lagi mengantar Sheila pulang, karena Sisi yang tak lain adalah Mamanya Sheila sudah menganggap Brian sebagai anak nya sendiri.
"Kak, ayo mampir" ajak Sheila
Brian mengikuti gadisnya itu dari belakang.
"Assalamualaikum,, ma" ucap Sheila
"Wa'alaikumsalam sayang" jawab Sisi
"Eh ada gantengnya tante" ucap Sisi memeluk Brian
Sisi mengajak putrinya dan putra dari sahabatnya masuk ke dalam, karena ia sudah memasak makanan kesukaan putri.
Next....
__ADS_1
Guys, tinggalkan Like, komen sama Vote dan Hadiah nya kalau boleh guys. Terimakasih,πππ