
"Pagi, Mom, Dad..." sapa Gilang pada ke dua orang tuanya yang sedang menunggunya di meja makan
"Pagi, sayang" jawab Sinta
"Pagi, Boy..." jawab Reza
"Kau terlihat sangat senang Boy, apa apa?" tanya Reza kepo melihat raut wajah putranya yang sangat senang
"Yes, kau benar Dad, aku akan menjemput gadis ku" jawab Gilang menerima nasi goreng yang di ambilkan oleh Mommy nya.
"Sayang, jadi kau akan menjemput calon mantu Mommy ya" tanya Sinta lagi
"Iya, Mom..." jawab Gilang, setelah itu menyuapi nasi goreng ke dalam mulutnya.
Saat ini Gilang sudah siap dengan setelan jas kantor miliknya, tapi sebelum ke kantornya, ia akan menjemput gadisnya terlebih dahulu dan mengantarnya ke Wijaya Group.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Gilang beranjak dari duduknya dan berpamitan pada Daddy dan Mommy nya. Setelah itu Gilang ke luar menuju mobilnya yang sudah terparkir di halaman depan, Gilang bersiul sambil masuk ke dalam mobilnya, dan tidak lupa pria tampan itu memakai kacamata hitam miliknya, membuat penampilan Gilang bertambah keren.
Gilang membunyikan klakson setelah keluar dari pintu gerbang yang menjulang tinggi itu, Gilang mendengarkan suara radian yang ia putar.
Mobil Gilang memasuki area halaman rumah gadisnya, setelah pak satpam membukakan pintu untuknya.
Gilang turun dari mobil, seorang Art menyapa Gilang dengan sopan dan mempersilahkan pria tampan itu masuk ke dalam, Gilang melihat Brian sudah siap dengan seragam sekolahnya. Gilang tersenyum pada Brian dan Brian membalas senyum calon kaka iparnya itu, karena Brian sudah mengetahui kalau sebentar lagi kaka nya akan bertunangan dengan pria tampan yang duduk di ruang tamu itu.
"Kak, duduk dulu ya, aku berangkat sekolah dulu" ucap Brian pada Gilang
"Iya, kamu hati-hati" ucap Gilang, biarpun belum terlalu dekat dengan Brian tapi Gilang sudah menganggap Brian sebagai adiknya.
Setelah Brian menghilang dari balik pintu, Nicko datang menghampiri Gilang yang sedang duduk di ruang tamu.
"Nak Gilang" panggil Nicko
"Om.." sapa Gilang berdiri dan menyalami calon mertua nya.
Sementara menunggu Ambar, Gilang dan Nicko mengobrol cukup lama, tak lama kemudian Gilang dan Nicko melihat Ambar menuruni anak tangga satu per satu.
"Kak, maaf ya udah nunggu lama" ucap Ambar
"Gak papa ko sayang" jawab Gilang, membuat ke dua pipi Ambar bersemu merah mendengar Gilang menyebutnya sayang di depan sang daddy
"Kok, wajahnya merah gitu sayang" tanya Nicko sengaja menggoda putrinya
"Udah ah, ayok kita berangkat ke kantor kak" ajak Ambar, tak lupa mencium punggung tangan Daddy nya di ikuti oleh Gilang.
"Maklumin anak om pemalu" ucap Nicko berbisik di telinga Gilang sebelum pria itu menjauh membuat Gilang tersenyum menangapi perkataan calon mertuanya.
"Silahkan tuan putri" ucap Gilang setelah membukakan pintu untuk gadisnya
"Makasih kak" ucap Ambar
Mobil Gilang keluar dari halaman rumah Ambar, Sese kali Gilang mencuri pandang pada gadis yang duduk di sampingnya itu.
"Setelah jam makan siang nanti kaka jemput ya" ucap Gilang
"Kalau aku banyak kerjaan gimana" ucap Ambar
"Sayang, kaka gak menerima penolakan oke" ucap Gilang
"Iya-iya.." jawab Ambar tersenyum melihat wajah lucu pria yang sedang menyetir itu
Mobil Gilang berhenti tepat di depan lobby kantor Wijaya Group, Gilang membukakan pintu untuk gadisnya, tapi sebelum Ambar berbalik melangkah Gilang menahan tangan gadisnya itu, dan mencium kening Ambar sebelum cukup lama, kemudian menyuruh gadis itu masuk ke lift Gilang juga tidak lupa menyemangati Ambar untuk beraktivitas hari ini.
Ambar masi menahan debaran jantungnya yang seperti mau loncat dari tempatnya, setelah pintu lift tertutup Ambar tersenyum mengingat Gilang yang sangat perhatian padanya, sampai pintu lift terbuka Ambar keluar dan melihat sekertaris nya sudah berada di meja kerjanya.
"Pagi Bu Ambar" sapa Dila dengan hormat
"Pagi Dila,," balas Ambar dengan wajah bahagianya, membuat gadis yang berhijab itu heran dengan Bosnya itu.
Ambar tiba di ruangannya, dan melihat tumpukan berkas di atas mejanya, sepertinya ia hari ini akan lembur, Ambar menghempaskan bokongnya di kursi kebesarannya.
✴✴✴✴
Maura terbangun dari tidurnya, dan merasakan kepalanya terasa berat, Maura melihat seisi ruangan ini adalah kamarnya, gadis itu berpikir semalam dia berada dalam mobil Jovian.
__ADS_1
Maura beranjak ingin pergi ke kamar mandi tapi kepalanya kembali pusing, gadis itu memaksakan dirinya untuk berdiri tapi lagi-lagi tenaganya sia-sia, Maura memili duduk kembali dan mengambil ponselnya tapi tiba-tiba sesuatu mengalir dari hidungnya.
Maura meraba sesuatu yang mengalir dari hidungnya itu, dan bertapa syok nya gadis itu melihat dara yang berada di jarinya dan sesaat kemudian Maura sudah tak sadarkan diri.
Marvel yang baru saja akan berangkat sekolah melihat jam sudah menunjukan pukul 8 pagi, tapi kaka nya belum juga bangun biasanya kaka nya itu sudah berada di meja makan, Marvel pergi ke kamar kaka nya untuk berpamitan.
"Tookk.. Kak" panggil Marvel tapi tak ada sahutan
Lagi-lagi marvel mengetuk pintu dan lagi-lagi tak ada jawaban, Marvel mencoba membuka pintu kamar dan tak di kunci, Marvel mendorong pintunya dengan pelan dan kaget melihat kaka nya sudah terkulai di lantai dengan dari yang keluar dari hidungnya.
Dengan cepat Marvel berlari dan mengangkat kaka nya, ke atas tempat tidur seragam yang di kenakan oleh Marvel terkena darah yang saat mengendong kaka nya, Marvel langsung menghubungi Uncle Nicko karena sedang di landa panik.
"Uncle, bisa ke rumah sekarang, kaka pingsan uncle" ucap Marvel dengan suara kuatir
"....."
Tak lama kemudian telpon mati, Marvel kembali mencoba membangunkan kaka nya, air matanya sudah tak bisa di bendung lagi karena kuatir, ia ingin menghubungi ke dua orang tuanya yang ada di luar negri tapi takut nanti mommy nya syok,Marvel gak mau sampai terjadi apa-apa pada Mommy nya.
Tak lama kemudian, Nicko tiba rumah sang kaka, pria yang tak lagi muda itu berlari keluar dari mobil, sesampainya di dalam rumah Nicko berteriak memanggil Marvel dengan kuatir, Marvel yang mendengar uncle nya sudah tiba langsung berlari keluar dari kamar kaka nya.
"Uncle..." panggil Marvel dari lantai atas, dengan cepat Nicko berlari ke atas
"Apa yang terjadi pada kaka mu" tanya Nicko
"Kaka pingsan Uncle" ucap Marvel
Nicko dan Marvel masuk ke dalam kamar Maura, dan melihat gadis itu sudah mulai sadar dan sedikit-sedikit sudah mulai membuka matanya.
Maura memegang kepalanya yang terasa berat, Maura melihat Adiknya dan juga Uncle nya sedang berjalan mendekatinya.
"Sayang, kita ke rumah sakit ya" ucap Nicko
"Gak usah uncle aku udah gak papa ko" ucap Maura
"Tapi kaka harus di periksa, karena tadi hidung kaka mimisan kak" ucap Marvel kuatir
Maura tersenyum melihat adik nya terlihat kuatir.
"Kalau gitu uncle panggilkan dokter saja ya" ucap Nicko, akhirnya Maura mengangguk setuju.
Sementara itu di kantor, Jovian yang mendapat kabar kalau gadis nya pingsan, langsung saja keluar dari ruangannya dengan tergesa-gesa, Joshua yang baru ingin ke ruangan putranya, ia melihat putranya keluar dari ruangannya dengan terburu-buru.
"Kau mau ke mana" tanya Joshua
"Aku harus segera ke rumah Maura pa" ucap Jovian
"Kita ada rapat sebentar lagi" ucap Joshua
"Nanti aku cepat kembali pa, Maura sedang sakit" ucap Jovian berlalu dari hadapan sang papa.
Joshua hanya menggeleng kepala melihat putranya yang sudah menghilang di balik lift.
Jovian mendapat telpon dari Marvel kalau Maura jatuh pingsan, tapi sudah tidak apa-apa karena sudah di periksa oleh dokter. Tapi Jovian sangat kuatir dan pergi melihat keadaan gadisnya itu.
Tak lama kemudian mobil Jovian tiba di halaman rumah Maura, Jo langsung masuk ke dalam dan mendapat Nicko dan Dokter sedang mengobrol di ruang tamu.
"Om.." panggil Jo
"Hay Jo, kau mau menemui Maura" tanya Nicko yang mendapat anggukan dari Jovian
"Dia sedang istirahat di kamar" ucap Nicko, Jo pun melangkah ke lantai atas untuk menemui gadisnya.
Sedangkan Marvel sudah berangkat ke sekolah karena harus mengumpulkan tugas-tugas untuk ujian nanti.
Clekk...
Maura melihat ke arah pintu yang terbuka, melihat Jo melangkah mendekatinya dengan wajah kuatir.
"Sayang.." panggil Jovian duduk di sisi ranjang Maura
Maura melihat pria yang ber setelan jas kantor itu, Maura sudah menduga pasti adiknya yang ngabarin Jo kalau dia sedang sakit.
"Kaka tau dari mana aku sakit" tanya Maura
__ADS_1
"Marvel nelpon kaka tadi" ucap Jo
"Apa masi ada yang sakit" tanya Jo kuatir
"Udah gak papa kok kak, kata dokter cuma kecapean aja" ucap Maura
"Syukurlah kalau gitu, kamu jangan dulu pergi ke lokasi pemotretan ya" ancam Jovian
"Iya kak," jawab Maura
Jovian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya setengah jam lagi dia ada rapat bersama papa nya.
Maura yang mengerti kalau saat ini Jo sedang memikirkan sesuatu langsung saja berkata, kalau ia sudah tidak apa-apa, karena sebentar lagi Eyang Tania dan Kakek Erlangga akan datang menginap di sini.
✴✴✴✴
Di kantor Ambar sedang di si bukan dengan tumpukan berkas-berkas laporan yang harus segera ia selesaikan.
Ambar baru saja mendapat kabar kalau sepupunya sedang tidak sehat, membuat Ambar merasa kasian, karena Maura hanya berdua dengan Marvel di rumah, sedangkan aunty Nara dan uncle Erik masi berada di luar negri.
Berkas-berkas yang di kerjakan oleh Ambar kiki semakin berkurang, karena ia melihat jam yang sebentar lagi menunjukan pukul 11 siang yang tandanya Gilang akan datang menjemputnya untuk pergi makan siang bersama.
Masi tersisa 4 berkas, tapi jam sudah menunjukan pukul sebelas siang, ponsel milik Ambar berbunyi pertanyaan sebuah pesan masuk, Ambar melihat isi pesan dari Gilang.
*My Love
"Aku udah di jalan ayang 15 menit lagi sampai di kantor" isi pesan dari Gilang*
Ambar tak membalasnya hanya melihat nya sambil tersenyum geli membaca kata sayang yang tersemat di isi pesan ia baca.
15 menit kemudian mobil Gilang tiba di lobby, Pria itu turun dan langsung melangkah masuk ke dalam lift, tampa menghiraukan pandangan karyawan wanita yang menatapnya tampa berkedip.
Tingg...
Pintu lift terbuka, Gilang melangkah ke luar dari dalam lift dengan gagahnya, membuat Dila yang melihatnya menunduk hormat, Gilang langsung masuk ke dalam ruangan gadisnya.
Ambar mendongakkan kepalanya melihat pintu ruangannya terbuka, senyum manis terukir di wajah pria yang sedang melangkah mendekatinya.
"Sayang,, kau masi bekerja" ucap Gilang melihat jam di lengang nya
"Iya Sambil nungguin kaka," ucap Ambar
Gilang menutup berkas yang ada di atas meja Ambar dan mengajak gadisnya berdiri tak lupa Gilang menyambar tas gadisnya lalu keluar dari ruangan itu.
Ke duanya melewati Dila begitu saja, Membuat Dila melengos melihat tingkah ke duanya yang sangat romantis itu, dengan sebelah tangan Gilang mengandeng tangan Ambar dan satunya membawa tas gadis itu.
Saat lift tiba di lantai dasar, ke duanya keluar dari lift tampa menghiraukan karyawan-karyawan yang berlalu lalang, keduanya masuk ke dalam mobil dan mobil pun keluar dari area kantor.
Gilang ingin mengajak gadis nya makan di salah satu restoran mahal, dan sudah memesan ruang VVIP yang hanya ada mereka berdua di sana.
Setibanya di perkiraan restoran mewah itu, Gilang mengajak gadisnya turun dan langsung melangkah masuk ke dalam ruang VVIP yang sudah tersedia, Ambar melihat sudah banyak menu berada di atas meja.
Gilang mengajak Ambar duduk, dan keduanya mulai makan siang mereka, Sese kali Gilang mengusap bekas saus yang ada pada bibir gadis itu, membuat Ambar menjadi salah tingkah jadinya tapi gadis itu berusaha membuat rasa gugupnya itu.
Sesekali Gilang menyuapi gadisnya itu, dan Ambar dengan senang hati menerima suapan itu walau malu-malu, membuat Gilang jadi gemes melihat wajah malu-malu gadisnya itu.
"Sayang suap pin kaka juga dong" pinta Gilang dengan raut wajah yang terlihat begitu manja
Ambar tersenyum melihat tingkah manja Gilang yang sangat terlihat lucu itu, Ambar pun bergantian menyuapi Gilang, membuat pria itu tersenyum senang di buatnya.
Sementara itu di luar restoran seorang wanita paru baya memandang ke arah ruang VVIP yang baru saja di masuki oleh Gilang dan seorang gadis dengan tatapan benci dan penuh dendam, ia tidak suka melihat keluarga Hadinata bahagia, setelah apa yang mereka lakukan padanya 23 tahun yang lalu, selama bertahun-tahun lamanya ia sembuh dari sakitnya yang di akibatkan oleh Reza Hadinata dan akhirnya ia bisa kembali dan membalaskan dendamnya pada keluarga Hadinata.
"Rupanya kau memiliki putra yang sama tampannya dengan mu" ucap Wanita itu dalam hati dengan senyum licik nya
"Akan aku pastikan keluarga Hadinata akan hancur" ucap Wanita itu dalam hati
Setelah menghabiskan jus yang ada di atas mejanya, wanita yang berambut pirang itu yang duduk sendiri di salah satu meja dalam restoran itu beranjak keluar dari restoran itu, ia menyimpan dendamnya itu selama bertahun tahun lamanya dan mini dia sudah kembali, ia akan menghancurkan keluarga Hadinata.
Next....
Dendam apa ya yang di miliki oleh wanita itu??
Jangan lupa Like, Komen sama Vote ya guys. Terimakasih😊🙏🙏
__ADS_1