
Hari ini adalah hari pertunangan Gilang dan Ambar, satu per satu tamu mulai memenuhi ballroom hotel bintang lima itu.
Keluarga Hadinata dan keluarga Wijaya tidak mengundang banyak tamu, hanya saudara-saudara dan teman terdekat mereka.
Gilang berdiri di antara para tamu undangan di tenga-tenga ballroom hotel itu, pria itu terlihat begitu tampan dengan setelan jas yang nanti akan senada dengan sang gadis.
Terlihat Jovian memasuki ballroom hotel bersama gadisnya Maura yang mengenakan setelan jas dan gaun yang senada dengan Maura yang sedang mengandeng lengan Jovian dengan mesra.
Banyak para tamu yang memuji kecantikan Maura yang malam ini terlihat sangat memukau itu, tak hanya Maura dan Jovian. Keluarga Leo juga turut hadir dalam acara pertunangan putri dari bosnya, Leo datang bersama istri dan putri mereka Sheila.
Tak lama kemudian Ambar memasuki ballroom hotel dengan mengandeng ke dua orang tuanya, gadis itu terlihat begitu cantik sampai membuat banyak pria pengusaha di dalam ballroom hotel itu memandang tak berkedip pada gadis yang sedang berjalan itu.
Gilang memandang tak suka pada semua mata pria yang memandang gadisnya dengan tampa berkedip, kalau gak sedan ada acara pertunangan sudah Gilang congkel mata pada pria itu.
Ambar tiba di depan Gilang, dan pria itu langsung saja memeluk pinggang gadis nya itu dengan posesif, seolah-olah ia ingin menyampaikan pada semua tamu yang ada di dalam sini kalau gadis yang sangat cantik itu adalah sudah menjadi miliknya.
Reza dan Sinta menggeleng kepala melihat tingkah posesif putra mereka.
"Kau lihatlah putramu" ucap Sinta berbisik
"Seperti aku kan mom" ucap Reza menarik turunkan alisnya
"Tidak kau mesum" ucap Sinta yang berhasil membuat senyum Reza berubah masem.
Seorang pembawa acara langsung saja naik ke atas panggung untuk mulai membuka acara.
Oke para hadirin semuanya, terimakasih untuk semua yang sudah hadir di acara malam ini, baik kita mulai saja acara pertunangan putra dari keluarga Hadinata dan putri dari keluarga Wijaya, ke dua pasangan di minta untuk naik ke atas panggung ucap pembawa acara, Gilang mengandeng tangan Ambar naik ke atas panggung.
Seorang memberikan maik pada Gilang, dan Gilang dan Ambar langsung melihat ke arah parah tamu, Gilang mulai mengatakan kata-kata manis untuk gadisnya yang berdiri di sampingnya itu, Ambar sampai tak tahan untuk tak mengeluarkan air matanya karena kata-kata manis yang Gilang ucap kan barusan. Gilang menyematkan cincin berlian di jari manis Ambar dan memeluk gadis itu dengan erat, Ambar membalas pelukan pria itu dengan tak kalah eratnya.
Setelah itu mereka kembali turun untuk menemui para tamu yang memberi mereka selamat, Maura dan Jo yang pertama memberi selamat kepada pasangan itu.
"Ambar sayang, selamat ya doain aku biar cepat nyusul juga" ucap Maura sengaja mengeraskan suaranya biar Jo mendengarnya
"Iya sayang secepat nya kita nikah" ucap Jo
"Selamat ya bro" ucap Jo pada Gilang
"Makasih ya, semoga kalian cepat nyusul" ucap Gilang
Setelah Jo dan Maura, sekarang di gantikan oleh Brian dan juga Sheila yang memberi selamat pada kaka nya.
"Selamat ya kak, aku bahagia kaka akhirnya bisa ketemu sama teman kecil kaka" ucap Brian memeluk erat kaka nya
"Makasih ya dek" ucap Ambar
"Jagain kak Ambar ya kak" ucap Brian memeluk kaka calon kaka iparnya
"Iya Bri, kamu tenang aja kaka akan jagain kaka kamu semampu kaka" jawab Gilang
Bergantian dengan Sheila yang memberi selamat pada Ambar dan Gilang, setelah itu bergantian den ke dua orang gua mereka.
Para tamu menikmati pesta pertunangan Gilang dan Ambar dengan meriah, ada yang bernyanyi ada juga ya berjoget bersama penyanyi artis yang mereka undang untuk mengisi acara.
Nisa terlihat sedang berbincang-bincang bersama dengan Sisi dan juga Sinta, sedangkan Nicko, Reza dan Leo sedang berbincang dengan para rekan bisnis mereka.
Nara dan Erik terlihat mengobrol dengan Joshua dan sang istri, sesekali mereka membahas soal bisnis tapi juga soal perihal bubungan ke dua anak mereka.
Malam semakin larut dan para tamu sudah mulai pulang satu persatu, saat ini tersisa hanya yang punya acara saja, sedangkan Brian sudah pulang terlebih dahulu untuk mengantar Sheila setelah mendapat ijin dari Leo.
__ADS_1
Karena jam sudah menunjukan pukul 12 malam, Gilang memutuskan untuk mengantar Ambar pulang mengunakan mobilnya, sedangkan Nicko dan Nisa berada di mobil yang satu begitu pun dengan Reza dan sang istri.
Di tengah-tenga perjalanan sebuah mobil ingin mencoba menyerempet mobil yang di kendarai oleh Gilang, membuat Gilang beberapa kali banting stir, membuat Ambar yang berada di dekatnya berteriak ketakutan.
"Sayang kamu tenang ya jangan panik" ucap Gilang
"Kak siapa mereka" ucap Ambar
"Kaka juga gak tau, tapi kamu tenang ya jangan panik" ucap Gilang menenangkan tunangannya
Ambar mengangguk, ia percaya pada pria yang ada di sampingnya itu, Gilang menambah kecepatan laju mobilnya dengan cepat, membuat mobil yang sempat menyerempetnya tadi tertinggal sedikit jauh.
Gilang melihat Ambar yang ketakutan, Gilang menggenggam tangan gadisnya untuk menenangkan.
Tak lama kemudian mobil yang di kendarai oleh Gilang memasuki pintu gerbang yang menjulang tinggi itu, Gilang membawa Ambar turun dari mobil dan masuk ke dalam, di ruang tamu Nicko dan Nisa sudah menunggu mereka.
Nisa membawa putrinya masuk ke dalam kamar, dan kini tinggallah Nicko dan Gilang yang berada di ruang tamu.
"Apa kau melihat seseorang yang berada dalam mobil tadi" tanya Nicko
"Tidak dad, aku tidak melihatnya begitu jelas, tapi aku tau dia seorang pria" ucap Gilang
"Malam ini sebaik nya kamu menginap di sini, ini sudah sangat larut" ucap Nicko yang mendapat anggukan dari Gilang
Gilang masuk ke dalam kamar tamu yang tak jauh dari ruang tamu itu, Gilang masih berpikir keras siapa orang yang berusaha untuk mencelakai nya, apa mungkin orang yang mengikutinya kemarin, tapi kali ini ia menggunakan mobil yang lain.
Gilang membaringkan tubuhnya di atas ranjang besar itu, Gilang membolak-balik badannya tapi rasa kantuk seolah-olah pergi jauh, padahal jam sudah menunjukan pukul 1 dini hari tapi ia belum juga mengantuk. Gilang mengambil ponselnya dan melihat banyak pesan dari daddy nya, Gilang membuka satu persatu pesan itu, sampai ada satu pesan dari nomor yang tak di ketahui.
Gilang mencoba menghubungi nomor itu tapi sudah tidak aktif, Gilang yakin ini pasti ada yang tidak beres mengingat dari kemarin seseorang terus mengikutinya sampai tadi ia pulang bersama Ambar. Terus ber menolong sendiri akhirnya Gilang tertidur juga.
✴✴✴✴
Keesokan Harinya...
Dan benar saja kini Gilang sedang di hadang lagi oleh mobil yang semalam, beberapa kali mobil Gilang kena serempet mobil itu, sekarang Gilang tau kalau orang yang di incar oleh orang itu adalah Gilang.
Tapi siapa, iya tak pernah membuat masalah pada siapapun semalam ini, entahlah Gilang pusing memikirkan semua itu.
Tiba-tiba sebuah mobil truk besar berjalan dari arah berlawanan dan membuat Gilang hilang keseimbangan dan...
Trukk..
Mobil yang di kendarai oleh Gilang menabrak pembatas jalan, membuat mobil Gilang rusak parah, Gilang membuka matanya dan mengingat senyum gadisnya kemudian semuanya gelap.
Gilang Pov....
Aku mendengar suara tangisan pilu gadis yang aku cintai dan juga wanita yang sudah melahirkan ku ke dunia ini, aku sangat ingin memeluk mereka tapi seluruh tubuh ku susah untuk di gerakan.
Aku baru ingat, aku dan gadis ku baru saja bertunangan, tapi juga aku mengalami kecelakaan pada saat pergi ke kantor, yang aku ingat sebuah mobil berusaha ingin menyerempet mobilku.
Aku lagi-lagi mendengar suara tangisan gadisku, aku ingin sekali bangun dan memeluknya, mengatakan kalau aku baik-baik saja tapi lagi-lagi tubuh ku tak bisa ku gerakan, jangankan tubuh ku, ke dua mataku saja susah untuk di buka, aku tidak suka mendengar gadis ku menangis.
Aku juga mendengar sahabat ku mengatakan padaku untuk bangun, daddy ku, daddy Nicko semuanya aku dengar berada di ruangan ini.
Sekarang aku tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa mendengar suara mereka tapi tidak denganku, aku sangat berharap Tuhan mau memberi kesempatan untuk ku bangun kembali, untuk melihat senyum gadis ku dan ke dua orang tuaku, aku ingin membahagiakan gadisku bukan membuat dia sedih dan menangis seperti sekarang, aku belum mewujudkan impiannya untuk bulan madu ke pulai dewata lagi, tapi dengan status kami sudah menjadi pasangan suami istri.
Aku mohon padamu Tuhan, ijinkan aku tetap hidup bersama dengan gadis yang aku cintai, aku tak sanggup harus melihatnya bersedih seperti sekarang.
Keesokan harinya, aku mendengar gadisnya mengatakan kalau dia sangat merindukan senyumku, merindukan perhatian ku dia selalu mengajak ku bercerita walau pun aku tak membalas nya, tapi dia tetap mengajak ku mengobrol, terkadang aku mendengar isak tangis di selah obrolannya, aku benar-benar sedih mendengarnya, mendengar suara gadis ku.
__ADS_1
✴✴✴✴
"Hahahahahahahah..." suara tawa mengenang di dalam rumah yang sangat mewah itu.
Seorang wanita yang berambut pirang itu tertawa dengan senang, melihat keluarga Hadinata menangis, wanita itu berpikir itu belum seberapa, ia akan membuat semuanya benar-benar hancur.
Semua kecelakaan yang ia rencanakan berjalan lancar, termaksud soal truk itu, ia benar-benar puasa dengan semua ini.
"Setelah itu apa yang harus kita lakukan bos" ucap seorang pria
"Target selanjutnya adalah Sinta, istri dari Reza" ucap wanita yang berambut pirang itu
"Baik akan saya apakan dia" tanya pria itu
"Kau culik dia dan bawa ke hadapan ku, aku ingin liat bagaiman syok melihatku" ucap wanita itu
"Baik, kalau begitu saya permisi dulu" ucap pria itu
"Aku akan bikin istrimu mati di depan matamu sendiri Reza" ucap Wanita itu dalam hatinya.
Ia benar-benar puas sekarang, melihat putra dari orang yang sudah membuatnya sakit selama bertahun-tahun dan sekarang sedang terbaring koma di rumah sakit.
✴✴✴✴
Sudah seminggu Gilang terbaring koma di rumah sakit, dan Ambar selalu datang ke rumah sakit untuk menjenguk tunangannya yang sedang berbaring koma selama seminggu itu, Ambar selalu berdoa pada sang maha pencipta untuk memberikan kesembuhan pada tunangannya yang belum sadarkan diri, Ambar terus mengajak Gilang mengobrol walaupun pria itu hanya diam saja.
Ambar tak dapat menahan tangisan nya kalau sedang berada di dekat Gilang seperti ini.
"Kak, bangun dong kata kaka akan selalu ada buat aku hiks" ucap Ambar di selah tangisannya
"Kak, sudah seminggu kaka tidur terus, kaka gak capek, kaka gak kangen ya sama aku" ucap Ambar lagi
"Kak, aku selalu berangkat ke kantor sendiri, aku kangen sama kaka" ucap Ambat lagi
Di dalam ruangan itu hanya ada suara monitor dan suara tangisan Ambar, ia selalu berharap pria yang terbaring koma itu akan segera membuka ke dua matanya dan melihat nya yang sedang menangis saat ini.
Ambar menunduk menggenggam tangan tunangannya itu, air mata gadis itu menetes di tangan Gilang yang terdapat selang infus. Ambar terus terisak sampai tiba-tiba Ambar melihat tangan Gilang bergerak sedikit-sedikit dengan cepat Ambar menekan tombol yang ada di dekatnya dan tak lama kemudian Dokter masuk di ikuti oleh dua orang perawat.
"Dok, tadi saya melihat tangannya bergerak" ucap Ambar
"Sebentar saya periksa dulu" ucap Dokter
"Teruslah ajak pasien berbicara karena ia sudah sangat merespon" ucap dokter
"Iya Dok, saya akan terus mengajak nya mengobrol" ucap Ambar yaang mendapat anggukan dari dokter
Dokter dan ke dua perawat itu keluar dari ruangan Gilang dan tinggallah Ambar bersama Gilang di sana.
"Kak, kaka dengar aku kan, ayo kaka buka mata kaka" ucap Ambar
Dan lagi-lagi Gilang merespon dengan mengerakkan jari telunjuk nya, membuat Ambar tersenyum senang, dan Ambar kembali bercerita tentang kisah-kisah yang belum lama ini mereka lewati, sampai gadis itu tertidur dengan posisi duduk dan memeluk tangan Gilang, dengan kepala gadis itu berada di atas tempat tidur Gilang.
Gilang Pov....
Sudah seminggu aku berbaring tak berdaya seperti ini, dan hari ini aku kembali mendengar suara gadis ku menangis, dia memintaku untuk bangun, dia mengatakan rindu dengan senyumanku, aku mendengar dia menangis lagi dan merasakan air menetes di tanganku, aku tau itu pasti air matanya, aku sudah benar-benar tidak tahan lagi, sampai ku coba gerakin jari-jari tangan ku, terus menerus ku gerakan sampai aku mendengar dia mengobrol dengan seseorang aku tau itu adalah Dokter.
Setelah itu aku tidak mendengar suara lagi hanya ada keheningan, aku mulai kuatir terjadi sesuatu pada gadis ku, aku berusaha sekuat mungkin untuk membuka ke dua mata ku dan aku melihat sekeliling ku semua serba puti, aku merasa tanganku terasa berat, aku melihat ke arah tanganku dan ternyata gadisku sedang tertidur pules sambil memeluk tanganku, aku tersenyum melihat nya, ku angkat tangan sebelahku untuk mengusap rambutnya dan tidurnya mulai terusik karena ku.
Next....
__ADS_1
Hay guys, jangan lupa Like, Komen sama Vote ya. Terimakasih😊🙏🙏
Di part besok konfliknya akan terungkap semua ya guys.