Di Jodohkan Dengan Sahabat Kecil

Di Jodohkan Dengan Sahabat Kecil
Bab 38. Masak Rendang


__ADS_3

Setelah di rawat selama hampir seminggu, kini Reza sudah di perbolehkan pulang oleh Dokter, hanya saja dokter meminta Reza harus sering-sering kontrol tentang lengan nya yang kena tembak.


Saat ini Reza sudah tiba di rumah, dengan di bantuin oleh Sinta sang istri tercinta.


"Sayang mau aku masakin sesuatu gak" tanya Sinta


"Aku mau makan rendang telur buatan kamu sayang" ucap Reza manja


"Iya, aku buatin dulu ya" ucap Sinta


"Iya sayang" ucap Reza


"Assalamualaikum" Gilang dan Ambar masuk dan langsung memberi salam


"Waalaikumsalam" jawab Reza yang duduk di ruang tenga


"Dad," panggil Gilang dan langsung mencium punggung tangan Reza bergantian dengan Ambar


"Dad, mommy mana" tanya Gilang


"Mommy lagi masak di dapur boy" ucap Reza


"Kaka, aku bantuin mommy dulu ya" ucap Ambar yang mendengar Sinta sedang memasak


"Mau belajar masak sama mommy" tanya Gilang tersenyum jahil


"Iya kak" ucap Ambar


Gilang mengantar Ambar menemui mommy nya di dapur, di sana Sinta terlihat sangat lincah dengan celemek yang melekat di badannya, dengan di bantuin Art, Gilang mendekati mommy nya sambil menggenggam tangan Ambar.


"Mommy" panggil Gilang


Sinta berbalik dan melihat Gilang membawa calon mantunya, Sinta senang bukan main.


"Mom, calon mantu mommy katanya mau bantuin mommy masak ni" ucap Gilang melihat gadisnya


"Benar sayang" tanya Sinta antusias


"Iya benar myy" jawab Ambar tersenyum


"Kalau gitu bagus banget saya, mommy lagi buat rendang telur buat daddy, sama sayur cah" ucap Sinta


"Ayok sini" ajak Sinta


"Sayang kamu sana temani daddy kamu" ucap Sinta meminta Gilang pergi dari dapur


Sinta memberikan celemek untuk calon mantu nya itu.


"Aku bantuin apa ni myy" tanya Ambar


"Kamu tolong kupasin telur yang udah di rebus aja sayang" ucap Sinta


Ambar mengupas telur yang sudah di rebus itu.


"Myy, daddy suka banget ya sama rendang telur" tanya Ambar


"Iya sayang, rendang telur masakan kesukaan daddy mu" ucap Sinta


"Dulu aja pas mommy baru nikah sama daddy kamu tuh ya, hampir tiap hari mommy di minta masakin rendang telur sama daddy" ucap Sinta


"Kalau kak, Gilang sukanya menu apa myy" tanya Ambar karena ia tidak tau sepenuhnya masakan kesukaan tunangannya hanya sebagian saja.


"Kalau Gilang lebih suka yang di goreng-goreng gitu sayang, seperti bebek goreng, ayam goreng, tapi ada satu menu yang dia suka banget waktu di jerman" ucap Sinta


"Apa itu myy" tanya Ambar


"Tempe goreng pake tepung terigu, padahal mommy belum pernah bikinin dia tempe goreng dari sejak dia kecil, nanti pas kita pinta ke jerman waktu itu, dia selalu minta mommy untuk belikan tempe dan kamu tau mommy dapatnya di mana tempe" ucap Sinta panjang lebar


"Dapat di mana myy" tanya Ambar


"Mommy pesan dari Indonesia sayang, karena di jerman gak ada yang jual tempe" ucap Sinta


"Jadi mommy mesan dari indonesia" tanya Ambar antusias


"Iya sayang mommy mesan, nah kalau gak ada tempe di gak mau makan" ucap Sinta mengingat kelakuan putranya dulu waktu pindah ke jerman


Ambar tertawa mendengar perkataan mommy Sinta, Ambar tau Gilang pasti suka tempe karena makan di kontrakannya dulu waktu mereka masih kecil.


"Mom, kalian ngomongin apa si ko rame banget" ucap Gilang yang tiba-tiba duduk di meja makan bersama daddy nya.


"Kamu kepo deh, ini urusan wanita" ucap Sinta


Gilang melihat mommy nya dan gadis nya itu dengan tatapan curiga, sepertinya ke dua wanita itu sedang membicarakannya, buktinya Ambar tersenyum geli melihat Gilang.


Rendang telurnya sudah siap di angkat, sama sayur cah nya, mom Sinta dan Ambar menatanya dengan rapi di atas meja, jangan lupakan tempe goreng yang sekarang menjadi menu andalan Gilang.


Setelah semua menu masakan sudah tertata dengan rapi, Sinta dan Ambar bergabung dengan ke dua pria itu, dan mereka berempat makan bersama, sesekali terdengar obrolan dari ke empat orang itu.

__ADS_1


✴✴✴✴


Brian sudah selesai mengumpulkan tugas-tugas nya pada wali kelasnya, sekarang ia bersiap-siap untuk menjemput gadisnya.


"Brian..." panggil seorang gadis yang berseragam sama dengan Brian


"Ada apa" tanya Brian tanpa menoleh ke arah gadis itu


"Kamu udah ngumpulin tugas belum" tanya gadis itu yang tak lain adalah Olivia


"Udah" jawab Brian cuek, membuat gadis itu mendengus kesal melihat Brian cuek padanya


"Brian aku boleh pulang bareng kamu gak, soalnya mobil aku di bengkel" ucap Olivia


"Gak bisa, gue mau jemput cewek gue" ucap Brian, menghidupkan motornya kemudian menjauh dari hadapan Olivia


"Ihs, awas aja kamu" ucap gadis itu kesal karena selalu di cuekin oleh Brian.


Olivia adalah siswi di sekolah yang sama dengan Brian, dan mereka sudah sama-sama kelas ujian.


Brian memberhentikan motor nya di depan gerbang sekolah gadisnya Sheila, Gilang melihat jam yang ada di pergelangan tangannya sebentar lagi jam pulang Sheila.


Tak lama kemudian Sheila datang bersama ke dua sahabatnya, gadis itu selalu memberikan senyum manisnya pada pria pujaan hatinya iyu.


"Kak.." panggil Sheila


Brian melambaikan tangannya dan tersenyum melihat gadis manis itu yang berjalan mendekatinya.


"Kak udah nunggu lama ya" tanya Sheila setelah ia berpisah dengan ke dua temannya


"Kak ko sayang baru aja" ucap Brian


"Sini lebih dekat kaka pakein helem nya" ucap Brian


Sheila mendekati kekasihnya yang ingin memakaikan helem untuknya.


"Ayo naik" ajak Brian dan Sheila pun hanya menurut saja


Sheila naik ke atas motor Brian, dan memeluk pinggang pria itu dengan kencang takut jika terjatuh, karena Brian selalu menakutinya dengan ngebut biar Sheila memeluk nya dengan erat.


Motor yang Brian kendarai melintas di jalan raya, tiba di lampu merah motor itu berhenti tepat di depan mobil yang di kendarai oleh Leo.


Leo yang bersama Nicko di dalam mobil itu bisa melihat motor yang ada di depan mobil mereka, jelas Leo dan Nicko mengenali ke dua pasangan yang masi mengunakan seragam sekolah yang berbeda itu.


"Leo, itu bukannya Sheila sama Brian" tanya Nicko


"Leo kamu ikuti motor mereka" ucap Nicko yang di angguki oleh Leo


Setelah lampu berubah menjadi warna hijau, Brian kembali menjalankan mobilnya, begitu pun dengan Leo dan Nicko yang mengikuti mereka dari belakang.


Motor gang di kendarai oleh Brian berhenti di salah satu restoran yanga ada di pinggir jalan, tidak terlalu mewah tapi terlihat bersih dan banyak pengunjung.


Ke duanya turun dari motor, setelah melepaskan helem mereka, Brian kembali mengandeng tangan Sheila masuk ke dalam, Brian melihat meja kosong yang ada di pojok dekat jendela ke duanya duduk di situ.


Di luar Leo dan Nicko memikirkan mobil mereka, kemudian turun dan masuk ke dalam restoran itu, ke duanya melihat Sheila dan Bria sedang duduk melihat-lihat buku menu.


Nicko dan Leo mendekati meja ke dua anak sekolah itu, Brian masi asik melihat-lihat buku menu sedangkan Sheila sudah diam melihat kedatangan papa nya dan daddy dari pria yang masi asik dengan buku menu.


Nicko duduk di kursi dekat putranya sedangkan Leo duduk di kursi dekat putrinya, karena saat ini ke duanya duduk berhadapan.


Brian belum menyadari akan kehadiran daddy nya dan juga papa dari gadisnya itu, tapi Sheila sudah mati kutu karena mendapat tatapan dari ke dua pria paru baya itu.


"Sayang kamu mau pesan a..." ucapan Brian terhenti saat melihat pria yang ada di dekat gadisnya, dan melihat pria yang duduk di dekatnya.


"Dad, om Leo" sapa Brian dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Boy..." panggil Nicko


"Iya dad" jawab Brian


"Kau menyukai Sheila" tanya Nicko


"Iya dad, aku mencintai Sheila dan kamu sudah lama berpacaran" ucap Brian memandang gadisnya


"Kau harus minta ijin pada om Leo boy..." ucap Nicko


Brian beralih melihat pada pria yang duduk di dekat gadisnya, Brian memandang Leo yang sedang menunggu pria yang menyukai putrinya


itu mengatakan sesuatu.


"Om Leo, sebelumnya saya minta maaf karena sudah menyukai putri om, saya juga minta maaf karena berpacaran sembunyi-sembunyi, saya serius dengan putri om, saya tau saya nanti akan melanjutkan studi saya di luar negri tapi saya janji akan selalu setia pada putri om sampai saya kembali" ucap Brian panjang lebar


"Ijinkan saya menjalin hubungan dengan Sheila om, saya janji akan menjaga dia dan melindungi dia semampu saya om" ucap Brian


"Sheila bagai mana sama kamu nak" tanya Leo


"Aku juga mencintai kak Brian pa" ucap Sheila

__ADS_1


"Baik papa ijinkan kalian menjalin hubungan, tapi ingat ya, jangan apa-apa in anak om Brian sebelum halal" ucap Leo memperingati anak dari bosnya itu


"Saya janji om akan menjaga Sheila" ucap Brian yang mendapat anggukan dari Leo


Sedangkan Nicko memandang asisten nya itu dengan mendengus kesal, dan Leo tau arti tatapan dari bosnya itu.


"Kalau begitu kalian lanjutkan makan siang kalian, daddy sama om Leo mau ketemu klien" ucap Nicko


"Iya dad" jawab Brian


Nicko dan Leo beranjak berdiri dan keluar dari restoran itu, membiarkan ke dua anak mereka melanjutkan makan siang mereka.


"Kau tadi sengaja menyingung ku" tanya Nicko saat ini ke duanya suda berada di dalam mobil


"Menyingung apa bos" tanya Leo pura-pura tidak tau


"Kau jangan pura-pura lupa, kau sendiri yang bilang tadi pada putraku untuk jangan ngapa-ngapain putrimu" ucap Nicko


"Cuma ngingetin aja bos, kan bos dulu gitu sama bu Nisa" ucap Leo tersenyum penuh kemenangan


"Sialan kau, itu hanya karena aku lagi dalam pengaruh obat terkutuk" ucap Nicko


"Ya siapa tau aja nurun bos, masa ia wajah tampan aja yang nurun, iya kan" ucap Leo lagi yang semakin membuat Nicko kesal mendengarnya.


"Tapi tidak dengan putra ku juga" ucap Nicko dan Leo hanya menanggapinya dengan terkekeh geli


Ke dua pria yang tak lagi muda itu tiba di restoran tempat janji mereka dengan klien.


✴✴✴✴


"Sayang kapan-kapan main lagi ke sini ya" ucap Sinta


"Iya myy, nanti Ambar main lagi ke sini" ucap Ambar memeluk mom Sinta


"Ayo sayang" ajak Gilang, yang di angguki oleh Ambar


"Ambar pamit ya myy, dad" ucap Ambar lagi


"Iya sayang, hati-hati ya jangan ngebut, jangan mantu mommy nak" ucap Sinta pada sang putra


"Siap myy" ucap Gilang


Gilang dan Ambar keluar dari rumah besar itu, Gilang membukakan pintu mobil untuk gadisnya, dan kemudian ia masuk ke dalam, Gilang akan mengantar Ambar kembali ke kantor, karena ada berkas-berkas yang harus Ambar tandatangani segera.


Gilang melihat gadisnya yang sedang asik bermain ponsel.


"Lagi chat tan sama siapa sih, serius banget" tanya Gilang


"Lagi bales chat nya Maura kak" ucap Ambar


Gilang kembali fokus menyetir, tapi sesekali mengajak gadisnya mengobrol.


Tak lama kemudian mobil Gilang memasuki area kantor, Ambar yang hendak turun dari mobil di cegah oleh Gilang, pria itu memajukan wajahnya dan langsung ******* bibir gadisnya itu, untung saja kaca mobil Gilang gelap jadi tidak ada karyawan di luar sana melihat adegan mereka di dalam mobil.


Gilang terus mencecap bibir yang sudah menjadi candu baginya, Gilang terus ******* bibir Ambar dengan lembut tapi menuntut, di rasa ke duanya mulai kehabisan oksigen, Gilang melepaskan tautan bibir mereka, Gilang melihat bibir bengkak Ambar, kembali mengecupnya singkat dan berpindah mengecup kening.


Ke dua pipi Ambar memerah karena lagi-lagi mereka berciuman, rasa mint dan bibir kenyal Gilang masi terasa di bibir gadis itu, serasa Ambar tak mau melepaskan tautan bibir mereka.


Ambar baru ingat perkataan sepupunya tempo hari di bali, kalau ciuman kiss sangat lah bikin gila, pantes saja Maura sering kissing sama Jovian, ternyata rasanya segila ini.


Ambar kaget saat Gilang menyentuh lengannya,.


"Kenapa melamun, mikirin apa sih" tanya Gilang


"Gak papa kok kak" ucap Ambar


"Mau kaka antar ke ruangan" ucap Gilang


"Gak usah kak, biar aku aja kaka kan juga harus balik ke kantor" ucap Ambar


"Aku turun ya kak, kaka hati-hati baliknya" ucap Ambar kemudian turun dari dalam mobil


Ambar melangkah di lantai dasar dan masuk ke dalam lift, setelah melihat gadisnya menghilang di balik pintu lift, Gilang kembali menjalankan mobilnya keluar dari kantor Wijaya Group.


Di dalam lift Ambar terus memegang bibirnya, ciuman mereka di dalam mobil tadi masi sangat terasa di bibir Ambar, gadis itu tersenyum sendiri mengingat kejadian di dalam mobil tadi.


Sampai Ambar keluar dari dalam lift tak berhenti tersenyum sendiri, Dila yang berada di balik meja kerjanya menjadi heran melihat bosnya yang senyum-senyum sendiri keluar dari dalam lift.


"Bu Ambar, gak papa" tanya Dila


Ambar tersentak kaget mendengar suara sekertaris nya, Ambar baru sadar kalau ia tersenyum sendiri keluar dari dalam lift, ciuman mereka tadi benar-benar bikin Ambar gila ternyata.


"Gak papa kok Dila, saya masuk dulu" ucap Ambar yang mendapat anggukan kepala oleh Dila.


Next...


Guys, Like, Komen sama Vote dan Beri aku Hadiah ya. Terimakasih🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2