
Cukup lama berpelukan, Gilang menuntun Ambar duduk di salah satu kursi yang sudah di siapkan dan Gilang juga ikut duduk di kursi depan gadisnya.
Gilang dan Ambar mulai memakan, makanan yang sudah di siapkan oleh pelayan restoran di atas meja, suasana menjadi bertambah romantis dengan cahaya lilin besar yang ada di atas meja, sesekali Gilang menyuapi Ambar, membuat ke duanya saling melempar senyum.
Setelah selesai makan malam nya, Gilang mengajak Ambar pulang karena waktu sudah semakin larut, Gilang melepaskan jas nya dan di pakaikan untuk calon istrinya.
Saat ini ke duanya sudah berada di dalam mobil, Gilang memutar radio untuk mengisi keheningan, Ambar menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dan perlahan ke dua mata gadis itu mulai terpejam.
Gilang melihat gadisnya yang sudah tertidur pules, Gilang tersenyum melihat wajah damai itu sedang terpejam.
Sesampainya di rumah, Gilang tidak membangunkan Ambar, Gilang mengendong Ambar menuju kamarnya yang ada di lantai dua, Nisa dan Nicko yang masi berada di ruang TV melihat calon mantu mereka sedang mengendong putri mereka.
"Mom, dad, Ambar tidur, Gilang ijin mengantar Ambar ke kamar ya" ucap Gilang
"Iya nak" ucap Nisa dan Nicko hanya mengangguk
Dengan susah paya Gilang mengendong Ambar, dan akhirnya sampai juga di lantai dua di mana kamar gadis itu berada.
Gilang membaringkan Ambar di atas tempat tidur dengan pelan agar gadis itu tidak terusik, tak lupa Gilang melepas sepatu yang di kenakan oleh Ambar, Gilang duduk sebentar di sisi ranjang dan melihat wajah gadis iyu, Gilang tersenyum kemudian mengecup kening Ambar cukup lama, kemudian Gilang keluar dari kamar gadis itu setelah menyelimuti calon istrinya terlebih dahulu.
Gilang melihat Nisa dan Nicko masi berada di ruang tenga, Gilang menghampiri ke duanya untuk berpamitan pulang, karena malam sudah semakin larut.
✴✴✴✴
Di sisi lain Vita dan teman-teman nya saat ini sedang dalam perjalanan menuju klub malam, seperti biasa gadis itu berpakaian ****, dan ke tiga temannya yang baru saja kembali tadi siang dari Singapure.
Setibanya di parkiran klub, mereka berempat turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam, suasana di dalam sana sangat ramai dan di penuhi banyak orang yang sedang menghilangkan stres atau penat.
Ke empat wanita itu duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan itu, salah satu teman mereka beranjak berdiri untuk memesan minuman, kini tinggallah Vita dan ke dua temannya.
"Hay cantik boleh gabung gak" ucap ke dua pria yang mendekati mereka
"Boleh gabung aja" ucap salah satu teman Vita
Ke dua pria itu duduk di sebelah Vita, yang satunya duduk di dekat salah satu teman Vita, mereka berkenalan dan mengobrol cukup akrap padahal baru kenal, tak lama kemudian salah satu teman Vita kembali di ikuti seorang pelayan yang membawa beberapa botol bir.
Pelayan itu meletakan botol bir nya di atas meja, salah satu teman Vita langsung membukanya dan menuangkan ke dalam gelas kaca.
Vita meneguk sekali isi gelas itu, membuta ke dua pria yang ada di situ melihat Vita tersenyum.
Tampa Vita sadari Rendi sedang menatapnya dari meja bartender yang tak jauh dari mereka, karena lampu yang remang-reman membuat Vita tidak bisa melihat jelas keberadaan Rendi, semenjak Vita dan teman-temannya keluar dari apartemen Vita, Rendi sudah melihatnya dan mengikuti mereka sampai di sini.
Rendi terus melihat Vita yang meneguk minuman yang di berikan oleh teman-temannya membuat Vita sudah sedikit oleng.
"Guys gue ke kamar mandi bentar ya" ucap Vita
"Ok beb, cepat balik ya" ucap salah sagu teman Vita
"Siap" ucap Vita
Vita beranjak dari duduk nya dengan memegang kepalanya yang sedikit pusing, wanita itu berjalan menuju toilet wanita, setibanya di dalam Vita melihat wajahnya yang sudah memerah karena mabuk.
Vita mencuci sedikit wajahnya untuk menghilangkan kemerahan yang ada di wajahnya.
Vita keluar dari dalam kamar mandi dan langsung di peluk oleh seorang pria, Vita sangat mengenal bau parfum yang pria itu kenakan.
"Ikut aku" ucap pria itu memeluk pinggang Vita
Tampa memberontak Vita mengikuti pria itu, Vita sangat mengenali siapa pria yang sedang memeluk pinggangnya saat ini, pria itu membawa Vita keluar dari klub malam itu.
Ya pria itu adalah Rendi, tetangga Vita di apartemen, yang tak lain adalah sahabat Jovian, Rendi membukakan pintu untuk Vita dan gadis itu masuk ke dalam di susul olehnya.
Rendi membawa Vita pulang ke apartemen, karena sudah mabuk Vita mulai me racau tak jelas, membuat Rendi yang mengangkat sesa paya karena badan Vita sedikit berisi.
Rendi membawa Vita ke apartemennya, karena pria itu tidak tau pin pintu wanita itu, Rendi membaringkan Vita di tempat tidurnya, Rendi mengusap wajahnya kasar melihat tubuh **** itu terlentang di tempat tidur.
"****.." umpat Rendi masuk ke dalam kamar mandi
Sedangkan Vita tertidur pules karena sudah mendapat tempat tidur yang nyaman, dia tidak tau saat ini sedang tidur di ranjang seorang pria.
✴✴✴✴
__ADS_1
Keesokan paginya...
Cahaya matahari mengusik tidur Vita yang nyenyak, Vita merasakan sesuatu menindih perutnya, dengan pelan ia berbalik dan melihat seorang sedang tertidur pules dan sambil memeluk pinggang nya.
Aaaakkkk...
Vita berteriak memeluk tubuhnya melihat Rendi tidur di dekatnya, membuat tidur pria itu terusik, dan membuka ke dua matanya.
"Loh berisik banget si pagi-pagi" ucap Rendi
"Ngapain loh di sini dan meluk-meluk gue lagi" ucap Vita
"Suka-suka gue lah, ini kan kamar gue" ucap Rendi acuh
Vita menelisik seisi kamar, dan benar saja ini bukan kamarnya, tapi kenapa dia bisa ada di sini sekarang, Vita kembali mengingat semalam pria itu membawanya pulang dari klub malam.
Vita beranjak turun tapi di tahan tangannya oleh Rendi, membuat Vita otomatis kembali terbaring di dekat Rendi.
"Loh mau ke mana" tanya Rendi
"Mau ke unit gue lah, ini kan bukan apartemen gue" ucap Vita
"Loh gak bias pergi gitu aja" ucap Rendi tersenyum penuh arti
"Jangan macam-macam loh ya" ucap Vita memeluk dadanya
"Gak usah di tutup, semalam gue udah liat lagi" ucap Rendi menjahili Vita
"Dasar cowok sialan loh, loh apain gue semalam" ucap Vita
"Loh lupa kita semalam ngapain" ucap Rendi tersenyum menggoda
Membuat Vita naik pitan, karena ke makan omongan Rendi barusan, wanita itu gak sadar kalau baju yang ia kenakan saat ini masih utuh.
"Gue bercanda, gue gak suka sama ini terlalu kecil" ucap Rendi menunjuk ke dua gunung kembar Vita, membuat Vita kembali menutup dadanya dengan tangannya membuat Rendi terbahak-bahak melihat tingkah Vita.
"Loh mau di sini terus" tanya Rendi, Vita yang tersadar langsung beranjak dan keluar dari kamar pria itu.
Rendi tersenyum selepas Vita menghilang dari balik pintu, sangat lucu mengerjai wanita itu ternyata pikir Rendi, kemudian di beranjak masuk ke dalam kamar mandi.
✴✴✴✴
Gilang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan rendah, terlihat kendaraan berlalu lalang cukup ramai.
30 menit kemudian Gilang tiba di rumah gadisnya, terlihat Ambar juga sudah siap dengan celana jeans dan blouse warna hitam, membuat kulitnya terlihat bertambah cerah karena mengunakan atasan berwarna hitam, Gilang tersenyum melihat gadisnya itu.
"Udah siap" tanya Gilang
"Udah dong" ucap Ambar
"Ayo pergi sekarang" ajak Gilang mengandeng tangan sang gadis
Ke duanya masuk ke dalam mobil, kemudian Gilang menjalankan mobilnya kembali, sebelah tangan Ambar masi berada di genggaman tangan Gilang, sesekali Gilang mengecup punggung tangan calon istrinya itu.
Tak lama kemudian, mobil yang di naikin ke dua pasangan itu tiba juga di studio foto, Gilang mengajak Ambar turun dan masuk ke dalam.
Kedatangan ke duanya di sambut banyak oleh pemilik studio, yang tak lain adalah sahabat dari mom Sinta.
"Hay ganteng, udah gede ya loh ternyata" ucap seorang pria ences menyambut merek
"Yuk cantik masuk, Lang loh ternyata jago juga ya mili calon istri" ucap ences itu
"Loh bisa aja Rin" jawab Gilang pada ences itu yang bernama Karin
Gilang di ajak ke dalam studio foto, baju yang akan di kenakan ke duanya sudah siap di sana tinggal di pakai aja.
Setelah berganti pakaian, ke duanya mulai sesi foto prewed nya, Karin memberi arahan pada Gilang untuk merubah posisi seperti memeluk Ambar dari belakang, dan Gilang menurutinya.
"Iya gitu, tahan ya, 1 2 3 clek" suara bunyi kamera
"Lagi gaya yang lain Lang, Ambar maju di depan Gilang di samping, Ambar melihat ke arah samping dan Gilang melihat Ambar oke" ucap Karin, dan seterusnya berganti-ganti gaya.
__ADS_1
Setelah hampir 1 jam mereka melakukan foto prewed, akhirnya selesai juga,, Ambar mengambil ponsel dari tas nya dan membuka stori Instagram, membuat gerakan lucu untuk di jadikan Boomerang, setelah itu di buat cerita Instagram oleh Ambar.
Setelah berganti pakaian yang sebelumnya, Gilang dan Ambar pamit pada Karin.
Untuk mencari restoran tempat mereka mengisi perut yang sudah mulai keroncongan.
Di dalam mobil Ambar sedang melihat cerita Instagram, banyak followers nya yang mengucapkan, semoga lancar sampai hari H, Ambar membalas cerita orang-orang yang memberinya selamat itu untuk di buat cerita juga.
"Sayang, serius banget si" ucap Gilang yg sedang fokus menyetir
"Liatin cerita Instagram sayang" ucap Ambar
Mobil Gilang berhenti di salah satu restoran kecil yang ada di pinggir jalan, setelah tiba di dalam Gilang menarik kursi untuk Ambar, kemudian Gilang duduk di dekat Ambar.
Gilang dan Ambar memesan pecel lele, yang terlihat sangat mengiurkan selera makan, di sela menunggu pesanan mereka, Ambar dan Gilang melihat-lihat foto yang ada di galery ponsel Ambar.
"Permisi mbak, mas ini pesanannya" ucap pelayan restoran, meletakan pesanan mereka di atas meja.
Ambar melihat pecel lele yang di bumbui oleh cabe hijau, jangan lupakan nasinya yang masi panas-panas, benar-benar membuat nafsu makan meronta.
Dua gelas nutrisari dingin, berada di dekat ke duanya, Ambar dan Gilang mulai memakan mengunakan tangan setelah pelayan itu meletakan mangkuk air cuci tangan.
Ambar dan Gilang sampai berkeringat karena kepedisan.
"Sayang enak banget ya pecel lele nya" ucap Gilang
"Iya enak banget, kapan-kapan kita makan di sini lagi ya" ucap Ambar yang di angguki oleh Gilang
Setelah menghabiskan makan siang mereka, Gilang membayar pada kasir, setelah itu ke duanya keluar dari restoran itu.
"Sayang mau jalan-jalan gak" tanya Gilang
"Boleh, lagian hari ini jadwal kantor udah di kosong kan" ucap Ambar
"Kita ke puncak ya" ajak Gilang yang mendapat anggukan dari Ambar.
Gilang mengemudikan mobilnya menuju puncak, dari atas sana ia dan Ambar nanti akan melihat pemandangan yang sangat indah.
Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam, Gilang dan Ambar sampai di sebuah punyak yang memperlihatkan indahnya kota jakarta dari atas sana.
Ambar dengan cepat turun dari mobil, tidak sabar untuk melihat pemandangan dari luar, Gilang tersenyum melihat calon istrinya yang terlihat sangat bahagia itu.
Ambar berdiri sedikit jauh dari tebing, tapi ada pembatasnya yang sudah di bikin dengan aman.
Gilang mendekati gadisnya itu, dan memeluk Ambar dari belakang, Gilang meletakan dagunya di curuk leher Ambar menghirup wanginya rambut gadis itu.
"Sayang kamu pake sampo apa si wangi banget" ucap Gilang masi dengan posisi memeluk Ambar dari belakang
Bukanya menjawab pertanyaan Gilang, Ambar malahan asik menghirup udara yang sangat sejuk itu, membuat Gilang menjahili gadis itu, dengan mengangkat sebelah tangannya untuk menutup ke dua mata Ambar, membuat Ambar tidak bisa melihat pemandangan di depan nya.
Ambar melepaskan tangan Gilang yang mencoba menutupi ke dua matanya.
"Kok di tutup si" ucap Ambar
"Habisnya kamu di tanyain gak mau jawab" ucap Gilang masi memeluk Ambar
Ambar membalikan badannya dan membuat ke duanya kini menjadi berhadapan, Ambar dengan jahil mengecup sebelah pipi Gilang, membuat pria tak tahan untuk tidak mengecup bibir menggoda calon istrinya.
Gilang ******* bibir itu sekilas, kemudian memeluknya, sejujurnya sesuatu di bawa sana suda sangat sesak, tapi ia haris bisa menahannya tinggal dua minggu empat hari mereka akan melangsungkan pernikahan.
Gilang membawa Ambar duduk di salah satu bangku yang ada di sana, Gilang mengeluarkan ponselnya dan mengambil banyak momen bersama dengan Ambar.
Ke duanya berfoto bersama, membuat Ambar dalam pelukan Gilang tersenyum manis, Gilang Menganti wallpaper ponselnya dengan foto ke duanya yang Gilang sedang memeluk Ambar dari belakang.
Ke duanya mengobrol sambil tertawa, sesekali Gilang mengacak rambut gadis itu, membuat Ambar harus mengaturnya lagi.
Gilang melihat jam yang melingkar di lengannya sudah menunjukan pukul 4 sore, Gilang mengajak Ambar balik karena hari sudah mulai sore, mengingat saat ini mereka berada di puncak dan perjalanan memakan waktu cukup jauh.
Next....
Like, Komen sama Vote ya...
__ADS_1
Terimakasih...
Beri aku hadiah juga ya guys 😊😊🙏🙏