
Siang ini Gilang dan Ambar sedang bersiap-siap pergi ke lokasi pembangunan resort, ke duanya akan melakukan survei lokasi.
Gilang saat ini sudah siap dengan setelan jas warna navy membuat penampilan pria itu semakin bertambah tampan. Gilang melihat dirinya di depan cermin yang ada di hadapannya, setelah semuanya sudah siap Gilang melangkah keluar dari kamarnya menunggu gadisnya di ruang tenga.
Sedangkan Ambar di dalam kamarnya baru saja selesai memoles wajahnya, karena ia akan pergi ke luar ruangan jadi gadis itu memakai sunscreen untuk pelindung kulit putih nya.
Ambar mengenakan celana bahan panjang, dan atasan kemeja biru, membuat penampilan gadis itu terlihat cantik.
Ambar keluar dari kamar dan melihat Gilang sudah menunggunya di sana, Gilang tersenyum manis melihat gadisnya itu berjalan mendekat ke arahnya.
"Sudah siap" tanya Gilang
"Udah kak" jawab Ambar
"Ayo kita pergi sekarang" ucap Gilang lagi yang mendapat anggukan dari gadisnya itu
Mobil sudah berada di halaman Vila, Gilang membukakan pintu mobil dan mempersilahkan gadisnya masuk, kemudian ia memutari mobil dan duduk di kursi ke mudi.
Gilang mendekatkan tubuhnya untuk memasang kan sabuk pengaman untuk gadisnya itu, pergerakan Gilang membuat Ambar salah tingkah, dan menahan nafas nya.
Gilang lagi-lagi tersenyum geli melihat tingkah polos gadisnya itu, kalau tidak sedang buru-buru udah Gilang kurung gadisnya itu di dalam Vila.
Gilang kembali menjauhkan tubuhnya, membuat Ambar menghembuskan nafas juga. Belum di apa-apa ini aja Ambar udah gugup gitu.
Gilang mengendarai mobilnya keluar dari halaman Vila, sesekali Gilang melihat ke arah Ambar, tapi Ambar melihat ke arah luar, seperti melihat pemandangan menarik di sana.
"Sayang" panggil Gilang dan Ambar melihat ke arah pria itu
"Aku boleh nanya sesuatu gak" tanya Gilang
"Boleh kaka mau nanya apa" tanya Ambar
"Jadi waktu kamu kecil dulu, om Nicko langsung nikah ya sama tante Nisa" tanya Gilang
"Iya kak, panjang ceritanya" ucap Ambar mengigat dulu Mommy nya sangat menghindari daddy nya setelah mengetahui bahwa Ambar adalah putri dari Nicko
45 menit kemudian, mobil yang di kendarai oleh Gilang memasuki lokasi pembangunan resort. Gilang membukakan pintu untuk gadisnya itu, suasana sangat terik panas mata hari sangat menusuk kulit para pekerja yang sedang berada di sekitar mereka.
Salah satu kepala yang bertugas menangani proyek di situ langsung mendekati Ambar dan Gilang, dan menyapa dengan hormat.
"Siang pak Gilang, bu Ambar" ucap pria itu
"Siang" ucap Ambar dan Gilang bersama
"Apa kau bisa mencari payung untuk calon istri saya" ucap Gilang yang membuat Ambar bengong di buatnya.
"Bisa pak, tunggu sebentar" ucap pria itu
"Kak, buat apa minta payung kan gak hujan" tanya Ambar
"Buat kamu sayang, kaka gak tega kamu kepanasan" ucap Gilang
"Dan ini, kaka gak suka kulit mulus kamu kena paparan sinar matahari" ucap Gilang lagi
"Tapi aku kan udah pake sunsreen kak" ucap Ambar
"Itu belum cukup sayang" ucap Gilang membawa gadisnya berteduh di bawa pohon
Ambar hanya bisa menggeleng kepala mendengar perkataan pria yang ia cintai itu.
Tak lama kemudian kepala pengawas yang di suruh oleh Gilang kembali dengan membawa satu buah payung, dan menyerahkan pada Gilang.
Gilang membuka payung nya dan memayungi gadisnya dari samping, petugas pengawas itu mulai mengajak Gilang dan Mabar untuk melihat-lihat perkembangan pembangunan resort itu.
Gilang tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari tangan gadisnya, sesekali Gilang mengusap peluh yang terdapat di dahi Ambar mengunakan sapu tangan milik nya, perlakuan Gilang tak luput dari kepala pengawas itu.
"Pak Gilang perhatian ya sama calon istrinya" ucap kepala pengawas itu
"Jelas dong, calon istri saya kan cantik" ucap Gilang sengaja menggoda gadisnya itu
"Iya pak Gilang, selain pintar Bu Ambar juga cantik" ucap kepala pengawas itu
"Kau tidak boleh memuji calon istri ku" ucap Gilang dengan posesif
"Iya pak Gilang maaf" ucap kepala pengawas itu
"Heemm" Gilang
Setelah selesai berkeliling melihat-lihat perkembangan pembuatan resort itu, kini Gilang kembali membawa gadisnya masuk ke dalam mobil, Gilang menyalahkan ace mobil untuk mendinginkan suasana yang sangat terik di luar sana.
Setelah itu Gilang menjalankan mobilnya meninggalkan lokasi pembuatan resort itu, waktu kini sudah menunjukan pukul 2 siang, mata hari masi terik-teriknya.
"Sayang mampir minum kelapa muda yuk" ajak Gilang
"Boleh, tapi cari yang di pinggiran pantai ya kak" ucap Ambar
"Iya sayang" ucap Gilang
Gilang melihat ada penjual kelapa muda di bawa pohon yang menghadap ke pantai, Gilang menepikan mobilnya, mengajak Ambar minum kelapa muda di bawa pohon itu.
__ADS_1
Setelah keluar dari mobil, Gilang kembali mengandeng tangan gadisnya mendekati bapak penjual kelapa muda itu.
"Pak kelapa mudanya dua ya" ucap Gilang
"Iya, den" jawab bapak penjual kelapa muda
Gilang mengajak Ambar duduk di kursi yang sudah di siapkan di bawah pohon itu, angin pantai menerpa wajah Ambar, membuat helaian rambut gadis itu di terpa angin, membuat Ambar terlihat semakin ****.
Gilang Mengeluarkan ponsel miliknya dari saki jasnya dan mengambil gambar gadisnya itu diam-diam, karena Ambar sedang memandang ke arah ombak yang bergulung.
"Sayang kita foto yuk" ajak Gilang, setelah sekian lama ini kali ke dua mereka berdua berfoto bersama setelah dewasa.
"Den, Neng ini kelapa mudanya" ucap bapak penjual
"Iya pak terima kasih" ucap Ambar
"Bapak jualan sendiri ya" tanya Ambar
"Sekarang sendiri neng, tapi kemarin-kemarin sama istri bapak" ucap bapak penjual
"Istri bapak ke mana" tanya Ambar
"Istri saya sedang sakit neng di rumah" ucap Bapak
"Semoga cepat sembuh ya istri bapak" ucap Ambar
"Aminn, terima kasih neng" jawab bapak penjual
"Sama-sama pak" jawab Ambar
Gilang hanya setia menjadi pendengar percakapan gadisnya dan bapak penjual itu, Gilang senang melihat gadisnya itu prihatin pada orang lain.
Ambar dan Gilang menghabiskan kepala muda yang mereka pesan tadi, ke duanya duduk cukup lama di bangku yang ada di bawa pohon itu, karena panas masi terasa terik.
Gilang membayar kelapa muda yang mereka minum tadi dan kembaliannya di kasi untuk bapak penjual itu, Ambar juga menyerahkan lima lembar uang seratus ribu untuk berobat istri bapak itu.
Bapak itu sangat berterima kasih pada Ambar dan Gilang, bapak itu juga mendoakan semoga Ambar dan Gilang sehat terus dan rezekinya selalu lancar.
Setelah itu Ambar dan Gilang kembali ke mobil mereka yang terparkir di pinggiran jalan.
"Sayang langsung balik ke Vila atau jalan-jalan dulu" tanya Gilang
"Balik ke Vila aja kak, entar sore aku mau liat sunset" ucap Ambar, yang mendapat anggukan dari Gilang.
Sesampainya di Vila, Ambar dan Gilang keluar dari mobil, dan masuk ke dalam Gilang melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya itu menunjukan pukul 3 sore.
πΈπΈπΈ
Nicko baru saja menerima telpon dari orang suruhannya yang berada di bali, senyum tak pudar dari wajah tampannya itu meskipun sudah berumur.
Rencananya dan sahabatnya berhasil untuk menyatukan ke dua anak mereka, Nicko berniat menelpon Reza setelah panggilan dari orang suruhannya terputus.
"Ya ada apa Nick" tanya Reza dari seberang sana
"Aku baru saja dapat telpon dari orang suruhan ku di bali kalau putriku sudah mengetahui bahwa putramu adalah pria yang ia tunggu-tunggu" ucap Nicko
"Bagus Nick, setelah mereka kembali kita harus segera menyuruh mereka tunangan" ucap Reza tak kalah bahagianya
"Ok nanti kita atur saja" ucap Nicko
Setelah itu panggilan telpon terputus, Nicko melihat jam yang sudah menunjukan pukul empat sore, pria paru baya itu menyusun semua laporan yang ada di atas meja, lalu melangkah keluar dari ruangannya.
Nicko masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai dasar, beberapa karyawan menyapa Nicko dengan hormat.
πΈπΈπΈ
"Vit, kenapa muka loh kusut gitu" ucap salah satu teman Vita
"Gue lagi kesal sama Jo" ucap Vita
"Jo? loh ketemu Jo" tanya temanya lagi
"Iya gue tadi pagi ketemu Jo sama Maura" ucap Vita
"Maura Aditama, yang model majalah terkenal itu" ucap temanya lagi
"Iya, sekarang dia pacarnya Jo" ucap Vita dengan kesal
"Sabar aja, mending kita ntar malam ke klub yuk lagu suntuk ni" ucap salah satu teman Vita
"Boleh, gue juga lagi pengen ngilangin stres" jawab Vita
Vita liburan ke bali bersama teman-teman nya, ia bekerja di perusahaan papinya yang berada di jakarta, setelah menyelesaikan kuliahnya Vita langsung di tugaskan oleh papi nya untuk memegang perusahaan di jakarta. Tapi Vita tetaplah Vita selalu bergaya glamor pergi liburan bersama teman-teman nya ke mana saja mereka mau.
πΈπΈπΈ
Marvel memasuki rumah uncle nya, pria yang seumuran dengan brian itu ingin menemui sepupunya yang tak lain adalah Brian.
"Vel,..." panggil Nicko melihat keponakan tampannya itu
__ADS_1
"Uncle, aunty" panggil Marvel
Marvel duduk bersama uncle dan aunty Nisa, dan tak lama kemudian Brian terlihat menuruni anak tangga.
Brian duduk bergabung bersama Marvel dan ke dua orang tuanya.
"Boy... Wajah mu kenapa" tanya Nicko melihat wajah kusut putranya
"Gak papa daddy" ucap Brian
Marvel hanya menggeleng melihat wajah tak bersahabat sepupunya itu, jelas ia tau apa yang membuat Brian seperti itu. Brian yang meminta Marvel untuk datang ke rumah, karena ingin membahas sesuatu yang sangat penting.
"Ke kamar gue yuk" ajak Brian beranjak dari duduknya
"Dad, mom aku sama Marvel ke kamar dulu" ucap Brian yang mendapat anggukan dari Nisa dan Nicko
"Uncle, aunty, aku ke kamar Brian dulu ya" ucap Marvel
"Iya Nak" ucap Nisa
Setibanya di kamar Brian, Marvel langsung menghempaskan tubuh di atas ranjang besar milik Brian.
"Loh mau ngomong apa" tanya Marvel masi dengan posisi baring nya
"Si Oliv bikin ulah lagi, tadi dia datangin Sheila ke sekolahnya" ucap Brian
"Ngapain tuh nenek sihir ke sekolah Sheila" ucap Marvel
"Si Oliv tadi hampir aja mau nampar Sheila, untuk aja gue cepat sampai sana" ucap Brian kesal mengingat tadi gadisnya hampir di pukuli
"Terus loh mau gue apain tuh nenek sihir" ucap Marvel
"Bikin di kapok sampai gak berani gangguin Sheila lagi" ucap Brian
"Ok loh tenang aja, gue bakalan bikin tuh nenek sihir mati kutu besok" ucap Marvel dengan seringai licik nya.
"Gue gak mau gadis yang gue cintai terluka gara-gara si Oliv" ucap Brian
"Iya loh tenang aja, serahin semua sama gue" ucap Marvel
"Loh gimana sama Adelia" tanya Brian
Marvel mengangkat ke dua bahunya, tak tau bagaiman Hubungannya bersama gadis yang bernama Adelia, sering putus nyambung karena tak ada kecocokan di antara ke duanya.
πΈπΈπΈ
Gilang menghubungi Jovian, untuk mengajak merek melihat sanst bersama, karena besok mereka harus kembali ke jakarta karena ada banyak pekerjaan yang sedang menunggu mereka.
Waktu kini sudah menunjukan pukul 5 sore, itu tandanya mata hari sudah berada di ufuk barat, Gilang melihat Ambar yang sudah siap.
"Kak, Maura sama Kak Jo jadi ikut gak" tanya Ambar
"Jadi ko sayang, kaka udah ngabarin Jo barusan" ucap Gilang
"Kita langsung otw aja ya" ajak Gilang
"Ayok" jawab Ambar
Ini adalah malam terakhir mereka di bali, karena besok pagi harus kembali ke jakarta, karena banyak pekerjaan yang sedang menanti mereka di sana.
Di sisi lain, Maura dan Jovian sedang berdebat perihal pakaian yang Maura kenakan.
"Sayang ganti baju kamu, kaka gak suka pria lain liat tubuh **** kamu" ucap Jovian
"Ini gak terlalu **** kok, kaka aja liat kan cewek-cewek nanti di sana yang hampir telanjang" ucap Maura keras kepala
Berdebat dengan gadisnya itu memang Jovian tak akan menang, Mau tidak mau Jovian mengalah dari pada bertengkar nanti, tapi dengan syarat Maura haru menutup celana pendeknya mengunakan kain bali.
Maura dan Jovian kini sudah siap dengan kacamata hitam mereka, ke duanya mengendarai mobil menuju pantai.
"Awas aja ya kalau kaka liat-liat cewek-cewek yang make bikini di sana" ancam Maura
"Gak akan sayang" ucap Jovian
"Awas aja" ucap Maura
Jovian mencubit gemes pipi gadisnya itu.
"Kamu lucu deh kalau lagi cemburu gini sayang" ucap Jovian semakin gencar menggoda gadisnya yang sedang kesal itu.
Saat ini Maura dan Jovian masi dalam perjalanan, karena Vila mereka bersebelahan dengan Vila yang di tempati oleh Ambar dan Gilang
Suasana jalan terlihat sangat ramai pada sore hari ini, terlihat bule-bule pria dan wanita sedang menyusuri pinggiran jalan raya itu.
Sedangkan Gilang dan Ambar sudah tiba terlebih dahulu di pantai, sama halnya dengan Maura, Ambar juga cemburu melihat banyak wanita-wanita **** melihat Gilang dengan menggoda pria itu, kalau Ambar tau akan jadi seperti ini ia tak akan mengajak Gilang melihat matahari terbenam.
Next...
Hay, guys, jangan lupa Like, Komen sama Vote nya ya biar aku makin tambah semangat up nya, terimakasih juga untuk kalian yang sudah membaca cerita aku mulai dari, Putri Ku Tanpa Daddy, dan cerita ini.ππ
__ADS_1