
Gilang dan Arman saat ini sedang berada di dalam mobil Gilang, saat ini tujuan ke dua pria itu adalah ke kantor Wijaya Group.
"Kau terlihat sangat senang Man" ucap Gilang menatap sekertaris nya
Arman hanya tersenyum menanggapi perkataan sang bos, jelas ia terlihat senang secara sebentar lagi akan bertemu Dila sang pujaan hati.
Hari ini akan di adakan rapat besar di kantor Wijaya Group, jadi semua rekan bisnis dari beberapa perusahaan yang bekerja sama datang mengikuti rapat.
Di kantor Wijaya Group, Ambar dan Dila langsung pergi ke ruangan rapat, di saat ke dua gadis itu masuk ke dalam ruang rapat semua yang sudah hadir menatap ke arah pintu yang terbuka.
Ambar dan Dila langsung duduk di kursi yang sudah di siapkan, masi ada beberapa kursi yang belum di tempati, Gilang dan Arman juga belum datang, hanya Nicko, Leo dan Reza berbincang-bincang dengan para rekan bisnis yang lain.
Ada yang dari pemilik perusahaan lain datang bersama putri mereka yang terlihat cantik dan ****.
Tak lama kemudian pintu terbuka, dan masuklah Gilang dan Arman, beberapa wanita yang akan ikut rapat memandang Gilang dengan tampa berkedip, membuat Ambar yang melihat itu seketika tidak suka, jika tunangannya di tatap oleh wanita lain.
Gilang duduk di dekat Reza sang daddy dan Arman duduk di dekat Gilang, Gilang tersenyum melihat gadisnya itu, Gilang tidak lupa berjabat tangan dengan Nicko dan Leo.
Setelah semua sudah berkumpul semua, Nicko mulai membuka rapat kali ini, tapi tatapan Ambar tetap pada wanita yang memandang Gilang terus sedari Gilang masuk, tapi tidak dengan Gilang yan selalu memandang gadisnya, bahkan saat ini ia tau kalau Ambar sedang cemburu padanya.
Nicko terus berbicara tentang kerja sama para perusahaan besar yang bekerja sama dengan perusahaan Wijaya Group, sesekali Nicko melihat wajah kesal putrinya itu karena melihat wanita yang melihat tunangannya di tatap oleh wanita lain.
Setelah tinggal beberapa poin penyampaian, Nicko meminta sang putri sebagai wakil CEO untuk berbicara.
Ambar maju ke depan untuk menggantikan sang daddy, tatapan semua orang yang ya duduk di ruangan itu tertuju pada Ambar termaksud Gilang, Gilang memandang tunangannya itu sambil mengerikan sebelah matanya, membuat ke dua pipi Ambar bersemu merah karena malu.
Ambar mulai, membacakan poin-poin rapat kali ini, dengan sangat lantar. Tapi Gilang yang duduk di kursi menaruh tangan nya di pipi pria itu menjadi seperti membentuk menutupi bibirnya yang iya perlihatkan pada Ambar di depan sana, bibir Gilang bergerak seperti membentuk ciuman dan hal itu semakin membuat Ambar salah tingkah, bisa-bisa nya pria itu mencium jauh dirinya di depan banyak orang di ruangan itu.
Tapi hanya Ambar si yang melihat ciuman jauh itu, karena Gilang menutupinya sebelah dengan telapak tangannya.
Cukup lama Ambar membaca poin-poin terakhir akhirnya rapat hampir 2 jam itu pun selesai juga, tapi ke dua pipi Ambar kini masi saja memerah karena ulah Gilang.
Sedangkan Reza yang duduk di dekat putranya hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkah putranya itu, Reza sangat tau apa yang Gilang lakukan tadi pada tunangannya.
Setelah semua sudah berjabat tangan, salah satu dari rekan bisnis Nicko dan Reza mengatakan sesuatu yang membuat semua orang di ruangan itu kaget, terutama Ambar dan Nicko.
"Pak Reza, putra mu sangat tampan persis seperti pak Reza waktu muda dulu, sepertinya putramu cocok dengan putri cantik ku ini" ucap seorang pria paru baya itu memperkenalkan putrinya
"Terimakasih Pak Johan, tapi maaf putra saya sudah bertunangan" ucap Reza membuat pria paru baya itu kaget
"Dan tunangannya adalah wakil CEO Wijaya Group, anak dari sahabat saya Nicko" ucap Reza melihat pada calon mantu nya yang sudah menunduk sedih
Gilang yang melihat gadisnya bersedih langsung pergi menghampirinya, Gilang menyentuh lengan Ambar dan membawa gadisnya keluar dari ruang rapat itu setelah Gilang berpamitan pada semuanya.
Gilang membawa Ambar masuk ke dalam ruangan gadis itu, saat sampai di dalam Gilang tidak lupa mencuci pintu ruangan Ambar, Gilang membawa Ambar duduk di sofa.
"Kenapa hheemm" tanya Gilang melihat wajah sendu gadisnya
"Gak papa kak" jawab Ambar
Gilang mengerti kenapa gadisnya seperti ini, karena sedang cemburu, Gilang membawa Ambar ke dalam dekapan nya dan mengelus rambut gadis itu dengan sayang.
"Udah jangan sedih lagi ya, di hati kaka cuma ada kamu seorang" ucap Gilang dan Ambar mengangguk kecil
Gilang melepaskan pelukan mereka dengan pelan, dan melihat wajah cantik gadis itu, pelan-pelan Gilang mendekatkan wajahnya dengan Ambar dan hanya berjarak sedikit saja bibir mereka akan menyatu, tapi suara ketukan pintu mengagetkan ke dua pasangan itu.
"Kak ada orang" ucap Ambar
Gilang beranjak dengan kesal karena gagal berciuman dengan gadisnya, Gilang mengumpat orang yang berada di luar sana, Gilang membuka pintu dengan wajah kesal nya.
Di depan pintu ke dua pria paru baya sedang berdiri menunggu pintu terbuka, wajah Gilang yang tadinya kesal berubah menjadi ceria melihat ke dua daddy nya.
"Dad, ayo masuk" ajak Gilang mempersilahkan ke dua pria paru baya itu
Reza memandang curiga pada sang putra kerena lama membukakan pintu, dan juga tadi saat Nicko ingin membuka pintu langsung ternyata di kunci dari dalam.
"Boy kau jangan macem-macem ya, kalian belum nikah" kata Daddy Reza berbisik pelan di telinga putra nya
"Tadi mau ciuman dad, cuma daddy dan daddy Nicko menganggu" ucap Gilang santai
__ADS_1
"Kau ini, kalau udah gak tahan cepat nikah" ucap Reza lagi berbisik
"Secepatnya aku akan melamar gadisku dad" ucap Gilang yang mendapat anggukan dari Reza
Mereka berempat duduk di sofa yang tadi di duduki oleh Ambar dan Gilang, karena ada hal penting yang mau Nicko katakan pada putrinya.
✴✴✴✴
Di salah satu ruangan di gedung perkantoran, seorang pria paru baya sedang memarahi sang anak.
"Mau jadi apa kamu kalau terus-terusan seperti ini, tidak bertangan jawab memimpin perusahaan" ucap seorang pria paru baya
"Pi, jangan keras-keras dong sama Vita" ucap seorang wanita paru baya yang sedang memeluk putrinya yang kena omelan papinya
"Kau selalu saja membelah dia, makanya dia berbuat sesukanya" ucap pria itu
"Namanya juga anak muda pi, butuh liburan sama teman-teman gak harus kerja di kantor terus" belah wanita paru baya itu lagi.
"Bukannya papi tidak mengijinkan Vita liburan mi tapi dia harus bisa bertanggung jawab dengan perusahaan" ucap pria paru baya yang tak lain adalah papi dari Vita
"Mulai sekarang kau berhenti berfoya-foya bersama teman-teman kamu, kalau gak papi sita semua fasilitas kamu, dan kamu papi turunkan untuk menjadi karyawan biasa" ucap papi Vita final
"Gak bisa gitu dong pi, Vita kan..." belum selesai mami Vita berkata sudah di potong oleh papi Vita
"Mami juga, kalau masi membelah anak ini terus, papi ambil kartu pemberian papi" ucap papi Vita membuat mami Vita terdiam
"Maaf ya sayang kali ini mami gak bisa bantu kamu, nanti mami gak bisa belanja kalau kartu pemberian papi kamu di ambil sama papi" ucap mami Vita
"Ish, mami lebih milih uang ya dari pada Vita" ucap Vita kesal
"Gak usah drama kalian di situ, papi ke ruangan papi dulu" ucap papi Vita
"Mi gimana dong, aku kan ada rencana mau ke Singapura bareng teman-teman aku" ucap Vita
"Kamu jangan dulu pergi jalan-jalan sayang, kamu harus di kantor dulu biar papi gak marahin kamu" ucap mami Vita
"Udah pokoknya kamu harus dengerin papi kamu dulu, kamu gak mau kan semua fasilitas di sita sama papi kamu" ucap mami Vita
"Gak mau lah mi, masa ia anak pemilik perusahaan jadi karyawan biasa" ucap Vita
"Makanya kamu dengerin tuh papi kamu, udah ya mami mau ke ruangan papi kamu dulu sayang" ucap mami Vita mencium putrinya, kemudian keluar dari ruangan anaknya.
Tinggallah Vita sendiri di dalam ruangan nya, Vita melihat ponselnya yang bergetar di atas meja, terlihat nama sahabatnya yang berada di layang ponselnya.
"Ada Kil" ucap Vita setelah sambungan telpon terhubung
"Loh jadi kan pergi ke Singapura bareng kita" ucap Kila dari seberang telpon
"Sorry ya Kil, gue gak bisa bokap gue bakalan nyita semua fasilitas gue kalau gue gak dengerin dia" ucap Vita
"Yah gak seru dong kalau gak ada loh" ucap Kila dari seberang sana
"Nanti kapan-kapan deh" ucap Vita
"Iya gue ngerti ko, ya udah gue tutup dulu telponnya ya" ucap Kila
"Iya Kil" ucap Vita
Vita menghempaskan bokong nya di kursi kerjanya, sekarang dia harus mengerjakan tumpukan berkas yang ada di atas meja, gak ada lagi jalan-jalan atau refreshing bareng teman-teman.
Dengan malas, ke dua tangan Vita membuka berkas yang ada di atas meja, melihatnya saja sudah bikin pusing apa lagi mengerjakannya sungguh membuat kepalanya ingin pecah saja.
✴✴✴✴
Torik membawakan makanan untuk Tiara yang berada di kantor polisi, Torik baru saja mendapat kabar kalau Tiara baru saja sadar dari pingsan nya, Torik yang mendengar itu sangat mencemaskan keadaan Tiara dan bayi yang ada di dalam kandungan Tiara.
Tak lama kemudian Torik memarkirkan mobilnya di luar kantor polisi, Torik turun dari mobil dengan menenteng sebuah paper bang yang berisi makanan kesukaan Tiara, sebelum bertemu dengan Tiara, Torik harus bertemu dengan polisi yang sedang berjaga di sana.
Torik di minta untuk menunggu di ruang besuk, dan tak lama kemudian Tiara datang, Torik melihat wajah Tiara yang sedikit pucat dan badan sedikit kurusan, padahal Tiara baru seminggu di sana.
__ADS_1
"Gimana keadaan kamu" tanya Torik
"Aku baik-baik saja, hanya sering mual-mual setiap pagi" ucap Tiara
"Ini aku bawain makanan kesukaan kamu" ucap Torik meletakan nya di atas meja
Tiara melihat makanan yang di bawakan oleh pria itu, Tiara tersenyum kemudian membukanya penutup makanan itu dan memakannya dengan lahap, sesekali Tiara tersenyum melihat Torik yang duduk di depannya.
"Makanya pelan-pelan aja" ucap Torik menghapus bekas nasi di bibir Tiara, membuat ke dua pipi Tiara bersemu merah
"Aku janji akan bebasin kamu dari sini" ucap Torik lagi
Tak lama kemudian makanan yang di makan Tiara habis tak tersisa, Torik tersenyum melihat makanan yang ia bawa habis di makan oleh Tiara.
"Kamu mau aku bawain apa kalau datang ke sini lagi" tanya Torik
"Aku mau rujak" ucap Tiara dengan pelan tapi masi bisa di dengar oleh Torik
"Iya nanti aku bawain ya, gimana keadaan nya" tanya Torik melihat perut rata Tiara
"Dia baik-baik saja kok" ucap Tiara
"Jaga kesehatan kamu ya, aku kan segera bebasin kamu apapun akan aku lakukan biar kamu bisa bebas dari sini" ucap Torik menggenggam tangan Tiara
Wanita yang ada di depan Torik hanya mengangguk sebagai jawabannya, ia sangat bersyukur karena ada Torik yang selalu ada di sampingnya dan selalu memberi semangat untuknya.
"Maaf waktu besuk sudah habis" kata salah satu polisi yang berjaga.
Tiara beranjak dari duduknya, dan kembali lagi ke dalam tahanan, Torik lagi-lagi memandang punggung Tiara dengan sendu, betis Tiara sudah tidak terlalu sakit karena sudah di obati oleh dokter.
Torik beranjak keluar dari ruangan besuk, dan berpapasan dengan beberapa anggota polisi yang berada di depan, Torik menyapa mereka dengan sopan, kemudian ia masuk ke dalam mobil, tujuannya saat ini adalah ke kantor Hadinata.
Torik menghidupkan mobilnya kemudian keluar dari halaman kantor polisi, Torik sangat berharap semoga saja Reza Hadinata mau bertemu dengannya.
Tak lama kemudian mobil yang di kendarai oleh Torik tiba di halaman gedung kantor Hadinata, sebelum keluar Torik, merapikan penampilannya yang sudah berubah menjadi rapi dengan setelan jas bukan lagi pakaian biasa yang ia kenakan ke kantor polisi.
Torik turun dari mobil dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, Torik berjalan menemui resepsionis.
"Permisi pak ada yang bisa kami bantu" ucap salah satu resepsionis
"Saya mau bertemu dengan pak Reza, apa beliau ada" ucap Torik melepas kacamata hitam miliknya
"Apa bapak sudah membuat janji" tanya resepsionis itu
"Belum" jawab Torik
"Kalau begitu tunggu sebentar, saya hubungin asisten pak Reza dulu" ucap Resepsionis itu
Setelah menghubungi asisten dari Reza, Torik di persilahkan untuk naik ke lantai di mana ruangan Reza berada, Resepsionis itu menawarkan untuk mengantar Torik, tapi Torik mengatakan ia bisa sendiri.
Torik masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai di mana ruangan Reza berada.
Ting...
2 menit kemudian Torik tiba di lantai tujuan, Torik ke luar dari dalam lift dan langsung melangkah mendekati asisten Reza Hadinata.
"Dengan pak Torik" tanya Pria paru baya yang tak lain adalah asistennya Reza
"Iya betul" ucap Torik
"Mari ikut saya" ucap asisten Reza masuk ke dalam ruangan bos nya setelah mendapat sahutan dari dalam
"Pak ada tamu yang mau bertemu bapak" ucap asisten Reza
"Siapa yan..." ucapan Reza terhenti saat melihat pria yang berdiri di dekat asistennya.
Next...
Jangan Lupa, Like, Komen sama Vote ya Guys....
__ADS_1