Di Jodohkan Dengan Sahabat Kecil

Di Jodohkan Dengan Sahabat Kecil
Bab 18. Menerima Perjodohan


__ADS_3

Ambar saat ini sedang termenung di dalam kamarnya, setelah pulang dari kantor tadi sore gadis itu sampai rumah langsung membersihkan dirinya, dan disinilah Ambar sekarang sedang termenung melihat kalung pemberian sahabat kecilnya.


"Apa kaka udah lupain aku" tanya Ambar pada diri sendiri.


Tak terasa biar matanya jatuh membasahi pipi mulusnya, mengingat tadi siang daddy nya begitu bahagia membahas soal perjodohannya dengan anak sahabat daddy nya.


Pikiran Ambar kembali ke masa kecilnya dulu, di mana ia dan bocah kecil yang berumur 7 tahun sedang memakan es krim di bangku taman dekat jalan raya.


Tokk..


Tokk...


"Sayang, di panggil daddy sebentar nak" ucap Nisa dari balik pintu kamar putrinya.


Ambar dengan cepat menghapus air matanya, agar mommy nya tidak melihatnya.


"Iya myy, dikit lagi aku turun" jawab Ambar dari dalam kamar.


Gadis itu melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang terlihat berantakan habis menangis. Selesai itu Ambar turun ke lantai bawa, dan ia melihat sudah ada daddy dan mommy nya di sana duduk di ruang TV.


"Sini sayang duduk dekat mommy" ucap Nisa menepuk sofa di sampingnya.


Gadis itu pun duduk di dekat mommy nya, Nisa mengusap kepala putrinya dengan sayang, tidak terasa putri kecilnya sekarang sudah tumbuh menjadi gadis dewasa dan cantik.


"Sayang.." panggil Nicko.


Ambar melihat pada daddy nya, yang sepertinya mau bicara serius.


"Iya dad.." jawab Ambar.


"Sayang daddy dan Om Reza,sudah lama merencanakan perjodohan kamu sama Gilang" ucap Nicko menghentikan ucapannya.


"Gilang adalah laki-laki yang baik, dan dia cocok untuk jadi pendamping kamu, daddy cuma mau kamu bersama orang yang tepat nak" ucap Nicko lagi.


Ambar hanya diam, mendengar apa yang di katakan oleh Daddy nya, dan Nisa sang mommy hanya diam saja karena ini adalah keputusan suaminya. Nisa juga menyukai Gilang yang anaknya baik.


"Kamu mau kan menerima perjodohan ini sayang" tanya Nicko melihat putrinya.


Ambar terdiam cukup lama, ia tidak tau harus berbuat apa, apa dia harus menerima perjodohan ini dan melupakan cinta pertamanya pada sahabat kecilnya.


"Kalau kau tidak mau, daddy tidak akan memaksamu sayang" ucap Nicko.


"Aku mau menerima perjodohan ini dad, mom" jawab Ambar membuat Nicko dan Nisa tersenyum senang.


"Terima kasih sayang, kamu sudah mau menerima perjodohan ini" jawab Nicko dengan wajah bahagianya.

__ADS_1


Entah keputusan yang di ambil oleh Ambar ini benar atau salah, tapi gadis itu tidak mau melihat ke dua orang tuanya bersedih cuma gara-gara penolakan darinya. Ambar memutuskan untuk pamit pergi ke kamar, karena ia sudah sangat merasa ngantuk.


Sesampainya di kamar, Ambar menangis dengan dengan diam, ia hanya bisa berdoa semoga nanti semuanya akan baik-baik saja.


Sementara itu di ruang TV, Nicko dan Nisa baru saja menghubungi Reza memberi tau bahwa putri mereka menerima perjodohan yang sudah mereka rencanakan itu. Dan Reza bunga mengatakan kalau putranya juga menerima perjodohan itu, yah meskipun Reza sadar kalau putranya menerimanya karena terpaksa, setelah telponnya usai Nicko dan Nisa kembali mengobrol.


"Mas, kasian tau gak kaka, dia pasti sedih" ucap Nisa.


"Gak papa sayang, kan yang penting putri kita juga menyukai Gilang, hanya saja mereka belum saling mengetahui" ucap Nicko yang mendapat anggukan dari istri tercintanya.


"Sayang ke kamar yuk, mas ngantuk ni" ucap Nicko tersenyum licik


"Hhhmm, alesan aja kamu mas" ucap Nisa.


"Hhehehe.." Nicko terkekeh melihat wajah kesal istrinya.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Gilang sedang termenung di balkon kamarnya, setelah ia mengatakan menyetujui perjodohan itu Gilang langsung pergi ke kamarnya. Entah apa yang harus ia lakukan sekarang otaknya benar-benar pusing memikirkan semua ini.


Gilang melihat jam di layar benda pipi miliknya, baru jam 9 malam. Gilang menelpon Jo menanyakan di mana keberadaan anak itu.


"Loh di mana" tanya Gilang setelah panggilan tersambung.


"Kita ke temu di tempat bias, gue lagi suntuk ni" ucap Gilang dan langsung memutuskan panggilan telponnya tampa menunggu jawaban Jo.


Gilang bergegas menganti pakaiannya lalu melangkah keluar dari kamar, menuju lantai bawa. Bersyukur ke dua orang tuanya sudah berada di kamar jadi ia bisa pergi dengan aman.


Mobil yang di kendarai oleh Gilang berhenti di salah satu kafe di kota jakarta, Gilang menyandarkan kepalanya di kursi mobil sebelum beranjak turun.


Gilang memasuki kafe itu, melangkah acuh ke dalam tampa memperdulikan banyak mata yang menatapnya, Gilang duduk si salah satu meja kosong.


Tak lama kemudian masuklah Jovian kedalam kafe itu sambil mengandeng tangan seorang wanita cantik.


"Hay bro" sapa Jo setelah duduk di salah satu sofa dengan Maura yang ada di sampingnya.


"Kenalin ni cewek gue, bentar lagi bakalan jadi bini gue" ucap Jovian dengan bangga.


CK, Gilang berdecak kesal mendengar perkataan sahabatnya itu, Gilang jelas mengenal Maura model majalah terkenal itu.


"Maura.." ucap Maura mengulurkan tangannya.


"Gilang" jawab Gilang menjabat tangan gadis itu.


"Tumben loh ngajak ketemu gue ke di tempat ini, lagi galau ya" tanya Jo dengan tatapan mengejek.

__ADS_1


"Sialan loh, mentang-mentang udah punya pacar juga" ucap Gilang.


"Loh lagi ada masalah apa bro" tanya Jo serius.


"Gue di jodohin sama bokap dan nyokap" ucap Gilang sendu.


"Wat,, cowok sekeren dan seganteng loh di jodohin yang benar aja bro" tanya Jo tak percaya.


Gilang hanya diam tampa membalas ocehan sahabatnya itu.


"Dari pada loh ngoceh terus lebih baik lo temenin gue minum, gak seru ni sendirian aja" ucap Gilang.


"Sayang aku minum dikit gak papa ya" tanya Jo pada Maura.


"Iya tapi jangan terlalu banyak" ucap Maura, ia tidak mungkin melarang Jo karena tidak enak pada Gilang.


Gilang dan Jovian menghabiskan dua botol minuman beralkohol itu, sampai membuat ke dua pria itu sedikit mabuk.


"Sayang.." panggil Jo dengan mata sayu nya.


"Kamu mabuk ya, di bilangin jangan banyak minum juga" ucap Maura mengomel.


"Shitt..." umpet Gilang kesal melihat sahabatnya .


"Sialan loh, gak liat apa ada gue di sini" ucap Gilang kesal.


"Hehehe... Sorry bro" jawab Jo dengan terkekeh.


Mereka bertiga keluar dari dalam kafe itu, dengan Maura yang memampang Jo karena sudah sangat mabuk, dan Gilang berjalan sempoyongan.


"Kalian ini yusain aku tau gak" kesal gadis itu.


"Sayang jangan marah dong nanti cantiknya hilang, apa mau aku cium lagi" ucap Jo mulai ngawur.


Gilang me noel kepala sahabatnya itu, membuat Jo mengumpat kesal pada Gilang.


"Sejak kapan loh jadi mesum gini" tanya Gilang.


"Diam loh, jomblo" ucap Jo.


Maura menjalankan mobilnya tampa menghiraukan ocehan dari ke dua pria mabuk itu, Maura memutuskan untuk mengantar mereka karena sudah dalam ke adaan mabuk, mobil Gilang di biarkan di sana, Maura membawa mereka dengan mobil Jo yang mereka naikin tadi.


Next...


Hay, guys jangan lupa Like, Komen sama Vote ya. Terimakasih๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2