
Keesokan paginya, Ambar terbangun mendengar suara alarm dari ponsel nya, Ambar melihat jam sudah menunjukan pukul 7 pagi, Ambar membangunkan Maura yang masi tertidur pules itu.
"Ra, bangun Ra, udah jam 7" ucap Ambar
"Hheem..." Maura menggeliat, lalu membuka ke dua matanya ia melihat cahaya mata hari bersinar terang di luar sana.
"Jam berapa ke bandara" tanya Maura
"Jam 9" ucap Ambar beranjak dari tempat tidur
Masi ada waktu 2 jam untuk mereka siap-siap, belum lagi sarapan, masa iya mereka ke bandara gak isi perut dulu kang gak lucu.
"Loh mau ke mana" tanya Maura melihat Ambar beranjak dari tempat tidur
"Mau nyuci muka dulu, baru liat apa ada sarapan di dapur" ucap Ambar masuk ke dalam kamar mandi
Maura melihat ponsel miliknya yang bergetar, ada nama asistennya Bela yang berada di layar ponselnya.
"Iya Bel" ucap Maura
"Kamu jadi balik siang ini kan" tanya Bela dari seberang sana
"Iyaa jadi ko, jam 9 ke bandara" ucap Maura
"Oke, loh ada jadwal pemotretan jam 2" ucap Bela
"Oke.." ucap Maura kemudian langsung mematikan sambungan telpon nya
Tak lama kemudian Ambar keluar dari kamar mandi, gadis itu langsung melangkah keluar dari kamar dan melihat kamar Gilang yang masi tertutup, Ambar terus berjalan ke dapur untuk melihat kalau istrinya pak Tejo membuat sarapan atau gak.
"Pagi non" sapa perempuan paru baya
"Pagi bi" jawab Ambar dengan sopan
Ambar melihat sudah banyak menu sarapan pagi ini, terlihat semua menunya sangat menggugah selera.
"Bibi udah buatkan sarapan buat non dan den Gilang dan temannya" ucap perempuan paru baya itu
"Iya bi, terima kasih ya" ucap Ambar
"Iya non sama-sama, kalau gitu bibi pamit pulang dulu ya non" ucap perempuan paru baya itu yang bernama Sumi
"Bibi tinggal di mana" tanya Ambar
"Bibi tinggal di rumah yang ada di sebelah Vila ini non, Bibi dan suami Bibi ke sini cuma bersihin Vila sama kalau ada keluarganya den Gilang datang ke bali ,Bibi baru masak non" ucap Bi Sumi
"Gitu ya bi" ucap Ambar
"Iya non, ya sudah Bibi pamit ya non" ucap Bi Sumi
Selepas Bi Sumi pergi, kini tinggallah Ambar sendiri, Ambar mencoba untuk mengetuk pintu kamar Gilang.
Tokk..
Tokk..
Cukup lama Ambar menunggu, munculah Gilang wajah bantalnya membuka pintu dan melihat gadisnya itu tersenyum manis.
"Sayang..." sapa Gilang
"Kaka baru bangun ya" tanya Ambar
"Iya sayang, semalam kaka tidur telat nonton filem" ucap Gilang
"Panggilin kak Jo deh, kita sarapan sama-sama aku juga mau manggilin Maura" ucap Ambar yang mendapat anggukan dari pria yang berwajah bantal itu.
Ambar kembali ke dalam kamar, dan melihat Maura baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ra, mita sarapan sama-sama yuk" ajak Ambar
"Ayok" Maura
Ke dua gadis itu kembali ke luar dari kamar dan langsung menuju dapur, tapi keberadaan dua pria itu belum nampak batang hidungnya.
Maura dan Ambar duduk di kursi meja makan, sementara menunggu ke dua pangeran yang belum juga keluar, Ambar dan Maura memainkan ponsel milik mereka, berselancar di dunia maya mengabadikan momen-momen mereka selama di bali.
Ambar meng posting fotonya bersama Gilang di pantai kemarin yang sedang menikmati sunset, dan tak dapat beberapa menit postingan itu sudah di penuhi oleh like dan komentar, banyak yang penasaran dengan sosok pria yang sedang mengandeng tangan Ambar dan menghadap ke arah matahari yang akan tenggelam.
"Kalian serius banget si" ucap Jo setelah tiba di meja makan
Sakin seriusnya ke dua gadis itu tidak menyadari dengan kehadiran ke du pria itu, sama halnya dengan Ambar, Maura juga memposting foto mesranya dengan Jo yang memeluknya dari belakang, banyak haters Maira yang berkomentar men doa kan hubungan mereka langen terus.
Ambar dan Maura mengambil sarapan untuk Gilang dan Jo, kemudian untuk mereka. Mereka makan dengan hening, hanya terdengar dentingan sendok di telinga mereka berempat.
Selesai dengan sarapan mereka, ke empat pasangan kekasih itu kembali ke dalam kamar mereka masing-masing, untuk bersiap-siap karena setelah itu mereka akan pergi ke bandara.
__ADS_1
Ambar dan Maura membereskan semua barang-barang mereka, begitupun dengan Gilang dan Jo di kamar sebelah.
Ambar mandi terlebih dahulu, lalu setelah Ambar selesai Maura masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
1 jam kemudian, mereka saat ini sudah berada di bandar, kaca mata hitam bertengger di hidung mancung ke empat pasangan kekasih itu, membuat semua orang yang berlalu lalang di bandara melihat mereka dengan kagum, Gilang mengandeng tangan gadisnya masuk ke terminal keberangkatan begitupun dengan Jovian dan Maura, mereka duduk di kursi klas bisnis Ambar dan Gilang sedangkan Maura dan Jovian.
Maura terlihat bersandar manja di dada bidang Jo, dan Jo sesekali mencium pucuk kepala gadisnya dengan sayang, benar-benar romantis sampai-sampai pramugari yang melihat itu iri pada pasangan itu.
Sedangkan Gilang tak pernah melepaskan genggaman tangan gadisnya itu, sesekali Gilang mengecupnya membuat Ambar malu di buatnya.
๐ธ๐ธ๐ธ
"Daddy.." panggil Sinta pada suaminya
"Kenapa si sayang teriak-terik, kangen ya sama aku" ucap Reza
"Daddy liat ini, bagaimana kalau putramu lihat" ucap Sinta kesal sambil menunjuk lehernya yang terdapat tiga bekas kemerahan
Bukan nya merasa bersalah, Reza malahan terkekeh melihat sang istri yang sedang kesal padanya.
"Biarkan saja sayang, nanti dia juga begitu sama istrinya" ucap Reza acuh
"Ish, kamu ini" ucap Sinta melangkah meninggalkan suaminya itu
Reza kembali terkekeh melihat sang istri berlalu dari hadapannya dengan kesal, lebih baik dia pergi ke depan untuk membaca koran hari ini.
Sementara itu di kediaman rumah Nicko, Nisa sedang memasak untuk menyambut putrinya yang sebentar lagi akan datang, seperti biasa Ambar selalu meminta di buatkan makanan kesukaannya kalau baru pulang dari berpergian jauh.
"Sayang kau sedang membuat apa" ucap Nicko dengan ke dua tangan kekarnya melingkar di perut rata sang istri
"Mas, bikin kaget aja" ucap Nisa
"Mas lepas dulu nanti di liat sama adek" ucap Nisa
"Gak akan sayang, adek masi di kamar" ucap Nicko dengan mencuri ciuman di pipi sang istri
"Dad, kau selalu menganggu mommy memasak" ucap Brian tiba-tiba
Membuat Nicko melepaskan pelukannya dengan cepat, dan berbalik melihat sang putra yang sudah duduk di meja makan.
"Boy..." panggil Nicko ikut duduk di dekat putranya
"Kau tidak ke sekolah" tanya Nicko
"Tidak dad, aku sedang membuat tugas untuk persiapan ujian nanti" ucap Brian
๐ธ๐ธ๐ธ
Pesawat yang di naikin oleh mereka berempat, akhirnya mendarat juga di bandara Soekarno-Hatta tepat pukul 11 siang, mereka turun dari pesawat masi dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancung mereka, Ambar akan di antar oleh Gilang sedangkan Maura di antar oleh Jo, dan mereka berpisah di luar bandara.
"Nanti nyampe rumah istirahat dulu ya, jangan langsung ke kantor" ucap Gilang
"Tapi kan ada banyak kerjaan di kantor kak" ucap Ambar
"Kan bisa di kerjakan besok, kaka gak mau kamu sakit karena maksa buat kerja" ucap Gilang
"Iya-iya pak Gilang" ucap Ambar tersenyum
"Bilang apa tadi" tanya Gilang
"Enggak gak bilang apa-apa" ucap Ambar saat ini ke duanya sudah berada di dalam mobil Gilang yang di kendarai oleh pak sopir
Gilang mengantar Ambar sampai ke rumah Gadis itu, Ambar dan Gilang di sambut hangat oleh Nisa dan Nicko, bahakan Nicko dan Nisa mengajak Gilang untuk makan siang bersama mereka.
Gilang dengan senang hati menerima nya, karena iya juga suda laper, sesekali Nicko mengajak Gilang mengobrol soal peninjauan lokasi pembangunan resort yang di tinjau langsung oleh Ambar dan Gilang.
Setelah selesai makan siang, Gilang berpamitan pulang ke rumah, karena ke dua orang guanya sudah sangat merindukan putra tampan mereka.
Setelah tiba di rumah Sinta dan Reza menyambut putra mereka dengan senang, Reza memeluk mommy nya dan juga daddy nya, tapi pandangan Gilang tertuju pada sesuatu di leher sang mommy, Gilang memandang daddy nya dengan curiga.
"Sayang kau kenapa" tanya Sinta melihat putranya hanya diam
"Mom apa yang ada di leher mommy" ucap Gilang
Sinta melihat pada sang suami yang tersenyum kikuk, membuat Gilang hanya menggeleng kepala lalu berbisik sesuatu pada daddy nya.
"Lain kali bikin maha karyanya di tempat tertutup dad, kasian mommy" bisik Gilang membuat Reza tersenyum
"Oke boy.." ucap Reza mengajukan jempolnya pada sang putra
"Kalian bisikin apa si" tanya Sinta pada ke dua pria yang ia cintai
"Rahasia pria sayang, kau diam saja" ucap Reza
"Ish, kalian ini" ucap Sinta dengan kesal
__ADS_1
Gilang dan daddy nya tertawa melihat wajah kesal Sinta, membuat Sinta jadi bertambah kesal di buatnya.
Gilang pamit ke kamarnya untuk membersihkan dirinya yang terasa berkeringat, hari ini ia akan mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat melelahkan.
๐ธ๐ธ๐ธ
Malam harinya....
Ambar sedang duduk bersama dengan ke dua orang tuanya, di sana juga ada eyang Tania dan juga kakek Erlangga, Nicko akan membicarakan perihal pertunangan putrinya dan juga anak dari sahabatnya.
"Sayang, daddy boleh nanya sesuatu" tanya Nicko
"Boleh dad" ucap Ambar
"Apa kau mencintai Gilang" tanya Nicko
Ambar melihat mommy nya dan juga daddy nya , lalu pandangan Ambar beralih melihat ke arah kakek dan eyang nya.
"Iya dad, aku mencintai kak Gilang sudah lama, kak Gilang adalah pria yang aku tunggu-tunggu selama ini, aku baru mengetahuinya kemarin pas di bali" ucap Ambar
"Apa kau menerima kalau kalian bertunangan secepatnya" tanya Nicko
Ambar melihat pada daddy nya lalu mengangguk pelan sebagai jawaban, membuat senyum manis terbit di bibir semua yang duduk di ruang keluarga.
Nisa beranjak mendekati putrinya, dan duduk di samping putrinya cantiknya.
"Mommy gak nyangka, sekarang putri kecil mommy sudah dewasa dan sebentar lagi mau tunangan" ucap Nisa memeluk putrinya
"Ambar sayang banget sama mommy" ucap Ambar membalas pelukan mommy nya
"Udah jangan sedih lagi ya, kab bentar lagi mau tunangan" ucap Nisa tersenyum membelai pipi sang putri
Ambar lalu pamit pergi ke kamarnya karena ia yakin saat ini ponselnya sedang berbunyi, karena Gilang tadi sore sempat mengirim pesan untuk nya, akan menelpon malamnya.
Setibanya di dalam kamar, Ambar mendapat panggilan VC dari Gilang, dengan jantung berdebar Ambar menggeser tombol hijau itu, tak lama kemudian wajah tampan Gilang muncul di layar ponsel Ambar.
"*Sayang lagi apa" tanya Gilang dari seberang sana
"Habis ngomong sama daddy, mommy dan eyang juga kakek" ucap Ambar
"Besok pagi ke kantor kaka jemput kamu ya" ucap Gilang lagi
"Apa gak ngerepotin kak" tanya Ambar
"Gak ngerepotin kok, calon istriku" ucap Gilang tersenyum menggoda, membuat gadisnya di seberang sana menunduk malu
"Kok, nunduk si, gak mau liat muka ganteng kaka ya" ucap Gilang lagi semakin gencar menggoda gadisnya itu, sepertinya Gilang sekarang punya hobi baru ya itu menggoda gadisnya itu.
"Sayang" panggil Gilang
"Ada apa kak" tanya Ambar menepis rasa malunya
"Cantik banget si" ucap Gilang
"Kaka juga ganteng banget" ucap Ambar*
Cukup lama mengobrol dengan gadisnya, Gilang melihat jam yang sudah menunjukan pukul 9 malam, Gilang dan Ambar menyudahi panggilan VC nya.
๐ธ๐ธ๐ธ
Jovian Baru saja tiba untuk menjemput Maura, Maura baru saja menyelesaikan pemotretan nya, banyak pekerjaan yang menantinya selama beberapa hari di bali, Wajah gadis itu terlihat lelah, Jo masuk ke dalam tempat pemotretan Maura dan melihat gadisnya sedang bersiap-siap beranjak dari duduknya.
"Sayang..." panggil Jo
Maura melihat ke arah Jovian yang memanggilnya, Maura tersenyum melihat pria itu.
Jovian langsung memeluk Maura dan mengajak gadis itu pergi, Jovian memperhatikan wajah gadisnya yang terlihat pucat.
"Sayang kamu baik-baik aja kan" tanya Jo kuatir
"Aku baik-baik aja kak, cuma capek aja" ucap Maura
Jo memeluk Maura dari samping, dan Maura memeluk Jo dengan erat, tapi Maura merasakan kepalanya mulai berat, dan sedikit pusing.
Sesampainya di dalam mobil, Jo memberikan air puti yang sering ia siapkan i dalam mobil untuk Maura.
Jo menjalankan mobilnya untuk mengantar Maura pulang, tak ada percakapan di antara ke duanya, karena gadis yang duduk di samping Jo sudah terlelap karena kecapean.
Sesampainya di rumah Maura, Jo mengendong gadisnya yang tertidur pules itu untuk di antar kan kedalam kamar, ke dua orang tua Maura masi berada di luar negri hanya ada Marvel dan Maura di rumah bersama Art.
Jo meletakan tubuh mungil gadisnya dengan pelan di atas ranjang besar itu, Jo menyelimuti Maura sebelum Jo keluar, Jo mencium kening Maura terlebih dahulu kemudian keluar dari kamar gadis itu.
Jo menemui Marvel yang sedang menonton di ruang TV, Jo dan Marvel sudah sangat Akram dan Marvel lebih menyukai Jovian dari pada Bagas mantan kekasih kaka nya itu, karena Marvel pernah melihat Bagas bersama wanita lain.
Next...
__ADS_1
Like, Komen sama Vote. Terimakasih๐๐๐