Di Jodohkan Dengan Sahabat Kecil

Di Jodohkan Dengan Sahabat Kecil
Bab 19. Gilang Ke Kantor Ambar


__ADS_3

Ponsel milik Gilang berbunyi, dan pria itu melihat nama yang ada di layar ponselnya adalah Jovian sahabatnya. Gilang mengangkat telpon dari sahabatnya itu.


"Apa apa kau menghubungi ku" tanya Gilang, karena semenjak mereka minum sampai mabuk di klub malam itu, mereka tak pernah bertemu lagi.


"Detektif yang gue suruh buat mencari keberadaan gadis itu belum ada kemajuan" jawab Jo dari seberang telpon.


Gilang menghembuskan nafasnya dengan kasar dan Jo bisa mendengar itu.


"Tapi dari informasi yang di dapat dari detektif itu, ibu dari gadis kecil itu telah menikah dengan seorang pengusaha" ucap Jo dari seberang sana.


"Detektif itu tau gak siapa nama pengusaha itu" ucap Gilang berharap.


"Itu dia, detektif gue gak biasa nemuin informasi soal pengusaha yang mempersunting ibu dari gadis itu" ucap Jo dari seberang sana.


"Ya udah kalau gitu, nanti loh kabarin gue lagi kalau udah ada info yang lain" ucap Gilang.


"Oke, nanti gue kabarin loh lagi" ucap Jo, kemudian memutuskan sambungan telponnya.


Gilang meletakan benda pipi itu di atas meja, ia memejamkan matanya sejenak tiba-tiba ia teringat sesuatu dengan cepat ia membuka matanya.


Gilang mengingat perjodohan nya bersama dengan Ambar, anak dari sahabat daddy nya.


"Bukanya gadis itu sudah punya pacar ya, kenapa dia mau menerima perjodohan ini" ucap Gilang seorang diri.


"Apa dia terpaksa juga ya nerima perjodohan ini, sama kaya gue" ucap Gilang lagi.


Gilang meminta sekretarisnya Arman untuk datang ke ruangannya, Setelah mendapat sahutan dari dalam, Arman masuk dan melihat bis nya sedang duduk menunggunya.


"Ada yang bisa saya bantu Pak" tanya Arman.


"Man, tolong kamu buat janji sama Nona Ambar Wijaya sekarang" ucap Gilang.


"Baik pak" jawab Arman dan langsung keluar dari ruangan bos nya.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Gilang memarkirkan mobilnya di lobby kantor Wijaya Group, setelah sekertaris nya membuat janji dengan perusahaan Wijaya Group, Gilang langsung menuju ke sini. Dan di sinilah ia sekarang berada di dalam mobilnya bersiap akan keluar.


Gilang melangkah mendekati resepsionis dengan gaya cool nya dan tampa melepas kacamata hitam miliknya yang bertengger di hidung mancungnya.


"Permisi saya mau bertemu dengan Ibu Ambar, apakah beliau ada" tanya Gilang dengan suara datar.


Resepsionis itu menatap Gilang tampa berkedip, mimpi apa dia semalam sampai bisa bertemu dengan pria tampan bak malaikat ini.

__ADS_1


"Apa sudah membuat janji pak" tanya resepsionis itu dengan surah di buat menggoda.


Gilang mengangguk dengan kesal, dia benci wanita yang genit seperti itu.


"Silahkan bapak ke lantai 20 di mana letak ruangan Bu Ambar" ucap resepsionis itu.


Gilang berbalik melangkah meninggalkan resepsionis yang genit itu, Gilang masuk ke dalam lift dan menekan angka 20, 2 menit kemudian lift yang di naikin Gilang tiba di lantai 20.


Tingg...


Pintu lift terbuka, Gilang melangkah ke luar dan melihat seorang gadis berhijab yang tak lain adalah Dila sekertaris Ambar.


"Permisi pak ada yang bisa saga bantu" sapa Dila dengan sopan.


"Saya mau bertemu dengan Ibu Ambar" ucap Gilang.


"Mari pak saya antar" ucap Dila dengan sopan.


Sebelum masuk Dila mengetuk pintu terlebih dahulu, setelah mendapat sahutan dari dalam, gadis itu masuk dan di ikuti oleh Gilang dari belakang.


"Bu Ambar, ada Pak Gilang" ucap Dila.


Ambar mendongakkan kepalanya melihat ke arah seorang pria tampan yang sedang berdiri di ambang pintu dengan gaya sebelah tangannya berada di saku celananya.


Gilang sedang mengutuk dirinya, karena jantungnya kembali berdetak dengan cepat hanya dengan melihat gadis itu.


Gilang duduk di sofa yang ada di ruangan itu, dan Ambar juga ikut bergabung duduk di sana.


Ke duanya terdiam cukup lama untuk menetralkan jantung ke duanya yang tidak berhenti berdetak, sampai Gilang mulai membuka suara terlebih dahulu.


"Ke datangan saya ke sini, untuk membahas masalah perjodohan kita" ucap Gilang.


"Apa kau terpaksa menerimanya" tanya Gilang.


"Saya tidak mau membuat ke dua orang tua saya bersedih" ucap Ambar.


"Bagaimana dengan pacar kamu" ucap Gilang, membuat kening gadis itu mengernyit heran.


"Maaf pacar siapa ya" tanya Ambar.


"Pria yang menjemput kamu waktu itu di taman" ucap Gilang.


Ambar mengingat-ingat, yang waktu itu menjemputnya di taman hanyalah adiknya Brian.

__ADS_1


"Jadi kamu ada di sana waktu itu" tanya Ambar.


"Yah saya kebetulan lewat situ, dan gak sengaja liat kamu duduk di bangku sendirian, dan tak lama kemudian di jemput oleh seorang pria" ucap Gilang.


Ambar tersenyum, ternyata pria itu mengira Brian adalah pacarnya, Dia tidak tau kalau itu adalah adiknya.


"Kok kamu malahan senyum-senyum sendiri" tanya Gilang.


"Dia bukan pacar aku" jawab Ambar.


"Bukan pacar ko gandeng tangan" ucap Gilang.


"Dia Brian, adik saya" ucap Ambar.


"Kamu punya adik" tanya Gilang.


"Iya, baru kelas 3 SMA tapi bentar lagi udah mau lulus" ucap Ambar.


"Kalau kamu sendiri, kenapa menerima perjodohan ini" tanya Ambar.


"Sama seperti kamu" jawab Gilang.


"Gimana sama pacar kamu" tanya Ambar.


Gilang tersenyum kecut mendengar pertanyaan gadis yang duduk di hadapan sekarang.


"Aku sedang mencari cinta pertamaku yang sekarang entah di mana keberadaannya" ucap Gilang.


"Semoga kamu cepat ketemu sama cinta pertama kamu" ucap Ambar.


"Iya, makasih" ucap Gilang.


"Kalau kamu sendiri, gimana sama pacar kamu" ucap Gilang.


"Aku belum punya pacar, aku sedang nunggu seseorang" ucap Ambar.


"Gimana kalau kita bikin kesepakatan" ucap Gilang.


"Kesepakatan apa" tanya Ambar.


"Jadi gini, kita pura-pura jalanin perjodohan ini di depan orang tua kita, kedepannya biar takdir aja yang menentukan" ucap Gilang.


Ambar berfikir cukup lama kemudian menganggu kan kepalanya, tanda setuju.

__ADS_1


Next...


Like, Komen sama Vote ya. Terimakasih๐Ÿ˜Š๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2