Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Setelah itu aku akan lepas dari iblis itu


__ADS_3

Setelah menandatangani kontrak pernikahan itu, Sasa hanya duduk terdiam di atas sofa. menghadap kembali ke arah jendela. apakah keputusan ini benar? apa tidak ada jalan lain? tapi memang nasi telah menjadi bubur ayam, tidak ada gunanya untuk menyesali pernikahan ini. tugas Sasa hanya menunggu hingga 3 bulan pernikahan.


"setelah itu aku akan lepas dari iblis itu"


pakh..


Bantal mendarat di atas paha Sasa.


"ya Allah, bikin terkejut aja!"


Gerutu Sasa. Sasa melirik ke arah Wili yang duduk bersandar di atas ranjang besarnya.


"Itu bantalmu, ambil selimut di dalam lemari. sofa itu nyaman kok!".


Perintah William sambil melipat kedua tangannya.


Sasa tersenyum tipis. "Apa yang aku harapkan, tidur satu ranjang dengan iblis itu? ahhh tidak tidak, lebih baik begini, tidur di sofa, iyaa di sofa"


Sasa berjalan menuju lemari besar di dekat ruang ganti. Saat sedang memilih selimut, lampu tiba-tiba mati. Bukan tiba-tiba mati sih, lebih tepatnya William yang mematikannya.


"ahhh, kok mati sih!". Suara Sasa jelas terdengar oleh Wili. Wili tertawa puas karna berhasil mengerjai Sasa.


dengan rasa takut, Sasa meraba-raba tumpukan selimut, lalu menarik satu. dengan tergesa-gesa Sasa berjalan menuju sofa.


"Nyaman kok, bahkan lebih nyaman dari pada kasurku di desa!" Kata Sasa pelan.


.....

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. tapi William masih belum bisa tidur. Sedangkan Sasa sudah sejak tadi berlayar di alam mimpinya. Dengan langkah pelan. Wili mendekati tubuh mungil Sasa yang terbaring di sofa. Langkah demi langkah wili berjalan.


Wili menatap manik milik Sasa.


"Kenapa mata itu sangat mirip dengan dia?"


------


Tepat jam 4 pagi, suara azan subuh membuat mata Sasa mengerjap-ngerjap. Merdunya suara itu bahkan membuat senyum terukir di wajah Sasa. Seakan moodnya begitu bagus karna masih bisa mendengar lantunan lafaz Allah itu.


Sasa bangun dari tidurnya. melirik ke arah kaca dan menyibak gorden. Bahkan sepagi ini, kota sudah sangat sibuk. Pandangan Sasa beralih ke arah ranjang. Tidak ada William.


"ahhh sudah lah"


Sasa kemudian berlalu menuju kamar mandi. membersihkan diri kemudian menjalankan kewajibannya sebagai hamba.


"Eh, dia itu suka kopi apa teh ya?"


Tanya Sasa dengan suara yang masih jelas didengar.


"Kopi, gulanya cukup 2 sendok!"


Sahut seseorang dari arah belakang sasa. Sasa menoleh. Wili duduk di meja makan.


"ini baju gantimu, tadi Joy yang membelikannya!"


William menaruh Paper bag ke atas meja. Sasa mengangguk.

__ADS_1


"Terimakasih"


satu kata itu merosot dari bibir mungilnya. Kemudian dibalas anggukkan oleh Wili.


Sasa dengan telaten membuatkan kopi sesuai permintaan William.


"hmm, itu" Suara Sasa terdengar ragu.


"apa?" Balas dingin Wili.


"Tidak jadi, maaf" Sasa yang sudah merasa takut duluan untuk mengutarakan maksudnya memiliki untuk tidak mengatakannya. Padahal Sasa hanya ingin mengatakan jika kulkas tidak ada bahan-bahan untuk membuat sarapan.


"Ouh iya, mulai hari ini kau pergi bekerja di antar Joy"


"Tidak usah tuan, sa.. saya bisa naik angkutan umum aja"


"Saya tidak suka di bantah, masih mau berkerja apa tidak?"


"Ba...baik tuan"


"Sialan, iblis jahat, aaaaaaaa" Umpat sasa di batinnya.


"Jangan mengumpatku!" Kata William sambil menarik senyum devil nya.


Sasa melotot tak percaya. " Kok dia tahu sih?"


______

__ADS_1


__ADS_2