
"Kau harus makan yang banyak, agar perut mu terasa lebih baik" William masih setia menyuapi Sasa. Tadi Sasa meminta untuk pindah duduk ke dekat jendela.
"Wahhhhh, kita bisa melihat lauuuut" Sasa tersenyum sambil menunjuk-nunjuk ke arah kaca pesawat.
Cuaca hari ini cukup bagus, walau pun tadi sempat dihempas turbulensi nyatanya pesawat ini bisa terbang dengan aman menuju inggris.
"Seperti perutmu sudah membaik yaa? " William bertanya setelah suapan terakhir lenyap di dalam tenggorokan Sasa.
"Seperti begitu, sudah tidak mual lagi"
"Kalau begitu pindah, aku ingin tidur di kursi ku!" William berdiri. Sasa dengan cepat memasang wajah memelasnya.
"Mas, bolehkah aku duduk di sini? tukeran" Sasa mencoba menawarkan solusi.
"Tidak! berdiri!" William tidak ingin menanggapi Sasa. Wanita itu berdiri malas.
"Kepada sih, sekali saja pria ini tidak membuat ku marah" Gerutu Sasa di dalam hatinya.
"Kau bisa duduk di sini saat kita berangkat ke inggris, pesawat ini sebentar lagi mendarat di Narita, Jepang." William menjelaskan. Sasa hanya diam.
__ADS_1
"omong-omong, asisten Joy tidak ikut yaa?" Pasalnya pria itu tidak terlihat sejak keberangkatan tadi.
William melirik sasa. Kenapa bisa wanita ini malah memikirkan pria lain.
"Memangnya kenapa?" Tanya William.
"Tidak apa-apa, soalnya kau pasti akan keteteran jika bawahan mu tidak ikut" Sasa mencoba mencari masalah dengan William.
"Kau pikir aku tidak bisa mengerjakan semua sendiri?" Tanya William sedikit meninggi.
"Tidakkk, bukan itu maksudnya, Joy banyak membantu kita, ehhhh maksudku, membantu diriku" Tegas Sasa.
"Sekarang sih tidak, gak tahu kalau besok dan seterusnya bagaimana" Sasa tersenyum sinis ke arah William.
"Kau ingat, kau itu istriku. Apa boleh seorang istri mengatakan jatuh cinta kepada asisten suaminya?" William mendekatkan wajahnya kearah Sasa.
"Kenapa? mas cemburu? bukannya kita ini...." Perkataan Sasa langsung terhenti ketika bibir William menyentuh bibirnya. Sasa tidak bisa mengelak. William mendorong kepala Sasa untuk mendekat dan memblokade perlawanan. Sasa memukul-mukul dada William. Namun pria itu masih terus di sana.
William akhirnya melepas tautan itu ketika Sasa sudah kesusahan menarik oksigen.
__ADS_1
"Jangan pernah membantah diriku lagi" William berbaring dan memejamkan matanya. Sedangkan Sasa masih tidak terima dengan apa yang baru ia alami.
Sasa mengelap bibirnya kasar.
"kuranggg ajaaarr" Ingin sekali Sasa menampar pria di depannya ini.
Setelah terbang sekitar 7 jam, pesawat itu akhirnya mendarat di Narita, Jepang. William sudah terbangun semenjak pramugari memberikan pengumuman. Sedangkan Sasa, wanita itu masih pulas tidurnya.
Ia tidur sambil mulutnya menganga, sangat lucu.
William menggambil gawainya dan langsung mengabadikan Memon itu .
"Hahaha, menggemaskan" William kemudian menjetak jidat Sasa. Wanita itu mengaduh dan segera bangun.
"Ayo, apa kau ingin terus di sini?" Sasa yang setengah sadar langsung berjalan sempoyongan mengekori suaminya.
"Penerbangan kita 1 jam lagi, kalau kau ingin ke kamar mandi, jangan lupa bilang ke padaku" William mencoba memperingati Sasa kembali. Wanita itu tidak bisa berbahasa asing, apalagi jepang. Itu akan sulit baginya jika tersesat di bandara.
"Iyaaaaa, bawel" Gumam Sasa pelan.
__ADS_1
"Aku masih bisa mendengarnya, jangan sampai kau berbuat hal konyol lagi" Kemudian William menjalan menuju Lounge. First class lounge adalah salah satu fasilitas jika menggunakan layanan VVIP dari suatu maskapai. Di sana akan ada ruang istirahat sembari menunggu keberangkatan, ada restoran, kamar mandi, kamar untu beristirahat dan beberapa fasilitas lainnya. Tentunya semu fasilitas ini gratis.