Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Aku minta maaf


__ADS_3

Menangis membuat Sasa akhirnya terlelap dengan posisi duduk di sisi kasur. Wili yang terbangun karena asistennya menelpon dan memberi tahu jika makan siang yang ia pesan sudah berada tepat di depan pintu kamar. Wili melirik ke arah Sasa yang terlelap.


Rasa menyesal memang terus datang kepada Wili setiap memarahi Sasa atau jika berhasil membuat wanita itu menangis. Wili mendekat dan memperbaiki posisi tidur Sasa. Ia bingung harus bagaimana, sasa terlihat sangat lelah namun Wili tahu jika gadis itu belum menyantap makan siangnya.


Wili melirik arloji miliknya. Sudah pukul 1 siang. Cuaca di luar memang sangat panas. Sampai" AC tercanggih sekali pun tetap aja kalah oleh susu udara dari luar. Wili ingin berendam. Tubuhnya perlu didinginkan agar pikirannya kembali normal. Menyesali apa yang sudah ia lakukan kepada istrinya.


Sasa terbangun karena perutnya terasa sangat lapar. Maag nya bisa kambuh jika ia menahan lapar ini. Sasa merasa sedikit pusing, ia mengamati seluruh ruangan. Persis di depannya sudah tersaji hidangan yang lezat. Wanginya tidak bisa ditolak. Sasa yang masih sempoyongan berjalan menuju meja itu. Namun karena tidak bisa seimbang, Sasa jatuh dan membuat gelas yang berada di meja jatuh bersamanya kelantai.


"aduhh"


Mendengar suara gaduh dan rintihan Sasa membuat Wili bergegas menuju sumber suara.


"Sasa, kamu tidak apa-apa?" Wili berusaha menolong Sasa. Lalu membantunya untuk duduk di kursi makan.


"kau ini"

__ADS_1


Sasa yang masih takut hanya terdiam. Wili yang sadar dengan apa yang ia lakukan buru-buru menyodorkan semangkuk sup ikan kepada sasa.


Sasa menyantap nya dengan lahap. Ia sengaja makan tanpa menghiraukan kehadiran Wili di depannya saat ini.


"Aku minta maaf" Sasa berhenti seketika. Ia mendongak dan menatap Wili. Wajah pria itu benar-benar terlihat menyesal. Matanya menatap pergelangan tangan Sasa yang penuh dengan bekas luka cengkraman.


"Maaf kan aku, aku hilang Kendali, apaa tanganmu baik-baik saja?" Sasa menatap tangannya. Memang sudah tidak sesakit tadi, tapi bekas lukanya masih terasa perih jika bersinggungan dengan tubuhnya.


Sasa hanya diam. Ia tidak tahu harus menanggapi bagaimana.


"Tentu, katakanlah"


"Bolehkah jangan menghukum kedua bodyguard tadi tuan? itu sungguh bukan salah mereka, saya yang memaksa mereka"


Wiliam menatap wajah gadis itu. Bisa-bisanya is masih memikirkan tentang keselamatan orang lain.

__ADS_1


"Mereka tetap salah, mereka memang melanggar SOP"


"Tapiii tuann" Wajah memelas wanita itu berhasil membuat Wiliam kalah.


"Iyaaa, makan saja makanan mu"


Sasa tersenyum. Kali ini untuk pertama kalinya Wiliam menuruti kemauannya.


"Nanti malam di hotel ini ada acara, kolega bisnis akan datang untuk membahas proyek yang akan aku kerjakan di London"


"Kau istirahat lah di sini, jangan keluar tanpa memberi tahu ku"


Sasa mengangguk mengerti. Ia juga tidak mungkin menampakkan dirinya. Rico mungkin saja akan datang, itu bisa menjadi masalah besar. Lagian tubuhnya sangat lelah, tidur di kamar ini akan menjadi pilihan yang tepat. Kamar yang besar dan nyaman akan memberikan sensasi yang berbeda.


"cepat habiskan makan mu, pelayanan hotel akan segera membereskan hidangan ini"

__ADS_1


William kembali sibuk dengan telpon yang masuk ke hp nya. Banyak hal yang harus ia urus hari ini, terutama masalah besar yang mungkin saja akan terjadi menimpanya.


__ADS_2