
"Sudah ku bilang kepadamu, jangan sering bergonta-ganti wanita. Sekarang saja kau menangis seperti anak kecil."
Randi sejak tadi terus memasang wajah memelas. Masalahnya dengan Wiliam saja belum usai, jero malah menambah beban hidupnya saja. Tidak ada hari tanpa kesialan.
"lupakan saja, nanti kau juga akan bertemu wanita baru" Jero semakin merengek. Tidak dewasa sekali, anak TK saja tidak keterlaluan begitu.
"Aku tidak bisa, aku tidak mau" Rengekannya membuat Randi kewalahan.
"kau tahu tidak? keponakanku bahkan tidak secengeng mu! Sudah sudah, aku mau pergi. Lama-lama bisa mati muda aku dibuat oleh kelakuan mu" Randi menoyor kepala Jero.
"ngomong-ngomong, Apakah kau benar-benar sudah tidak mencintai rose lagi Ren?"
Bukannya Jero tidak percaya dengan sahabatnya itu. Tapi sifat pria itu benar-benar berbeda dengan William. Dia bahkan merelakan kebahagiaannya hanya untuk melihat William berbahagia dengan rose.
Jero tahu persis jika Rendi lah yang terlebih dahulu menjatuhkan hatinya kepada Rose. Apalagi jika mereka dulu satu SMA dan sering sekelas bersama.
"Menurut mu?"
Rendi memang salah. Ia mengakui hal itu. Memang bodoh sekali dia mau menjadi selingkuhan rose, wanita yang jelas-jelas tidak mencintainya setulus itu. Dia hanya berusaha untuk memanfaatkan relasi yang Rendi miliki. Masih teringat di benaknya saat Rose mengakui semua perasaannya kepada Rendi. Pria itu hanya bisa mengelus dada karena sudah menjadi pria bodoh yang buta dengan cinta.
__ADS_1
"Kau juga harus cari wanita lain"
Rendi tersenyum mendengar perkataan Jero. Pria yang suka ngawur. Rendi berdiri dari duduknya.
"kau mau kemana?"Jero hendak menahan randi.
"Pergi melamar Kenzi, mantan mu!!"
Randi langsung bergegas meninggalkan Jero. Pria itu lebih mirip anak kecil ketimbang pewaris perusahaan berskala dunia.
"Setan kauu!"
Raut wajah wili sejak tadi memang tidak bersahabat. Apalagi setelah menerima telfon barusan, semakin menjadi-jadi saja. Hampir semua karyawan yang ia temui, habis wili marahi. Bahkan mereka yang tidak bersalah pun terkena dampaknya.
Ayu bahkan harus membatalkan semua jadwal rapat pagi ini. Wili benar-benar seperti macan jantan yang sedang kelaparan.
"Ayu, bisa kamu panggilkan wanita bodoh kesini?"
Ayu bingung. Memangnya siapa wanita bodoh yang dimaksud bosnya itu.
__ADS_1
"Siapa bos?"
"Maksudnya... sekretaris baru si Rico itu lohhh!" Masih dengan ekspresi yang belum paham betul, ayu langsung mengiyakan kata wili.
Memang apa kepentingan ayu untuk banyak bertanya soal bosnya. Wili bebas melakukan apapun yang ia sukai. Bahkan melenyapkan nyawa orang lainpun mudah bagi tuan muda itu. Bergegas Ayu menghubungi rungan Rico. Telfon itu bisa langsung terhubung kepada Sasa.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" suara lembut sasa menyapa.
"Sasa, anda disuruh menghadap Pak William. Segera yaaa.."
Sasa masih berdiri kaget. Enggan rasanya bertemu Wili. Baru saja tadi pagi iblis itu membuatnya kebingungan, pasti dia punya maksud lain memanggil sasa. Manusia itu benar-benar aneh.
Rico yang sejak tadi mengamati Sasa mencoba untuk memberi kode. "ada apa" seperti itu mungkin maksudnya.
"Itu... Pak Wili menyuruh saya untuk ke ruangannya pak"
"Untuk apa ya? " Rico tidak kalah bingung, biasanya kalau ada urusan dengan divisi yang ia bawahi, wili bisa langsung menghubunginya.
" Ya sudah, temui lah!"
__ADS_1
"Baik pak, Permisi" Sasa berjalan meninggalkan ruangan kerjanya itu. Berat kakinya melangkah, sudah seperti ketempelan dedemit saja.