Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Jalang


__ADS_3

Sasa berjalan mendekat ke arah para pelayan yang sudah berdiri menunggunya. Mereka sangat sedih jika harus berpisah dengan nona muda yang sudah memperlakukan nya seperti manusia.


"Kalian jangan sedih"


Sasa mendekat ke arah mereka. Ia berusaha untuk tidak menangis.


"Nona, berjanji lah nona akan segera kembali"


Sasa mengulum senyum tipisnya. Ia tidak tahu apakah ia akan kembali ke sini atau tidak. Jika William benar-benar tidak mencintainya, mana mungkin ia bisa kembali ke sini dan bertemu mereka semua.


"Nona, kami pasti akan sangat merindukan nona"


Maya berjalan memeluk Sasa. Pelayan lain juga melakukan hal yang sama.


"Sasa...."


Milisa memanggilnya. Wanita itu seperti mengisyaratkan jika waktu sudah habis. Sasa harus segera pergi dari kediaman keluarga Raksana.


"Pak Yanto, saya pamit"


Pria tua itu tersenyum kepada Sasa. Jujur saja pria itu juga sangat sedih kehilangan Sasa.


"Kak Joy, terimakasih banyak. Sampaikan permintaan maaf dan terimakasih ku kepadanya"


Tentu saja itu ia lakukan untuk menghormati segala yang telah William berikan ke padanya. Sedangkan Joy ia hanya bisa mengulum senyum dan mengangguk pelan. Sedikit merasa berat, tapi ia harus tetap merelakan kepergian nona muda yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.


Sebelum masuk ke mobil, rasa memandang lamat-lamat ke arah rumah. Setelah Itu Dewi langsung menarik lengan Sasa pelan, menandakan jika mereka sudah harus pergi.


Mobil melaju begitu cepat. Sasa menitikkan air matanya. Bukan hanya karena ingatan yang ia tinggalkan, tapi juga perasaan sakit saat William membuatnya merasa patah. Jujur saja beberapa hari belakangan ini, pria itu sudah hampir berhasil mencuri hati Sasa. Membuatnya tidak bisa tidur dengan tenang. Tapi apa yang barusan ia dengar, ******* wanita lain? Semua hancur begitu saja.


"Sa...."

__ADS_1


Dewi memanggil dengan lembut nama adiknya. Sasa buru-buru menghapus air matanya dan menoleh dengan senyuman palsu yang ia lempar ke arah Dewi.


"Mbak harap kamu tidak mencintai William"


Sasa diam sejenak. Ia juga bingung, apakah William masih pantas menerima rasa cinta darinya?


"Aku tidak mencintainya kok mbak"


"Syukurlah kalau begitu, jadi mbak tidak perlu merasa bersalah karena memaksa mu pergi dari sisinya. Ini semua mbak lakukan agar kamu bisa hidup bahagia."


"Aku paham kok mbak!"


"Kita akan pulang ke kampung, mbak rasa di sana jauh lebih tenang, lebih aman"


Sasa hanya mengangguk. Pulang dan bertemu dengan pusara kedua orang tuanya mungkin menjadi salah satu hal yang bisa membuat ia kembali merasa bahagia. Lagian tidak seharusnya ia merasa sedih terlalu dalam, ia sudah bertemu dengan Dewi, tujuan awal ia ke kota.


Sedangkan Joy, pria itu sudah melajukan mobilnya ke apartemen milik William. Salah satu anak buahnya mengatakan jika mereka berhasil mengetahui kemana William pergi, mereka juga harus mengecek cctv di apartemen William. Joy harus segera membawa kartu akses cadangan yang pernah William berikan kepadanya. Dengan itu mereka bisa dengan mudah mendapatkan informasi yang lebih akurat.


Sesampainya di apartemen Joy bergegas menuju unit milik William. Pria itu juga sedikit kaget ketika melihat mobil bosnya terparkir di basman. Sudah ada beberapa anak buahnya yang menunggu Joy di unit milik William. Tanpa menunggu waktu lagi, Joy langsung masuk dan menyuruh anak buahnya untuk mencek cctv.


Joy memukul meja kerja William. Wanita itu benar-benar sangat keterlaluan. Tapi Joy tidak boleh sampai gegabah, William pasti dalam keadaan genting. Ia tidak boleh mengambil langkah yang salah.


"Kalian buat laporan ke polisi, kita akan buat rencana yang jauh lebih dari apa yang wanita itu buat"


Salah satu anak buah Joy langsung berlari ke arah luar. pria itu akan mengurus laporan ke kantor polisi. Dalam kejadian seperti ini, akan jauh lebih baik jika pihak yang berwajib ikut mengambil adil. Rose harus di jerat hukum yang setimpal agar dia bisa merasakan penyesalan.


(Bagian 2 Bab 72)


"Hmmm....huhh...."


Suara teriakan dari William. Pria itu baru saja sadar dari pingsannya. Tapi berkat lakban yang menempel di bibirnya, suara pria itu tidak bisa terdengar dengan jelas.

__ADS_1


"Wah...wah.... ternyata kamu sudah bangun ya?"


Rose mendekat ke arah William. Wanita itu membuka lakban yang melekat.


"Sialannnn kau ******!"


Tentu saja William sungguh kesal dengan apa yang mantan kekasihnya ini lakukan. Sudah di luar dugaannya.


"Wahhh.... tenang sayang, aku hanya ingin bersenang-senang denganmu"


"Cehh.....murahan, kau brengsek Rose, wanita ******!"


William membuang ludahnya ke arah depan. Hampir mengenai wajah Rose. Tapi wanita itu terlalu gesit, ia lolos dengan segera berjalan mundur.


"No...no..no! Itu menjijikan sayang, kau bisa menulari ku dengan semua dosa mu dan keluarga jahat mu itu"


Rose mengambil salah satu mesin listrik yang anak buahnya berikan. Wanita itu menghidupkan tombol on.


(sring.....)


Aliran listrik saling terhubung antar besi. Rose tersenyum. Lalu dengan cepat menusukkannya ke perut William. Pria itu berusaha menahannya. Ia tidak akan memperlihatkan rasa sakit yang ia rasakan.


Bukannya meminta ampun, William dengan jelas menertawakan apa yang barusan Rose lakukan. Wanita itu tampak kesal. Ia ingin membuat William memohon kepadanya, bukan malah diejek seperti ini.


"Ingat aku ya tuan, aku tidak sabar ingin menceritakan tentang diriku kepada mu"


"Ceh.....aku tidak perduli, ****** seperti mu tetap akan jadi ******. Kau pikir dengan apa yang kau lakukan ini, aku akan takut? Sampai mati pun aku tidak akan kalah!"


William berteriak sangat lantang. Urat-urat wajahnya bahkan sampai timbul kepermukaan. Rose semakin kesal. Ia berdiri dan langsung berjalan menjauh.


"Kalian buat pria ini menderita, terserah kalian ingin lakukan apa! Yang pasti, jangan biarkan dia mati dulu, aku belum puas."

__ADS_1


"Tuan Muda William, permainan belum usai, kau akan membalas apa yang telah keluarga mu lakukan, dan sedikit hal yang kau lakukan juga kepadaku!!"


Setelah mengatakan itu, Rose berjalan meninggalkan ruangan tempat dimana William di sekap. Dua orang bodyguard itu berjalan mendekat ke arah William dan kemudian meluncurkan pukulan-pukulan ke arah William. Pria itu hanya tersenyum sambil berusaha menahan sakit pada tubuhnya.


__ADS_2