
Pagi ini William terbangun paling terakhir. Sasa sudah lebih dulu turun ke lantai bawah. Semenjak pindah ke rumah ini, Sasa memiliki kebiasaan baru. Menyirami bunga-bunga di taman rumah. Sebenarnya William sudah membayar beberapa tukang kebun untuk mengurus bunga-bunga itu, tapi Sasa terus saja memaksa pak Yanto untuk memperbolehkannya. Mau bagaimana lagi, Yanto tidak bisa menghalangi keinginan Sasa.
"Wangi banget kamu bunga"
"Bunganya akan semakin indah jika sudah mekar dnegan sempurna nona"
Salah satu tukang kebun menjelaskan berbagai jenis bunga kepada Sasa. Wanita itu punya banyak pertanyaan. Tukang kebun itu bahkan kewalahan menjawab semuanya.
"Nona, tuan sudah menunggu nona di meja makan"
Maya berjalan menghampiri Sasa. Ia hendak menyampaikan pesan dari tuan muda, pria itu sudah turun ke bawah untuk menikmati sarapan paginya.
Sasa menoleh dan kemudian mengangguk. Gaun putih yang ia kenakan seakan menari-nari mengikuti langkahnya. Ruang makan dan juga taman berjarak cukup dekat. Dindingnya bahkan terbuat dari kaca yang memanjang hingga lantai 3. William bisa dengan mudah memperhatikan tingkah Sasa dari arah taman. Pria itu mengulum senyumnya.
"Itu semua bunga mama"
William menatap ke arah Sasa. Melihat wanita itu memiliki ketertarikan dengan bunga mengingatkannya dengan Angel, wanita tua itu adalah penggemar berat bunga-bunga yang ia tanam. Kadang-kadang ia nekat terbang ke eropa hanya untuk membawa bibit bunga unggulan agar bisa ia tanam di halaman rumah keluarga Raksana.
"Bunganya cantik"
Kurang lebih wanita itu tahu tentang ibu mertuanya, para pelayan dengan lembut memberitahu Sasa sejarah rumah ini. Wanita itu bahkan tidak habis pikir dengan silsilah keluarga yang sangat panjang dan terdengar bangsawan.
"Nikmati sarapanmu"
William kembali meneguk kopinya. Akhir-akhir ini pria itu sangat menyukai kopi pahit yang di import dari Meksiko, katanya kopi ini punya efek yang gila, bisa tetap fokus walau sudah seharian bekerja.
"Kamu akan ke kantor?" Sasa bertanya penuh penasaran ke arah William.
"Iyaaa, ada beberapa meeting dengan klien"
Sasa mengangguk paham. Ternyata William hanya bercanda ingin pergi bersamanya ke acara meet and greet aktor kesukaannya itu. William tidak benar-benar ingin pergi.
__ADS_1
"Kalau kau ingin tetap pergi ke acara itu, biar aku suruh Joy mengosongkan jadwalnya"
Sasa menatap ke arah William. Pria itu kembali ke mode dingin. Yang paling membuat Sasa kesal adalah pria ini hanya mengumbar janji untuk menikmati waktu yang tersisa dalam pernikahan mereka.
"Tidak usah, aku sudah tidak ingin pergi"
Kalau boleh jujur, Sasa bahkan sudah terlanjur senang saat William memintanya pergi bersama, tapi mendengar perkataan William pagi ini membuat semua keinginannya pudar. Pria itu terlihat tidak serius.
"Kenapa?" William meminta penjelasan Sasa, aneh saja jika istrinya itu tiba-tiba menolak untuk pergi ke acara. Padahal tadi malam mereka bahkan sempat berdebat.
"Aku ingin di rumah saja" Sasa menjawab singkat. Dia tidak ingin berdebat dengan William pagi ini.
"Bukannya aku tidak ingin menemani mu, tapi ada pekerjaan yang tiba-tiba tidak bisa aku undur"
William bukannya tidak peka, pria itu paham betul jika Sasa tengah kecewa. Pria itu bahkan baru menerima kabar dari Ayu asistennya, jika ada klien yang ingin memajukan jadwal pertemuan mereka. Apa boleh buat? klien itu penting untuk kemajuan perkembangan perusahaan.
"Aku paham, tapi aku benar-benar tidak ingin pergi" Sasa mempertegas perkataannya. Takut William malah salah paham.
Sasa tidak menjawab, wanita itu lebih memilih melanjutkan sarapannya.
"Mulai besok kau tidak perlu pergi bekerja lagi ya, maksudku selama kita masih bersama seperti ini, aku mau kau di rumah saja, tidak perlu lelah bekerja ke kantor"
Permasalahan ini sudah pernah mereka bahas sebelumnya, Sasa juga tidak ingin berdebat lagi tentang ini. Mau tidak mau semua keinginan William harus terwujud, hanya beberapa minggu lagi Sasa pasti juga akan bisa kembali bekerja, meski bukan lagi di perusahaan William.
"Ya sudah, aku akan berangkat"
William berdiri. Pria itu meraih tas nya yang sudah disiapkan oleh pelayan. Ida mendekat ke arah Sasa. Mengecup kening wanita itu tiba-tiba. Hal itu berhasil membuat Sasa menatapnya kesal.
"Salam dulu, suamimu akan pergi bekerja"
Bukannya meminta maaf William malah menyodorkan tangannya kepada Sasa, membuat wanita itu harus menyalami suaminya. Ingat jika beberapa hari ke depan ia harus taat dan menjalani tugas seorang istri sungguhan.
__ADS_1
"Hati-hati" Sasa berucap pelan saat William hendak pergi. Pria itu sekilas mendengarnya. Kata yang berhasil mengulas senyum di wajahnya pagi ini. Sedangkan Sasa terus saja fokus dengan makanannya. Tidak perduli jika ia berhasil membuat pria sedingin William mencair karena tingkahnya.
(Bagian 2 Bab 64)
Milisa diam-diam juga sudah mendarat di tanah air. Wanita itu sudah berusaha mencari keberadaan adiknya, tapi informasi yang keliru membuat ia menjadi tertipu. Sasa tidak lagi berada di apartemen William, tidak ada satupun yang tahu dimana perempuan itu.
Bahkan dengan membayar orang suruhan saja Milisa masih susah untuk melacak keberadaan adiknya itu.
"Kamu dimana sih dek, mbak harus buru-buru menemukan kamu sebelum Rose mencelakai mu"
Wanita itu tahu persis jika Sasa sekarang ini tengah berada dalam ancaman yang cukup mengerikan.Berada di samping William hanya akan menghancurkan kehidupan Sasa, wanita itu akan hancur perlahan.
"Aku mohon cari informasi itu segera mungkin"
Pria di ujung sana terlihat mengangguk. Milisa telah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit demi misi penyelamatan ini, hampir setengah tabungan nya terkuras untuk membayar orang-orang suruhan dan tentunya untuk menyembunyikan identitasnya.
Jangan heran jika pihak William tidak pernah berhasil untuk menggali informasi Dewi. Wanita itu sudah lama hilang dan berganti menjadi Milisa. Dia kabur dengan Rose dan untuk melancarkan rencana wanita itu ia nekat mengganti dan menghapus segala identitas yang ia miliki. Berganti ke nama Milisa dan identitas yang baru sebagai warga negara Inggris.
"Jangan sampai Rose tahu keberadaan aku?"
Dia menyuruh orang suruhannya untuk menghilangkan jejak mereka dari pengawasan orang-orang bawahan Rose. Penyamaran kembali ia lakukan agar bisa dengan mudah keluar dari London dan pulang ke tanah air.
Rose bisa saja membunuhnya pada hari itu, tapi sepertinya Rose ingin membuat Sasa pergi dengan sendirinya dari hadapan William. Itu bisa membuat ia dengan mudah masuk kembali ke dalam kehidupan William dan membalaskan dendamnya.
Sedangkan Sasa masih duduk santai di salah satu gazebo rumah. Ia menatap ke arah kolam yang sekarang tampak sangat cantik dengan ikan-ikan yang hilir mudik mengelilingi kolam.
"Nona, apakah nona ingin jalan-jalan ke kota?"
Maya datang menawarkan sebuah solusi untuk mengurangi rasa bosan Sasa. Bukan tanpa alasan wanita itu datang tiba-tiba, William sudah sejak tadi mengawasi Sasa dari cctv, pria itu tahu jika Sasa tengah bosan sehingga ia menyuruh Pak Yanto untuk membujuk Sasa pergi jalan-jalan.
"Aku ingin ke rumah sakit, bisakah?"
__ADS_1