Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Istana


__ADS_3

Pesawat jet yang mengangkut Sasa dan Joy mendarat di tanah air. Wanita itu tidak henti-hentinya tersenyum. Walaupun London adalah kota yang cantik, tetap saja negara sendiri adalah tempat paling nyaman dan aman baginya.


"Nona, kita tidak akan pulang ke apartemen, tuan William menyuruh anda untuk pulang ke rumah miliknya"


Sasa terdiam sejenak. Ini kali pertama untuknya pulang ke rumah William. Pria itu bahkan belum pernah mengajak Sasa mengunjungi kediaman pribadinya.


"Jauh ya?"


Joy menggeleng. Rumah itu berada di kawasan perumahan milik keluarga William. Rumah yang berada di tengah-tengah perkebunan yang terisolasi dari hiruk pikuk kota. Dulu saat papanya masih hidup, William selalu pulang dan berkumpul bersama di rumah itu. Tapi semenjak kecelakaan, William tidak pernah kembali ke sana.


Mobil mereka berjalan melaju menembus pepohonan. Perkebunan karet berjejer di tepi jalan. Sasa menyelidik nyeri. Suasananya sudah seperti rumah hantu di film horor yang sering iya nonton.


"Apa ini tidak salah jalan?"


Sasa berusaha memastikan kepada Joy. Mana tahuan supir salah jalan.


"Tidak nona, sebentar lagi kita akan sampai"


Benar saja, rumah mewah menyambut kedatangan mereka. Rumah itu besar dan berada di tengah hamparan rumput yang hijau. Bagaikan surga yang tersembunyi. Banyak bunga-bunga indah yang mengelilingi rumah itu.


"Wahh cantik"


Joy menjelaskan kepada Sasa jika perkebunan karet itu adalah salah satu perkebunan milik keluarga William. Rencananya pria itu akan memangkas semua pohon agar akses jalan ke rumahnya tidak seperti tempat yang menyeramkan.


Joy dan Sasa keluar dari mobil. Sudah banyak para pengawal dan beberapa pembantu yang berdiri menyambut kedatangan mereka. Ini adalah hal yang aneh untuk Sasa, di apartemen William tidak pernah memakai bantuan ART sama sekali.


"Selamat datang Nona muda"


Salah satu pelayan datang dan membungkukkan badannya. Gerakan pria itu juga di ikuti oleh pelayan yang lain. Sasa bisa menebak jika pria tua ini adalah kepala pelayan dan penjaga di rumah besar ini.

__ADS_1


"Nona, ini adalah Pak Yanto, kepala pelayan di sini. Setelah anda masuk ke rumah, semua tanggung jawab kebutuhan anda akan mereka urus"


Pak Yanto tersenyum saat Joy menjelaskan semuanya ke Sasa. Wanita itu masih tidak percaya. Dia benar-benar seperti seorang tuan putri.


"Terimakasih, tapi tidak perlu harus repot-repot. Aku bisa melakukan semuanya sendiri"


"Sudah tugas kami nona, anda adalah menantu tuan Raksana dan nyonya. Sudah tugas kami juga melayani anda"


Sasa menyengir canggung. Joy memberikan isyarat jika Sasa hanya perlu untuk mengikuti semua apa yang Yanto katakan.


"Mari nona, biar Santi dan Maya yang akan mengantarkan nona ke kamar untuk beristirahat"


Dua orang pelayan yang masih seumuran dengan Sasa menghampiri wanita itu. Mereka memakai baju yang sama. Sudah seperti hotel saja, pikir Sasa saat ini.


Mereka berjalan memasuki rumah. Pelayan itu mengapit Sasa. Ada juga para penjaga yang membawakan koper milik Sasa menuju kamar.


"Pak Yanto, saya serahkan Nona Sasa ke tangan anda, semoga saja dengan semua ini William bisa pulang ke sini"


Benar, William tidak pernah menyuruh Joy untu membawa Sasa pulang ke rumah utama. Ini hanyalah akal-akalan Joy dan Yanto, mereka ingin rumah ini kembali ditempati oleh William. Apalagi sekarang pria itu sudah berstatus suami Sasa, akan jauh lebih baik jika Sasa juga bisa mengenal dan tinggal di rumah peninggalan keluarga Raksana.


Sejak masuk tadi Sasa tidak henti-hentinya berdecak kagum. Apalagi ketika diperlakukan seperti seorang tuan putri membuat iya bisa lupa dengan perpisahannya bersama Wiliam. Pria itu dulu pernah berjanji jika pernikahan mereka akan berakhir dengan cepat. Kalau saja bukan karena permintaan Joy, mungkin Sasa sudah kabur meninggalkan William sejak turun dari pesawat tadi.


"Nona.....nona sangat cantik"


Maya membuka obrolan saat ia dan Yanti sibuk membereskan pakaian Sasa ke lemari. Sasa tersenyum. Kalau di apartemen ia hanya merasakan rasa sepi, tapi di sini Sasa merasa memiliki banyak teman.


"Wahhhh.....ini barang branded yang terkenal itu ya nona"


Yanti juga ikut menimpali. Salah satu paper bag berisi parfum dari London. Saat jalan-jalan bersama Joy, pria itu memesankan barang itu tanpa sepengetahuan Sasa. Karena sudah pasti jika meminta persetujuannya, Sasa akan menolak mentah-mentah.

__ADS_1


"Apa kamu suka Yanti?"


"Tentu saja nona, ini adalah parfum yang wanginya sangat wangi. Aku pernah melihat beberapa YouTubers mereview nya"


Sasa tersenyum lalu membuka paper bag itu.


"Coba lah"


Mendengar hal itu Yanti menatap tidak percaya ke arah Sasa. Tidak mungkin jika nona muda bisa sebaik ini. Yanti menatap ke arah Maya, takut jika perkataannya barusan salah.


"Kenapa diam, aku sebenarnya tidak terlalu suka baunya. Kalau kalian mau, ambil saja"


"Maaf nona, kami....."


"Kalian takut akan dimarahi William? Jangan takut, ini kan barang-barang milikku, jadi aku bebas mau memberikannya ke siapapun itu"


Kedua pelayan itu saling bertatapan. Lalu memperlihatkan senyum yang lebar. Sasa juga ikut tersenyum melihat tingkah mereka.


Yanti menyemprotkan parfum itu ke pergelangannya dan kemudian mencium aroma yang keluar dari cairan itu. Yanti menatap Sasa dan juga Maya.


"Wangi sekali"


Yanti menyodorkan parfum itu ke arah Maya. Perempuan itu juga ingin mencoba sensasi wangi yang dikeluarkan parfum itu.


"Terimakasih banyak nona"


"Aku akan jauh lebih senang jika kalian menganggap aku seperti teman kalian, kalian jangan menganggap aku seperti seorang ratu seperti ini. Jujur saja, aku tidak suka"


"Mari berteman"

__ADS_1


Mereka bertiga tersenyum dan kemudian melanjutkan obrolan di kamar Sasa.


__ADS_2