Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Tertipu


__ADS_3

Suasana meja makan terbilang cukup ramai. Sejak tadi Sasa selalu saja membuka obrolan. Walaupun sebagian pelayan masih canggung menimpali pembicaraannya.


"Aku sangat senang malam ini"


Sasa tersenyum lalu berdiri dari duduknya. Pak Yanto yang melihat itu langsung ikut berdiri. Sasa mengambil piring sisa makanannya lalu berjalan menuju dapur. Yanto langsung reflek menghalangi Sasa.


"Maaf nona, biar nanti Maya dan Yanti yang akan membersihkan semua piring ini. Anda tidak perlu repot-repot seperti ini nona"


Sasa terdiam kemudian mengembalikan piring ke atas meja. Wanita itu membuang nafasnya berat. Tidak ada gunanya bersikeras.


"Kalau begitu, aku akan kembali ke kamar. Ingin beristirahat"


"Mari saya antar nona"


"Tidak perlu pak Yanto, aku bisa pergi sendiri. Kalian semua lanjutkan saja istirahatnya"


Sasa berjalan meninggalkan meja makan. Wanita itu ingin sekali mampir ke kolam berenang yang ada di dekat ruang tamu. Sejak kedatangannya tadi, Sasa belum sempat melihat-lihat semua yang ada di rumah ini.


"Wahh dingin"


Tangannya tenggelam dan merasakan rasa dingin air di kolam. Sasa bermain-main sebentar dengan air di sana, lalu memutuskan untuk berjalan ke arah kamarnya.


Ada foto besar di sisi tangga. William dan kedua orang tuanya. Wanita itu berjalan menuju salah satu kamar yang terlihat tidak terkunci.


"Anak Jantan"


Begitulah papan nama yang terpahat di depan pintu kamar itu. Sasa yakin jika itu adalah kamar William. Dia masuk ke sana. Gelap dan terlihat sedikit menakutkan.


Saat lampu dinyalakan, Sasa dapat melihat semua poster dan foto yang tertempel di seluruh ruangan kamar.


"Perempuan itu"

__ADS_1


Benar, wajah Rose masih terpampang jelas di sisi kamar. Cukup besar figura itu. Dia cukup menggambarkan betapa besar cinta William untuk Rose. Sasa merasakan sakit di dalam dadanya.


"Kenapa aku merasa kesal ya melihat wajah wanita itu?


"Tidak mungkin aku cemburu, perempuan itu kan memang cinta pertamanya William"


Sasa berjalan menuju meja kerja pria itu. Ada banyak foto dan juga figura mini di atasnya. Kamar ini cukup berdebu. Tidak mungkin jika pelayan tidak pernah membersihkan kamar ini, padahal di luar tidak ada satupun demi yang menempel.


"Nona?"


Sasa terkejut. Yanto berdiri di ambang pintu. Berhasil membuat jantung Sasa terancam copot.


"Ahhh pak Yanto, bikin kaget aja"


Sambil mengelus dadanya Sasa kembali mengatur deru nafas akan stabil seperti semula. Sedang Pak Yanto tersenyum sambil berjalan menghampiri perempuan itu.


"Kamar ini bukannya tidak pernah dibersihkan nona, tapi tuan William selalu marah jika ada orang yang masuk ke kamar ini. Lihat, di situ ada cctv yang akan mengirimkan rekaman suasana ruangan ini langsung ke smartphone miliknya"


Sasa melirik ke arah telunjuk Yanto. Benar saja di salah satu sudut kamar ada kamera cctv yang sedang merekam semua aktivitas mereka.


Sasa sedikit merasa menyesal karena jika sampai William tahu, perempuan itu pasti dalam masalah besar.


"Tapi saya yakin jika tuan muda tidak akan marah kepada anda"


"Mana mungkin pak, dia kan memang sombong dan suka marah-marah"


"Tuan William itu dulu sangat baik nona, suka sekali bercanda dengan para pelayan dan penjaga di sini. Kami lah yang selalu berada di sisinya sejak ia kecil. Tapi, semenjak kejadian kecelakaan itu, tuan William tidak pernah kembali ke kamar ini."


Sasa menatap ke arah Yanto. Rasa penasaran wanita itu seperti terpancing.


"Katanya dia sibuk harus menjaga Nyonya dan juga mengurus perusahaan, makanya dia pindah tinggal di apartemen. Itu pun tuan muda tidak ingin jika ada pelayan di sana, dia ingin sendirian saja"

__ADS_1


"Saya merasa bersyukur karena sekarang tuan muda sudah memiliki istri seperti anda nona. Dia tidak akan sendirian lagi dan mungkin bisa kembali bahagia"


Sasa tidak bisa merespon apapun. Pria itu bahkan melewati hari yang menyedihkan. Walaupun punya banyak uang, nyatanya itu tidak bisa membeli kebahagiaan untuknya.


"Saya akan sangat senang, jika nona bisa tinggal lebih lama di sini"


"Mana mungkin Pak, palingan tidak akan lama lagi"


"Saya paham nona, bagi saya tuan muda sudah seperti anak sendiri, kurang lebih saya sudah tahu apa yang sekarang kalian hadapi"


"Tapi nona harus tahu, saya yakin tuan muda sangat menyayangi anda"


Sasa berusaha tidak merasa terharu dengan perkataan pak Yanto. Apapun itu, perpisahan mereka harus tetap terjadi seusai perjanjian.


(Bagian 2 Bab 60)


Pesawat yang membawa William sudah mendarat di tanah air. Sedikit lebih cepat dari prediksi awal. Kedatangan tuan muda itu di sambut oleh para pengawalnya. Mobil hitam kesayangan pria itu sudah parkir di bandara sejak siang hari.


William tidak tahu jika Sasa tidak berada di apartemen. Pria itu bahkan sudah meminta supirnya untuk mengemudi menuju apartemen miliknya.


"APA!"


William berteriak ketika melihat notifikasi Cctv yang masuk ke handphonenya. Pria itu langsung menyuruh supir untuk menepi dan berputar arah menuju kediaman keluarganya.


Tentunya saja William sudah berhasil menonton rekaman cctv yang menyiarkan seorang wanita di dalam kamarnya. Tuan muda itu jauh lebih kaget karena wanita itu adalah Sasa, istrinya.


"Kenapa dia bisa ada di sana? Jangan bilang ini rencana mu Joy?"


Joy yang mengangkat telfon dari bosnya itu hanya bisa tersenyum puas saat William sudah masuk ke dalam perangkapnya.


"Kenapa kau diam? Awas ya, akan aku buat perhitungan kepada mu"

__ADS_1


Bukannya takut, Joy malah memutuskan sambungan telfon sepihak. Itu semua membuat William tambah kesal.


"Sialannnn kau Joy"


__ADS_2