
"Aku membelikan mu hp itu, agar kau bisa mengangkat telfon ku! tapi apa ini hah? BODOH KAU!"
Sasa tertunduk, Hpnya memang kehabisan daya dan ia belum sempat untuk mengisinya.
"Maaaaff tuuuua.."
"Ahh, aku belum menyuruhmu untuk berbicara"
Saya menggigit bibir bawahnya dengan kuat, ia sangat takut. Kali ini Wili benar-benar terlihat kecewa
Raut wajah Wili saat itu tidak bisa didefinisikan dengan kata-kata. Sasa kembali menundukan pandangannya. Tak berani rasanya jika harus menatap kedua manik pria itu.
"heeeem" Wili menarik napasnya dalam-dalam, lalu ia buang dengan kasar.
"Kau sudah makan?" Pertanyaan itu membuat Sasa shok. Wili tidak biasanya seperti ini. Sasa bahkan sudah siap jika Wili akan memperlakukannya dengan kasar. Tapi kali ini semua sungguh berbeda.
" Jawab! sudah makan?"
__ADS_1
"Sssudahh Mass..." Jawab Sasa terbata-bata.
"Kreek...krekk" Namun belum hanya jelang beberapa detik saja, pengakuan Sasa dipatahkan oleh suara gemuruh di perutnya. Lantas Sasa dengan reflek memegang perutnya dan menatap wajah Wili. Sudahlah membuat wili marah, sekarang ia ketahuan berbohong juga.
"Bodoh, kau bahkan lupa untuk makan, sibuk sekali kau rupanya. aku saja yang menjadi pemilik perusahaan itu tidak sesibuk kau..." Wili menatap tubuh kecil istrinya dengan raut mengejek. Sugguh ini sangat membuat Sasa merasa malu.
"Ganti bajumu, lalu mandi, cepat dan kau harus wangi!" Ini benar-benar diluar nalar. Sasa masih mematung denagn tingkah Wili. yang benar saja, mana mungkin sosok iblis ini bisa bertingkah penuh perhatian kepadanya.
" Ayoo cepat, atau....mau aku mandikan kau?" Wajah Wili semakin dekat dengan wajah Sasa. Sasa menggelidik ngeri dan langsung berjalan memasuki apartment itu dnegan langkah yang tergesa-gesa. Ia tak ingin jika Wili akan berubah pikiran dan malah kembali kewujud aslinya.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"One, two and three. Kau kalah, aku menang." Wanita itu melemparkan pisau dan tepat menghujam papan sasaran yang berjarak 5 meter didepannya.
"Ahhhh, kau benar telak lagi, bebang hebat" Lelaki didepannya bertepuk tangan dan menggelengkan kepalanya. Ia merasa sangat kagum dengan kekuatan yang dimiliki oleh Rose.
Mereka tidak hanya berdua di ruangan itu. Di sisi belakang lelaki itu berdiri 4 penjaga dengan mengunakan pakaian serba hitam, lengkap dengan pistol di kedua tangannya.
__ADS_1
"Wanita yang ingin membalaskan dendamnya, amarah, kecewa, dan cinta" Pria itu berdiri dan berjalan mendekati papan sasaran, Ia lalu menarik pisau itu. Menatap benda itu dengan mata yang tajam.
"Aku ingin lihat, bagaimana dendammu itu juga bisa berdampak pada dendamku"
Pria itu mendekat dan kemudian membisik apel yang berada tepat di depan Rose. Dan pisau itu tepat mendarat di meja dan menancap di apel yang berada diurutan paling bawah. Sisanya malah terbelah.
Rose lalu menatap apel itu dan mengambil pisau yang menancap pada apel. Kemudian ia memakan apel itu. Lengkap dengan pisau yang menjadi pegangannya.
" Kau lihat saja, TUAAAN!" Kemudia mereka berdua tertawa dan kembali bersulang.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sejak selesai membersihkan dirinya, Sasa mencium aroma yang harus. Aroma masakan yang enak terbawa sampai kedalam kamarnya. Sasa berjalan menuju sumber aroma itu, ia bahkan berjalan sambil menutup mata, tidak tahan dnegan bau harum yang menyerang penciumannya.
" Kau kenapa?" Suara itu membuat mata Sasa terbelalak tiba-tiba.
Sasa menatap Wili yang lsedang berkutat di dapur lengkap dnegan celemek di tubuhnya. Malam ini sasa benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah laku Wili.
__ADS_1