Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Lagi


__ADS_3

Hari ini William pulang sangat cepat dari pada biasanya. Setelah meeting terkhir selesai, pria itu buru-buru bergegas pulang. Ayu sampai heran dengan tingkah bosnya itu, apalagi semenjak menikah pria itu sudah menjadi orang asing saja. Sekarang William suka sekali tersenyum kepada karyawannya, dulu boro-boro tersenyum, kalau berpapasan saja dengan bosnya ini banyak karyawan yang langsung dipecat.


Setelah sampai di rumah, William bergegas bertemu dengan sasa. Pak Yanto yang menyambutnya di pintu utama pun tidak ia hiraukan.


Sasa tengah duduk di meja makan. Mengupas mangga kesukaannya. Wanita itu seperti telaten memegang pisau. William yang melihat itu langsung khawatir.


"Eheiii....jauhkan tanganmu itu dari pisau"


William mengambil alih pisau di tangan Sasa. Membuat gadis itu heran karena tingkah William.


"Kenapa sih? Aku ingin makan mangga" Protes Sasa.


"Kan bisa minta pelayan saja"


Sasa membuang nafasnya berat. Semua menjadi bergitu rumit di mata William. Bahkan memotong mangga saja Sasa harus meminta pertolongan pelayan.


"Aku bisa, lagian mereka banyak pekerjaan"


"Apa perlu aku tambah pelayan lagi? Agar kau tidak perlu memotong mangga seperti ini"


Sasa membulatkan matanya. William ini benar-benar aneh, kenapa harus menambah pelayan hanya karena ia memotong mangga nya sendirian.


"Apa-apaan sih! Sini balikin"


Sasa mencoba meraih pisau yang masih berada di tangan William. Tapi pria itu tidak mau memberikannya.


"Maya........Maya"


Alih-alih menuruti omongan Sasa, William malah memanggil Maya untuk datang ke arah mereka. Perempuan itu berlari mendekat.


"Kamu potongkan mangga ini untuk dia!"


"Aku bisa sendiri, tidak perlu menyuruh Maya!"

__ADS_1


"Jangan membantah ku!" William tidak ingin mengalah. Sasa berdiri dari duduknya. Muak dengan sikap William yang selalu saja harus dituruti kemauannya.


"Aku tidak jadi makan mangga, sudah tidak berselera"


Sasa berjalan menjauhi William, wanita itu melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya. William menatap ke arah Maya, tapi gadis itu membungkuk. Dia tidak ingin terlibat dalam permasalahan ini.


William berjalan mengejar Sasa. Menyadari jika perbuatannya barusan sudah membuat Sasa marah besar.


"Aku minta maaf"


William berjalan menuju sisi kasur. Sasa duduk bersandar dan sibuk mencari siaran tv yang menarik hatinya.


"Aku minta maaf" Ujar William lagi.


Tapi bukannya Sasa menoleh, wanita itu malah meninggikan volume tv hingga suara William tidak terdengar jelas.


William meraih remote tv dan mematikannya. Sasa menatap wajah William dengan sorot mata yang kesal.


"Aku minta maaf!" Ulang William sekali lagi.


"Aku hanya tidak ingin kau terluka karena pisau, itu benda tajam"


Jujur saja ketika mendengar pengakuan William barusan membuat Sasa merasa sedikit tersanjung, belakangan ini William selalu saja memperlihatkan kelakuan manisnya, kalau seperti ini terus Sasa bisa-bisa jatuh cinta beneran.


"Tapi tidak seperti itu juga, aku bisa kok kalau hanya memotong buah seperti itu"


Sasa berusaha menegaskan kepada William jika ia bukan wanita manja yang tidak bisa memotong buah. tugas seperti itu baginya adalah hal yang mudah, dia bahkan mengerjakan pekerjaan yang jauh lebih berat saat masih di kampung dulu.


"Tetap saja, aku takut"


William mendekat ke arah wajah Sasa. Membuat wanita itu berusaha untuk kabur. Tapi semua usaha tidak akan berjalan mudah. Apalagi saat ini William mendesaknya dan menguncinya di posisi ini.


"Aku mau" Ujar William.

__ADS_1


Sasa menggelitik ngeri ketika suara berat William mengucapkan kata itu. Pikirannya berubah menjadi ketakutan, mungkin saja William ingin meminta haknya lagi kepada gadis itu.


"Aku belum siap"


William tertawa ketika mendengar hal itu. Sasa sepertinya menduga jika ia meminta berhubungan badan, padahal dia hanya ingin meminta ciuman saja.


"Kapan siapnya?"


"Tidak tahu"


"Aku mau sekarang, lalu aku harus bagaimana? Ini tidak bisa ditahan"


William mengucapkan itu dengan nada dan intonasi yang berhasil membuat Sasa merasa geli di sekujur tubuhnya. Deru nafas wanita itu semakin terpompa cepat.


"Hmmmm......Aku harus apa Sasa?" William berbisik ke arah telinga Sasa.


Pria itu mendekat ke arah leher Sasa, meninggalkan tanda kepemilikan di sana. Entah karena merasa nyaman atau karena tertekan, Sasa hanya pasrah, dia tidak memberikan perlawanan kepada William.


Sialnya William yang hanya berniat mengerjai Sasa, kini ia harus merasakan dorongan nafsu yang membuat dia ingin lebih. William sulit sekali mengontrol hal itu jika sudah berada di dekat Sasa.


Gerakannya turun hingga ke bawah. Sore itu Sasa kembali lagi harus menuruti kemauan suaminya. Tapi kali ini William melakukannya dengan sadar, dan Sasa sepertinya sudah merelakan hal itu.


(Bagian 2 Bab 66)


Setelah kegiatan yang panjang itu, Sasa tidak bisa berjalan dengan normal. William yang menyadari itu langsung menyuruh pelayan untuk membawakan makan malam ke kamar mereka.


Badan sasa terlihat lemas dan terasa remuk. William melakukannya berkali-kali, ia bahkan tidak memberikan jeda agar Sasa bisa beristirahat sebentar saja.


"Aku minta maaf, apa kau mau sesuatu?"


Sasa menggeleng dengan pelan. Ia hanya ingin beristirahat dan makan malam. Perutnya sejak tadi sudah berbunyi, lapar yang menjadi-jadi.


"Terimakasih ya"

__ADS_1


Itulah kata yang terus William berikan kepada istrinya itu. Ada hal yang luar biasa yang ia rasakan, kali pertama baginya bisa merasa segila ini. William tidak ingin menjadi munafik, memang sudah banyak wanita yang tidur bersamanya, tapi baru kali ini ia merasa sensasi yang aneh dari tubuhnya. Dan itu hanya ia dapatkan dari Sasa, istri sahnya.


__ADS_2