Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Kesucian


__ADS_3

Di pesta ini William kembali membuka kenangan kelamnya. Wanita itu kembali menampakkan dirinya dihadapan William. Mengoyak lupa lama.


Pria itu meminum satu botol alcohol tanpa jeda. ia sudah sejak tadi diperingatkan oleh Joy. Namun William tidak berhenti. William ingin membalas sakit hatinya yang sudah bertahun-tahun bersarang dalam hidupnya.


Apalagi nasihat Joy beberapa saat yang lalu berhasil membuat William merasa bersalah. Sasa memang tidak seharusnya menjadi target sakit hatinya.


William mengigau. Tubuhnya runtuh kelantai. Para pelayan Bar langsung membopong Willi dan segera menghubungi Joy. Pria itu dengan sigap langsung membawa William menuju mobil.


Walaupun masih emosi dengan kelakuan bosnya ini, Joy tetap harus berada di samping William.


Pria itu terus mengigau tidak karuan. Joy mempercepat mobilnya menuju hotel. Sesampainya di sana hotel sudah terlihat sepi. Pria 28 tahun itu hanya membopong Wili seorang diri.


"Kau berat sekali" Celoteh Joy saat harus membawa William ke kamarnya.


Joy menarik nafasnya lalu menyetok pintu kamar Sasa. Hanya wanita itu yang berhak mengurus William saat ini.


Sedangkan Sasa memang belum bisa tidur. Bayangan Wiliam yang penuh amarah terus melintas di kepalanya.


Sasa berjalan menuju pintu, ia membukanya. Wanita itu terkejut mendapati William yang sudah terduduk di depan pintunya. Asisten Joy menjelaskan apa yang terjadi kepada William.

__ADS_1


"Aku mohon tolong bantu dia Sasa, aku berbicara kepadamu bukan sebagai asistennya William, tapi berbicara sebagai temanmu, dia membutuhkan mu sekarang" Wanita itu masih terdiam.


"Biar aku bantu dia kedalam" Joy membawa William menuju tempat tidur. Pria itu sesekali masih merancau.


"Aku akan pergi sekarang" Joy berpamitan.


"Terimakasih banyak kak Joy" Wanita itu mengantarkan Joy menuju pintu.


"Akulah yang harus berterima kasih, kau tetap mau berada di sisi William sampai saat ini saja sudah membuat ku bersyukur, sa" Joy tersenyum dan mengusap rambut wanita itu. Baginya Sasa sudah seperti adik.


Pria itu meninggalkan Sasa yang masih bingung dengan apa yang harus ia lakukan kepada suaminya.


"aahhh, sayangg" William bergumam. Namun Sasa tidak menghiraukannya.


Ketika Sasa hendak beranjak meninggalkan William, pria itu menarik Sasa menuju pelukannya.


"Ahhh, lepaskan mas" Sasa mencoba meloloskan diri. Namun William makin mengeratkan pelukannya.


"Stttt sayang, aku ingin kamu malam ini" Pria mabuk itu merubah posisinya, sekarang Sasa berad tepat di bawah William.

__ADS_1


"Masss, lepassskannn"


William langsung merobek pakaian wanita itu. Membuat Sasa berteriak dengan kencang. Tangannya memukul-mukul tubuh William.


"Masss, tolong jangan, ma..sss" William ******* bibir merah Sasa. Membuat wanita itu tidak bisa berteriak.


Sasa menangis, bulir-bulir air matanya merosot dari ujung kelopak mata. Wajahnya memerah. Namun William tidak berhenti walaupun mendengar tangisan Sasa.


Pria itu turun menelusuri leher wanita itu. Meninggalkan sejak kepemilikan yang benar-benar merah. Tidak puas dengan itu, William turun dan bermain dengan dua benda kembar istrinya.


Tenaga Sasa melemah, perlawanannya sia-sia. William bahkan makin mengganas.


"Masss, sadarlah,,, hentikan"


Sekarang William sudah berada pada puncak perbuatannya. Pria itu menyatukan bendanya dengan milik istrinya. Sulit di tembus, Wanita ini masih suci.


Sasa meringis kesakitan, ini adalah pengalaman pertama kali baginya. Perasaan merah, kecewa dan benci sekarang menguasai pikiran Sasa. Wanita itu tertidur ketika William selesai menyelimutinya.


Pria itu juga tumbang dia samping Sasa. Pengaruh alcohol membuat William tidak bisa menahan nafsunya.

__ADS_1


__ADS_2