
Milisa yang mengetahui keberadaan Sasa berusaha untuk menemui gadis itu. Tapi melihat banyak pengawal William membuat dia akhirnya mengundur niatannya. Apalagi jika mendengar kalau William akan kembali ke tanah air, akan jauh lebih baik jika dia membawa Sasa saat mereka sudah sama-sama berada di negara mereka.
"Tunggu mbak sa, mbak akan menyelamatkanmu"
kakak mana yang tidak akan khawatir jika keselamatan adiknya kini dalam bahaya. Rose itu adalah wanita yang nekat. Semua cara akan ia lakukan untuk membalaskan dendamnya. Menghilangkan nyawa bagi wanita itu adalah urusan yang kecil. Sudah banyak yang menjadi korban. Bahkan kecelakaan Raksasa group adalah perbuatan wanita itu.
Sedangkan Sasa masih melamun menatap padatnya kota London dari balik jendela kamarnya. Musim dingin sebentar lagi akan datang, anginnya sudah mulai terasa sejuk. Sasa memejamkan matanya. Sakit. Dia tidak menyangka William akan melanggar perjanjian yang sudah mereka sepakati. Apalagi jika pria itu lakukannya di saat-saat terakhir pernikahan mereka.
"Kamu harus kuat sa"
Wanita itu bergumam kepada dirinya sendiri. Joy tadi mengabari jika jadwal kepulangan mereka ke Indonesia dipercepat. William akan tinggal lebih dulu di sini, sedangkan Joy dan Sasa akan pulang ke Indonesia nanti malam. Terbang dengan jet pribadi.
"Apa boleh buat, dia pasti ingin bertemu dengan mantan kekasihnya"
Sasa tidak ingin munafik. Walaupun tidak mencintai William tapi berstatus seorang istri membuat dia juga pasti merasakan rasa cemburu. Apalagi William di sini bersama mantan kekasihnya. Lebih tepatnya wanita yang hampir membuat pria itu menjadi gila.
"Menyedihkan"
Pintu terbuka. Iblis itu masuk dengan kedua tangannya di kantong celana. Dia melirik ke arah Sasa, namun lekas berjalan menuju lemari pakaian. Mengeluarkan beberapa jas.
"Kau bersikap lah, sebelum pulang pergilah membeli sesuatu"
Sasa menoleh. Bukannya senang wanita itu terlihat tidak bahagia mendengar perkataan suaminya.
"Aku tidak ingin"
William menatap Sasa. Merasa aneh. Jarang sekali wanita menolak berbelanja. Apalagi jika semua biaya pria itu yang tanggung.
"Kenapa? ambil ini, pakailah"
William melemparkan kartu debitnya ke arah kasur. Tapi Sasa tidak bergeming. Wanita itu terlihat sangat kesal.
"Apa kau menganggap ku sebagai seorang pelacur, huh? setelah apa yang kau lakukan ke padaku, enteng saja kau menyuruhku untuk melupakannya"
Suara Sasa meninggi. Gadis itu bahkan membanting pajangan di dekat meja. William menatap ke arah Sasa. Ikut kesal.
__ADS_1
Pria itu berjalan mendekat. Sasa yang melihat pergerakan William langsung saja berjalan mundur. William terus saja mendesak. Gadis itu bahkan sudah mentok ke dinding kamar.
Sasa bergetar. Takut. Dimatanya William adalah monster yang begitu kejam. Berprilaku seenak yang ia mau. Tidak pernah mengerti dan paham dengan kondisi istrinya.
"Katakan lagi!"
William membisikan perkataan itu ke arah wajah Sasa. Wanita itu kini sangat takut. Tapi ia harus berani, agar pria di depannya ini tidak akan semena-mena ke padanya.
"Kau monster! Kau menjijikan!"
Sasa mengumpat ke arah William. Suaranya bergetar. William tersenyum ketika mendengar itu semua. Dengan cepat William memegang dagu sasa. Membuat wanita itu hanya bisa mengarahkan wajahnya sejajar dengan tatapan William.
"Apakah kau tidak sadar tuan William? Kau ini monster yang emosional.Aku seharusnya tidak menikah denganmu, kau hanya memanfaatkan kebodohan ku saja."
"Beraninya kau bicara seperti itu kepadaku? huh?"
Pria itu semakin mengeraskan cengkeramannya di wajah Sasa. Wanita itu menahan sakit dan terus melanjutkan perkataannya.
"Aku benar-benar benci kau, tuan William Raksana. Aku......ingin segera bercerai dengan mu"
"sampai kapan pun aku tidak akan menceraikan"
William yang mendengar perkataan Sasa langsung melepaskan cengkeramannya. Pria itu merasa sakit di dadanya. Ada perasaan yang memberontak di dalam sana.
"Aku tidak ingin hidup dengan pria brengsek sepertimu. Kau menghancurkan masa depanku"
"Aku tidak menghancurkan nya!!! Kau istriku, apa yang terjadi tadi malam adalah hak ku"
"Aku tidak ingin kau yang melakukannya! Kau bahkan tidak mencintaiku, dan kau membayangkan aku sebagai mantan kekasihmu"
William terdiam. Dia benar-benar tidak tahu jika semalam ia melakukan hal itu.
"Siapa bilang aku tidak mencintaimu?"
Sasa menatap ke arah William. Tapi gadis itu malah tertawa getir.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah percaya denganmu"
"Pergi dari sini tuan William!"
"KENAPA aku harus pergi? Ini kamar yang aku sewa"
"Kalau begitu biar aku yang pergi, aku tidak ingin di sini denganmu"
"Oke Fine, aku akan pergi"
"Ingat perkataan ku nona Sasa. Kau tida akan bisa kabur dariku, aku akan melepaskanmu saat aku ingin, selain itu, jangan pernah harap"
setelah William pergi, tangis Sasa pecah. Sisi jahat William yang selama ini tidak pernah ia lihat akhirnya pria itu nampakkan. Dia benar-benar sangat kejam di mata Sasa saat ini.
"Tidak punya hati"
Joy yang hendak berjalan menuju kamar Sasa terhenti ketika melihat William berjalan di lorong hotel. pria itu seperti sedang frustasi. Dia berjalan dengan sesekali memukul kepalanya.
"Ada apa?"
William menatap ke arah Joy. lalu membuang nafasnya berat.
"Kau pastikan saat sampai di tanah air nanti perempuan itu tidak mencoba untuk kabur dariku"
Joy yang mendengar itu langsung paham jika pasutri ini sedang terlibat perdebatan.
"Apa tidak sebaiknya kau melepaskan Sasa?"
William menatap Joy dengan tatapan yang jengkel.
"Aku tidak akan melepaskannya!"
"Itu berarti kau mencintainya"
"Jangan sampai aku pecat kau Joy"
__ADS_1
"Ini hanya saran dariku Wil, wanita itu pasti sekarang sangat membencimu. apalagi kau yang sangat gengsian ini malah tidak mau mengakui perasaanmu sendiri"
"Diam kau"