
Sasa membuka paper bag coklat yang berisi beberapa baju itu. Untungnya ada beberapa stelan baju kantor yang bisa ia kenakan hari ini.
Di parkiran Joy sudah menunggu ke datangan Sasa. sedangkan Wiliam 25 menit yang lalu sudah berangkat di antarkan supir untuk menjenguk Angel di rumah sakit.
"Pagi nona" Sapa Joy sambil melemparkan senyum kepada Sasa.
"pagi juga pak Joy"
"Maaf nona, panggil saya seperti tuan William memanggil saya nona"
Perintah Joy karna tidak enak jika harus di panggil pak, udah ganteng-ganteng masa di panggil bapak sih.
"ouh gitu, kalau gitu.. jangan panggil aku nona, aku juga pelayannya tuan muda, jadi aku memanggilmu Joy dan kamu memanggilku Sasa, impas kan "
"Aah nona, kalau gitu saya ga bisa, kan nona sekarang ini istri dari tuan muda, bos saya juga" Bantah Joy yang sejak tadi menundukkan pandangannya.
"Ya sudah terserah kau saja" Sasa masuk kedalam mobil.
Joy menarik senyumnya. "Wanita ini benar-benar berbeda dari pada wanita-wanita yang pernah berkencan dengan tuan William"
Kalau biasanya setiap wanita yang dekat atau berkencan dengan William, mereka selalu berprilaku semena-mena dan memperlihatkan keangkuhannya.
Mobil hitam itu melaju dengan kecepatan sedang.
Sasa turun dari mobil bersamaan dengan Richo yang hendak memasuki pintu lobi. Richo menoleh. Matanya terpancar kelegaan.
Sasa mendekati Richo dengan perasaan bersalah karena sudah hilang kabar selama 2 hari.
__ADS_1
"Pagi mas.....eh pak"
Rico uang mendengar itu langsung menatap ke arah Sasa.
"Kamu kemana aja sih sa? s
Saya khawatir sama kamu, saya kira kamu di culik. Untung saya belum lapor polisi" jelas Richo
"Maafin saya ya pak, Saya belum bisa cerita. Lain waktu saya pasti akan cerita sama bapak!"
Richo mengangguk, meski di pikirannya masih terasa mengganjal. Walaupun sebenarnya ia tidak seratus persen percaya dengan penjelasan Sasa barusan.
Setelah perjumpaan itu, Rico dan Sasa segera berjalan memasuki gedung kantor. Ada banyak hal yang harus mereka siapkan hari ini. Apalagi akan ada meeting penting.
"Wili kan udah mengabulkan permintaan mama, tapi kenapa ma?"
Beberapa bulan yang lalu, para tenaga medis sudah mengatakan jika Angel hanya bergantung kepada alat-alat medis di tubuhnya. Bahkan dokter saat itu sudah menyerah. Tapi keajaiban datang saat jemari Sasa menyentuh telapak tangan angel. Seperti memberi energi positif yang membuatnya kembali bersemangat untuk keluar dari masa komanya
Benda pipih di kantong jasnya bergetar. Telfon dari Ayu, asisten Wili.
"Ada apa?"
"baik, saya segera menuju ke sana"
Obrolan pun berakhir begitu saja.
__ADS_1
Ayu menelepon mengabarkan jika salah satu klien ingin memajukan meeting nya ke hari ini. Dengan berat hati Wili berdiri dari duduknya.
Ia menatap wajah sang bunda yang terlihat pucat. Wili membelai rambut yang telah mulai memutih itu. Lalu mendaratkan satu kecupan di kening sang ibu.
Sedangkan Sasa wanita itu sibuk memperhatikan ruangan kerja milik Rico.
"Wahhh, ini banyak juga ya"
Ada banyak tumpukan berkas di meja Rico. Pekerjaan yang harus segera mereka selesaikan secepatnya.
"Sasa, tugas kamu sekarang, tolong antarkan berkas ini ke ruangan pak William, kita butuh tanda tangannya "
"Bertemu Lucifer lagi dong aku"
sambil berjalan Sasa Merapikan berkas-berkas di tangannya, hingga ia tidak fokus terhadap jalan di depannya.
Bruk..
berkas-berkas itu berhamburan ke langit-langit koridor. tubuh Sasa bahkan hampir saja terjatuh ke lantai. untung saja ada dua tangan kekar yang menahannya agar tidak jatuh. Sasa mendongkrak.
"kamu!". ucap mereka bersamaan
_____
ayoooo siapa ya?
William apa yang lain nih?
__ADS_1