Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Maafkan aku


__ADS_3

Setelah membaringkan Sasa di atas kasur, Wili dengan sigap langsung menghubungi Dr Zain yang sering membantu keluarga Raksana.


"Bagaimana kondisinya?" Wili tampak tak sabar untuk mendengar bagaimana kondisi Sasa.


"Dia baik-baik saja, hanya sedikit kedinginan. Anda tidak perlu khawatir tuan muda, saya akan meresepkan obat."


Wili mengangguk.


"Baiklah tuan muda, sepertinya saya harus pamit karena saya harus terbang ke Prancis."


Dokter itu membereskan alat medisnya dan berpamitan kepada Wili. Wili hanya diam, Joy langsung mengantarkan Dr Zain menuju mobilnya.


Wili menatap wajah pucat Sasa yang belum sadar dari pingsannya. Wili berdiri, lalu meninggalkan Sasa.


 


Mata hitam Sasa mengerjap pelan, kepalanya pusing. Tubuhnya terasa sakit sekali, seperti remuk. Sasa perlahan bangun, lalu menatap seisi kamar. Bayangan perlakuan Wili kepadanya masih terbayang jelas di benaknya. Apalagi ketika Wili dengan membabi-buta menyiraminya dengan air yang dingin. Air mata Sasa jatuh begitu saja tanpa aba-aba. Ia mengusap kristal itu.

__ADS_1


Sasa mencoba melangkah menuruni kasur, masih sempoyongan, tapi ia terus berjalan. Ia membuka pintu kamar, ruang tamu kosong. Tidak ada tanda-tanda manusia selain dirinya di sini. Sasa bersyukur tidak bertemu dengan Wili, ia benar-benar sangat takut sekarang.


"Apa kau sudah meminum obat mu? kau tahukan obat itu mahal?"


Suara berat itu membuat Sasa tersentak dan langsung berbalik. Wili baru saja datang dari arah balkon. Sasa memundurkan langkahnya, takut sekali jika harus dimarahi oleh Wili lagi.


"Sudah kau minum belum?" Nada suara Wili sedikit meninggi.


"bbbb belum" Sasa menggigit bibirnya, ia tidak mau menatap kearah Wili.


Wili langsung berjalan menuju kamar dan mengambil nampan obat. Sasa menatap punggung Wili yang sudah hilang menuju kamar, Sasa yang tidak ingin terkena masalah langsung menuruti perintah Wili untuk duduk di sofa.


"Kau ini sudah besar, seharusnya tidak perlu lagi merepotkan orang lain!" Wili terus saja mengomel.


"Ini obatmu, apa kau juga tidak bisa minum obat sendiri? iyaa?" Sasa langsung menggeleng.


"Akuuu bisaa sendiri tuan." Sasa meraih obat lalu meminumnya.

__ADS_1


"Good Girl" Wili tersenyum.


"Maafkan aku sudah kelewatan kepada mu." Wili menyenderkan kepalanya ke sandaran sofa. Sasa menatap tak percaya. Mana mungkin seorang Wili yang arogan mau meminta maaf kepadanya.


"Soal perjanjian itu, mari kita persingkat waktunya. Kau hanya perlu menunggu 1 bulan lagi". Sasa melotot.


"Jangan menatapku seperti itu!!" Sasa langsung tersenyum.


"Tapi, mari hidup seperti suami istri pada umumnya. Kau harus siap kapan pun aku meminta hak ku, kalau tahu aku ini pria normal". Sasa menjauhkan duduknya, bulu kuduknya seakan berdiri ketika mendengar arah pembicaraan Wili.


"Tak perlu takut, ouh yaaa satu lagi! jangan sampai orang-orang tahu kalau kau adalah istri dari William Raksana! aku tidak mau merusak reputasiku, kau paham?" Sasa mengangguk. Lihatlah betapa anehnya pria ini, ia bahkan tidak ingin mengakui hubungan ini, tapi dia ingin meminta hak nya. Sakit memang, tapi bagaimana mau buat. Takdir tentu harus dijalani, walaupun iblis ini membuat keputusan sewenang-wenang dan egois, Sasa harus tetap mematuhinya.


"Istirahatlah, aku akan keluar malam ini!" Wiliam beranjak dan meraih kunci mobilnya. Meninggalkan Sasa yang bahkan belum paham betul dengan apa yang barusan Wili katakan.


Laki-laki macam apa yang meninggalkan istrinya sendirian setelah baru sadar dari pingsannya.


"Sabar Sasa, sabar". Sasa mengelus dadanya perlahan.

__ADS_1


__ADS_2