
Sasa melirik dirinya dari balik kaca. Memperhatikan lehernya yang kemerahan. Bekas yang ditinggal oleh William beberapa saat yang lalu. Sasa menggeram geli.
"Menyebalkan"
Makin hari pria itu makin berani berlaku semena-mena kepada sasa. Wanita itu mulai merasa bingung dengan apa yang terjadi.
Sasa menyentuh dadanya. Ada perasaan aneh yang menjalar di dalam sana.
"Aku gak boleh kayak gini, ini akan segera berakhir Sasa" Wanita itu meyakinkan dirinya untuk tetap konsisten pada tujuan semula.
30 menit Sasa berdiam diri di kamar mandi hotel. Perasaan canggung dan malu terus saja menghantuinya. Apalagi jika harus berhadapan dengan William. Kalau boleh jujur, tubuh mungilnya sudah terlalu lelah hanya untuk berdiri di sana.
Sasa memberanikan diri keluar. Ia mengintip dari balik pintu kamar mandi. William tidak ada di sana. Pria itu seperti pergi meninggalkan kamar mereka.
Sasa berjalan dengan cepat menuju kasur. Melompat dan berbaring.
"ahhhhhh, enak bangett" Tangan wanita itu mengelusi permukaan kasur yang lembut. Untuk ukuran Sasa, kasur ini sangat besar dibandingkan tubuhnya.
Sasa terlelap dan acuh akan keberadaan seseorang dari arah pintu masuk. William menjinjing paper bag berisi makanan di sana. Pria itu mengukir senyum saat mendapati istrinya tertidur pulas di sisi kamar.
William berjalan mendekat. Menaruh papar bag di atas meja. Pria itu duduk di sisi kasur. Sekarang Sasa bahkan tidur dengan posisi bibir yang sedikit terbuka.
"menggemaskan" Celetuk Wili.
__ADS_1
Sesat kemudian benda pipih di meja bergetar. Ada telfon untuk William.
"Kenapa?" Wili penasaran dengan apa yang ingin asistennya sampaikan.
"Tuan, kenapa saya tidak bisa masuk ke hotel?" Joy sejak tadi dihalangi oleh para penjaga hotel. William berulah kembali.
"Perasaan saya juga memesan kamar untuk saya tuan? Apa anda...? ahhh saya mengerti "
"Kau cari saja hotel yang lain!"
"Awas saja yaa, kalau nanti ingin meminta bantuan, saya tidak ingin membantu anda" Joy sedikit kesal dengan kelakuan William.
"Kamuuu mengancamku? Enakk sajaa...... pokoknya jangan dekat-dekat istriku"
Joy menarik nafas berat.
"Dasar bos bucin, seperti anak remaja saja" Pria muda itu melangkahkan kakinya menuju pintu hotel. Namun saat menuju mobil, Joy berpapasan dengan seseorang di sana.
"Diaaa" Joy panik. Ini adalah sebuah penemuan yang besar. Joy lekas menelfon kembali William.
"Ada apa lagi sih? apa kau tulii? Pria di sebrang sana mengira jika asistennya akan terus mengomentari apa yang sudah ia lakukan.
"Bukan itu bos" Joy menepuk jidatnya.
__ADS_1
"Ada apa? kalau tidak penting, tidak usah saja, menganggu!"
"Ini penting, sangat penting"
"Ada apa?"
"Dia di sini"
"Apa kau yakin?"
"Aku baru saya berpapasan dengannya di lobby hotel"
"Apa dia tahu aku di sini?"
"Sepertinya tidak, dia datang sendirian"
"Awasi dia"
Telfon terputus saat Joy mendapatkan tugas baru. Pria itu harus mengikuti target buruan. Mengulik informasi sedetail mungkin.
Sedangkan William mulai merasa panik. Bukan karena takut rahasianya akan terbongkar, namun rasa takut untuk bertemu berhasil membuat William cenat cenut.
Besok malam adalah hari yang penting. Ia tidak ingin jika rencana proyek gagal hanya karena satu kesalahan.
__ADS_1