Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Bertemu Joy


__ADS_3

"Yeeeee....Cila sekolah, asikk"


Nona muda itu terus saja berlari mengelilingi meja makan. Berusaha Dewi dengan sangat antusias mengatakan jika hari ini Cila akan masuk ke Pre school di dekat kantor tantenya itu. Rasa senangnya bisa dnegan muda dilihat dari raut wajah Cila. Ini adalah keinginannya yang sempat tertunda.


"Cila.... hati-hati sayang, nanti jatuh"


Bocah itu berhenti dan kembali duduk di kursinya. Sasa berjalan menuju meja makan. Dia memasak menu yang enak untuk sarapan pagi ini, apalagi setelah mendengar kabar jika anaknya akan mulai sekolah.


"Kamu harus bisa nyetir sa, ntar kamu belajar ya"


Dewi paham betul jika Sasa sudah tidak ingin diberi seorang supir. Katanya ia lebih suka pergi di antar Dewi atau naik taxi saja. Tapi mau sampai kapan Sasa bergantung kepada kakaknya itu, Dewi juga punya kesibukan. Sudah menjadi kewajibannya mengurus Cila dan dirinya sendiri.


"Boleh deh mbak, biar nanti aku bisa antar jemput Cila"


Sasa menatap ke arah putrinya yang masih asik menyantap sarapan paginya. Anak itu terlihat begitu senang dan melahap semua hingga habis.


"Cila suka kalo ke sekolah, pasti banyak teman"


Sepanjang perjalanan ke sekolah, Cila terus saja mengoceh. Anak itu antusias sekali menyambut hari pertamanya ke sekolah. Berbeda sekali dengan kebanyakan anak-anak yang malah takut untuk berpisah dengan orang tuanya.


"Cila nanti harus jadi anak yang pintar yaa, harus nurut dan jadi good girl"


"Iyaa mama, Cila akan jadi anak good girl"


Cila melambaikan tangannya. Gadis kecil itu berjalan memasuki sekolah ditemani salah satu gurunya. Hati kecil Sasa tersentuh, bayi mungil miliknya itu sekarang sudah tumbuh menjadi anak yang manis. Ia bahkan sudah bersekolah.

__ADS_1


"Habis ini mbak antar kamu ke tempat les mobilnya ya, ntar pas habis jemput Cila, kita beli mobil"


"Gak usah sekarang beli nya mbak, pas aku udah bisa aja. Nanti biar aku aja yang jemput Arcila, mbak pasti capek"


"Ya udah, ayo kita berangkat"


(Bagian 2)


"Kamu yakin jika salah satu perusahaan yang mau pakai brand kita ini adalah anak perusahaan Raksana Group?"


Setelah sampai di perusahaan miliknya Dewi harus dengan segera mencek beberapa kerja sama. Salah satunya adalah meninjau beberapa kontrak kerjasama yang baru saja masuk.


"Benar Bu, anak perusahaan baru berdiri 2 tahun yang lalu, dan anehnya perusahaan ini jauh sekali melenceng dari perusahaan utama Raksana group yang berbisnis di bidang proyek dan real estate."


"Apakah kita akan melakukan meeting dengan mereka hari ini?"


Dewi memastikan beberapa agendanya. Takut jika ia benar-benar akan bertemu dengan William.


"Iyaa Bu, pihak mereka sudah mengonfirmasinya"


Dewi terdiam. Selama ini ia sudah menyembunyikan semua informasi terkait Sasa dari publik. Sudah saatnya semua berakhir, Arcila butuh bertemu dengan papanya.


Bukannya egois, tapi Dewi tidak ingin jika William menjadi ancaman untuk Sasa. Pria itu masih terjebak masa lalunya bersama Rose, apalagi setelah kelahiran Cila, anak itu akan semakin membuat ancaman untuk Rose.


"Siapa CEO nya?"

__ADS_1


Dewi kembali memastikan apakah ia akan benar-benar bertemu William atau tidak.


"CEO nya Pak William, tapi pihak mereka belum mengonfirmasikan siapa yang akan hadir Bu"


"Ya sudah, siapkan semuanya dengan baik"


Setelah mengatakan itu Dewi kembali sibuk dengan pekerjaannya. Apapun yang terjadi semua sudah berkahir. Apalagi sejak adiknya mengatakan merasa jatuh cinta dengan William, Dewi tidak bisa melangkah lebih jauh lagi.


Beberapa jam kemudian sekretaris Dewi memberi tahu jika semua pihak perusahaan William sudah hadir di ruang meeting. Dewi menghembuskan nafasnya berat.


"Selamat Pagi"


Semua tamu berdiri. Dewi melemparkan senyumnya ke arah rekan bisnisnya itu. Tapi semua berjalan berbeda, tidak ada William. Pria itu seperti tidak akan datang ke perusahaan kecil miliknya ini. Dewi sedikit mengelus syukur.


"Maaf saya terlambat"


Semua menoleh. Bukan. Itu bukan William, tapi Asisten Joy. Dia yang akan datang menjadi perwakilan penting dalam kerjasama ini.


Dewi terdiam. Asisten Joy baginya adalah kembaran William, tidak ada bedanya. Pasti setelah ini dia akan mencoba mencari tahu keberadaan Sasa dari Dewi.


Pertemuan itu berjalan dengan cukup baik. Beberapa keputusan dan perjanjian akhirnya disetujui bersama. Berbeda dengan apa yang Dewi bayangkan, Joy sama sekali tidak mencoba mencari tahu berada Sasa. Pria itu bahkan seperti tidak mengenal Dewi. Bahkan setelah meeting selesai, dia dengan cepat kembali lagi ke perusahaan mereka.


"Aneh, apa William benar-benar tidak ingin tahu keberadaan Sasa?"


Dewi menatap kepergian asisten Joy dengan perasaan yang masih penasaran.

__ADS_1


__ADS_2