Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Menggemaskan


__ADS_3

"Apakah kau sudah bisa melacak keberadaan Rose?"


Selesai makan malam kedua pemuda itu duduk santai di salah satu gazebo. Sasa sudah naik ke lantai dua, untuk beristirahat. Ada banyak hal yang ingin William pastikan terlebih dahulu kepada asistennya, Joy.


"Sepertinya wanita itu sudah tahu jika kita memata-matainya. Anak buahmu yang kau beri tugas kemarin memberi tahuku"


William mengangguk sambil mengisap rokok di tangannya. Pria itu seperti sudah paham apa yang terjadi.


"Kau tenang saja, dia hanya menuju ke Jepang untuk bertemu rekan kerjanya"


"Apa kau percaya itu Joy?"


Kalau boleh William jujur, ia sulit mempercayai wanita itu. Bisa jadi saja jika ia hanya melakukan manipulasi agar anak buah William dapat terkecoh dengan mudah.


"Entahlah, wanita itu memang sangat licik"


"Lalu, bagaimana dengan informasi keberadaan kakaknya Sasa?"


Inilah yang harus William pastikan. Semakin lama kakaknya ditemukan, akan semakin lama juga Sasa bisa tetap berada di sisinya.


"Bukannya kau mau aku bermalas-malasan untuk mencari informasi itu?"


Joy menatap ke arah William sambil memasang wajah menyebalkan. Asistennya itu sudah tahu apa yang William inginkan. Berleha-leha saja dalam tugas yang satu ini.


"Bukan begitu......tapi yaa tidak apa-apa juga kalau kau ingin malas-malasan mencari informasinya"


"Sudah ku tebak"


"Kau seperti tidak tahu aku saja Joy"


"Tapi sepertinya sebentar lagi aku akan menemukan keberadaan kakaknya, orang suruhanku sudah mencari keberadaan dewi di beberapa negara"


William mengangguk. Walaupun berat ia tetap harus menepati janji. Lambat laun Sasa pasti juga akan pergi darinya.


"Yaa sudah, aku mau tidur"


William berdiri dan kemudian berjalan meninggalkan Joy. Asistennya itu hanya bisa tertawa melihat William yang sepertinya mulai bucin kepada Sasa.


Kamar Sasa tidak terkunci. Pria itu mengembangkan senyumnya mendapatkan fakta jika ia akan mudah menyusup masuk ke dalam kamar istrinya.


Sasa sudah tidur. Ia membelakangi William. Pria itu menutup pintu dan berjalan mendekat ke arah tempat tidur. Perlahan tapi pasti, William sudah berbaring di sisi Sasa. Pria itu harus hati-hati agar Sasa tidak terbangun dan malah mengusirnya keluar dari kamar ini.


"Cantik sekali jika tidur yaa"


William memperhatikan tiap deru nafas Sasa. Menyeka anak rambut yang tanpa sengaja menutupi beberapa sisi wajahnya. William memeluk istrinya dengan lembut. Membuat wajah pria itu tenggelam dalam cekuk leher istrinya. Sasa sempat bergerak, mungkin merasa geli, tapi itu semua belum cukup untuk membuat wanita itu bangun dengan mudah.


"Wangi"


Rambut Sasa benar-benar harus. Aromanya mampu membuat William kalang kabut. Hanya dengan mencium aroma wangi Sasa, libido pria itu dengan mudah menjadi naik. Padahal sebelum, melihat wanita di club malam saja pria itu merasa jijik. Tapi entah mengapa Sasa menjadi sangat berbeda. Wanita itu selalu saja berhasil membuat William tidak berkutik.

__ADS_1


William menciumi leher Sasa. Meninggalkan bekas kepemilikan di sana. Bukan karena apa, tapi pria itu tidak bisa menahan rasa gemasnya. Ingin sekali ia menggigit semua bagian tubuh Sasa. Menikmati miliknya.


Sasa tampaknya mulai terganggu dengan aktifitas yang William lakukan. Wanita itu menggeliat, berbalik dan kemudian berhadapan dengan wajah cemas William. Pria itu takut jika Sasa akan marah besar melihat tingkahnya ini.


Sasa perlahan mengerjab membuka matanya. William dengan sigap langsung memeluk Sasa dengan sangat kuat. Membawa wajah wanita itu masuk ke dalam dadanya yang bidang. Sasa syok. Heran dengan apa yang William lakukan kepadanya.


"Lepaskan"


"Tidur saja lagi"


"Lepaskan dulu"


"Biar saja seperti ini"


"Aku tidak bisa bernafas"


William terlalu kuat mendekap istrinya, membuat Sasa kesulitan bernafas.


"Janji dulu"


"Apa?"


"Jangan kabur, aku ingin tidur memelukmu malam ini"


"Iyaa, tidak akan. Lepaskan dulu makanya"


"Kenapa menatap aku seperti itu"


Sasa tidak terima. Tatapan William membuatnya merasa deg-degan.


"Nanti kau kabur"


"Aku tidak kabur, aku capek"


"Ya sudah, sini"


William membuka tangannya lebar. Mengisyaratkan agar Sasa bisa tidur di atasnya. Sasa cukup heran, bukannya tidak mengerti tapi ia tidak habis pikir harus tidur berdekatan dengan William.


"Tidak mau"


"Kan kau sudah berjanji tadi, ingat yaa janji itu tidak boleh dikhianati"


Mendengar hal itu Sasa membuang nafasnya berat. Lagian ini sudah sangat malam untuk berdebat bersama suaminya. William pasti tidak akan mau mengalah, ia yang harus terus sabar.


"Ayo"


Sasa mendekat lalu merebahkan tubuhnya di sisi William. Agak aneh memang, tapi perempuan itu harus mencari posisi nyaman agar bisa terlelap. William tersenyum lebar. Kali ini Sasa tidak menolak permintaannya.


Pria itu mendekatkan posisinya ke arah Sasa. Membuat deru nafas kedua anak manusia itu saling bertabrakan. Sasa sangat canggung. Walaupun ia pernah seintim ini dengan William, tapi tetap saja ia terus merasa cemas dan salah tingkah.

__ADS_1


"Rambutmu harus, pakai sampo apa?"


"Sampo yang biasa saja, yang ada di kamar mandi"


"Oohh ya? Tapi kenapa berbeda yaa"


"Tidak tahu, mungkin karena rambutku bagus"


Sasa terkekeh.


"Apa kau ingin datang ke acara besok?"


"Hmmm....tidak usah"


"Kenapa? Aku kan mau menemanimu"


"Nanti kalau kau ikut, pasti akan banyak pengawal, aku tidak suka"


"Nanti biar aku suruh mereka untuk tidak ikut"


"Nanti kau menjadi menyebalkan, aku tidak suka"


William paham. Istrinya mungkin saja tidak ingin ia menghancurkan acara itu. Kalau boleh jujur William memang tidak suka kegiatan seperti itu. Katanya membosankan dan tidak ada faedahnya.


"Memangnya kau sangat suka dengan aktor itu?"


"Iyaa, dia tampan, baik, Sholeh"


William seketika kesal jika melihat wajah istrinya berbinar-binar menjelaskan tentang pria lain di hadapannya.


"Dari mana kau tahu dia Sholeh, kau kan hanya melihatnya lewat film, bukan real life"


"Setidaknya di dalam film dia sholeh, dari pada suka minum-minum lalu mabuk"


William sedikit merasa tersinggung. Sasa sepertinya menyindir perbuatannya di London waktu itu.


"Aku kan sudah minta maaf, kenapa masih kau ungkit-ungkit?"


"Aku tidak membicarakan mu, kau merasa yaa?"


Sasa tertawa ketika melihat ekspresi kesal William. Pria itu meluapkan emosinya dengan mencium bibir ranum sasa. Wanita itu langsung membulatkan matanya. Kaget William tiba-tiba kembali berulah.


"Jangan nakal seperti itu lagi istriku, nanti aku hukum"


"Sudah, tidurlah"


William memejamkan matanya. Meninggalkan Sasa yang masih kesal dengan perbuatan suaminya itu. Tapi Sasa merasa berdebar saat pertama kali William memanggilnya dengan sebutan yang terbilang sayang. Istriku. Sasa tersenyum kecil, lalu segera membalikkan tubuhnya membelakangi William. Ia tidka ingin jika pria itu melihat wajahnya yang sekarang merah seperti kepiting rebus.


William yang merasa pergerakan Sasa langsung saja memeluk tubuh kecil istrinya. Sasa tidak akan menentangnya, membiarkan William menikmati aroma tubuhnya dari dekat.

__ADS_1


__ADS_2