Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Jahil


__ADS_3

Sasa menatap wajah Wili. Wajah yang tampak sendu dan memiliki banyak beban itu. Dia benar-benar berbeda dari saat bangun, kalau bangun dia arogan, keras kepala dan suka seenaknya. Tapi sekarang ia seperti anak kecil yang ingin dimanja. Wili menggeliat. Entah karna dorongan dari siapa, Sasa membelai wajah Wili, jemarinya perlahan menyentuh hidup mancung milik Wili. Sasa bahkan lupa jika yang berada di hadapannya sekarang adalah orang yang suka menyiksanya, iblis terkutuk yang dinobatkan sebagai tuan muda keluarga Raksana.


Mata Wili terbuka ketika Sasa hendak menyentuh bibir merah miliknya. Sasa yang belum sadar terus memainkan jemarinya di sana. Wili tersenyum. Sasa baru sadar ketika tiba-tiba bibir itu bergerak mengukir senyum. Sasa tersentak, tapi Wili makin mempererat pelukannya.


"Lepaskan tuan, saya mau ke toilet." Sasa terus mencoba. Tapi Wili tetap tidak mau melepaskannya.


"Lancang sekali kau yaa, berani-beraninya kau menyentuhku? hah?" Wili sebenarnya tidak marah, dia hanya gemas dengan ekspresi Sasa yang ketakutan.


"Mmmmaaaf tuaan, saya tidak sengaja, tidak tahu kenapa tiba-tiba menyentuh wajah tuan." Sasa mencoba menjelaskan apa yang terjadi.


"Dasar gadis tengik." Wili mentoel kening Sasa, lalu ia beranjak menuju kamar.


Sasa mengelus jidatnya.


"Apa yang kau tunggu? aku ingin mandi!" Sasa bergegas menuju kamar untuk menyiapkan air.


 (Bagian 2 Bab 19)


"Sasa, kamu sedang apa ya? rasanya saya sangat rindu sama kamu".


Rico menatap langit dari jendela kamarnya. Sejak tadi wajah Sasa terus saja mondar-mandir dipikirnya, membuat dia susah tidur. Tidak sabar rasanya untuk menunggu hari esok, cepat-cepat bertemu Sasa.


Rico tersenyum kemudian kembali mengerjakan pekerjaannya, selain lembut Rico juga pekerja keras. Pasti semua wanita akan jatuh cinta jika melihat pesona Rico. Tapi, tidak ada yang berhasil untuk mendapatkan hati Rico. Hampir semua wanita gagal. Rico bahkan pernah diisukan gay, hanya karna ia tidak ingin berpacaran atau bahkan menikah. Tapi sejujurnya sejak bertemu dengan Sasa, Rico seperti memiliki sesuatu hal yang baru di dalam hatinya. Sesuatu yang membuatnya terus memikirkan Sasa.


 


Sudah hampir setengah jam Wili di kamar mandi. Entah apa yang dilakukan pria jangkung itu. Sasa melirik kamar Wili.


"Kenapa tidak dari kemarin aku mencari tas itu, bisa jadi dia menyembunyikan nya di sini." Sasa perlahan mulai menyusuri setiap sudut kamar Wili.


Ia membuka setiap lagi, tapi tetap saja tidak ada.


"Ahh, seperti di kamar ini tidak ada, apa jangan-jangan di ruang kerjanya yaa?"


Saat Sasa mencoba mencari kembali di bawah tempat tidur, Wili keluar dari kamar mandi. Ia mendapati Sasa yang sedang berlagak aneh.

__ADS_1


"Apa yang kau cari?"


Sasa yang kaget langsung hendak untuk berdiri, tapi kepalanya malah terpentok ke tempat tidur.


"Aduhhhh!" Kata Sasa sambil mengelus-elus kepalanya yang terbentur agak kuat.


"Hahahahah, dasar gadis bodoh!"


Tawa Wili membuat Sasa kesal. Apa dia tidak ada niat membantu Sasa? Wili menaruh handuknya sembarangan. lalu ia mulai membuka laptop dan melihat jadwal untuk besok. Sasa memungut handuk basah Wili dan membawanya menuju kamar mandi.


"Untung aja dia gak curiga" Sasa mengelus dadanya perlahan.


"Ooh yaa, bagaimana rasanya menjadi asisten?"


Wili bergumam, Sasa yang tahu pertanyaan itu ditujukan padanya langsung menjawab.


"Kenapa? asik kok, apalagi bosnya baik dan tidak suka seenaknya."


Sasa dengan polosnya menceritakan jika Rico sangat baik. Tidak sadar jika kata-kata itu bisa membuat telinga Wili panas.


"oooh yaa? jadi bos mu itu sangat baik? kau suka padanya ya?" Tanya Wili spontan.


"bagaimana yaa, siapapun wanita jika sudah bertemu mas Rico, pasti akan suka. Mas Rico itu laki-laki idaman banget."


Wili semakin naik pitam. kemarin Jero sekarang Rico, banyak sekali saingannya.


"Lihat lah, kau memanggilnya dengan sebutan yang sopan, sedangkan aku? aku ini suamimu." Wili mendesis.


"Memangnya aku salah?" Sasa belum peka dengan apa yang dimaksud Wili.


"Aisshhh, apa kau tidak punya panggilan lain selain memanggil ku 'tuan' ?"


"Adaaaa kok!"


Sasa tertawa jahil. Wiliam tidak tahu saja, Sasa bahkan punya panggilan spesial untuknya. Kalian pasti tahu apa itu. Bukannya kata 'iblis' terdengar mewakili sifat Wili? itu lebih cocok untuknya.

__ADS_1


"Jangan-jangan kau punya panggilan yang aneh lagi, beraninya kau!" Wili curiga dengan ekspresi Sasa yang tampak aneh.


"Siapa bilang, ti.tiidak kok!" Sasa mencoba untuk membantahnya.


"Awas saja yaaa, kalau kau berani memanggilku dengan nama yang jelek, aku ini tuan muda Raksana" Sasa hanya mengangguk, Wili sudah kembali angkuh dan sombong.


"Lalu aku harus memanggil tuan dengan sebutan apa?" Sasa bertanya.


"Terserah!"


"Bagaimana aku bisa tahu, terserah itu seperti apa?"


"yaa terserah kau saja!"


"sudah seperti perempuan saja, terserah, terserah."


"Kau membentak ku?" Wili nampak kaget saat nada Sasa mulai meninggi.


"b


Bukann tuan, tapi saya bingung harus memanggil tuan apa" Sasa frustasi.


"Panggil aku seperti kau memanggil bos idaman mu itu!"


"Jadi saya memanggil tuan, mas?" Tanya Sasa memastikan lagi.


"Dasar bodoh, kenapa harus bertanya lagi sih?"


"Maaf mas William!"


"Nah, pintar!"


Sasa harus benar-benar sabar menghadapi kelakuan Wili. kadang Ia sangat dingin, kadang dia sangat manja. Harus butuh tenaga ekstra untuk mengahadapi iblis itu.


Wili merebahkan tubuhnya di atas kasur, setelah pekerjaannya untuk besok selesai ia cicil. Sedangkan Sasa, malam ini ia masih harus kembali tidur di atas sofa. Besok dia harus bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan. Ia tidak ingin dibentak Wili lagi.

__ADS_1


"Terimakasih Sasa, hari ini kamu sudah berkerja keras. Sedikit lagi kita akan bertemu mbak Dewi."


Sasa menutup perlahan kedua matanya. Suhu ruangan itu cukup dingin. 18C, ntah sengaja atau bagaimana Wili akhir-akhir ini harus tidur disuhu sedingin itu.


__ADS_2