Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Koper


__ADS_3

"Pria ini benar-benar menyebalkan" pekik batin sasa.


" dann yaa, besok kau ikut aku bertemu mama di rumah saki, kondisinya buruk"


Sasa mengagnguk pelan. Wili meninggalkan meja makan dan berjalan ke arah kamarnya. Dan tersisa Sasa yang harus menelan pil kenyataan jika yang dikatakan oleh anin adalah sebuah kesalahan. Ditambah juga ida yang harus membereskan semua keributan dapur yang di perbuat Wili.


"sudah seperti kapal pecah saja" Pekik sasa saat melihat wajah dapur yang berantakan.


-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Di sisi lain, Wili asik berselancar ria dengan benda pipih di depannya. Ia tidak melihat kedatangan Sasa. Wanita itu tampak menggulung lengan bajunya karena basah terkena percikan air saat mencuci semua piring.


Sasa mendekati koper-koper yang menghalangi pintu kamar ganti. Koper ini memang tidak besar. Tapi cukuplah untuk memuat semua baju untuk satu minggu. Apalagi jika Wili harus membawa mantel tebal, itu akan membutuhkan ruang yang besar.


" Apakah tuan sudah menyiapkan barang-barang tuan?" Perkataan Sasa itu tanpaknya tidak membuat Wili bergeming. Sasa kembali memanggil suaminya itu.


" Mass, mass" Barulah panggilan untuk ketiga kalinya berhasil membuat pria itu menoleh ke arah sumber suara.


" kenapa?" Dia bingung, suara Sasa terdengar lebih mirip suara teguran ketimbang nada bertanya.


" Tuli sekali" Gumam sasa. Wili masih bisa mendengar suara itu.

__ADS_1


" ehh ehh, bilang apa kau? " Sasa yang menyadarinya langsung buru-buru berkilah.


" aaaku tidak bicara apa- apa kok, salah dengar kali, ehh, atau kucing, iyaa kucing itu."


namun sepintar apapun Sasa, gerak gerinya tetap saja akan mudah dimengerti Wili.


" Pintar sekali berbohong"


" Iyaa, iyaa, maaf, habisnya anda tidak mendengar pertanyaan saya tuan wili!"


" apa yang kau tanyakan, ULANGI!"


Sasa membuang napasnya.


" Belum, aku malas. Lagiankan itu memang tugas mu, tanpa aku suruh pun kau seharusnya mengerti"


Sasa mengumpat di dalam hatinya. Menyesal bertanya hal itu. Pria ini hanya berubah beberapa saat saja. Sekarang sudah kembali menyebalkan.


" anda mau pakaian yang mana saja? biar nanti saya yang akan menyusunnya ke koper"


" Kau pilihkan saja, aku tidak peduli."

__ADS_1


Aaaaaaaaaaaaaaaaa. Ingin saja Sasa berteriak. Bukan hanya wanita saja yang berbelit-belit. Pria yang satu ini juga aneh. Sasa benar-benar tidak habis pikir. Jika saja nanti sudah dia pilihkan, bagaimana jika tuan muda ini malah tidak suka dan meminta diambilkan pakaian yang lainnya. Itu benar-benar, merepotkan.


" Baiklah tuan,"


Sasa mulai membuka satu persatu lemari pakaian itu. Banyak sekali brand terkenal disini. Wanginya juga wangi yang lembut. Aroma yang khas dengan Wili. Lavender.


Sasa dengan telaten memindahkan beberapa potong pakaian kedalam koper. Mulai dari baju formal hingga baju yang terkesan santai.


Cukup lama Sasa berkutat dengan itu semua. Ini memakan waktu 30 menit lamanya.


"hufff selasaii" Sasa menutup koper dan menyusunnya di samping lemari.


Wili yang sejak tadi memperhatikannya di mabang pintupun menatap Sasa dengan senyum yang meremehkan.


" Lama sekali, hanya menyusun itu saja kau hampir menghabiskan waktu 30 menit"


Bukannya diberi apresiasi, Wili malah semakin membuat Sasa merasa kesal.


" aku takut kamu tidak suka nanti mas, jadi aku mempertimbangkan beberapa hal"


" ya ya ya"

__ADS_1


Kalau boleh, sasa ingin sekali menyencil jidat pria ini.


__ADS_2