
William terus mendekat, semakin dekat. Deru nafasnya bahkan terdengar sangat berat dan tidak beraturan. Sebelum itu, ia menekan tombol lift menuju lantai 1. Tentu itu bukan lantai yang Sasa tuju. itu adalah basemen.
William mendekatkan tubuhnya kearah Sasa. Sasa mencoba memberontak ketika kedua tangannya ditarik keatas kepalanya.
" Kau tidak akan lari lagi dariku nona Sasa"
William Mendaratkan satu ciumannya pada pipi Sasa. Sasa Terbelalak, kemarin William sudah merenggut ciuman pertamanya, dan hari ini William kembali mencium pipinya.
" Breng**k, apa maumu hah?"
Nada suara Sasa yang meninggi. Tidak terima dengan apa yang barusan William lakukan kepadanya.
"Aku mau kamu Sasa, Kau harus menikah denganku!"
Sasa yang mendengar hal itu lantas merasa takut apalagi jika harus berhadapan dengan William. Sebuah mimpi buruk.
"Aku tak akan menikah denganmu, tak akan!"
Sasa terus saja memberontak. Berusaha untuk lepas dari cengkraman William.
"Apa kau lupa, aku adalah CEO di perusahaan ini, Kemanapun kau pergi,kau akan terus dihantui olehku."
__ADS_1
Bibir merah itu seakan menggoda William untuk terus melu**tnya.
"Hiks,hiks, Ampun, lepaskan saya!" William tak menggubris tangisan Sasa yang semakin sendu itu.
"Joy, siapkan pernikahanku secepatnya, aku akan menikah di depan Mama!"
Sasa terbelalak mendengar pembicaraan William dengan orang yang sedang ia telpon.
Lift terbuka, tangan Sasa ditarik paksa oleh William. Sasa memberontak. Namun semuanya gagal, semakin keras ia berusaha untuk meloloskan diri, maka semakin kencang juga William mencengkram tangannya.
Tubuh Sasa di hempas paksa oleh William kedalam mobil. Sasa terus menangis. William melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi kearah rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Roy sudah siap menunggu kedatangan Wili di tempat parkir rumah sakit.
"Semua persiapan sudah saya siapkan tuan, Penghulu dan para saksi sudah standby."
William mengangguk, ia membuka pintu tempat Sasa dan menarik paksa gadis itu.
"Dengarkan aku, aku tahu dimana tas yang kau cari, Menikah denganku untuk sementara waktu, aku akan mengembalikan tas itu kepadamu. Anggap saja ini sebagai pernikahan kontrak, Aku di untungkan, dan kau juga di untungkan."
sasa hanya diam, bahkan jika ia menolak, pernikahan ini juga akan terus di lakukan.
__ADS_1
"Mama, William membawa wanita ini kepada mama, Aku akan menikah sekarang juga, di depan Mama," William mengisyaratkan dengan matanya kepada Sasa untuk menyapa angel. Sasa menurut. ia menggenggam jemari angel.
"Halo Tante, nama saya Sasa. Sa..yaa. akan me..nikah dengan pak William." Sasa melirik sekilas kearah William. William tersenyum.
Tampa di duga jemari angel bergetah menggenggam jemari Sasa. Sasa terkejut. William berlari memanggil dokter.
Dokter bilang bahwa angel telah melewati masa kritis panjangnya.
Wili tersenyum bahagia. Pernikahan merekapun dilangsungkan.
"Sah"
Pernikahan yang tak pernah Sasa harap kan, Siapa juga yang berharap akan menikah dengan cara aneh seperti ini.
Bertemu beberapa hari, lalu menikah. Tak ada baju pengantin, wajah acak-acakan, bahkan tak ada hal yang bisa membuat bahagia dari pernikahan ini. Tapi apa daya, tujuannya ke kota ini adalah untuk mencari Dewi. Cara satu-satunya hanyalah dengan menikah dan mendapatkan Kembali tas itu.
Setelah akad, Sasa langsung diantarkan oleh Joy ke apartemen milik William. Apartemen mewah. Setelah diajarkan oleh Joy cara menjalankan semua fasilitas apartemen ini, Joy langsung pamit untuk kembali ke rumah sakit. Meninggalkan Sasa sendiri.
Sasa memasuki kamar yang sangat besar.
"Sepertinya ini kamar iblis itu, aroma parfumnya pun sama." Sasa merebahkan tubuhnya di atas kasur besar dan empuk itu. Tampa sadar Sasa pun tertidur, masuk kedalam mimpi karna tubuh yang cukup lelah.
__ADS_1