
Hari demi hari terus terlalu. Sasa sampai sekarang sudah tidak pernah tahu bagaimana kondisi Suaminya. Ah atau sudah pantas ia sebut sebagai mantan suami saja? Putri kecil mereka tahun ini genap berusia empat tahun. Dia sangat mirip dengan William. Cerdas dan selalu bisa membuat mamanya merasa senang.
Sesuai dengan janji Dewi, Sasa kembali memulai pendidikannya di perguruan negeri. Bulan lalu ia baru saja wisuda. Gelar sarjana seperti menjadi impian yang terwujud. Ia merasa puas. Tapi tetap saja ada bagian hidupnya yang terasa tidak lengkap.
"Kita pindah ke kota saja ya Sa, mbak benar-benar harus butuh kamu di sana. Kamu kan tahu sendiri perusahaan mbak lagi naik-naik nya"
Dewi sejak tadi pagi terus membujuk adiknya agar mau ikut dengannya ke kota. Sasa tersenyum. 5 Tahun tanpa kabar dari William sudah cukup baginya untuk paham jika pria itu tidak benar-benar mencintainya. Sasa tidak perlu harus menunggu lebih lama lagi. Ia harus punya masa depan yang cerah agar Alicia juga bisa merasa cukup.
"Iyaa deh, aku mau"
Dewi memeluk adiknya. Rasa senang yang memuncak. Dengan itu Alicia bisa masuk ke sekolah yang bagus dan Dewi bisa mengurus pekerjaannya.
"Besok kita berangkat ya, mbak buru-buru banget"
Sasa tidak bisa menolaknya lagi. Dewi memang harus segera mungkin mengurus perusahaannya di ibu kota, itu lebih mending dari pada mereka harus pindah kembali ke London. Sasa belum siap untuk menginjakkan kakinya di sana lagi. Sudah cukup baginya bayang-bayang William, ia tidak ingin terus dihantui oleh pria itu.
"Cilaaaaa......Kita akan pindah ke kota"
Dewi menciumi pipi keponakannya dengan sangat gemas. Anak itu sudah tumbuh menjadi bocah yang sangat cantik. Apalagi jika melihat matanya itu, semua orang pasti akan terpana.
__ADS_1
"Wahhh benelan onty? Cila happy banget onty"
Sasa tersenyum melihat wajah polos anaknya itu. Sejak dulu Cila memang ingin sekali pindah ke kota, alasannya agar bisa sekolah di pre school. Dewi selalu saja menghasut Cila agar mamanya mau menyetujui keinginan mereka.
Besoknya Dewi dan Sasa sudah sampai di salah satu rumah besar. Sasa sudah mewanti-wanti kakaknya itu untuk tidak perlu menyiapkan rumah yang mewah untuk mereka, tapi bagaimana lagi, Dewi sungguh ingin menikmati hasil kerja kerasnya dengan memastikan Arcila nyaman tinggal di rumah ini.
"Kamu gak usah bawel deh Sa, ini untuk Cila"
Dewi meninggalkan Sasa dengan wajah yang mengejek. Setelah Cila lahir, Dewi punya saja cara agar keinginannya disetujui oleh Sasa. Mulai dari sekedar membeli beberapa furniture rumah yang terbilang mewah, katanya agar Cila nyaman. Kalau sudah seperti itu, Sasa tidak bisa melarang kakaknya untuk tidak berfoya-foya.
"Kamu tidurkan saja Cila di kamar sa"
"Mbak senang kalau kamu udah bisa move on kayak gini"
Tahu apa Dewi dengan isi hati Sasa. Perempuan itu bahkan sangat tersiksa dengan perasaannya sendiri.
"Apaansih mbak!"
"Aku hanya pengen kamu bahagia sa, pernikahan kalian kan tidak terdaftar secara resmi. Hanya agama saja, kalau dihitung-hitung kalian seharusnya sudah bercerai"
__ADS_1
Sasa menatap ke arah kakaknya. Jarang sekali Dewi membahas hal ini. Sekali ia membahasnya langsung membuat Sasa kesal.
"Kenapa mbak bilang gitu sih? Dia belum pernah menalakku!"
Sasa menjawab dengan nada yang sedikit meninggi. Kesal dengan apa yang barusan Dewi Katakan.
"Kamu masih mencintainya Sa?"
Tiba-tiba Dewi bertanya dengan suara yang lembut. Jujur saja melihat kondisi Sasa beberapa tahun ini membuat Dewi tersiksa. Adiknya itu terus saja mencoba tegar dan kuat, ia selalu menyembunyikan perasaan yang mungkin saja setiap detik mencekik hatinya.
"Aku capek ah mbak, aku mau istirahat saja!"
"Jawab mbak sa! Apa kamu mencintai pria itu, setelah apa yang dia lakukan kepadamu?"
Sasa terdiam. Apa yang harus ia katakan? Apa cintanya ini masa persis dengan apa yang William rasakan? Atau hanya dia yang memilikinya.
"Sasa gak tahu, semenjak hamil Cila, Sasa selalu memikirkan pria itu. Kadang Sasa sedih kenapa putriku harus jauh dari papanya. Tapi mau bagaimana lagi mbak? Ini sudah takdir."
Sasa berjalan meninggalkan Dewi. Wanita itu menahan tangisnya. Baru kali ini ia mengutarakan perasaannya yang selama ini ia tahan.
__ADS_1
Sedangkan Dewi, wanita itu terlihat tersenyum tipis. Ia salah, Sasa tidak pernah bisa melupakan William. Pria itu benar-benar telah membuat adiknya menderita diterpa rasa rindu.