Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
cemburu


__ADS_3

"Sebagai kado pernikahan untuk nyonya William, aku akan menjadi investor dan terlibat dalam perusahaan mu di London" William yang mendengar itu langsung bersorak ria dalam hatinya. Masalah besar sudah teratasi. Perusahaan di London akan keluar dari krisis pembiayaan.


"terimakasih banyak tuan"


"Ingattt, ini aku lakukan untuk istrimu yang cantik ini"


"terimakasih banyak tuan" Kali ini Sasa yang mengutamakan terimakasihnya. Tuan Zaid tersenyum dan mengangkat gelas minuman ditangannya.


Di sembarang sana Rico yang masih syok mendapatkan kenyataan jika wanita yang ia idamkan adalah istri dari bosnya. Rahang Rico mengeras. Perasaan hancur. Baru saja ingin memulai kisah cinta, tapi bukunya sudah dulu tamat sebelum mulai menulis.


Telfon Rico berdering. Nomornya seperti bukan dari negara ini. Rico segera menjauh dan mengangkat telfonnya.


"Sudah, aku setuju" Rico menjawab pelan.


"Tidak, sebelum kau datang, aku sudah pastikan semuanya selesai, apartemen yang kau inginkan juga sudah aku siapkan. Hanya beberapa lantai dibawahnya" Pria itu menjelaskan dengan wajah yang masih merah padam.


"Aku tidak cemburu, memangnya apa yang bisa aku lakukan?"


"Yaaa, kita lihat saja nanti" Telfon terputus.


Rico yang sudah merasa males dengan acara memilih untuk pergi meninggalkan pesta. Lagian dia tidak akan ikut dan terlibat dalam proyek di London. Ada ataupun tidak, itu tidak penting bagi perusahaan.

__ADS_1


 


Acara selesai pukul 2 dini hari. Semua tamu segera kembali ke kamar hotel yang sengaja disiapkan oleh William. Temu ramah ini berjalan sesuai yang diinginkan oleh tuan muda itu. Proyek dan perusahaan di London berhasil mendapatkan banyak suntikan dana investasi. Ini tidak akan terjadi tanpa campuran tangan sasa. Walau berita pernikahan mereka akan tersiar keseluruhan dunia, setidaknya mereka berhasil mendapatkan apa yang dinginkan oleh perusahaan.


Sasa tanpaknya sangat lelah. Apalagi tumitnya yang begitu nyeri, 4 jam dengan sepatu berhak memang sangat mematikan. Itu adalah pengalaman pertamanya memakai sepatu seperti itu. Tingginya hampir 9 cm. Di tambah baju yang pendek, udara malam silih berganti menampar kulitnya.


William melirik sasa. Melihat wanita itu mengaduh dan memijat kakinya membuat William merasa bersalah.


"Apa sangat sakit?" William duduk di samping Sasa.


Sasa melirik dan mengangguk pelan. William kembali berdiri dan kini mengacak-acak meja di samping kasur. Obat pijat, yang bisa memberikan efek hangat dan meringankan nyeri. William sering menggunakannya ketika lelah bekerja. Jangan heran kenapa benda itu bisa berada di sini. Setiap bosan di apartemen, William selalu ingin menghabiskan waktu di kamar hotel ini.


"sini" William meraih kaki Sasa. Sasa yang terkejut langsung membulatkan matanya.


"diam saja" Kalau sudah seperti itu, Sasa tidak bisa menolaknya lagi. William bisa-bisa marah nanti.


William dengan telaten mengoleskan krem itu ke tumit Sasa. Ia juga memijatnya dengan lembut.


"Terimakasih ya, berkat mu perusahaan berhasil keluar dari krisis "


Sasa mendongak, bagaimana bisa pria ini berubah dengan cepat hari ini. Tadi siang dia habis-habisan memarahi Sasa dan malam ini dia begitu baik.

__ADS_1


"Apa karena dia ada maunya ya?" Pikir Sasa.


"Tapi, karena semua media sudah membuat berita tentang kita, mulai besok kau tidak boleh bekerja di kantor. Aku akan memberi tahu Rico"


Sasa yang mendengar itu langsung saja tidak terima dan hendak menarik kakinya dari tangan Wili. Namun dengan cepat William menahannya. Sasa yang tidak seimbang jatuh ke lantai kamar. William yang hendak menahannya justru ikut terjatuh.


Wajah mereka berjarak sangat dekat. Bahkan Sasa bisa merasakan tarikan nafas Willi. Mereka terdiam. Tidak bergerak. Seakan dua anak manusia itu begitu nyaman dengan posisi mereka saat ini.


30 detik.....


60 detik.....


2 menit......


"kringgg......."


Suara telfon masuk membuat mereka akhirnya tersadar dan buru-buru menjauh. William terlihat salah tingkah. Dia bergegas keluar dari kamar dan meninggalkan Sasa sendiri.


"ahhhh, apa ini" Sasa menyentuh dadanya. Jantungnya berdetak sangat kencang.


"

__ADS_1


"


__ADS_2