
Setelah pertempuran tadi malam, Sasa bisa menatap dirinya dengan penuh tatapan menjijikan dari arah kaca. Gadis itu sekarang sudah benar-benar resmi menjadi seorang wanita seutuhnya. Bahkan dirinya sekarang tidak pantas lagi disebut sebagai seorang gadis.
Sasa sejak bangun dari tidur memutuskan untuk mengurung dirinya di kamar mandi. Tubuhnya terasa sakit. Persendiannya terasa ingin copot dan melompat sembarangan. Jangan tanya bagaimana area rahasia itu, Sasa bahkan harus berjalan lambat untuk bisa meredam rasa nyeri di bagian bawah tubuhnya.
"Aku kotor.... bagaimana bisa pria itu merenggut nya dariku"
Tangis wanita itu menjadi-jadi. Mahkota yang ia jaga untuk suaminya kelak kini hanya tinggal penyesalan. Memang benar William suaminya, tapi bukan itu yang wanita itu inginkan. Dia hanya ingin menyerahkannya kepada seseorang yang benar-benar mencintainya. Pria yang dia pun mencintainya.
William dan Sasa hanya terikat sebuah perjanjian. Dan mungkin saat mereka mendarat kembali ke tanah air perjanjian itu juga akan berakhir. Ini sudah di penghujung kesepakatan. Sasa menggigit bibirnya dengan kuat. Hampir saja berdarah.
"buka......"
Itu suara berat William yang berusaha masuk ke dalam kamar mandi. Sasa ketakutan. Bayangkan kejadian semalam berhasil membuat dirinya trauma. Suara William bahkan membuat dirinya tidak bisa bernafas dengan tenang. Deru jantung nya semakin cepat.
"Sasa......buka!"
Suara gedoran pintu semakin nyaring terdengar. Tapi bagaimana bisa Sasa membukanya. Pria itu berhasil telak membuat hati Sasa berkecamuk. Pria itu menorehkan luka yang semakin besar.
"buka atau aku dobrak!"
Tanpa menunggu aba-aba William berhasil mengobrak pintu. Pria itu terdiam melihat Sasa yang sudah duduk bersandar di sisi dinding kamar mandi.
"are u okey?"
William yang masih mengenakan boxer nya itu berjalan mendekat ke arah Sasa.
"Hentikan! Pergi!"
Sasa berteriak. Wanita itu melemparkan semua barang yang berada dekat dengannya ke arah William. Pria itu terlihat sangat khawatir.
"Sa......"
"pergi!"
Wanita itu mempererat pelukan di kedua kalinya. William mengusap wajahnya kasar.
"lepaskan!"
William dengan cepat mengangkat tubuh sasa. Wanita itu berusaha untuk melepaskan diri. Dia memukul dan bahkan mencakar tubuh William. Tapi pria itu tidak menghentikan dirinya. Dia menghiraukan semua yang Sasa lakukan.
"Lepaskan aku!"
William menjatuhkan tubuh Sasa ke tempat tidur. Pria itu lalu menyelimutinya. Sasa hanya bisa menangis.
"Aku minta maaf"
Sasa mengalihkan wajahnya. Tak ingin jika harus menatap William. Pria itu sekarang menunjukkan betapa menyesalnya dia.
"Aku tidak sadar....aku benar-benar tidak sadar"
Bagaimana pun pria itu memang tidak seratus persen salah. Sasa tahu itu. William tadi malam dalam kendali minuman alkohol, yang mungkin saja membuat pikirannya hilang kendali.
__ADS_1
"Kamu tidurlah lagi, Nanti akan aku panggilkan dokter untuk memeriksa mu"
"Aku hanya ingin pulang"
Sasa membalas perkataan Willi. Pria itu menoleh ke arah Sasa yang masih tidak ingin melihat ke arahnya.
"Setelah semua selesai, kita akan pulang"
"Biar aku saja yang pulang sendiri"
"Tidak, kita akan kembali bersama-sama"
William bangkit dari posisinya. Pria itu membuka lemari pakaian dan langsung mengenakan kemeja. Sedangkan Sasa masih belum bisa untuk memaafkan apa yang sudah terjadi kepadanya tadi malam.
Benar saja, tidak beberapa lama setelah kepergian William salah satu dokter datang menemui Sasa. Pria itu memastikan semua yang William perintahkan ke apaanya.
"Semuanya aman nona, rasa nyeri akan segera hilang"
Dokter berkulit putih yang lancar berbahasa Indonesia. Wanita ini memang menghabiskan setengah umurnya tinggal di tanah air. Orang tuanya dulu bekerja di kedutaan. Lahir dan besar di jakarta.
Sasa yang mendengar penjelasan dari dokter hanya mengangguk pelan. Dia hany ingin semua segera berakhir.
(bagian 2 bab 54)
"Apakah salah kalau aku melakukan itu semua kepadanya?*
Sejak keluar kamar tadi William berulang kali terus mempertanyakan hal itu. Takut sekali dengan respon Sasa yang diluar pikirannya. Baru kali ini ada wanita yang tidak ingin disentuh oleh William Raksasa. Tuan muda yang kaya raya.
"Ada apa? Apa sudah baikan?"
Joy berjalan sambil membawa kopi ke arah William. Bos nya itu menelponnya secara tiba-tiba. Ia pikir William masih marah dan tidak ingin untuk bertemu dengannya lagi, tapi pagi ini telfon dari William membuat Joy tersenyum riang.
"Apa yang terjadi kepadaku tadi malam?"
"Kau mabuk!"
"Lalu?"
"Aku antar ke kamar mu lah"
"****!"
William mengumpat. Joy yang mendengar itu langsung menaruh rasa penasaran.
"Ada apa?"
"Aku yakin tadi malam itu bukan sekedar alkohol"
"maksud mu?"
"Aku yakin ada yang menambahkan sesuatu ke minuman ku tadi malam"
__ADS_1
Joy mencoba mencerna perkataan William. Pria itu masih tidak paham dengan perkataan Bosnya.
"Apa terjadi sesuatu ke pada sasa?"
Joy langsung mengingat Sasa. Takut jika William melakukan hal yang sadis ke pada wanita itu.
"Kau apakan Sasa?"
"Apa maksudmu?"
William yang mendengar itu tidak terima.
"Lagian sah-sah saja jika aku ingin melakukan itu semua. Wanita itu istriku sekarang"
Joy baru paham. Jadi pria ini uring-uringan hanya karena baru saja mendapatkan haknya. Joy meneguk kopinya dengan santai. Tidak ada yang perlu ia khawatirkan.
"Bukannya bagus, kau bisa mendapatkan hal yang luar biasa"
Joy mulai berbicara sangat santai ke pada William. Sedikit mengejek. Ini bukan jam kerja, jadi teman akan kembali menjadi teman.
"Tapi bukan seperti ini, kalau begitu sama saja aku memperkosanya"
"Apa kau ingin aku mencari tahu apakah ada yang mencoba menaruh obat perangsang di alkohol mu tadi malam?"
"Seharusnya kau tidak perlu bertanya lagi"
"Okey, aku akan cari tahu"
"Dan satu lagi, apakah ini sudah mau 3 bulan pernikahan ku dengan Sasa?"
Joy mengingat. Pria itu langsung mengangguk.
"Damn! Bisakah kau tukar surat perjanjian itu, tolong buat hingga menjadi 1 tahun"
Joy yang mendengar itu langsung tersedak. Tidak percaya dengan apa yang barusan William katakan. Pria itu menunda perpisahannya?
"Kenapa?"
"Kan kau lihat sendiri para kolega ku banyak yang tahu tentang Sasa, apalagi mamaku belum bangun dari koma, tugas wanita itu belum selesai"
"Tapi apakah itu tidak akan menyakiti Sasa? dia hanya ingin segera bisa bertemu kakaknya"
"Yaaa kalau begitu kau cari juga informasi keberadaan kakaknya"
"Pokoknya aku tidak ingin jika setelah sampai di Indonesia wanita itu meminta berpisah dariku. Aku belum mau"
"Apa kau menyukainya Wili?"
William terdiam. Kedua pria itu saling bertukar tatapan.
"Tentu saja tidak, tidak mungkin aku menyukainya"
__ADS_1