
"Kamu?"
Sasa langsung melepaskan diri dari dekapan laki-laki itu. Dengan tergesa-gesa Sasa merapikan dokumen-dokumen yang berserakan di lantai koridor. Tidak tinggal diam, pria itu langsung memungut satu per satu kertas yang berhamburan di lantai. Jero menyerahkannya kepada Sasa. Perempuan itu meraih kertas di tangan Jero dengan perasaan cemas.
"Terimakasih"
Sasa ingin sekali pergi dari hadapan Jero. Ingatan tentang kejadian di club membuatnya seketika malu. Sasa berjalan menjauh tapi Jero dengan cepat menghalangi langkahnya.
"Kamu kerja di sini? Pantesan saat aku ke club kamu nggak ada di sana"
Sasa merasa malu, bagaimana ia bisa bertemu dengan lelaki ini lagi. Jangan sampai karyawan di sini tahu jika ia pernah bekerja di club malam. Pasti kebencian dari beberapa karyawan wanita di sini semakin menjadi-jadi terhadap dirinya.
Sasa tidak peduli, dia harus segera lari dari sini. Tapi suara panggilan Jero masih saja terdengar mengejarnya. Ia harus segera menuju ruangan William.
Sasa berdiri ragu di depan pintu ruangan William. Dia sangat malas untuk bertemu dengan pria itu. Apalagi setelah kejadian di apartemen miliknya. Membayangkannya saja membuat bulu kuduk Sasa menggelitik ngeri.
"Bismillah!"
Sasa mengetuk pintu ruangan William. Ketukan pertama tidak ada jawaban. Gadis itu mencoba lagi. Benar saja, ketukan kedua akhirnya mendapatkan balasan. Suara berat pria itu terdengar menyuruh Sasa untuk masuk segera.
"Per..permisi pak, ada dokumen yang harus bapak tanda tangani"
Sasa terus menundukkan pandangannya. William tak bergeming, ia seakan tak memperdulikan kehadiran Sasa.
"Permisi pak"
Sasa mengulang kembali memanggil William. William menoleh.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Ada dokumen yang harus bapak tanda tangani"
Sasa menaruh dokumen itu di meja William. Namun William malah menggeser dokumen itu sehingga jatuh ke lantai. Sasa geram. Wanita itu tidak habis pikir dengan apa yang barusan William lakukan. Tidak ada sopan santun sama sekali.
"Saya sedang sibuk, dan sedang malas menandatangani!"
Sasa memungut dokumen itu dari lantai. Sedangkan William kembali sibuk menatap layar komputer di mejanya. Sasa kembali berdiri, perempuan itu mau tidak mau harus segera mendapatkan tanda tangan CEO Raksana group.
"Tapi pak.."
"SAYA BILANG SAYA MALAS, terserah kamu mau menunggu, apa kamu kembali tanpa mendapatkan tanda tangan saya yang sangat penting untuk Bosmu Richo!"
Suara William sedikit meninggi. Pria itu mengangkat satu kakinya. Duduk bak seorang raja. Sasa menjadi sangat kesal. Apa susahnya untuk Wili sekedar memberi tanda tangan berkas yang ia bawa.
Teriak Sasa menghardik Wili. Kesabarannya sudah habis. William sungguh keterlaluan menguji kesabarannya.
Wili terkejut. Baru pertama kali ada orang yang memarahinya kecuali keluarganya, malah karyawannya lah menghardiknya sekarang.
Di pintu ruangan Jero melongo menyaksikan drama yang di mainkan oleh William. Dengan kesal Sasa berjalan meninggalkan ruangan, Sasa menoleh sebentar kepada Jero, lalu kembali fokus karna dirinya begitu emosi atas perlakuan bosnya itu. Jero memberi ruang untuk Sasa keluar dari ruangan.
Jero menatap tak percaya ke arah William. Sahabatnya itu baru saja direndahkan oleh karyawannya sendiri. Hal yang mungkin paling anti dialami oleh sahabatnya itu.
"Wah, wah, wah, salut gua ama karyawan lu itu bro, baru Sekarang gua melihat sendiri kalau ada orangan yang berani memarahi seorang CEO Raksana Grup, William Raksana"
Jero tidak bisa menahan rasa geli di sekujur tubuhnya. Suara tawanya bahkan memenuhi ruangan William. Sedangkan pria itu hanya bisa diam memasang wajah dinginnya. Masih syok dengan apa yang Sasa lakukan kepadanya barusan.
__ADS_1
"Mau apa lu kesini?" Ketus Wili.
"Hai, gua kan sahabat lu, apa salah seorang sahabat mengunjungi sahabatnya?"
"Gua ga tertarik sama wanita-wanita j****g itu."
"Kalau sekedar minum kan ga papa bro? Apa lu ga bosan kerja mulu? Sesekali otak dan pikiran harus di manjakan bro! Ayo lah, besok malam juga akan ada Rendi, udah lama kan kita ga ketemu sama dia"
"Untuk apa gua ketemu sama orang munafik kayak dia? Lu lupa apa yang udah dia lakuin sama gua? Dia rebut Rose dari gua Jer"
Rendi adalah pria yang sangat dekat dengan William beberapa tahun yang lalu. Tapi pria itu malah menjadi selingkuhan kekasihnya. Membuat William menjatuhkan rasa benci yang teramat kepada Rendi.
"Iya gua ngerti, lagian itu kan udah lama Wil, dan menurut gua Randi udah nolongin lu buat tahu kebusukan wanita kayak Rose kan?"
"Tetap aja gua belum bisa maafin dia"
"Gua harap lu bisa gabung sama kita besok malam"
Jero menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu beberapa kali. Ia kemudian melangkah keluar ruangan. Jero berhenti, lalu berbalik.
"Jadi cewek yang kita temui di club malam itu, kerja di sini bro?" Tanya Jero.
William mengangguk. Bagaimana pun ia berusaha menutupi tentang wanita itu, lambat laun Jero pasti akan tahu semua tentang Sasa.
"Bagus, gua punya kesempatan buat deketin dia, ya udah gua pamit bro"
William menatap kesal sahabatnya itu. Sasa sekarang berstatus istri sahnya, tidak mungkin jika akan ada pria yang bisa mendekatinya. Termasuk Jero dan bahkan Rico sekalian.
__ADS_1
"Jangan harap jer, dia istri gua sekarang!"