Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Salah tingkah


__ADS_3

Sasa terbangun ketika merasakan perubahan suhu ruangan di sekitarnya. Ada sebuah benda yang melilit pinggangnya. Sasa terus mencoba keluar dari alam mimpi. Benda itu kini membuat Sasa hampir sulit bernafas. Sangat erat. Sasa meraba dengan teliti. Mencoba menerka apa gerangan itu semua. Sasa benar-benar terbangun ketika benda itu bergerak.


Sasa yang menyadari sesuatu telah terjadi langsung membulatkan matanya. Deru nafas William berhasil membuat Sasa salah tingkah.


Sasa melirik tubuhnya. Gawat. Iya bahkan masih tidur dengan balutan gaun haram di tubuhnya. Sasa mendorong tubuh William, ia hendak melarikan diri sekarang. Rasa malunya sudah memuncak sampai ke ubun-ubun. Namun, semakin kuat Sasa mencoba melarikan diri, William dengan sigap mempererat pelukannya di tubuh mungil Sasa.


"Sudah, tidur saja" Bisik William di telinga Sasa.


"Minggir mas, saya mau ganti baju" Jujur Sasa.


William masih tidak bergeming. Ia masih memejamkan matanya, berusaha agar tidak peduli dengan wajah memelas Sasa.

__ADS_1


"Memangnya kenapa dengan bajumu? Tidur lah, sudah malam" William menarik selimut menutupi tubuh sasa. Sasa melirik ke arah jarum jam di dinding kamar. Memang benar, ini sudah sangat malam. Pukul setengah tiga dini hari.


Sasa menelan salviranya kasar. Ia mencoba kembali terlelap dengan kondisi yang sangat mendebarkan ini. Namun sekeras apapun usahanya, nyatanya Sasa tidak akan bisa tertidur pulas lagi. Jaraknya dengan Wiliam sungguh dekat. Apalagi ini adalah pengalaman pertama tidur berdekatan dengan William.


Sedangkan tuan muda itu tidak ambil pusing. Ia sudah kembali tertidur pulas dalam hitungan detik. Maklum, urusan kantor dan kejadian sehabis pulang tadi cukup menguras tenaganya.


 


"Aku ingin rencana kita berjalan dengan sempurna. Jangan lupa untuk mengirimkan riwayat dan latar belakang wanita itu kepada ku." Titah wanita muda itu kepada para bawahannya.


Berita itu sudah mendunia. Siapa yang tidak mengetahui kabar pernikahan William. Rose menarik bibirnya. Wanita itu seperti tidak asing olehnya. Rose harus memastikannya.

__ADS_1


Wanita itu berjalan meninggalkan ruang kerjanya. Semenjak menjadi model karirnya meroket tinggi, apalagi setelah berhasil menguasai kepemilikan saham perusahaan kosmetik Eropa. Tubuh elegannya mampu memikat banyak pengusaha muda nan rupawan dari berbagai negara.


Kepulangannya ke negara X terpaksa di undur. Wanita itu akan menyambut tamu kehormatan yang ia tunggu selama ini.


"Yeah, just a bit. Don't worry, let's meet in gracias hall" Rose memutuskan telfonnya ketika hendak masuk ke dalam mobil mewah yang ia punya.


"Nona, Pria yang kemarin menghubungimu sudah mengirim beberapa foto unitnya nona. Saya akan kirimkan ke pada nona, jika nona setuju dan merasa suka, saya akan memberitahunya" Hendrik, asisten pribadi Rose yang sama-sama berasal dari negara X.


"Atur saja, aku tidak perduli dengan kondisinya, yang penting near, okeey!" Jelas Rose.


Hendrik mengangguk dan langsung mengirimkan pesan kepada seseorang di negara X. Rose memang jarang menjalin komunikasi secara langsung dengan rekan kerjanya, semua urusan akan ditangani oleh bawahannya. Mulai dari kerjasama brand, pemotretan bahkan sampai urusan menghabisi lawan bisnis. Rose tidak perlu mengotori tangannya.

__ADS_1


Wanita itu memberikan isyarat agar volume musik di naikkan. Hanya terdengar suara melodi yang memenuhi seisi mobil.


"Naaaa...naaaaa, kena kau pria sialan" Gumam rose.


__ADS_2