Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Bertemu


__ADS_3

Para tamu undangan sudah memenuhi ruangan. Banyak dari para kolega itu membawa pasangannya masing-masing. Berbagai ras bercampur menjadi satu di tempat itu. Mereka asik menunggu puncak acara. William dan Sasa masih berada di lift. Asik berdebat terkait apa yang harus wanita itu lakukan.


"Yaaa kau harus berlagak anggun, jangan terlihat bodoh" Sasa memutar bola matanya.


"Apa kau paham" Namun belum sempat Sasa memberikan jawaban, pintu lift terbuka. Semua mata tertuju kepada sasa dan William. Tuan rumah acara ini. Mereka yang berada di sana memberikan tepuk tangan yang meriah.


Sasa menarik nafasnya dalam-dalam, lalu dengan anggun menggenggam tangan William. Pria itu berjalan menuju podium dan Sasa berdiri di sisi kirinya.


"Selamat datang semuanya, Saya sebagai CEO Raksasa group sangat berterima kasih kepada para investor dan rekan kerja yang membantu proyek Raksana Group di Kota yang luar biasa ini. Saya berharap kita bisa mendulang profit yang besar dan akan menjadi proyek yang sukses pada tahun ini." William dengan membara menyampaikan pidatonya sekaligus membuka acara.


Para tamu sontak memberikan tepuk tangan yang meriah. William menuruni podium dan langsung bersalaman dengan para kolega bisnisnya.


"Wahhh, istri anda sangat cantik tuan William" Salah satu istri dari rekan bisnisnya memberikan pujian ke pada Sasa.


"Tentu saja sayang, tuan William ini sangat pintar mencari pendamping hidup" Suaminya ikut memberikan penguatan. William dan Sasa melemparkan senyuman ke arah pasangan itu. Usia mereka jauh lebih tua dari Sasa dan william, pemilik perusahaan kontraktor asal Jepang.


"Hei tuan William, sudah lama tidak berjumpa dengan anda!" Suara itu membuat Wiliam membalikkan badannya. Ia tampak tidak heran.


"Hei tuan Richard, senang berjumpa dengan anda" William berjabat tangan dengan pria itu. Dia adalah anak dari tuan Zaid, lebih tepatnya anak dari istri kedua pria itu. Richard memang tinggal dan mengurus perusahaan di London. Bidang distributor. Perusahaan itu juga ikut serta dalam proyek besar Raksasa group di London.


"Ini adalah kesempatan yang luar biasa, saya bisa bertemu dengan anda tuan Richard, saya banyak mendengar tentang anda dari tuan Zaid" Jelas William.


"Ohhh yaa? Aku pikir tua bangka itu hanya bisa menjelekkan ku saja" Richard tertawa dan meneguk minuman di tangannya. Mata pria itu beralih ke arah Sasa yang tampak bingung dengan obrolannya dan william.


"istrimu?" Tanya Richard.


"Iyaa, dia istriku!"


"Seleramu bagus juga" Puji Richard.

__ADS_1


"Anda bisa saja, anda sendiri datang sendirian?" Tanya William. Richard menggeleng kan kepalanya sambil menggerakkan jari telunjuknya.


"no..no..no" katanya.


"Aku datang bersama kekasihku, diaa...."


"Honey...maaf aku sedikit ribet dengan riasanku" Seorang wanita berjalan menghampiri mereka dengan gaun yang indah. Tubuhnya tinggi dan lebih mirip seorang model bintang atas. Sasa terpana dengan apa yang ia saksikan.


William membulatkan matanya. Suara ini adalah suara yang sangat ia kenal. Bahkan baunya sangat familiar. Tubuh William membeku. Jantungnya terasa sakit.


"Ini dia kekasihku William. Sayang ini Tuan William Raksasa, CEO Raksasa group, dan ini istrinya Sasa!" Pria itu menjelaskan kepada wanita di sampingnya.


"Hai, aku Rose Pradita" Wanita itu memberikan tangannya untuk berjabat tangan, namun William masih tidak bergeming. Rose hanya tersenyum lalu memindahkan tangannya ke arah Sasa. Wanita lugu itu dengan cepat langsung berjabat tangan dan memperkenalkan dirinya.


"Sayang, aku ingin bertemu dengan rekanku, apa kau ingin tetap di sini?" Richard memberitahu Rose dan wanita itu menolak dengan senyuman.


"Mari tuan William" Richard pergi meninggalkan mereka bertiga. William masih berdiri mematung. Ia tidak bisa mengontrol emosi dan pikirannya saat ini. Sedangkan Sasa hanya heran dengan apa yang dilakukan oleh William.


"Sasa...eeh maaf nona Sasa, aku mencari mu" Itu adalah Adnin. Saat mendengar isu pernikahan Sasa, gadis itu langsung pingsan, tidak percaya. Sejak mendarat di London kemarin ia sibuk mencari keberadaan Sasa.


"Adnin, aku senang sekali bisa bertemu denganmu" Sasa menepuk kedua pundak Adnin.


Adnin yang menyadari lingkungan di dekatnya langsung melirik kearah William dan juga Rose. Gadis itu kenal siapa Rose, beberapa tahun lalu berita kandasnya hubungan Rose dan William tersiar ke seluruh perusahaan.


"Sasa, ayoo ikut aku sebentar, ada yang ingin aku sampaikan" Adnin menarik lengan Sasa. Wanita itu melirik ke arah William yang masih tidak bergeming. Sasa berjalan mengikuti Adnin menuju WC ruangan.


sedangkan William masih berdiri di sana bersama Rose.


"Sudah lama yaaa, kau masih sama" Rose melirik kearah William, Wanita itu mengambil alih minuman di tangan William. Tanpa penolakan Rose dengan mudah meminumnya.

__ADS_1


"Apa kau merindukanku? Apa kau sudah menyesali perbuatanmu?" Wanita itu mendekat ke arahnya.


"Aku merindukanmu, Sangat merindukan mu" Rose berbisik ke arah telinga Wili. Menaruh kedua telapak tangannya di dada William.


Pria itu kembali mendapatkan kesadarannya. Dengan cepat ia mendorong Rose menjauh.


"Kau perempuan menjijikan" William menggeram.


"Aku sama-sama menjijikan dengan istrimu, menikah karena kontrak perjanjian" Rose membalikkan perkataan William.


"Jangan kau samakan istriku dengan kau, dia tidak menyelingkuhi ku" Rose tertawa dan kembali meneguk minumannya.


"Tapi kau tidak mencintainya, jujur saja, kau selama ini selalu menghindari aku bukan? apa kau takut tidak bisa melupakanku?"


"Kenapa kau begitu pede hah? Mana mungkin " William tertawa keras. Rose mengecutkan senyumnya.


"lalu, kenapa kau suruh seseorang untuk memata-matai ku William? apa itu bukan berarti kau masih mencintaiku? hahahaha" William mati kutu. Ia tidak menduga jika rose selama ini mengetahui semua rencananya.


"Aku tidak bodoh, orang suruhan mu lah yang bodoh, kau buang-buang uang saja, kalau kau ingin tahu kabarku, kau bisa menelfon ku" Rose berusaha menyentuh tangan William. Namun pria itu langsung menepisnya.


"Enyah kau, get out" William sudah tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Ternyata kau sangat emosional sekali yaaa sekarang, tanpa kau suruh aku juga akan pergi kok" Rose berjalan menuju Richard. Ia tersenyum penuh kepuasan.


William kehilangan harga dirinya malam ini. Semua rencananya hancur. Wanita yang ia takuti keberadaannya di London, malah dengan bebas berada di acaranya sendiri.


William meraih benda pipih di kantong jasnya. Asisten Joy harus menjelaskan apa yang sebenarnya tengah terjadi. Tidak mungkin jika hal sepenting ini malah lolos dari pantauan Joy.


"Kau dimana? Temui aku sekarang di lobby hotel" William menutup telfonnya segera.

__ADS_1


__ADS_2