Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Mengintip


__ADS_3

William berjalan tergesa-gesa ke arah rumahnya. Para pelayan bahkan merasa takjub saat melihat wajah tuan muda mereka. Sudah lama wajah itu tidak terlihat di dalam rumah ini.


Pak Yanto tersenyum dan berjalan menuju William. Pria tua itu merukuk.


"Ayoolah Pak Yanto, kenapa harus berkerja sama dnegan Joy!"


Walaupun dalam keadaan kesal, William masih berbicara secara lembut ke pada Yanto. Pria itu sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri, tentu saja William harus tetap berprilaku sopan ke padanya.


"Ayo kita masuk, anda pasti sangat lelah"


"Dimana dia Pak?"


"Nona sedang istirahat di kamarnya tuan"


William berjalan menuju kamar Sasa. Pria itu hanya ingin mengecek kondisi istrinya. Takut jika Sasa malah kabur.


William membuka pintu kamar Sasa. Wanita itu tidak ada di sana. William berjalan menuju kasur dan merebahkan tubuhnya. Suara dari kamar mandi berhasil membuat William merasa sedikit lebih tenang. Itu berarti Sasa berada di sana.


Sedangkan Sasa yang baru selesai mandi keluar dengan balutan handuk yang tidak menutupi setiap celah tubuhnya. Kain itu hanya menutupi bagian dada hingga paha gadis itu. Menyisakan banyak area yang terekspos begitu saja


Sasa tidak menyadari keberadaan William di atas kasur. Wanita itu hanya fokus membuka koper dan mencari-cari baju yang bisa ia kenakan untuk hari ini.


William yang menyaksikan itu tentu saja menjadi panas dingin. Sebagai pria normal, pemandangan seperti ini tentunya bisa saja meningkatkan libido nya. William menelan ludah nya kasar. Matanya tidak berkedip menatap ke arah Sasa.


Wanita itu bahkan memakai baju di depannya. Membuat William bisa menyaksikan tubuh polos Sasa dari arah belakang. Tidak terhalang benang apapun.


Ketika Sasa selesai mengenakan piyama miliknya, William tiba-tiba berdecak. Membuat Sasa membulatkan matanya.


"Suara apa itu?"


Wanita itu langsung berbalik ke arah belakang. Tatapannya beradu dengan ekspresi polos milik suaminya.


"Aaaaaaaaa"


Sasa berteriak ketika ia sadar jika sejak tadi William memperhatikan tingkahnya. Memikirkan pria itu melihat tubuh bugilnya.


"Kenapa berteriak?"


Suara berat William tentu saja membuat Sasa semakin kesal.


"Sejak kapan?"


Wanita itu berusaha meminta penjelasan dari William.

__ADS_1


"Dari tadi?"


"Tadi kapan?"


"Sebelum kau keluar dari kamar mandi, aku sudah tidur di sini"


Sasa yang mendengar itu langsung menutup mulutnya. Tidak percaya jika William benar-benar menyaksikan semaunya.


"Kenapa sih? Aku sudah melihat semuanya"


Itu memang benar, tapi malam itu William sedang mabuk. Mana mungkin pria itu bisa mengingat bentuk tubuh Sasa.


"Menyebalkan"


Sasa melemparkan handuk ke wajah William. Kesal dengan wajah William yang menertawakan kebodohannya.


"Keluar"


Sasa menyuruh William untuk keluar dari kamarnya. Tapi pria itu tidak mau pergi. Dia malah semakin masuk ke dalam selimut. Lalu pura-pura tertidur.


"Iblis menyebalkan"


Sasa yang kesal hanya bisa bersabar. Jujur saja kejadian di London beberapa hari yang lalu masih menyisakan rasa perih di dalam hatinya. Tapi setelah mendengar cerita pak Yanto dan Joy, Sasa berusaha untuk mengalah beberapa hari ini.


William bangkit dari tidurnya. Pria itu menepuk-nepuk sisi kasur di sebelahnya. Sasa yang melihat itu berjalan malas ke arah William.


"Mau bicara apa?"


"Duduk dulu sini!"


Sasa menjatuhkan dirinya tepat di samping William. Sedikit menjaga jarak, karena wanita itu masih sangat takut dengan William.


"Aku ingin minta maaf ke padamu, apa kau memaafkan aku apa tidak?"


"Hmmmm"


"Aku bertanya, bukan meminta mu menjawab hmmm"


"Iyaaa, aku maafkan"


"Sebenarnya jika kau tahu agama dengan baik, pasti aku tidak salah, itu hak ku. Tapi karena malam itu aku mabuk, mungkin aku melakukannya dengan kasar"


Sasa menatap William dengan kesal. Pria itu tidak benar-benar tulus meminta maaf, dia bahkan mencari pembenaran dengan apa yang ia lakukan kepada Sasa.

__ADS_1


"Sesuai perjanjian kita, kau harus bisa menjadi istri sungguhan ku"


"Memangnya selama ini tidak?"


"Belum, maksudku kita tidak perlu harus bermusuhan seperti ini"


"Siapa yang bermusuhan, kau yang selalu marah-marah dan kasar"


"Oke fine, aku memang salah"


"Tapi perjanjiannya sudah berakhir!"


"Siapa bilang? Kau lupa jika di perjanjian itu aku sebagai pihak pertama punya hak untuk mengganti semua isi perjanjian"


"Mana bisa begitu...."


"Bisa!"


"Aku tidak mau!"


Sasa semakin kesal. Perempuan itu hendak beranjak meninggalkan William yang sudah mulai mengoceh asal. William langsung menarik Sasa untuk duduk kembali.


"Hanya 2 minggu lagi, setidaknya sampai aku menemukan kakakmu"


Sasa terdiam. Joy juga pernah bilang seperti itu kepadanya.


"Aku hanya ingin memperbaiki semua hak yang buruk ke padamu"


"Hanya 2 Minggu kan?"


Sasa meminta penegasan dari statemen yang William keluarkan barusan.


"Iyaa, hanya 2 Minggu"


"Tapi ingat, kau harus benar-benar menjadi istriku"


Sasa mencoba berfikir tentang kemungkinan apa saya yang akan menimpa dirinya.


"Tidak ada hubungan badan kan?"


"Kalau itu aku tidak bisa berjanji, soalnya itu termasuk tugas wajib seorang istri kepada suaminya"


Belum sempat Sasa membantah hal itu, William sudah berlari keluar kamar. Meninggalkan Sasa yang masih kesal dengan keputusan William.

__ADS_1


__ADS_2