Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Dengarkan kataku!


__ADS_3

Penerbangan ke London dipercepat. Sasa sejak pagi tadi sudah pusing menyiapkan barang-barang yang harus di bawanya. Untung saja koper William sudah beres beberapa hari yang lalu, kalau tidak mungkin Sasa akan dibuat kalang kabut.


Sasa tidak henti-hentinya berdecak kagum dengan suasana airport. Maklum, ini adalah pengalaman pertama baginya. William berjalan dengan setelan santai. Tapi kalau dilihat-lihat, outfitnya lebih mirip dengan bodyguard nya. Hahaha....


William melirik ke arah Sasa. Gadis itu mengomentari pesawat yang akan mereka naiki. Walau bergelar tuan muda, William tidak suka terbang dengan jet pribadi. Katanya sih agar bisa berbaur dengan banyak orang. Tapi kalau di pikir-pikir, untuk kelas first class, pasti tidak banyak orang di sana.


"Jaga tingkah konyol mu" Bisik William tepat di samping telinga Sasa.


Sasa hanya sedang menyapa pramugara tampan yang membantu dirinya mencari kursi. William yang sejak tadi memperhatikan itu, langsung mengisyaratkan pramugara itu untuk segera menjauh.


"Apa-apaan sih, heboh banget" Gerutu Sasa.


"Jangan membantah, atau nanti aku buang kau dari pesawat ini, biar jatuh ke laut, lalu dimakan hiu" Ancam Wili.


Sasa yang mendengar itu langsung berteriak, takut. William yang mendengar itu langsung mendekap mulut Sasa dengan tangannya. Sasa masih melotot, Sedangkan William tertawa kecil. Niat hati hanya ingin mengerjainya saja.


Sasa melepaskan tangan William dari wajahnya. Lalu memperbaiki posisinya. Ia melirik ke arah sekitar, takut ada yang akan marah-marah karena merasa terganggu.


"Menyebalkan sekali iblisss ini" Sasa berteriak dalam hatinya. Sungguh kesal dengan apa yang suaminya perbuat.

__ADS_1


"Jangan mengumpat ku" Kata William sambil meneguk welcome drink dari maskapai.


"Siapa juga yang begitu, suuzon" Bantah Sasa.


Sasa melirik minuman di tangan William. Gelas itu juga disiapkan untuknya. Sasa menjangkau gelasnya, namun William lebih dulu menghentikan langkah Sasa dengan suara beratnya.


"Jangan diminum, itu alcohol, kau bisa muntah nanti" Tegur William.


Sasa yang tidak percaya tidak menghiraukan apa yang William katakan. Sasa dengan cepat langsung meneguk minuman itu sampai habis. William terdiam sekaligus kaget.


"Kau ini, itu benar-benar alcohol" William tampak frustasi. Sasa mendekat ke arah suaminya.


"Jangan menangis" William menepuk-nepuk pundak Sasa.


"Bagaimana ini mas? apa yang harus aku lakukan?"


"Muntahkan saja, dari awal aku sudah katakan, tapi kau tidak percaya. Coba saja kau percaya kepadaku, mungkin tidak akan seperti ini" William benar-benar tidak membantu.


Lampu tanda sabuk pengaman dinyalakan. Turbulensi. Sasa yang baru menjelajahi dunia penerbangan itu pun langsung memeluk erat William.

__ADS_1


Cukup lama guncangan itu terjadi. Sasa terus saja menangis sambil membaca beberapa doa. William hanya bisa menarik alisnya sebelah.


Tiba-tiba Sasa melepas pelukannya. Ia menatap William dan beberapa detik kemudian mulutnya membulat. Ia menepuk-nepuk lengan William. Kode jika ia sedang menahan sesuatu. William tampak bingung.


"Kau kenapa?" Tanya William. Beberapa saat setelah it Wili akhirnya paham. Istrinya benar-benar muntah.


William dengan sigap membawa Sasa ke arah kamar mandi. William menyingkap rambut Sasa dan memijat pundaknya. Sasa merasa sangat perih di perut. Mungkin efek turbulensi dan alcohol yang diminumnya.


"Aku hanya bercanda, tapi dia benar-benar memuntahkannya" William bergumam dalam hatinya.


"Apa kau baik-baik saja? masih mual" Tanya William setelah menekan tombol closet. Sasa menggeleng.


"Setelah ini jangan membantah kata-kataku lagi yaa, lihat lah apa yang terjadi" William membantu Sasa berdiri. Sasa hanya diam. Dengan kondisi mabuk udara seperti ini ia tidak memiliki cukup tenaga untuk berdebat dengan William.


William meminta pramugari menyiapkan tempat tidur untuk Sasa, serta memesan sup hangat. Sasa berbaring di kursi yang sekarang suda menjadi tempat tidur. Kepala pusing, tapi perutnya masih sangat tidak enak.


Namun, di sisi lain Sasa merasa bersyukur. Pasalnya minuman haram itu telah keluar dari tubuhnya.


Sup panas tersaji di depan sasa. Aroma sangat wangi. William mengambil mangkuk itu dan mengaduknya. Sasa yang sudah terlanjur duduk akhirnya kembali berbaring. Ia pikir sup itu sengaja William pesan untuknya.

__ADS_1


William melirik sasa. "Kenapa berbaring lagi? duduklah dan buka mulutmu" William menatap Sasa. Sasa dengan cepat kembali mencari posisi duduk yang enak. Walau masih tidak menyangka William akan berprilaku manis seperti ini.


__ADS_2