Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Bibir itu


__ADS_3

Kelopak mata Sasa terbuka ketika sinar mentari menerobos paksa tirai kamar itu. Sasa menggeliat, di liriknya arah samping kasur. Tidak ada siapapun.


Sasa perlahan melangkahkan kakinya perlahan menuruni kasur besar milik William. ia melangkah menuju cermin.


"Mengerikan"


Satu kata yang keluar dari bibir mungilnya. penampilannya saat ini memang sangat berantakan. Sasa mencium bau tidak enak dari tubuhnya. Sasa mengendus-endus


"Sangat bau"


Bau itu berasal dari tubuhnya. Bagaimana tidak, satu hari tidak mandi dan banyak kejadian yang menimpanya tentu saja akan membuat tubuhnya kotor dan bau.


Sasa berjalan memasuki kamar mandi. awalnya Sasa heran dengan kamar mandi William


"Kenapa bak mandinya kosong?"


Wajarlah jika seorang gadis desa seperti Sasa terheran-heran. Kalau di kampung, bak mandi isinya air, bukan buat berendam.


30 menit Sasa bergelut dengan air. Dia keluar sambil mengenakan handuk putih yang hanya mampu melilit bagian setengah pahanya.

__ADS_1


"Kan aku tidak punya baju ganti"


Sasa tertegun. Tidak mungkin dia harus memakai baju yang ia pakai tadi, baunya saja sudah tidak sedap.


Sasa melirik lemari ganti kamar William. dengan ragu Sasa mendekati lemari yang di penuhi baju bermerek itu. Lemari itu beraroma pekat khas William. Aroma lavender.


Dengan ragu-ragu jemari mungil Sasa menyelusuri satu demi satu kemeja milik William. Dengan hati-hati Sasa menarik kemeja putih itu dari hanger.


Kemeja sedikit kebesaran. hampir menutupi paha putih Sasa. Sasa mengendus bau harus dari Krah baju William. Sasa sangat menyukainya.


Setelah membersihkan diri, Sasa beranjak menuju dapur minimalis nan modern. Di bukanya lemari pendingin, Kosong. Hanya ada satu telur. Sasa mendengus. lalu matanya melirik roti dan selai kacang di atas meja.


Setelah menghabiskan rotinya, Sasa beranjak ke arah balkon apartemen. Dia duduk sambil memandang kesibukan kota.


Wanita itu ingin pergi bekerja, tapi ia tidak punya baju untuk dikenakan. Lagian Joy kemarin juga tidak memberikan card apartemen kepadanya, tidak ada akses untuk keluar dari apartemen ini. Sasa benar-benar seperti burung dalam sangkar.


"Mbak, aku janji akan segera menemukan Mbak Dewi"


 Di sisi lain William tengah duduk di dalam mobil kesayangannya. Pria itu terlihat sangat lelah.

__ADS_1


"Joy, antarkan aku pulang, tubuhku sangat lelah"


Sejak selesai akad pernikahan kemarin, William terus menunggu mamanya benar-benar sadar. Semalam, Angel kembali memberikan tanda respon saat William menceritakan awal ia bertemu dengan istrinya. Tapi, dokter bilang jika Angel belum benar-benar sadar.


Mobil yang dikendarai Joy melaju menebas hiruk pikuk jalanan. William duduk di belakang sambil memijat-mijit kepalanya. Ia harus segera pulang untuk membahas kontrak pernikahan yang dijalaninya dengan Sasa.


Suasana pintu apartemen terdengar terbuka. William masuk dengan menenteng jas hitamnya di tangan. Dia melirik ke seluruh ruangan, tapi tidak ada tanda-tanda kehadiran Sasa.


William berjalan menuju kamar, Sasa juga tidak ada di sana. Pria itu juga membuka pintu kamar mandi, ia pikir istrinya itu sedang membersihkan diri. Tapi William salah, Sasa juga tidak berada di sana.


William mengalihkan pandangannya ke arah balkon. Pintunya terbuka dan angin menghembus tirai.


William berjalan perlahan.


Sasa sedang tertidur pulas di atas kursi santai. Rambutnya menari-nari terhembus angin, menutupi sebagian wajahnya. William terpana dengan apa yang ia liat saat ini. Paha putih Sasa terekspos begitu saja. William narik senyuman ketika menyadari kemeja kesukaannya sedang melekat di tubuh gadis itu, ia lalu mendekat kearah Sasa.


Jarak mereka hanya beberapa cm saja. hidung mancung William bahkan hampir beradu dengan hidung Sasa. lagi-lagi William tergoda dengan bibir natural milik Sasa.


William hendak mengecup bibir itu, namun kalah cepat dari manik Sasa yang lebih dahulu terbuka. Sasa mengerjap-ngerjap, lalu matanya beradu sebentar dengan kristal biru milik William. Kesadaran Sasa kembali membuatnya mendorong paksa William. William yang belum siap menerima hal tersebut lantas terjungkal ke belakang.

__ADS_1


"Kau ini!"


__ADS_2