Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Yakin tidak mau?


__ADS_3

"Beri salam" Perintah Wili dengan nada dingin.


Sasa lekas mendekat dan mengelus dengan lembut pergelangan wanita tua itu.


"Nyonya, cepatlah sembuh, Aku benar-benar sudah muak dengan anak mu nyonya, tolong aku" Sasa berbisik kearah telinga wanita itu. Tidak terdengar oleh Wili. Pria dingin itu sudah lebih dulu menjatuhkan tubuhnya di sofa. Sibuk menatap layar pipih di tangannya.


Sasa dengan sigap mulai membantu membersihkan mama mertuanya. Ia mengelap permukaan kulit yang sudah mulai keriput itu. Sasa juga merapikan lemari dan beberapa barang yang memenuhi meja. Hampir 2 jam ia dengan telaten menata semuanya. Tepat pukul setengah dua belas perut wanita itu mendadak merasa lapar. Wajar sih, bekerja memang menguras banyak tenaga dan itu pasti akan membuat perut lapar.


Sasa menghampiri meja di dekat Wili. Ia menggapai kota bekal yang ia siapkan dari rumah.


"Tuan, sudah jam makan siang, Saya tadi pagi masak makanan" Sasa mengeluarkan kotak itu dan menyusunnya tepat di depan Wili. Wili tidak bergeming. Ia melirik sekilas lalu kembali fokus mencari nomor asistennya.


"Tolong bawakan aku makanan di restoran tempat aku sering makan siang, antarkan ke rumah sakit"


Hati Sasa terasa sakit. Bagaimana bisa pria ini memperlakukan nya dengan tidak manusiawi. Bahkan hanya karena perkara datang terlambat membuat dia menjadi sangat arogan dalam hitungan detik.


Sasa merapikan kembali box makanan itu. Ia berjalan perlahan dengan wajah yang menahan tangis. Wili tidak menghiraukannya.


Saat membuka pintu, Sasa melihat dua orang bodyguard yang sedari tadi berdiri di sana.


"Permisi, tuan-tuan" Seketika kedua pria itu langsung menoleh. Mereka menyapa Sasa dengan sopan. Ternyata penampilan tidak bisa menggambarkan jati diri seseorang yaa.

__ADS_1


"Ada apa nona? ada yang bisa kami bantu?" Tanya salah satu bodyguard.


"Hmmm, apakah kalian sudah makan siang?


"Belum nona"


"Kebetulan sekali, ini aku ada makanan, tolong dimakan tuan" Saya menyerahkan kotak itu kepada pria yang bernama Jacob itu.


"hah nona, kami merasa tidak enak, apakah ini nona yang masak?" Sasa hanya tersenyum.


"Wahhh, baunya harum sekali, saya yakin ini akan sangat enak, terimakasih nona"


Sasa dan para bodyguard itu bertukar cerita di depan pintu. Sasa terlihat nyaman dengan obrolan dan candaan yang buat oleh kedua pria besar itu. Sesekali mereka terus memuji masakan Sasa. Sasa tidak henti-hentinya tersenyum. Kali ini usahanya dibalas dengan baik, walau pada awalnya di tolak oleh suaminya.


"eh em!" Suara itu seketika membuat kedua bodyguard itu kembali berdiri dan meninggalkan makanan yang mereka santap.


"Aku membayar kalian bukan untuk bersantai seperti ini, lagian ini belum jam makan kalian bukan?"


Sasa yang merasa ini semua adalah kesalahannya langsung berusaha menjelaskan apa yang terjadi.


"tuan, bukan salah mereka, saya yang memaksa mereka untuk makan siang"

__ADS_1


" Aku tidak butuh penjelasan Kau, Kau seharusnya tau diri, kau ini... ah sudah lah, ayo pulang" Wili menarik tangan Sasa dengan kencang. Jemarinya mencengkram kuat tangan mungil Sasa.


"dan kalian, aku akan membuat perhitungan, kembali bekerja!!"


Sasa ditarik menuju mobil. Seluruh mata menyaksikan betapa menyedihkannya Sasa siang ini. Wajahnya menahan sakit yang datang dari dua arah. Sakit dari cengkraman Wili yang melukai tangannya dan juga sakit di lubuk hatinya.


Wili membuka pintu mobil dan mendorong Sasa kedalam. Sasa hanya bisa menangis dan menggigit bibir bawahnya.


Sedangkan Wili memacu mobilnya dengan kecepatan yang tinggi. Mobilnya kali ini tidak akan menuju apartemen melainkan sebuah hotel miliknya.


"Turun!"


Wili kembali menarik dan melangkah dengan cepat. Kaki mungil Sasa sangat sulit untuk menyeimbangkan langkah Wili. Sesekali Sasa jatuh dan tumitnya membentur lantai.


Saat mereka berdua sampai di sebuah kamar yang sangat mewah. Wili mendorong Sasa ke atas kasur dan mulai memukul dirinya sendiri.


Sasa yang mendapati hal itu langsung syok dan merasa ketakutan.


"saa saya minta maaf tuann, saya minta maaf" Tangis Sasa membuat Wili berhenti dan mendekatkan wajahnya menatap Sasa.


"Sudah, istirahatlah, asisten ku akan mengantar makan siang kesini"

__ADS_1


Wili merebahkan tubuhnya di kasur. Ia memejamkan matanya. Sasa yang masih syok dengan semua yang terjadi hanya bisa duduk terdiam di tepi kasur.


Menerima kenyataan jika ia menikahi pria dengan gangguan tempramental yang emosinya tidak bisa diprediksi. Menyesali pernikahan ini justru tidak ada gunanya, pernikahan kontrak ini akan segera berakhir dan ia akan bebas dari Wili sesegera mungkin.


__ADS_2