
Setelah memutus sambungan telfon Rose terlihat melebarkan senyumnya. Rencana yang ia buat ternyata berhasil dan berjalan sesuai apa yang ia inginkan.
"Wanita bodoh!"
Sedangkan William dia terlihat masih dalam pengaruh obat-obatan. Sesekali merancau dan tidak bisa mengembalikan kesadarannya. Obat yang Rose suntikan itu tidak akan bertahan lama, ia harus segera mengikat dan membatasi perlawanan William.
"Ikat dia, pastikan dia tidak akan kabur"
Kedua Bodyguard itu berjalan mendekat dan langsung memborgol kedua tangan William. Kaki pria itu juga diikat agar dia tidak menendang semua benda di dekatnya. Salah satu pria besar itu menempelkan lakban ke mulut William, berharap dengan itu ia tidak akan merancau dan berteriak saat sadar nanti.
"Tuan muda, aku yakin kali ini kamu akan benar-benar hancur"
Setelah mengatakan itu Rose berjalan meninggalkan William yang masih terduduk lunglai. Wanita itu harus bisa menghancurkan perusahaan Raksana Group. Surat akusisi saham kepemilikan. Rose berencana untuk membuat William memberikan seluruh hak perusahaan ke tangannya.
Sedangkan Milisa, wanita itu sudah berdiri di depan pagar kediaman William. Setelah mendapatkan informasi jika Rose telah bergerak untuk menghancurkan William, Milisa dengan cepat bertemu adiknya, Sasa. Lambat laun Rose akan membuat Sasa semakin tersiksa.
Salah satu penjaga yang melihat kedatangan Milisi berjalan mendekatinya. Jarang sekali ada yang bertamu ke rumah keluarga William di jam yang sudah larut malam ini.
"Maaf, cari siapa?"
Dengan wajah yang agak takut Milisa menyampaikan maksudnya. Berpura-pura menjadi teman Sasa. Penjaga itu awalnya masih tidak percaya, tapi setelah sesat, pria itu akhirnya mengizinkan mobil Milisa melaju memasuki kawasan rumah itu.
Mobilnya berhenti tepat di depan pintu utama. Di sini tidak ada penjaga lagi. Milisa berjalan mendekat. Para anak buahnya hanya ia suruh menunggu di dalam mobil, berjaga-jaga jika nanti pengawal rumah William memberikan perlawanan kedatangan mereka. Apalagi niat Milisa datang malam ini untuk membawa kabur adiknya.
Wanita itu menekan tombol bel. Beberapa kali agar bisa terdengar oleh seisi rumah. Benar saja, salah satu pelayan datang membukakan pintu. Wanita itu tidak mempersilahkan Milisa masuk, malah langsung berlari memanggil pelayan yang lain. Tentu saja semua yang terlihat asing harus segera mereka sampaikan kepada kepala pelayan di rumah ini. Pak Yanto menyambut kedatangan Milisa.
"Selamat malam, ada yang bisa kami bantu nona?"
Milisa tersenyum. Ternyata pria ini tidak mengusir kedatangannya.
"Saya temannya nona Sasa, bisakah saya bertemu sebentar? Ada hal penting yang harus saya katakan?"
"Teman?" Sambil menimbang-nimbang, Yanto tetap memperhatikan wajah Milisa. Pria itu tidak pernah melihat wanita yang ada di depannya sekarang ini.
"Baik, silahkan masuk. Biar saya panggilkan"
__ADS_1
Wanita itu tersenyum. Rencananya disambut baik oleh para pelayan. Milisa berharap William tidak akan menghambat rencananya.
Beberapa saat setelah itu, Sasa berjalan menuruni tangga. Maya memberitahunya jika ada seorang wanita yang datang untuk bertemu dengan dirinya. Sasa awalnya berfikir jika itu Rahel, atau bahkan Anin. Tapi perempuan itu tetap merasa penasaran, pasalnya jika itu benar mereka, seharusnya mereka menelfon dirinya saja.
Pak Yanto juga memberi tahu Joy. Pria tua itu takut jika akan ada hal buruk yang terjadi. Ia masih was-was dengan kedatangan Milisa, apalagi melihat wanita itu datang dengan beberapa pengawal di dalam mobilnya. Joy berjalan keluar dari kamarnya. Ia tidak mendekat ke arah Milisa, ia hanya memperhatikan Milisa dari belakang. Takut jika wanita itu akan curiga jika Joy tengah mengawasinya.
Sasa berjalan mendekat. Hatinya memuncak bahagia. Matanya tidak berhenti-henti menatap perempuan yang sekarang berdiri tepat di depannya.
"Mbak Dewi!"
Sasa melompat ke pelukan Dewi. Perempuan itu tidak bisa menahan air matanya. rasa rindu, penderitaan dan semua masalah yang tengah ia hadapi seakan sudah tidak bisa ia mendung lagi. Bertemu dengan Milisa adalah harapannya dan awal dari penderitaan yang ia rasakan.
"Mbak kemana saja? Sasa sudah cari mbak, tapi Sasa tdiak bisa bertemu dengan mu"
Wanita itu semakin mempererat pelukannya. Ia tidak ingin kakaknya pergi lagi. Sudah cukup semua penderitaan yang ia rasakan.
Sedangkan Joy, pria itu terlalu syok dengan apa yang ia saksikan. Selama ini ia sudah berusaha mengulik informasi tentang perempuan itu, tapi ia tidak pernah bisa mendapatkannya. Tapi lihatlah sekarang, wanita itu datang dengan sendirinya kehadapan Sasa.
Joy sangat yakin jika Dewi bukanlah wanita biasa, dia seperti memilik kuasa dan pemikiran yang cerdik. Itulah kenapa sangat susah untuk mencari keberadaannya.
Joy yang mendengar hal itu langsung berjalan mendekati mereka. Takut jika Sasa ikut bersama dengan kakaknya. William bisa marah besar.
"Nona, anda tidak boleh meninggalkan rumah ini"
Milisa menoleh ke arah Joy. Pria itu juga kaget, tambah kaget jika ia sudah mengenali wajah Dewi. Perempuan itu adalah asistennya Rose. Saat William menjalin asmara dengan Rose, Milisa selalu saja ikut. Joy sungguh mengenal wanita itu, tapi tidak pernah menduga jika ternyata Dewi adalah Milisa.
"Kau!"
Milisa tidak menggubris kehadiran Joy. Wanita itu harus segera membawa Sasa pergi.
"Dengarkan mbak Sasa, sekarang kamu harus pergi dengan mbak dan menjauhi keluarga William"
Joy tidak terima.Takut jika Milisa berkerja sama dengan Rose.
"Saya bilang, nona muda tidak akan pergi kemana-mana!"
__ADS_1
Sedangkan Sasa masih tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Kakaknya datang untuk membawanya, tentu saja perempuan itu sungguh bahagia. Apalagi jika beberapa saat yang kalau hatinya sudah terlalu sakit oleh perbuatan William. Akan jauh lebih baik jika ia pergi dengan kakaknya. Bukannya perjanjian akan berakhir jika Sasa berhasil bertemu dengan Dewi? Sekarang ia sudah bertemud Engan kakaknya , itu berarti tugasnya di rumah ini sudah berkahir.
"Kak Joy, Aku akan ikut kakak ku"
Joy yang mendengar itu langsung tidak percaya. Bagaimana pun caranya Sasa harus tetap berada di rumah ini.
"Tidak nona, anda tidak akan pergi dengan wanita ini"
"Kenapa tidak bisa huh? Kau kakak kandungnya, apa kau tuli tidak bisa mendengar apa yang adikku katakan?" Emosi Milisa tersulut. Takut jika Joy menggagalkan rencananya.
"Jujur saja, kau di suruh Rose kan?"
"Dengarkan aku yaa pria kaku! Aku sudja tidak bekerja sama lagi dengan mantan kekasih bos mu itu. Wanita itu licik dan ia akan mengancam keselamatan adikku. Aku tidak mau itu terjadi, jika Sasa tetap berada di sini. Bukan tidak mungkin jika ia juga akan bernasib sama dengan Nyonya Angel!"
Joy dan Sasa sama-sama tidak percaya. Apakah Milisa sebenarnya tahu dalang dari kecelakaan itu.
"Jadi aku mohon, kau juga pasti mengerti dengan apa yang terjadi asisten Joy, biarkan Sasa ikut denganku. Aku pastikan untuk sementara dia akan baik-baik saja di dalam pengawasan ku."
Mau bagaimana lagi. Apa yang disampaikan oleh Milisa terdengar begitu nyata. Lagian Sasa tidak akan mau untuk mendengarkan perkataannya. .
"Sasa....cepat kamu bereskan barang-barang yang mesti kamu bawa, mbak tunggu kamu segera"
Jujur saja Sasa begitu berat. Rumah ini dan seisinya telah memperlakukannya dengan baik. Tapi bagaimana lagi, perjanjian adalah perjanjian. William juga tidak mungkin benar-benar mencintainya. Pria itu mungkin saja sedang bersenang-senang dengan mantan kekasihnya, Rose.
Sasa berjalan menuju kamarnya. Sedangkan Milisa masih harus mengatakan sesuatu kepada asisten Joy.
"Aku harap kau memastikan keberadaan bosmu itu. Rose itu wanita licik yang sekarang sedang menjalankan aksinya."
"Aku takut jika ia akan berniat sama dengan apa kejadian beberapa tahun yang lalu. Dia punya dendam dengan keluarga Raksana, aku harap kau juga harus terus mengawasi perusahaan. Jangan sampai para pengkhianat yang bekerja sama dengan Rose mengambil alih perusahaan. Aku harap kau tahu apa yang harus kau lakukan."
"Sasa akan aman bersama ku, jika William benar-benar mencintainya, aku sendiri yang akan membawa Sasa kembali ke sini. Tapi jika pria itu hanya menjadikan adikku sebagai pelampiasan, jangan harap kalian bisa mendapatkan informasi dari Sasa."
"Kau selesaikan lah lebih dahulu urusan kalian, terlebih lagi Rose. Jika kau telah tahu semua kebusukannya selama ini, aku akan bersedia menjadi saksi."
Joy hanya diam. Ia tahu persis bagaimana yang mestinya ia lakukan. Saat Sasa mengatakan William dalam keadaan baik-baik saja, pria itu memang tidak percaya. Joy sudah menyuruh beberapa orang anak buahnya untuk mengawasi apartemen milik William. Takut jika pria itu tengah berada di sana. Joy hanya harus menunggu informasi yang datang.
__ADS_1