
"Apa kau sudah melakukan apa yang aku suruh?"
Rose berjalan menuju unit apartemennya bersama Rico. Pria itu seperti tidak sabaran untuk segera bertemu dengan William.
"Kamu tenang saja, semuanya ada di dalam tas ini"
Rico tersenyum sambil menepuk-nepuk tas yang ia bawa. Benda berharga yang ia simpan di dalam sana akan menjadi titik kehancuran musuh bebuyutannya selama ini.
"Bagus, aku selalu tidak pernah kecewa bekerja sama dengan mu"
Sasa dan Rico masuk ke dalam unit milik Rose. Mereka berjalan menuju ruangan dimana William berada. Pria itu lemas. Tubuhnya babak belur dihantam pukulan bertubi-tubi. Dari ujung bibirnya bahkan masih terlihat bekas darah segar. William menoleh ke arah Rose yang datang bersama Rico.
Pria itu merasa dikhianati. Orang yang sejak kecil diberikan fasilitas oleh orang tuanya, sekarang sungguh tega ikut menjebaknya.
"Kenapa William? Kau kaget jika pria ini bekerja sama denganku?"
Rose berjalan mendekat. Wanita itu menyentuh dagu William.
"Ahhhh lihatlah apa yang dilakukan anak buahku ke wajahnya Rico! Tuan muda ini sekarang benar-benar menyedihkan."
Rico tidak tahu harus mengeluarkan ekspresi apa. Baginya William tetap orang yang memiliki jabatan lebih tinggi.
"Aku tidak peduli, pengkhianat bisa datang dari mana saja"
William mengulum senyumnya. Dia tidak perlu merasa sakit hati, manusia memang suka seperti itu. Jika diberi hati, malah merasa tidak cukup dan meminta jantung.
"Baiklah William, sebenarnya aku ingin bercerita sedikit"
Rose berjalan mengelilingi William. Wajahnya berubah menjadi sendu.
"Kau tahu beberapa tahun yang lalu, ayahmu menghancurkan keluargaku! Dia membuat kami bangkrut, benar-benar licik"
Rose membisikan kebenciannya tepat di sebelah telinga William.
"Kau ingat dengan tuan Felix? Ahhh mana mungkin kau ingat, saat itu kau masih 16 tahun. Karena orang tua mu, aku menjadi hidup susah. Orang tua ku bercerai, dan ayahku meninggal"
"Selama aku hidup, dendam harus aku balaskan William. Aku datang ke dalam hidupmu, menjadi seorang model dan pura-pura jatuh hati kepada mu. Kau pun juga bodoh, kau juga kalah telah mudah masuk ke perangkap ku!"
"Aku lah yang membuat ayahmu Mati! Seharusnya Angel juga mati! Tapi sayang sekali dia masih hidup, dan bodohnya aku, kau tidak ada di dalam mobil itu!"
William yang mendengar itu langsung menatap penuh amarah ke arah Rose. Wajahnya memerah dengan urat-urat yang menonjol di seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Ayahmu terlalu berambisi untuk menjadi paling kaya, hingga ia lupa jika dia menggunakan cara yang menjijikkan!"
Rose menghempaskan vas bunga ke lantai. Benda itu pecah berkeping-keping, seakan menggambarkan betapa hancurnya perasaan gadis itu ketika keluarganya hancur.
"Apa yang kau miliki sekarang, ada apa yang seharusnya orang-orang di luar itu miliki William! Ayahmu memanipulasi semuanya, membuat orang-orang seperti ayahku harus jatuh merugi. Dia memang pantas mati, dan aku yakin jika dia langsung mendapatkan api neraka. Tidak akan ada surga untuk bajingan seperti dia!"
"Hentikan! Jangan pernah kau salahkan ayahku, mungkin saja orang tua mu yang bodoh!"
William naik pitam. Pria itu tidak pernah bisa tahan jika ada seorang pun yang menyinggung keluarganya.
"Hahahaha.....Tapi itu kenyataannya!"
Rose mengambil tongkat bisbol dan langsung memukul kaki William. Pria itu menahan rasa sakitnya.
"Aku tidak akan seperti ini jika ayahmu tidak menghancurkan keluargaku William! Tidak akan!"
Sekarang Rose menangis. Perempuan itu terisak-isak sambil memukul-mukul dadanya. Ada sesuatu yang membuat ia sulit untuk bernafas. Dendam yang terus membara.
"Rico, apa kamu ingin membicarakan sesuatu?"
Rose menatap ke arah Rico. Pria itu masih berdiri ragu di sana. Apalagi ketika sorot mata William menatap ke arahnya.
Saat Rose meluapkan emosinya, William tidak menggubris hal itu. Tapi saat Rico bersuara, kata-kata berhasil membuat William merasa sakit. Apalagi Rico mengatakannya dengan suaranya yang lirih.
"Pak Hendra meninggal bukan karena aku!"
William menatap ke arah Rico. Kejadian itu sudah lama terjadi, ia juga tidak pernah meminta Hendra untuk melindunginya. Pria itu sendiri yang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan William.
"Setelah itu apakah kau tahu apa yang aku rasakan bersama adik-adik ku William? Kami kehilangan ayah kami, dan keluarga mu malah hidup dnegan bersenang-senang. Aku cukup sedih, sepertinya apa yang Rose katakan adalah benar, apa yang kau miliki saya ini adalah milik orang lain. Seharusnya ayahku tidak bekerja di keluarga mu"
"Terserah kau saja Rico, kau sudah cukup dewasa untuk berfikir realistis. Itu resiko ayahmu bekerja sebagai kaki tangan kepercayaan ayahku!"
Rico benar-benar kesal dengan jawaban William. Pria itu bahkan tidak meminta maaf tentang apa yang telah terjadi.
"Apa kau ingin memukulnya Rico?"
Rose menyerahkan tongkat bisbol ke arah Rico. Pria itu diam sejenak dan kemudian meraihnya. Beberapa pukulan mengenai tubuh William. Seharusnya ia sudah mati, tapi entah kenapa pria itu begitu kuat dan tetap tersadar meski beberapa bagian tubuhnya telah dipenuhi darah segar.
"Berikan aku surat kuasa itu!"
Rose menyuruh penjaganya untuk membuka tas yang Rico bawa. Satu lembar surat kuasa kepemilikan saham perusahaan.
__ADS_1
"Tuan William, seharusnya kau akan jauh lebih muda untuk menandatangani kertas ini. Jika semua yang aku dan pria itu sampai belum cukup juga untuk mu, masih ada keselamatan istrimu yang tentu saja setengah menunggu ajalnya."
Mendengar nama Sasa membuat William merasa sedikit takut. Pria itu tidak ingin sesuatu terjadi kepada Sasa, perempuan itu tidak ada sangkut pautnya dengan permasalahan ini.
"Jangan kau sentuh istriku! Sedikit saja kau sentuh, akan aku buat hidupmu menderita!"
Dnegan bergetar William mengucapkan kata-kata itu. Ia benar-benar marah dengan apa yang Rose ancamkan kepadanya.
"Tenang saja, kau hanya perlu mendandani surat ini. Kau bisa hidup tenang dengan istrimu"
"Itupun kalau kau masih bisa bertahan untuk hidup Wili"
"Ayo tanda tangani!"
"Mana handphone ku, suruh mereka langsung saja menghabisi wanita kampungan itu. Kalau bisa bakar saja tubuhnya, dan kemudian buang ke depan rumah keluarga Raksana"
William yang mendengar itu langsung menolak.
"Oke...fine...Aku akan menandatanganinya"
Ini semua demi keselamatan Sasa. William tidak ingin perempuan itu terluka semakin dalam karena ulah dirinya ini. Dengan tangan bergetar William langsung saja mengukir kertas itu.
Rose tersenyum dan langsung mengambil paksa kertas di tangan William.
"Terimakasih tuan muda"
"Pukul dia!"
Perempuan yang kejam. Setelah mendapatkan apa yang ia mau, dengan mudah wanita itu menyuruh para anak buahnya untuk memukuli William.
Mereka memukuli William berkali-kali. Membuat pria itu terkapar dengan banyak darah di tubuhnya.
"Ayo kita pergi, untuk sementara ini kita kembali ke London, kau juga harus ikut aku Rico. Biarkan dia mati di sini dan membusuk"
Setelah mengatakan itu Rose berjalan meninggalkan unit apartemen miliknya bersama Rico dan dua orang anak buahnya. Mereka meninggalkan William yang sekarang tengah tidak sadar diri akibat hantaman benda tumpul di sekujur tubuhnya.
40 menit setelah kepergian Rose, Joy berhasil mendobrak pintu apartemen dengan bantuan para polisi. Joy begitu kaget dengan kondisi William yang sudah tidak sadarkan diri.
"Wili! Bangun! Kau jangan membuat aku gila seperti ini"
Melihat tidak ada respon dari William, Joy langsung menyuruh anak buahnya membawa William menuju mobil. Mereka harus segera membawa William ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
__ADS_1