
"Siapkan rencana, aku ingin membuat perempuan itu terluka lalu meninggalkan William dengan sendirinya"
Rose juga sudah mendarat di tanah air. Wanita itu menepati salah satu apartemen yang terbilang cukup mewah. Satu gedung dengan apartemen milik William.
"Ini ID Cardnya"
Suara itu terdengar sangat familiar. Pria yang bekerja sama dengan Rose itu langsung memberikan kartu akses ke salah satu pengawal Rose.
"Terimakasih Rico!"
Iyaa! Rico. Pria itu sudah sejak lama mengenal Rose, dia bahkan ikut terlibat dalam upaya pelenyapan keluarga Raksana. Rasa dendam lah yang kemudian berhasil membuat pria itu tidak karuan.
"Sebentar lagi, bulan hanya kehancuran Raksana saja Rico, tapi kau juga akan mendapatkan wanita yang kau suka"
Rose tersenyum ke arah Rico. Wanita itu selalu puas dengan setiap kerjasama yang ia jalan dengan Rico.
"Kau pergilah, tugas mu hanyalah untuk membuat wanita itu nyaman, lalu kau bisa dengan mudah mendapatkannya"
Rico mengangguk. Pria itu lantas berjalan meninggalkan unit apartemen milik Rose. Beberapa bulan yang lalu dia sudah berusaha untuk mendapatkan apartemen ini. Persis sebelum ia tahu jika Sasa sudah resmi menjadi istri William. Hatinya semakin sakit tak kala Sasa hilang dan tiba-tiba tampil sebagai nona muda keluar Raksana. Rico tahu betul jika itu akan mustahil ia dapatkan jika tidak menyetujui bekerja sama kembali dengan Rose.
2 tahun lalu Rico mengetahui niat jahat Rise untuk mendekati William. Wanita itu tidak benar-benar mencintai Wili, dia hanya ingin membalaskan dendam ayahnya yang sudah dibuat bangkrut oleh keluarga William. Gadis itu jatuh miskin dan hidup melarat di sebuah desa terpencil, dendam itu akhirnya membuat ia kembali masuk ke dalam keluarga Raksana, menghancurkan semua yang membuat keluarga Rose hancur berantakan.
Ia bertemu Rico, pemuda yang ayahnya meninggal saat menyelamatkan William. Sejak saat itu rasa benci sejujurnya makin menjadi-jadi ketika ia melihat langsung bagaimana sikap keluarga Raksana, tidak ada penyesalan yang mereka tunjukkan. Bagi mereka jasa ayahnya Rico hanya sekedar tanggung jawab pekerjaan.
__ADS_1
Walaupun ia dibiayai sampai ke perguruan tinggi dan juga mendapat pekerjaan di perusahaan Raksana Group, Rico tetap tidak bisa untuk meredam dendam yang ia miliki.
Hal inilah yang membuat Rose akhirnya memanfaatkan rasa dendam yang sama di antara mereka. Keluarga yang hancur karena Raksana group, sungguh ironis.
Sedangkan Milisa, wanita itu sudah mengetahui jika Rose baru saja datang ke tanah air dan akan menempati apartemen yang sama dengan milik William. Wanita itu kemarin bahkan mengunjungi unit itu untuk bisa bertemu dengan Sasa. Ada perasaan lega karena Rose salah tujuan.
William dan Sasa sudah tidak menempati unit apartemen itu. Rose akan percuma saja berada lama di sana. Anak buahnya tidka akan pernah bisa melacak keberadaan Sasa.
"Aku harus lebih dulu mendatangi Sasa, rose tidak boleh melukai adikku"
Beberapa orang suruhan Milisa sudah mengetahui keberadaan Sasa, tadi saat William pulang dari kantor, orang suruhan Milisa mengikutinya hingga menuju kediaman mereka.
Wanita itu tersenyum dan ingin sekali segera berjumpa dengan adik kandungnya. Membawa Sasa dari ancaman yang besar.
(Bagian 2 Bab 67)
William tampak berdiri di samping Sasa yang hendak berjalan menuju kamar mandi. Wanita itu tidak menggubris, dia melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.
"Kalau butuh apa-apa, teriak saja ya?"
Semenjak kejadian itu William merasa sangat senang. Apalagi jika perbuatannya itu menghasilkan seorang bayi, pasti ia akan semakin senang. Dengan itu ia punya alasan untuk menghapus segala perjanjian, dan Sasa tidak akan pernah pergi darinya.
Sasa keluar dari kamar mandi. Wanita itu hanya ingin mencuci wajahnya. William mendekat.
__ADS_1
"Kenapa sih mendekat terus"
Sasa terlihat sudah muak dengan perilaku William yang terus saja menguntitnya.
"Memangnya kenapa? Tidak boleh?"
"Aku tidak suka saja!"
"Aku kan hanya mendekat ke arah istriku saja"
"Iyaiyaiya"
Sasa merebahkan tubuhnya di sisi kasur. Ia tidak ingin berdebat lagi. Tubuhnya sudah terlalu lelah untuk itu.
William mendekat dan juga merebahkan tubuhnya di samping Sasa. Pria itu memeluknya dari arah belakang.
"Sa.....apa kamu memang benar-benar ingin pergi dariku?"
William terus saja memikirkan hal itu, ada rasa sakit di hatinya saat menyadari jika pernikahannya hanya tinggal hitungan hari saja.
"Aku harus jawab apa?" Sasa bergumam pelan.
"Aku mencintaimu"
__ADS_1
William berbisik dan kemudian mengecup rambut Sasa. Membuat wanita itu menjadi merah seperti kerang rebut. Iblis dingin dan kejam, kini sudah berubah menjadi seorang manusia lembut.
Dan apa tadi? Dia menyatakan cintanya kepada sasa? Mengingat hal itu membuat Sasa menjadi sulit tertidur. Perasaan aneh yang menjalar keseluruhan tubuhnya berhasil membuat ia tetap terjaga. Sedangkan William sudah sejak tadi pergi ke alam mimpi, meninggalkan Sasa yang masih berkutat dengan pemikirannya.